"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Mahendra kembali melajukan Rolls-Royce Phantom-nya membelah kemacetan Jakarta yang mulai padat, menuju ke arah gedung perkantoran tempat Luna akan mengadakan pertemuan bisnis.
Sisa kehangatan dari pengakuan jujur di bahu jalan tol tadi masih terasa menggelayut manja di dalam kabin mobil, mencairkan ketegangan yang sempat menyelimuti mereka.
Sesampainya di lobi utama gedung kantor yang megah, Mahendra menghentikan mobilnya dengan sempurna.
Luna segera merapikan blazer kerjanya dan bersiap untuk turun. Namun sebelum membuka pintu, dengan penuh rasa takzim dan cinta yang mendalam, Luna meraih tangan kekar suaminya lalu mencium punggung tangan Mahendra dengan khusyuk.
Mahendra tersenyum hangat, mengusap lembut pipi mulus istri kecilnya.
"Nanti pulang kerja, tunggu aku yang jemput. Jangan pulang sendirian," ucap Mahendra dengan nada bariton yang protektif namun sarat akan kelembutan.
Luna menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya," sahutnya manis.
Segera setelah itu, Luna keluar dari mobil dan melangkah anggun masuk ke dalam gedung kantor untuk menemui Pak Dika.
Begitu sosok Luna menghilang di balik pintu kaca lobi, senyuman hangat di wajah Mahendra seketika sirna tanpa bekas.
Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sedingin es, memancarkan aura intimidasi mutlak seorang Titan Bisnis yang siap berburu.
Mahendra kembali melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan penuh, memutar arah menuju ke kediaman utama keluarga Dirgantara.
Tiba saatnya untuk membersihkan rumahnya dari racun-racun yang tidak tahu diri.
Sementara itu di rumah utama, atmosfer terasa begitu tegang namun diselimuti oleh rasa percaya diri yang semu.
Di ruang tamu mewah, Mila dan Emma sudah duduk dengan gelisah namun tak sabar menunggu kedatangan Mahendra.
Sejak menerima video kiriman "nomor tidak dikenal" semalam, kedua wanita itu tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat membayangkan kehancuran Luna.
Mila terus-menerus menatap ke arah pintu gerbang luar, memegang ponselnya yang berisi draf video palsu buatan tim IT Mahendra.
"Tante, Papa harusnya sudah sampai jam segini kan? Aku sudah tidak sabar melihat wajah jalang itu ditendang keluar dari rumah ini," bisik Mila dengan seringai licik yang tertahan di bibirnya.
"Tenang saja, Mila. Sekali Mahendra melihat video murahan istrimu itu, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menjatuhkan talak. Kita tinggal menikmati pertunjukannya," sahut Emma dengan senyum sinis, sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang berkendara pulang menuju ke arah mereka.
Brammm...
Deru mesin Rolls-Royce Phantom yang berat dan bertenaga besar terdengar bergemuruh di halaman depan rumah utama Dirgantara.
Mobil mewah itu berhenti tepat di depan pilar agung, disusul suara pintu yang tertutup dengan dentuman mantap.
Tak lama kemudian, pintu jati ganda rumah utama terbuka.
Mahendra melangkah masuk ke dalam rumah dengan postur tubuhnya yang menjulang tegap.
Aura dingin yang mencekam seketika merebak, menyelimuti seluruh penjuru ruangan.
Langkah sepatu pantofel kulitnya yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu tegas, konstan, dan berat—sebuah ketukan ritmis yang seketika membuat nyali para pelayan yang sedang lalu-lalang menciut, memilih untuk menunduk dalam-dalam dan menyingkir secepat mungkin.
Melihat sosok yang dinanti akhirnya tiba, Mila dan Emma langsung bangkit dari sofa kemewahan mereka.
Kedua wanita itu bergegas melangkah maju menyambut Mahendra, dengan raut wajah yang dalam sekejap diubah total menjadi topeng "sedih dan prihatin yang dibuat-buat".
"Papa, akhirnya pulang," sapa Mila dengan nada suara yang bergetar, berpura-pura cemas sembari menatap Mahendra yang masih memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Bagaimana turnamen golf Papa di Bandung? Lancar, Pa?"
"Ah, Mahendra. Syukurlah kamu cepat kembali dari Bandung," sahut Emma ikut memancing obrolan dengan nada bicara yang sengaja dibuat mendesah berat, seolah-olah hatinya ikut hancur.
"Ada hal sangat memalukan yang terjadi semenjak kamu pergi. Kami benar-benar bingung dan sedih bagaimana harus mengatakannya kepadamu."
Tanpa membuang waktu lagi agar momentum ini tidak hilang, Mila langsung menyodorkan ponsel pintarnya tepat di hadapan dada bidang Mahendra.
Layar ponsel itu menampilkan potongan video Luna bergaun tidur sutra hitam yang sedang menari dengan ekspresi tersiksa—video hasil manipulasi digital yang mereka kira asli seratus persen.
"Papa, lihat ini! Ini kelakuan istri kecil kesayangan Papa di hotel Bandung!" seru Mila dengan nada mendayu-dayu namun sarat akan racun provokasi.
"Di saat Papa mengira dia pergi menemani Papa bekerja, dia malah bertingkah tidak senonoh seperti wanita murahan! Video ini sudah menyebar, Pa!"
Emma langsung menyambar, memanas-manasi suasana dengan suara melengkingnya.
"Benar, Mas Mahendra! Wanita kampung yang kamu nikahi itu benar-benar telah menginjak-injak harga diri dan nama baik keluarga besar Dirgantara! Mau ditaruh di mana muka kita di hadapan para kolega bisnis? Ini tidak bisa dibiarkan! Kamu harus mengambil tindakan tegas sekarang juga!"
"Ceraikan dia, Pa!"
Sebuah seruan lantang tiba-tiba terdengar memotong kalimat Emma.
Fauzan, yang rupanya sejak tadi bersembunyi di balik pilar ruang tengah, melangkah keluar dengan wajah yang mengeras dan emosi yang tampak meledak-ledak.
Ia menatap ayahnya dengan pandangan menuntut, didorong oleh rasa cemburu buta yang terpendam dan ego lelakinya yang terluka sejak malam pernikahan itu.
"Ceraikan jalang itu sekarang juga, Pa! Luna itu memang tidak baik! Sejak awal aku sudah tahu dia wanita seperti apa, makanya aku meninggalkannya di altar! Dia hanya mengincar harta Papa dan sekarang dia menunjukkan belangnya dengan berselingkuh dan bertingkah murahan di Bandung! Usir dia dari keluarga ini, Pa!" ucap Fauzan berapi-api, merasa mendapat angin segar untuk memisahkan Luna dari ayahnya.
Mahendra berdiri mematung di posisi semula. Ia menatap ponsel di tangan Mila, lalu beralih menatap Emma, dan terakhir mengunci pandangannya pada Fauzan dengan sepasang netra yang menggelap laksana lubang hitam.
Melihat reaksi diam sang Titan Bisnis, Emma, Mila, dan Fauzan diam-diam saling melempar lirikan penuh kemenangan.
Mereka mengira badai amarah Mahendra akan segera meledak untuk menghancurkan Luna, tanpa menyadari bahwa keheningan pria paruh baya di depan mereka adalah ketenangan sebelum badai maut meratakan mereka semua tanpa sisa.
PLAAK!!
Suara tamparan yang teramat keras dan bertenaga seketika menggema, memutus semua kalimat provokasi di dalam ruang tamu mewah tersebut.
Kekuatan tangan kekar Mahendra mendarat telak di pipi kiri Fauzan, membuat tubuh tegap putranya itu terhuyung beberapa langkah ke samping hingga nyaris menabrak guci porselen mahal di sudut ruangan.
Fauzan memegang pipinya yang seketika mati rasa dan memerah padam.
Ia menatap ayahnya dengan sepasang mata yang membelalak sempurna, campur aduk antara rasa syok, sakit, dan tidak percaya.
Di sampingnya, Mila dan Emma langsung membekap mulut mereka sendiri, nyali mereka mendadak rontok melihat sang Titan Bisnis justru melayangkan murka kepada darah dagingnya sendiri.
Aura di sekitar Mahendra bergolak hebat, memancarkan tekanan intimidasi mutlak yang begitu mencekam hingga membuat oksigen di dalam ruangan terasa menipis.
Pria paruh baya itu perlahan menurunkan tangannya, lalu menatap Fauzan dengan tatapan dingin.
"Sebelum kamu dengan lancang memintaku untuk menceraikan istriku, Luna. Lebih baik kamu belajar lagi, Fauzan!" gertak Mahendra.
"Tubuh kamu saja yang besar, tapi otakmu nol! Kosong!"
Fauzan meringis, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat kabur akibat tamparan maut sang ayah.
Mahendra melangkah satu langkah ke depan, mengikis jarak.
Setiap ketukan sepatunya laksana vonis mati bagi orang-orang di dalam ruangan itu.
"Tanya dulu kepada istrimu yang tidak tahu diri itu, apa yang sudah ia lakukan kepada papamu kemarin di jalan tol! Apa yang dia lakukan sampai-sampai papamu ini mungkin saja sudah tinggal nama hari ini!" lanjut Mahendra, suaranya naik satu oktav dengan kilat amarah yang siap membakar siapa saja.
"M-maksud Papa apa?" tanya Fauzan terbata-bata dengan napas memburu.
Ia benar-benar kebingungan, menoleh ke arah Mila dengan pandangan menuntut penjelasan.
"Tinggal nama? Apa maksud Papa soal obat perangsang, Mila?! Tante?!"
Fauzan sama sekali tidak mengerti konspirasi menjijikkan yang dirancang oleh istri dan tantenya di dalam rumah ini.
Yang ia ketahui hanyalah rencana menjebak Luna agar bertingkah memalukan di Bandung, namun ia sama sekali tidak tahu-menahu mengenai detail dosis ekstrem yang diselundupkan ke dalam mobil ayahnya.
Mendengar pertanyaan Fauzan dan bentakan Mahendra, wajah Mila dan Emma seketika berubah pucat pasi laksana mayat yang baru bangkit dari kubur.
Ponsel di tangan Mila bergetar hebat hingga nyaris terlepas dari cengkeraman jemarinya yang mendadak dingin.
Mereka berdua menyadari satu hal yang teramat mengerikan: Mahendra telah mengetahui semuanya, dan umpan mematikan itu telah salah sasaran mengenai sang penguasa Dirgantara Holdings itu sendiri.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi