NovelToon NovelToon
Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Menjemput Takdir Yang Sempat Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.

​Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GURU YANG MENABUR ANGIN

Setelah sesi perkenalan yang penuh haru itu selesai, Samudera pamit bergeser sebentar dari samping Arkana. Ponselnya terus bergetar karena beberapa urusan mendesak dari kantor. Pria itu memilih duduk di sofa ruang tamu yang jaraknya hanya beberapa meter dari meja belajar Arka, melonggarkan dasinya sedikit sembari mengetik balasan WhatsApp untuk Randy, namun telinganya tetap terpasang tajam ke arah laptop.

​Materi pelajaran pertama lewat dengan lancar. Namun, suasana berubah saat memasuki materi pelajaran kedua sekitar pukul sembilan pagi. Ibu Ira, guru utama, tampaknya harus meninggalkan kelas dan menyerahkan sesi berikutnya kepada guru pendamping bernama Ibu Yeni.

​Samudera yang awalnya fokus pada layar ponsel, tiba-tiba menghentikan gerakan jemarinya saat mendengar suara dari laptop Arka meninggi dengan nada yang tidak menyenangkan.

​"Arkana, kenapa tugas menggambar rumah dan keluarganya belum dikumpulkan di Google Drive?" tanya Ibu Yeni. Suaranya terdengar ketus lewat pelantang suara laptop. "Teman-temanmu yang lain sudah lengkap ada foto Papa dan Mamanya. Kamu sengaja tidak buat karena tidak punya Papa, ya? Sudah Ibu bilang, kalau tidak ada Papa, tanya ke Mamamu, jangan malas dan dijadikan alasan."

​Darah Samudera seketika mendidih. Rahangnya mengeras seketika.

​Ia menoleh ke arah meja belajar. Alana yang sedang berada di dapur langsung mempercepat langkahnya kembali ke ruang tamu dengan wajah yang memucat menahan amarah dan sakit hati. Sementara itu, Arkana menunduk dalam-dalam, jemari mungilnya berpilin cemas memainkan ujung seragamnya. Binar kebanggaan yang tadi memancar di matanya instan padam, digantikan kepolosan yang terluka.

​"Arka... Arka lupa, Ibu Guru... kemarin Arka—" kalimat bocah itu terputus, suaranya bergetar menahan tangis.

​"Jangan banyak alasan, Arkana. Dari kemarin-kemarin setiap tugas bertema keluarga kamu selalu terlambat. Makanya, kalau anak lain didampingi orang tua yang lengkap itu cepat, kamu jangan bikin repot kelas," potong Ibu Yeni lagi tanpa perasaan, tidak menyadari bahwa mic laptop Arka menangkap setiap desah napas berat di ruangan itu.

​Alana baru saja hendak maju untuk membela anaknya dan memprotes guru tersebut, namun sebuah tangan kekar dengan jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya menahannya dengan lembut namun tegas.

​Samudera sudah berdiri di sampingnya. Aura hangat seorang ayah yang tadi pagi bermain lego lenyap tak berbekas, digantikan oleh aura dingin, dominan, dan mematikan khas CEO penguasa bisnis. Tatapan matanya tajam menghunjam lurus ke arah layar laptop.

​Tanpa suara, Samudera melangkah tegap mendekati meja belajar. Ia meletakkan satu tangannya di bahu Arkana, seketika membuat bocah kecil itu mendongak. Begitu melihat sang papa ada di sana, ketakutan di wajah Arka sedikit mereda.

​Samudera membungkuk, menatap langsung ke arah kamera laptop dengan senyuman yang sangat tipis namun mengerikan. Pria itu sengaja menyalakan mikrofon dengan volume penuh.

​"Selamat pagi, Ibu Yeni," sapa Samudera. Suara baritonnya yang berat dan berwibawa seketika menggema di ruang kelas online, memotong kalimat ketus sang guru yang hendak berlanjut. "Saya Samudera Wijaya, ayah kandung dari Arkana. Saya rasa, telinga saya tidak salah dengar dengan diksi 'bikin repot' dan 'tidak punya papa' yang baru saja Anda tujukan pada putra saya."

​Seketika itu juga, suasana di ruang kelas online yang tadinya bising mendadak senyap. Wajah Ibu Yeni di layar laptop tampak mematung, matanya membelalak kaget melihat sosok pria berjas mahal yang tiba-tiba muncul dengan tatapan yang seolah bisa menguliti siapa saja yang berani mengusik putranya.

1
Lubna Aulia
Ceritanya bagus. Menarik alurnya
Lubna Aulia
Alur ceritanya bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!