NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: MADU DI ATAS SEMBILU

MADU DI ATAS SEMBILU

​Sore itu, langit Jakarta berwarna jingga tembaga, memantulkan cahaya redup melalui jendela-jendela besar di ruang tamu kediaman Pratama. Amira sedang berdiri di dapur bersih, tangannya yang ramping memegang teko porselen putih dengan motif bunga-bunga kecil yang elegan. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir secara perlahan, memperhatikan bagaimana uap panas mengepul dan aroma teh melati mulai memenuhi udara.

​Ada sedikit getaran di ujung jemarinya. Ucapan Ibu Ratna tadi pagi masih terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak di kepalanya. “Sepi seperti kuburan...”

​Amira memejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam aroma teh itu untuk menenangkan debar jantungnya. Ia menata cangkir-cangkir itu di atas baki perak, meletakkan beberapa potong kue talam pandan yang ia buat sendiri dengan saksama. Setiap potongan kue itu simetris, membuktikan betapa telitinya Amira sebagai nyonya rumah.

​Baru saja ia hendak melangkah, suara tawa yang melengking terdengar dari arah ruang tamu. Itu suara Ibu Ratna, namun tawanya terdengar sangat tulus—sesuatu yang jarang sekali Amira dengar jika hanya ada mereka berdua.

​Amira berjalan perlahan, langkah kakinya nyaris tak terdengar di atas karpet Persia yang tebal. Saat ia sampai di ambang pintu ruang tamu, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak. Di sofa beludru itu, Ibu Ratna duduk berdampingan dengan Ibu tante Lastri—mamanya Lista—dan tentu saja, Lista sendiri.

​"Aduh, Ratna! Kamu tahu sendiri kan, Lista ini dari dulu memang tidak bisa diam. Waktu kuliah saja, dia itu ketua senat, lulusnya tercepat se-fakultas. IPK-nya? Jangan tanya, nyaris sempurna!" Tante Lastri berucap sambil mengibaskan kipas tangannya, wajahnya yang penuh bedak tebal tampak berseri-seri.

​Lista duduk di samping ibunya, mengenakan dress selutut berwarna putih bersih yang membuatnya tampak sangat polos. Ia menunduk, memainkan jemarinya dengan gerakan yang seolah-olah menunjukkan rasa malu.

​"Pantas saja, Lastri. Darahnya beda," sahut Ibu Ratna sambil melirik Amira yang baru saja masuk membawa baki. "Ada orang yang memang dilahirkan untuk bersinar, ada yang cuma dilahirkan untuk jadi beban di dapur."

​Amira merasakan wajahnya memanas, namun ia tetap menunduk. Ia meletakkan baki itu di meja marmer dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia berlutut sedikit, menuangkan teh ke dalam cangkir satu per satu. Ia bisa merasakan tatapan tajam Ibu Ratna yang seolah-olah menguliti setiap gerakannya.

​"Ini tante, diminum tehnya. Ini kue talam buatan Amira sendiri," ucap Amira lembut, mencoba mencari celah untuk dihargai.

​Tante Lastri melirik piring kue itu sekilas. "Oh, kue tradisional ya? Baguslah, setidaknya kamu ada kegiatan. Kalau Lista sih, boro-boro bisa bikin begini. Waktunya habis buat belajar bahasa Mandarin dan kursus manajemen keuangan. Katanya, perempuan zaman sekarang itu harus punya value, bukan cuma bisa megang sodet."

​Ibu Ratna tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas bagi Amira. "Itu dia! Itu yang aku bilang ke Aris tadi pagi. Aris itu butuh pendamping yang bisa diajak bicara soal bisnis, bukan yang kalau ditanya soal ekonomi malah jawabnya soal harga cabai."

​Amira tertegun, tangannya yang masih memegang teko berhenti di udara. Rasa sakitnya kini bukan lagi sekadar sayatan, tapi seperti dihantam benda tumpul. Ia melirik Lista, berharap saudara sekaligus sahabatnya itu akan mengatakan sesuatu untuk membelanya.

​Lista mendongak. Matanya yang jernih menatap Amira dengan tatapan penuh simpati yang seolah sangat tulus.

​"Bude, Tante... jangan bicara begitu," suara Lista terdengar sangat merdu dan lembut, seolah ia adalah malaikat yang turun ke tengah keributan. "Mbak Amira itu hebat sekali. Dia bisa menjaga rumah ini tetap bersih dan tenang. Lista sendiri belum tentu bisa setelaten Mbak Amira. Mas Aris pasti senang karena rumahnya selalu rapi."

​Lista kemudian bergeser, mendekat ke arah Amira dan menyentuh punggung tangan Amira dengan lembut. "Mbak, jangan dimasukkan ke hati ya. Bude Ratna cuma bercanda. Bagi Lista, Mbak Amira itu istri idaman."

​Amira menatap Lista. Di detik itu, rasa hangat menjalar di hatinya. Di tengah gempuran hinaan mertuanya, ternyata masih ada Lista yang berdiri di sampingnya. Ia merasa beruntung memiliki sepupu seperti Lista.

​"Terima kasih, Lis," bisik Amira, matanya sedikit berkaca-kaca.

​Ibu Ratna mendengus. "Kamu itu terlalu baik, Lista. Makanya kamu harus bantu Aris di kantor. Kasihan abangmu itu, dia kerja keras sendirian, sementara di rumah dia tidak dapat teman diskusi yang sepadan. Oh ya, dengar-dengar kamu juga menang lomba esai bisnis tingkat nasional ya kemarin?"

​"Ah, itu hanya keberuntungan, Bude," jawab Lista merendah, namun ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya. "Ini... Lista cuma mau tunjukkan sertifikatnya ke Bude, siapa tahu Mas Aris perlu lihat untuk referensi di kantor besok."

​Map itu terbuka, memperlihatkan deretan prestasi mengkilap. Ibu Ratna dan Tante Lastri langsung sibuk memuji-muji setiap baris pencapaian Lista. Mereka seolah membuat pagar tak kasat mata yang memisahkan Amira dari percakapan itu.

​Amira berdiri diam, merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia melihat bagaimana Lista sesekali meliriknya dengan senyum manis, sebuah senyum yang Amira terjemahkan sebagai dukungan, padahal sebenarnya... itu adalah senyum kemenangan.

​"Oh ya, Amira," Ibu Ratna memanggil tanpa menoleh. "Malam ini Aris pulang terlambat. Ada meeting dengan klien besar. Kamu tidak usah menunggu. Biar Lista saja yang menemani Aris kalau nanti perlu berkas tambahan. Lista kan sudah paham urusan begini."

​"Tapi Bu, Amira sudah masak menu kesukaan Mas Aris..."

​"Masakanmu bisa dipanaskan besok!" potong Ibu Ratna tajam. "Jangan egois. Kepentingan kantor itu nomor satu. Kamu mau Aris bangkrut karena kamu merengek minta makan malam bersama?"

​Amira terdiam. Ia menunduk, menatap jari-jarinya yang tak lagi memakai cincin mewah—karena jarinya sedikit membengkak akibat kelelahan mengurus rumah seharian, sehingga ia memilih melepasnya sementara.

​"Mbak Amira, kalau Mbak keberatan, biar Lista pulang saja sekarang," ucap Lista tiba-tiba, suaranya terdengar gemetar seolah ia merasa bersalah. "Lista tidak mau jadi perusak suasana antara Mbak dan Mas Aris."

​"Tidak, Lis. Bukan begitu," Amira buru-buru menenangkan Lista, merasa tidak enak hati. "Kamu kerjalah yang baik. Bantu Mas Aris ya. Mbak tidak apa-apa."

​Lista tersenyum tipis, sangat tipis. "Mbak Amira memang yang terbaik."

​Sore itu ditutup dengan pameran prestasi Lista yang terus bergulir. Setiap kata yang keluar dari mulut Tante Lastri dan Ibu Ratna adalah paku yang memaku harga diri Amira ke lantai. Dan di sana, di tengah-tengah mereka, Lista duduk sebagai "malaikat pembela" yang sebenarnya sedang menaburkan bensin ke dalam api yang sudah menyala.

​Amira kembali ke dapur untuk mencuci piring-piring teh tadi. Saat air keran mengalir, ia tidak melihat Lista yang berdiri di belakangnya, menatap punggung Amira dengan tatapan yang sangat berbeda—dingin, tajam, dan penuh ambisi.

​Lista mengambil satu buah tangan yang mereka bawa—sebuah keranjang buah pir mahal—lalu meletakkannya di samping Amira.

​"Buat Mbak Amira. Dimakan ya, Mbak. Supaya Mbak tidak pucat lagi. Mas Aris suka perempuan yang segar," bisik Lista pelan, hampir seperti desisan ular, sebelum kembali memasang wajah lugunya saat Ibu Ratna memanggil.

​Amira hanya terpaku, memandangi buah pir yang berkilat itu, tanpa menyadari bahwa itu adalah simbol pertama dari "mahar" yang suatu saat nanti akan menghancurkan hidupnya.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!