Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.
Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.
Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.
Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.
Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.
Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
Malam itu sudah hampir jam sepuluh saat Crissie akhirnya tiba di apartemen setelah penerbangannya dari Paris. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tetap berusaha berjalan santai sambil menyeret koper masuk ke dalam.
Sampai sekarang Crissie masih bekerja sebagai pramugari karena Darren tidak benar-benar melaporkan perbuatan mesumnya kepada pihak maskapai. Darren hanya sempat mengancam, kalau Crissie masih berusaha mendekatinya lagi, semua bukti yang ia miliki akan langsung diserahkan pada atasannya.
Begitu pintu apartemen terbuka, Agnes yang sejak tadi menunggu di ruang tengah langsung berdiri. Wajah wanita itu tampak tidak sabar, seolah ada hal penting yang sudah ingin sekali ia sampaikan.
"Akhirnya kamu pulang juga, Crissie."
Crissie melepas heels-nya sambil terkekeh kecil.
"Kangen sama aku?"
Agnes ikut tertawa singkat, tetapi ekspresinya segera kembali serius.
"Kamu harus ke Jakarta, Cris."
Crissie langsung mengernyit heran.
"Ngapain?"
"Aku dengar dari temanku yang di Jakarta, katanya Darren kecelakaan dan sekarang dia amnesia!" ucap Agnes sambil menekankan kata terakhirnya.
Crissie sontak menatap sahabatnya tidak percaya.
"Ba-bagaimana bisa dia kecelakaan?" tanyanya pelan.
"Dia itu orang yang paling safety kalau bepergian. Semua harus perfect dan terencana."
Agnes langsung mendekat.
"Entahlah tapi dia benar-benar kecelakaan, kok"
Antara percaya dan tidak Crissie menatap wajah sahabatnya dengan perasaan tidak yakin.
"Tapi ini justru kesempatan buat kamu!"
Crissie kembali menatapnya, tapi kali ini terlihat bingung.
"Maksud kamu?"
"Duh, Crissie..." Agnes menggeleng pelan. "Kamu itu terlalu polos atau terlalu takut. Darren sekarang amnesia. Dia pasti nggak akan ingat apa yang pernah kamu lakukan."
"Tapi aku sudah diancam sama dia," balas Crissie ragu.
"Daripada kehilangan semuanya, lebih baik aku nggak cari masalah lagi."
Crissie menggeleng kuat, tapi Agnes langsung mendecih pelan.
"Kamu lemot banget sih!"
Crissie hanya diam.
"Kamu bisa manfaatin keadaan ini. Tunjukin foto-foto kalian waktu dulu lagi dekat dan lagi mesra-mesraanya. Bikin dia percaya kalau kalian memang punya hubungan spesial."
Perlahan kata-kata Agnes mulai mempengaruhi pikirannya. Awalnya Crissie masih terlihat ragu, tetapi semakin lama ia mulai memikirkan kemungkinan itu.
Bukankah Darren sekarang kehilangan ingatan?
Bukankah itu berarti semuanya bisa dimulai ulang?
Agnes terus berbicara, mempengaruhinya tanpa henti sampai keraguan di hati Crissie perlahan runtuh.
Akhirnya wanita itu mengangguk pelan.
"Besok aku free beberapa hari," ucapnya lirih. "Aku akan coba temui Darren."
Mendengar jawaban itu, Agnes langsung tersenyum puas.
Wanita itu bersorak dalam hati. Kalau rencananya berhasil dan Crissie kembali dekat dengan Darren, maka hidup mewah yang dulu ikut ia nikmati juga akan kembali lagi.
Belanja mahal, liburan mewah, perawatan tubuh eksklusif.
Pokoknya semua kemewahan yang dulu pernah ia rasakan lewat Crissie.
***
Crissie benar-benar menuruti usul Agnes. Pagi itu sekitar jam 10.00, dia sudah tiba di bandara internasional Soekarno Hatta. Sebuah koper kecil ia seret di tangan kanannya.
Jika diperhatikan masih ada sedikit keraguan di wajah wanita cantik itu tapi ia berusaha menutupinya dengan kacamata hitam lebar yang hampir menutupi sebagian wajahnya.
Dari bandara dia langsung menuju hotel langganannya jika ia sedang berada di Jakarta. Rencananya Chrissie akan menginap selama 3 hari.
Setelah menyimpan seluruh barang bawaannya dan beristirahat beberapa saat, ia pun kembali keluar hotel. Dan sekarang tujuannya adalah kantor Darren.
Dengan jantung yang masih dag dig dug, ia segera menghampiri meja resepsionis saat tiba di Callister Holding Company.
"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Bapak Darren Callister." Kata Crissie dengan tersenyum ramah. Sang resepsionis yang mengenali Crissie sebagai kekasih bos-nya langsung mengangguk sopan dan membalas senyum itu tak kalah ramah.
"Pak Darren ada di ruangannya Bu, mari saya antar." Kata sang resepsionis yang belum tahu kalau wanita di hadapannya ini sudah bukan lagi kekasih bos-nya, bersiap untuk keluar dari balik mejanya. Tapi Crissie cepat-cepat menahan dengan gerakan tangannya.
"Oh tidak usah! Biar saya bisa sendiri, terima kasih."
Crissie berbalik dan segera meninggalkan meja resepsionis. Untung saja dia masih memiliki akses menggunakan lift khusus yang akan mengantarkannya langsung ke lantai teratas, di mana ruangan Darren berada.
Ya, saat kemarahannya memuncak, Darren malah melupakan kalau ia pernah memberi kartu akses itu pada Crissie. Dan ini suatu keuntungan bagi eanita itu.
Saat tubuhnya sudah berdiri tepat di depan ruang CEO, dengan tangan gemetar ia mengetuk pintu. Dan ketika aja jawaban, "masuk!" Crissie pun memutar handle pintu itu.
Sebelum masuk, Crissie melongokkan kepala. Dilihatnya Darren tengah fokus menatap layar laptopnya dan tumpukkan file yang berserakan di mejanya.
Perlahan kaki Crissie melangkah masuk dan berhenti tepat di depan meja kerja Darren.
"Se-selamat siang, sayang..." Ucapnya dengan suara sedikit gugup dan bergetar.
Darren mengangkat wajah. Kening lelaki itu berkerut dalam. Ia menatap lekat wajah Crissie.
Tapi dari ekspresinya, Darren seperti tak mengenali wajah itu. Dan entah kenapa, hatinya pun merasa tidak menyukai kedatangan wanita ini.
"Siapa kamu?" Tanyamya dingin.
Crissie mencoba tersenyum dan memaklumi kondisi ingatan Darren.
"Sayang, kamu juga ngelupain aku?"
Darren terdiam. Dia mencoba mengingat, siapa wanita di hadapannya ini. Tapi dia tak merasakan ada getaran apapun dan sama sekali tak mengingat siapa wanita ini. Malah kepalanya mulai terasa berdenyut sakit.
"Sayang, aku Crissie, kekasih kamu. Maaf, aku baru bisa bisa datang menengokmu sekarang. Kamu tahu sendiri, jadwal terbangku sangat padat."
Darren menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Tatapannya masih tajam dan sulit ditebak.
"Kekasih?" ulangnya pelan.
Crissie cepat-cepat mengangguk.
"Iya. Kita sudah lama bersama."
Melihat Darren masih diam, Crissie buru-buru membuka ponselnya. Jemarinya sedikit gemetar saat memperlihatkan beberapa foto mereka.
Foto saat makan malam bersama.
Foto saat liburan.
Foto saat mereka saling berpelukan dan tertawa bahagia ke arah kamera.
"Itu kita," ucap Crissie pelan. "Kamu benar-benar nggak ingat?"
Darren mengambil ponsel itu dan memperhatikan satu per satu foto dengan wajah serius.
Memang dirinya ada di sana. Dan wajah itu pun memang wajahnya
Tapi anehnya, tidak ada perasaan apa pun saat melihat semua foto itu.
Bahkan ia merasa tidak nyaman dan menganggap foto itu tidak nyata.
"Mungkin saja itu editan atau AI." Batinnya.
Darren mengembalikan ponsel itu pada Crissie..
"Aku memang hilang ingatan," ucapnya tenang. "Tapi aku tidak bisa langsung percaya begitu saja hanya karena beberapa foto."
Wajah Crissie langsung berubah sedikit menegang.
"Maksud kamu?"
Darren menatap wanita itu lurus-lurus. Tatapannya tajam dan penuh kehati-hatian.
"Aku orang yang sangat menjaga kehidupan pribadi. Kalau memang kita punya hubungan serius, pasti ada sesuatu yang lebih meyakinkan daripada foto."
Crissie langsung terdiam.
Sementara Darren kembali melanjutkan ucapannya dengan nada datar khasnya.
"Aku tidak suka mengambil kesimpulan tanpa kepastian. Jadi sebelum ingatanku kembali, jangan memaksa aku untuk percaya pada sesuatu yang bahkan tidak bisa aku rasakan."
Kalimat itu membuat senyum Crissie perlahan memudar.
Ternyata benar.
Meski kehilangan ingatan, sifat perfeksionis dan kehati-hatian Darren sama sekali tidak berubah.
***
Semakin hari kandungan Daniela semakin membesar. Banyak hal juga mulai ia alami selama bekerja di supermarket itu. Dari sorot mata penuh selidik teman-temannya sampai bisik-bisik tidak enak yang sering terdengar saat ia lewat.
Apalagi setelah Gusti, sang manajer supermarket yang masih bujangan dan memiliki wajah cukup menawan, mulai sering memberikan perhatian pada Daniela. Nyinyiran yang menyerangnya pun semakin menjadi-jadi. Terlebih semua orang tahu kalau Gusti sebenarnya sudah memiliki pacar.
Namun Daniela berusaha tidak peduli. Selama mereka tidak bertindak terlalu jauh, ia memilih bersikap acuh.
Siang itu Daniela sedang berada di area bermain anak yang belum lama selesai direnovasi. Tempat itu kini terlihat jauh lebih cerah dan nyaman dibanding sebelumnya. Beberapa anak terlihat asyik bermain sementara para orang tua duduk mengawasi dari sekitar area.
Gusti yang baru saja datang langsung menghampiri Daniela sambil memperhatikan suasana di sekitar.
"Selamat ya, Daniela. Ide kamu mendesain area bermain anak ternyata benar-benar diminati pengunjung. Anak-anak jadi betah di sini," pujinya sambil tersenyum kagum. "Kamu memang berbakat."
Daniela tersenyum kecil merasa sungkan.
"Pak Gusti terlalu berlebihan. Itu cuma kebetulan sa..."
Ucapan Daniela tiba-tiba terputus.
Wajahnya langsung menegang, sementara satu tangannya refleks memegang perut yang sudah membesar.
"Argh..."
Daniela meringis pelan. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba menghentak dari dalam rahimnya.
"Kamu kenapa, Daniela?" tanya Gusti panik.
Pria itu langsung mendekat dan memapah tubuh Daniela yang tampak mulai limbung menuju kursi terdekat.
Daniela bernapas tidak teratur sambil menahan nyeri.
"Saya... kontraksi, Pak... argh..."
Kening Gusti langsung berkerut tegang.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
Daniela menggeleng pelan sambil mencoba mengatur napasnya.
"Tapi ini masih belum waktunya lahiran..."
"Pokoknya kita periksa dulu."
Tanpa menunggu bantahan lagi, Gusti segera membantu Daniela berdiri. Wajah pria itu terlihat benar-benar panik melihat kondisi wanita hamil di hadapannya.
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
lanjut