"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Deru mesin mobil sport milik Fauzan akhirnya berhenti tepat di depan teras megah kediaman utama keluarga Dirgantara.
Rumah bak istana itu tampak sunyi, namun memancarkan kemewahan yang selama ini selalu dibanggakan oleh Fauzan.
Dengan gerakan jemawa, Fauzan mematikan mesin mobil lalu turun bersama Mila yang berjalan melenggak-lenggok dengan gaun ketat dan riasan menornya.
Begitu melangkah melewati pintu ganda yang menjulang tinggi, Mila langsung berlagak bak nyonya besar di rumah itu.
Dengan dagu terangkat tinggi, Mila memanggil pelayan untuk menyambutnya.
"Bi! Bibi! Sini!" seru Mila dengan nada suara yang melengking manja, melambaikan tangannya yang dipenuhi perhiasan berkilau.
Seorang pelayan paruh baya bergegas datang dari arah dapur dengan kepala tertunduk dalam, tampak canggung melihat kehadiran Mila yang sudah berani memerintah padahal statusnya belum jelas di rumah itu.
"I-iya, Non? Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu ragu.
"Di mana Papa?" tanya Mila ketus, langsung menuntut keberadaan sang pemilik rumah.
Ia sudah tidak sabar ingin memamerkan pesonanya dan mendapatkan restu dari sang Don Juan legendaris.
"Anu... Tuan Besar belum datang, Non, dan—"
Tin! Tin!
Belum sempat pelayan itu menyelesaikan kalimatnya, suara klakson mobil yang sangat familier memecah keheningan dari arah halaman depan.
Sebuah sedan hitam mewah yang sangat mereka kenal bergerak anggun memasuki pelataran, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras.
Fauzan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.
"Itu Papa," bisiknya pada Mila dengan nada bangga.
Mahendra masuk ke halaman rumah dan menghentikan mobilnya dengan sempurna.
Pria paruh baya itu mematikan mesin, lalu dengan perlahan membuka pintu kemudi.
Gerakannya yang tenang dan penuh karisma selalu berhasil mendominasi atmosfer di sekitarnya. Namun, alih-alih langsung melangkah masuk ke dalam rumah seperti biasanya, Mahendra justru memutar langkahnya menuju ke sisi pintu penumpang.
Ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Sebuah gestur yang sangat manis, penuh penghormatan, dan jarang sekali dilakukan oleh seorang Mahendra Dirgantara yang terkenal dingin dan angkuh.
Fauzan dan Mila yang berdiri di ambang pintu utama seketika membelalakan matanya saat melihat sosok yang turun dari mobil Mahendra.
Darah di dalam tubuh Fauzan seolah berhenti mengalir.
Jantungnya berdegup kencang karena syok yang luar biasa.
Di sana, berdiri Luna dengan gaun brokat krem premium yang sangat anggun dan berkelas.
Wajah cantiknya yang dirias natural tampak begitu bersinar, berpadu sempurna dengan aura mewah yang dipancarkan dari gaun pilihan suaminya.
Luna terlihat seribu kali lebih anggun dan menawan dibandingkan dengan Mila yang tampak murahan dengan riasan menornya.
"P-Papa, kenapa dia di sini?!" tanya Fauzan dengan suara yang meninggi, jarinya menunjuk ke arah Luna dengan tubuh yang gemetar menahan syok dan amarah yang tiba-tiba bergejolak.
Mila di sampingnya pun tak kalah terkejut. Bibir merah menyalanya terbuka lebar, menatap tak percaya pada pemandangan di hadapannya.
Alih-alih menangis meratapi nasib di kamarnya karena ditinggal kabur, Luna justru datang ke rumah ini bersama ayah mertuanya.
Mahendra tidak menjawab pertanyaan putranya. Jangankan memberi penjelasan, melirik ke arah Fauzan dan Mila pun tidak.
Sorot mata tajam Mahendra mengabaikan keberadaan mereka berdua seolah-olah mereka hanyalah pajangan tak berharga di rumah itu.
Dengan gerakan yang sangat mantap dan protektif, Mahendra meraih jemari Luna.
Ia menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam rumah, menuntun langkah Luna melewati Fauzan dan Mila yang masih berdiri mematung seperti orang bodoh di ambang pintu.
Genggaman tangan Mahendra yang hangat seolah menjadi pesan mutlak bahwa Luna kini berada di bawah perlindungannya yang paling tinggi, dan tak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuhnya lagi.
Ketegangan di ruang tengah yang luas itu kian memuncak saat suara derit pintu kamar tamu di lantai bawah mendadak terbuka dengan kasar.
Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat.
Sosok wanita paruh baya dengan gaya sosialita yang glamor muncul dari balik sekat ruangan.
Emma, adik kandung Mahendra yang paling cerewet dan selalu ingin tahu segala urusan keluarga, berdiri mematung di ujung selasar.
Matanya berkedip tidak percaya, menatap tajam ke arah tautan jemari Mahendra dan Luna yang baru saja melangkah masuk.
"Mas, apa ini?! Kenapa wanita ini di sini?!" seru Emma dengan nada suara yang melengking tinggi, memecah keheningan rumah.
Emma berjalan cepat mendekati kakaknya dengan berkacak pinggang.
Dadanya naik-turun menahan rentetan pertanyaan yang sudah di ujung lidah.
Sebagai bibi dari Fauzan, ia tahu betul bahwa kemarin pernikahan keponakannya itu batal total karena Fauzan kabur. Lalu sekarang, mengapa calon pengantin wanita yang gagal itu justru digandeng masuk oleh kakaknya sendiri.
Menghadapi histeria adik perempuannya serta tatapan menuntut dari Fauzan dan Mila, raut wajah Mahendra tidak berubah sedikit pun.
Ia tetap berdiri tegap, memancarkan ketenangan mutlak seorang kepala keluarga yang berkuasa.
"Semuanya tenang dan ayo kita sarapan," ucap Mahendra, suaranya berat, datar, namun penuh penekanan yang seketika membungkam mulut Emma yang hendak protes kembali.
Mahendra mengalihkan pandangannya ke arah koridor dapur, tempat beberapa pelayan sejak tadi mengintip dengan cemas.
"Bibi, siapkan makanannya," titah Mahendra tegas.
"I-iya, Tuan Besar," sahut kepala pelayan dengan gugup.
Bibi dan pelayan lainnya menganggukkan kepalanya dengan cepat, langsung berhamburan ke meja makan untuk menata hidangan pagi yang sudah selesai dimasak sejak subuh tadi.
Mahendra kembali menatap orang-orang di hadapannya satu per satu dengan sorot mata sedingin es.
"Kita sarapan dulu," ucap Mahendra lagi, mengulangi perintahnya tanpa menerima bantahan dari siapa pun.
Dengan langkah mantap, Mahendra menuntun Luna menuju ke ruang makan mewah yang terletak di bagian tengah rumah.
Luna berjalan dengan kepala tegak, mencoba menguatkan hatinya.
Genggaman tangan Mahendra yang kokoh menyalurkan kekuatan besar yang membuatnya merasa aman, meskipun atmosfer di sekitar mereka terasa begitu mencekam.
Mereka berdua mengambil posisi duduk berdampingan di kursi utama meja makan.
Tak lama kemudian, Emma, Fauzan, dan Mila terpaksa mengekor masuk dengan langkah kaki yang dihentakkan kesal.
Fauzan duduk di seberang Luna dengan rahang yang mengeras rapat, sementara Mila duduk di sampingnya sambil terus meremas tali tas mewahnya dengan gusar.
Emma mengambil posisi di ujung meja, menatap tidak sabar ke arah sang kakak.
Di atas meja makan yang panjang itu, keheningan yang luar biasa tegang mendadak tercipta.
Suara denting piring dan sendok yang ditata oleh para pelayan terdengar begitu nyaring.
Sambil menunggu makanan disajikan sepenuhnya, Emma, Mila, dan Fauzan memandang sinis Luna yang duduk tenang di samping Mahendra.
Tatapan mata ketiganya sarat akan kebencian, cemoohan, dan rasa penasaran yang membuncah.
Mereka mengira Luna datang ke rumah ini untuk mengemis keadilan atau meratapi harga dirinya yang hancur, tanpa tahu bahwa status gadis berusia 25 tahun itu kini telah berubah menjadi orang nomor satu yang memegang kendali atas rumah tersebut.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi