NovelToon NovelToon
Sentuhan Semalam

Sentuhan Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Abil_

Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.

Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.

Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengepungan Kontrakan

Malam bergeser lambat di pemukiman padat penduduk yang terletak di pinggiran ibu kota. Di dalam sebuah kontrakan sempit berdinding batako, Eli sedang sibuk menyuapi Kenji dan Kiana dengan menu makan malam seadanya. Rasa cemas yang melanda sejak kejadian di mal siang tadi perlahan mulai mereda, tergantikan oleh rasa lelah yang teramat sangat. Eli menatap kedua anak kembarnya dengan tatapan penuh kasih sayang, bersyukur karena setidaknya malam ini mereka memiliki tempat berteduh.

"Ibu, besok kita jalan-jalan lagi?" tanya Kiana dengan mulut yang masih penuh dengan nasi dan telur dadar.

Eli tersenyum tipis, mengusap sisa makanan di sudut bibir putri kecilnya. "Besok Ibu harus pergi wawancara kerja dulu, Sayang. Kiana dan Kak Kenji jaga rumah sebentar ya?"

Kenji yang sejak tadi diam, mendongak. Matanya yang tajam menatap Eli dengan sorot kedewasaan yang tidak biasa. "Aku akan menjaga Kiana, Ibu. Ibu tidak perlu khawatir."

Mendengar kalimat menenangkan dari putra kecilnya, hati Eli menghangat. Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama. Keheningan malam di gang sempit itu mendadak pecah oleh suara deru mesin mobil-mobil mewah yang terdengar sangat asing di kawasan kumuh seperti ini. Suara ban yang berdecit keras di atas aspal kasar terdengar berhenti tepat di depan pagar kontrakan Eli.

Brak!

Suara pintu-pintu mobil yang ditutup secara bersamaan terdengar bergema, disusul oleh langkah kaki yang berat dan teratur dari belasan orang yang melangkah masuk ke halaman kontrakan. Insting Eli langsung waspada. Dia meletakkan piring makan malam anak-anaknya ke atas meja kayu yang rapuh dengan tangan yang mendadak gemetar.

"Kenji, bawa Kiana masuk ke dalam kamar sekarang. Kunci pintunya dari dalam dan jangan keluar sampai Ibu yang panggil," bisik Eli dengan suara tertahan, matanya menatap liar ke arah pintu depan yang terbuat dari kayu tipis.

Kenji tidak banyak bertanya. Bocah cerdas itu langsung menarik tangan adiknya yang tampak kebingungan, membawa Kiana masuk ke dalam kamar satu-satunya di kontrakan itu, lalu memutar kunci dengan klik halus.

Tepat setelah pintu kamar anak-anaknya tertutup, pintu depan kontrakan Eli dihantam dengan keras dari luar hingga engselnya nyaris jebak.

Brak!

Pintu itu terbuka lebar, menampilkan sosok beberapa pria berjas hitam berbadan tegap yang langsung masuk dan berdiri berjejer, membuat ruangan sempit itu terasa semakin sesak dan menyesakkan. Di antara barisan pria berjas hitam itu, seorang pria dengan postur jangkung melangkah masuk dengan sangat angkuh.

Xavier Arisatya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam formal yang melekat sempurna di tubuh kekarnya, tanpa jas, dengan lengan baju yang digulung hingga ke siku. Aura kekuasaan yang pekat dan mematikan langsung memenuhi seluruh sudut ruangan. Sepasang mata elangnya yang tajam menatap berkeliling, menilai betapa kumuh dan tidak layak tempat tinggal wanita yang selama ini membawa lari darah dagingnya.

"Lama tidak berjumpa, Eli," suara berat Xavier terdengar rendah, namun getarannya sanggup membuat bulu kuduk Eli berdiri seutuhnya. Pria itu melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga Eli terdesak mundur sampai punggungnya membentur dinding batako yang dingin.

Eli mencengkeram dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu panik. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak kaget. "An-Anda... bagaimana bisa Anda menemukan tempat ini?" tanya Eli dengan suara yang nyaris habis.

Xavier mendengus sinis, sebuah senyuman dingin dan berbahaya terukir di sudut bibirnya. Dia mengangkat satu tangannya, menyentuh dagu Eli dengan ujung jarinya yang dingin, memaksa wanita itu untuk mendongak menatap langsung ke dalam matanya.

"Tidak ada satu tempat pun di negara ini yang bisa menyembunyikanmu dariku, Wanita," bisik Xavier tepat di depan wajah Eli. Aroma maskulin yang mewah kembali menguasai indra penciuman Eli, membangkitkan memori malam panas enam tahun lalu. "Enam tahun kamu membawa pergi anak-anakku, membiarkan mereka hidup di tempat sekumuh ini. Kamu pikir aku akan diam saja setelah mengetahui kebenarannya?"

"Mereka anak-anakku! Aku yang melahirkan dan membesarkan mereka sendirian!" jerit Eli dengan sisa keberaniannya, mencoba menepis tangan kekar Xavier dari dagunya. Air mata keputusasaan mulai luruh membasahi pipinya.

"Mereka adalah darah daging Arisatya," potong Xavier dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan sedikit pun. Cengkeramannya di dagu Eli justru semakin menguat, posesif dan mengintimidasi. "Dan malam ini, aku datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milikku. Termasuk kamu."

Xavier melepaskan cengkeramannya lalu berbalik menatap ke arah pintu kamar yang terkunci. "Bawa anak-anak ke dalam mobil," perintah Xavier pada anak buahnya.

"Jangan! Tolong jangan bawa anak-anakku!" Eli berteriak histeris, mencoba berlari untuk menghalangi para pengawal, namun lengan kekar Xavier dengan cepat menangkap pinggangnya dari belakang, mengunci tubuh mungil Eli dalam dekapan posesif yang sangat kuat hingga dia tidak bisa bergerak sama sekali. Babak baru dari perangkap sang CEO berdarah dingin ini telah resmi dimulai malam ini.

1
Bu Dewi
seru kak 👍👍👍👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!