Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: SURAT PERINGATAN TERAKHIR RUMAH SAKIT
Bab 24: Surat Peringatan Terakhir Rumah Sakit
Malam telah melarut, melompati angka sebelas dengan keheningan yang terasa begitu mencekik di dalam rumah kediaman keluarga Dirgantara. Rumah yang dulunya penuh dengan kehangatan itu kini terasa dingin, asing, dan sepi laksana sebuah makam besar yang tak berpenghuni. Sejak Revan pergi membawa seluruh kemarahannya, nyawa dari rumah ini seolah ikut tercabut pergi tanpa sisa.
Di ruang tengah, lampu utama sengaja dimatikan untuk menghemat listrik, menyisakan pendaran cahaya kuning temaram dari lampu sudut yang menyorot ke arah meja makan.
Di sana, Ibu duduk sendirian.
Kedua tangannya yang tampak semakin kurus dan berurat menggenggam selembar kertas putih dengan logo rumah sakit di bagian atasnya. Air mata Ibu yang sejak sore tadi tidak kunjung mengering kembali menetes, membasahi permukaan kertas formal yang isinya bagai vonis mati bagi putra sulungnya.
Itu adalah Surat Peringatan Terakhir dari pihak administrasi rumah sakit tempat Arka biasa menjalani kemoterapi dan prosedur cuci darah rutin. Kalimat di dalam surat itu tertulis dengan sangat tegas dan kaku: jika tunggakan biaya pengobatan sebesar tujuh juta rupiah tidak segera dilunasi atau dicicil minimal setengahnya dalam minggu ini, maka prosedur cuci darah Arka untuk periode minggu depan akan ditunda sementara sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
"Ya Allah... dari mana kami harus cari uang sebanyak ini dalam waktu tiga hari..." rintih Ibu dengan suara yang sangat lirih, nyaris teredam oleh kesunyian malam.
Bahu Ibu berguncang hebat. Kepergian Revan yang menolaknya mentah-mentah di bengkel sore tadi sudah cukup menghancurkan hatinya, dan kini selembar kertas ini datang untuk meremukkan sisa-sisa pertahanan jiwanya. Ibu merasa gagal menjadi seorang ibu. Anak bungsunya membencinya di jalanan, sementara anak sulungnya perlahan-lahan sedang dijemput oleh maut karena keterbatasan ekonomi mereka.
Klek.
Suara gagang pintu depan yang terbuka perlahan memecah keheningan. Langkah kaki yang terasa sangat berat dan terseret terdengar melangkah masuk ke dalam rumah. Itu Ayah. Pria paruh baya itu baru saja pulang dari kantor cabang kedua tempat beliau mengambil kerja sampingan rahasia hingga tengah malam.
Ayah berjalan dengan tubuh yang tampak sedikit membungkuk, menahan rasa lelah yang teramat sangat pekat di sekujur persendiannya. Begitu melihat Ibu yang menangis tergugu di meja makan, Ayah buru-buru mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa pening yang sejak sore tadi berdenyut ritmis di kepalanya.
"Bu... Kenapa belum tidur? Ini sudah malam sekali," tanya Ayah dengan suara yang sangat parau dan habis, perlahan meletakkan tas kerja usangnya di atas kursi.
Ibu tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan tangan yang gemetar, ia menyodorkan kertas peringatan rumah sakit itu ke hadapan Ayah.
Ayah menerima kertas tersebut, membacanya perlahan di bawah pendaran cahaya lampu yang temaram. Setiap baris kalimat di dalam surat itu seolah menjadi pukulan gada yang sangat keras, menghantam dada kiri Ayah hingga beliau sempat meletakkan tangan kirinya di atas meja untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa lemas.
"Tunggakannya... sudah sebanyak ini ya, Bu?" lirih Ayah, seulas senyuman yang sangat getir dan penuh keputusasaan terukir di wajahnya yang kuyu. Gurat-gurat hitam di bawah matanya yang meredup memperlihatkan seberapa hancurnya kondisi fisik seorang kepala keluarga yang dipaksa banting tulang melampaui batas kemampuannya.
"Ayah... Ibu gak tahu harus gimana lagi," tangis Ibu pecah, ia memegang lengan kemeja Ayah yang kusut. "Sore tadi Ibu nyamperin Revan ke bengkel Miko... Ibu meluk dia, Ibu ngemis minta dia pulang, Yah. Tapi... tapi anak kita benci banget sama kita. Revan dorong Ibu, Yah. Dia bilang dia gak mau pulang sebelum namanya dibersihkan dari tuduhan mencuri... Hati Ibu hancur, Yah. Ibu mau jelasin kalau uang itu Ayah yang ambil buat Arka, tapi Ibu inget sumpah Ayah..."
Mendengar cerita Ibu, dada Ayah mendadak terasa sangat sesak, seperti ada sebongkah batu besar yang menyumbat saluran pernapasannya. Air mata yang selama ini selalu beliau tahan di depan istri dan anak-anaknya akhirnya luruh juga, mengalir melewati pipinya yang tampak semakin tirus.
Rasa bersalah yang teramat sangat besar mencabik-cabik hati Ayah. Beliau yang mengambil uang itu, namun anak bungsunya yang harus menanggung tuduhannya hingga telanjur mengutuk mereka di luar sana.
Ayah perlahan berlutut di samping kursi Ibu, menggenggam kedua tangan istrinya dengan sangat erat, mencoba menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki dari tubuhnya yang kian ringkih.
"Maafkan Ayah, Bu... Ini semua salah Ayah. Ayah yang gak becus jadi suami dan ayah buat kalian," bisik Ayah dengan suara yang tersedat oleh isakan kecil. "Ayah yang bikin Revan pergi, Ayah juga yang belum bisa nyembuhin Arka..."
"Nggak, Yah... Ayah udah berjuang sendirian selama ini. Fisik Ayah udah kurus banget, Ayah gak pernah istirahat," Ibu menggelengkan kepalanya, mengusap air mata di wajah suaminya dengan penuh rasa iba.
Ayah menarik napas panjang yang terdengar sangat berat, lalu menghapus air matanya sendiri dengan kasar menggunakan telapak tangan yang kasar. Tatapan mata Ayah yang tadinya layu mendadak berubah menjadi sangat tegar, sebuah ketegaran sejati dari seorang kepala keluarga yang menolak untuk menyerah pada takdir yang kejam.
"Ibu jangan khawatir soal surat ini. Biar ini jadi urusan Ayah," ucap Ayah dengan nada suara yang dipaksakan terdengar mantap, meskipun kedua bahunya bergetar menahan lelah. "Besok... besok Ayah akan bicara sama kepala divisi di kantor. Ayah akan minta jatah lembur tambahan lagi sampai subuh setiap hari minggu ini. Ayah juga akan cari pinjaman koperasi kantor untuk nutup kekurangannya. Yang penting, jadwal cuci darah Arka minggu depan gak boleh geser satu hari pun. Arka harus tetep hidup, Bu. Revan juga harus tetep sekolah."
"Tapi fisik Ayah... Ibu takut Ayah sakit..."
"Ayah gak apa-apa, Bu. Ayah kuat. Seorang ayah gak boleh sakit kalau anak-anaknya masih butuh makan," potong Ayah dengan senyuman tulus yang sangat mengiris hati, mencoba meyakinkan istrinya.
Bagi Ayah, rasa sakit di dadanya yang belakangan ini sering datang mendadak bukanlah apa-apa dibandingkan dengan keselamatan Arka dan masa depan Revan. Beliau rela menukar sisa-sisa umur dan kesehatan fisiknya, asalkan kedua putranya bisa tetap tegak berdiri di bawah langit dunia ini. Ayah memilih untuk mengunci rapat semua penderitaan fisiknya, menanggung badai ini sendirian dalam keheningan malam.
Sementara itu, dari balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka di ujung lorong, Arka berdiri mematung dengan tubuh yang dibalut jaket tebal untuk menghalau rasa dingin yang menusuk tulangnya. Wajahnya seputih kertas, dan sepasang matanya yang sayu tampak berkaca-kaca menyaksikan percakapan kedua orang tuanya di meja makan.
Arka meremas dadanya sendiri yang terasa sesak. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Ayah dan Ibunya terdengar seperti belati yang menusuk langsung ke lubuk hatinya.
Gara-gara gue... Ayah harus kerja rodi sampai subuh... Gara-gara penyakit gue... Ibu harus diusir sama Revan di bengkel... batin Arka dengan air mata yang mengalir deras tanpa suara di kegelapan kamarnya.
Rasa bersalah yang teramat sangat pekat mulai menanamkan benih-benih keputusasaan yang besar di dalam jiwa Arka. Anak sulung yang genius itu mulai memandang tubuhnya sendiri sebagai sebuah kutukan, sebuah parasit yang sedang membunuh perlahan orang-orang yang paling dicintainya.
Malam itu, di bawah atap rumah yang sunyi, tiga manusia terikat dalam labirin penderitaan yang sama dengan rahasia mereka masing-masing. Mereka sama sekali tidak pernah menyadari, bahwa janji Ayah untuk mengambil jam lembur gila-gilaan sampai subuh demi menutupi surat peringatan rumah sakit malam ini adalah awal dari hitung mundur takdir tragis yang akan merubuhkan tiang rumah mereka.
bersambung.....
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...