Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi saat Andara mengendap masuk ke dalam kamar perawatan Lily. Meski cahaya ruangan temaram, Andara masih bisa melihat Lastri yang tidur di sofa panjang.
Saat ini adalah ketiga kalinya Andara membesuk Lily diam-diam dan selalu ia lakukan di jam segini supaya tidak bertemu dengan siapapun dan biasanya Lily masih lelap tertidur.
Meski hatinya sakit melihat kondisi Lily yang lemah dan tak berdaya tapi Andara tidak bisa menyentuh apalagi memeluknya atau kondisi Lily bisa semakin memburuk.
Andara mengusap kedua sudut matanya yang basah. Ada perasaan bersalah karena menggunakan emosi saat memgambil keputusan. Seharusnya Andara menunggu sampai Lily mulai MPASI.
Dengan sangat pelan dan hati-hati Andara keluar kamar. Sebelum menutup pintu, ia sempat menatap Lily seksli lagi.
“Semoga cepat sembuh sayang,” gumam Andara.
Menggunakan hoodie dan masker, Andara menunggu di depan lift. Tiba-tiba penutup kepalanya melorot seperti ada yang menarik. Spontan Andara berbalik badan dan matanya membola begitu melihat sosok pria di hadapannya.
“Pak Baskara,” desis Andara.
Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, pria itu menatap dingin Andara yang tingginya hanya sebahu Baskara.
“Rupanya ada maling di rumah sakit ini.”
Andara tidak menhawab malah membuang muka.
“Sok ingin dipentingkan tapi malah datang seperti pencuri,” sindir Baskara dengan nada sinis.
“Saya tidak mau Lily melihat saya tapi saya juga tidak bisa megabaikannya.”
“Kalau memang peduli kenapa tidak bisa dihubungi ? Kamu tahu kemungkinan anak itu tidak bisa dilepas begitu saja karena kamu ibu susunya bukan sekedar pengasuh.”
”Maaf.”
Baskara menghela nafas saat melihat air mata Andara menetes ke lantai.
“Jadi apa maumu sekarang ?”
“Saya mau pamit pulang.”
Baskara berdecak kesal. “Bukan itu maksudku tapi apa kamu mau jadi pengasuh Lily lagi ?”
Kepala Andara mendongak lupa kalau habis menangis. Matanya yang basah mengerjap polos membuat Baskara jadi canggung sampai memalingkan wajahnya.
“Saya sudah bekerja.”
“Sebagai pengasuh juga ?” Baskara mengangkat sebelah alisnya.
Belum sempat Andara menjawab, pintu lift terbuka.
“Ara.”
Ternyata Dani, kakak kandung dokter Dita menyusul dan menghampiri Andara dengan wajah cemas gara-gara melihat Baskara ada di situ.
“Kamu nggak apa-apa ?”
Baskara berdecih dan tersenyum sinis.
“Nggak apa-apa. Maaf saya tidak langsung turun.”
“Kamu yakin ?” Dani melirik tajam pada Baskara lalu kembali fokus pada Andara.
“Iya saya nggak apa-apa, Pak.”
“Kalau begitu kita pulang sekarang.”
“Baik.”
“Tidak bisa !” protes Baskara dengan tegas. “Urusan saya dan dia belum selesai.”
“Urusan apalagi ? Ara sudah bukan pegawai anda lagi, sekarang dia bekerja sama saya.”
Baskara menarik satu sudut bibirnya. “Sekarang baru jam enam kurang sepuluh menit, jam kerja belum dimulai jadi dia masih punya waktu untuk ngobrol dengan saya.”
“Dia, dia ! Namanya Andara. Anda yang butuh Ara tapi sikap anda sangat tidak sopan !” tegur Dani dengan nada cukup keras.
“Kalau pak Bas ingin membahas soal Lily maaf saya tidak bisa kembali menjadi ibu susunya. Dokter Dita bilang tidak ada yang salah dengan fisik Lily. Tidak lama lagi Lily bisa pulang ke rumah,” timpal Andara.
Baskara menghela nafas, gengsi untuk memaksa Andara.
“Kalau begitu berikan nomormu yang baru.”
“Untuk apa ?” Dani menantang Baskara yang membalasnya dengan senyuman sinis.
“Andara hanya pegawai bukan istri anda. Kalau Andara bersedia, kenapa anda keberatan ?”
:Dani mendengus sebal. Apa yang dikatakan Baskara tidak mungkin dibantah, semua terserah Andara.
Tidak sabar melihat Andara diam saja dan wajahnya kelihatan bingung, Dani mendekatinya.
“Jangan takut menolak ! Abaikan saja kalau kamu tidak mau,”
Baskara memutar bola matanya lalu geleng-geleng kepala. Sepertinya Dani sedang berusaha membalas dendamnya pada Baskara gara-gara Fanny padahal kalau mau dirunut, Fanny lah yang memutuskan hubungannya dengan Dani lalu menawarkan diri pada Deswita demi biaya pengobatan ayahnya.
“Fisik Lily mungkin baik-baik saja tapi batinnya belum siap kehilanganmu.”
Terkejut mendengar Baskara menyebut nama Lily untuk pertama kalinya, Andara sampai melongo, menatap Baskara yang tersenyum tipis.
“Ra, jangan sampai terjebak dengan rayuannya,” bisik Dani membuyarkan lamunan Andara.
“Ayo kita pulang sekarang.”
Tidak enak pada kebaikan Dani yang memberikan pekerjaan dan melindunginya dari Irfan, Andara mengambil keputusan yang membuat Baskara hanya bisa menghela nafas.
“Maafkan saya pak Baskara. Saya yakin dokter Dita bisa menemukan jalan keluar yang terbaik untuk Lily.”
Baskara tidak lagi memaksa, membiarkan Dani mrmbawa Andara pergi.
**
“Kamu menyesal ?” tanya Dani dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.
“Tidak.”
Dani tertawa. “Ekspresi wajahmu menunjukkan hal yang berbeda.”
“Saya hanya teringat pada Lily.”
“Aku mengerti.”
“Maaf kalau saya sudah membuat pak Dani kecewa,” ujar Andara dengan wajah menyesal.
Kembali Dani tertawa melihat kepolosan Andara.
“Saya tidak kecewa hanya tidak mau kamu mengalami kejadian yang sama seperti Fanny.”
Andara terdiam, sungkan bertanya lebih lanjut padahal hatinya penasaran karena versi Baskara, Fanny-lah yang sudah membohongi banyak orang hanya demi uang.
“Maaf aku lupa memberitahu siapa Fanny. Dia mamanya Lily dan sempat menjadi tunangangku.”
Andara hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia tidak berani bilang kalau Dita sudah pernah memberitahunya.
“Awalnya aku pikir keluarga Baskara yang sengaja merampas Fanny dari sisiku tapi saat kondisi ayahnya kritis, Fanny menghubungiku dan minta tolong supaya aku menemaninya. Dari situlah aku baru tahu cerita yang sebenarnya.”
Kepala Andara mengangguk-angguk lagi.
“Satu hal yang membuatku sangat membenci Baskara adalah sikapnya yang tega menyia-nyiakan wanita yang sangat aku sayangi. Fanny sudah memberinya keturunan. Soal yang lahir anak perempuan bukan Fanny yang berkuasa menentukan tapi Baskara seperti menyalahkan Fanny karena tidak bisa memberikan keturunan anak lakia-laki.”
Saking emosinya Dani menjeda karena nafasnya agak terengah.
Dani tersenyum getir. “Kebencianku pada Baskara sempat mereda tapi begitu tahu Fanny hamil lagi, perasaan itu muncul kembali.”
“Kenapa begitu ?”
“Karena Baskara tidak peduli dengan kondisi istrinya sendiri bahkan aku yakin dia tidak tahu kalau Fanny menderita preeklamsia. Dokter sudah memperingatkan Fanny lebih hati-hati kalau ingin menambah momongan lagi.”
Karena tidak mengerti apa itu preeklamsia, diam-diam Andara mencari tahu lewat chatGPT
“Baskara tidak pernah peduli dengan kondisi istrinya padahal anak yang akan lahir adalah darah dagingnya. Akhirnya aku yang menemani Fanny di ruang bersalin dan minta Dita yang menjadi dokter anaknya.”
“Saya turut prihatin atas kepergian bu Fanny.”
Dani menarik nafas dalam-dalam dengan wajah sarat kesedihan dan penyesalan.
“Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, membiarkanmu mengalami nasib seperti Fanny. Manusia seperti Baskara selalu menilai segala sesuatu dengan uang dan bisa membeli orang dengan kekayaannya.”
Andara hanya tersenyum tipis tanpa menggangguk atau menggeleng.