[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Salah paham
"Orang tuaku... mereka tidak pernah ada di rumah. Mereka hanya memberiku uang, tapi tidak pernah melihatku," isak Bella di sela tangisnya. "Aku hanya ingin seseorang memperhatikanku. Aku selalu takut mati sendirian di kamar. Aku pikir kalau aku punya pacar, aku tidak akan merasa kesepian lagi... tapi semua orang malah meninggalkanku."
Luis tertegun. Ia melihat kerapuhan yang luar biasa di balik sikap Bella yang agresif. Ternyata, gadis ini bukan psikopat atau orang aneh, ia hanyalah anak manusia yang hancur karena kesepian. Sesuatu di dalam dada Luis, yang biasanya beku, terasa sedikit menghangat karena rasa kasihan.
Bella kemudian menerjang maju dan memeluk Luis dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada Luis. "Jangan pergi, Luis. Tolong, jangan pergi seperti yang lain."
Luis terdiam sejenak. Ia merasa canggung. Ia jarang dipeluk, apalagi oleh gadis yang menangis tersedu-sedu seperti ini. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan menepuk punggung Bella dengan kaku. "Aku tidak akan ke mana-mana untuk sekarang," bisiknya lirih.
Momen itu terasa sangat hangat dan manis. Bella yang biasanya bersikap berlebihan, kini tampak seperti anak kecil yang menemukan tempat berlindung.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dengan tiba-tiba.
"Kak! Aku pulang! Kok pintunya—" Luna berdiri mematung di ambang pintu.
Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di depannya: Luis sedang duduk di kasur, memeluk Bella yang menangis di dadanya.
"Astaga! K-kalian... kalian sedang apa?!" teriak Luna, menutup matanya dengan tangan tapi tetap mengintip lewat sela-sela jarinya. "Kak Luis! Ibu dan Ayah baru pergi sebentar, kok sudah berani melakukan ini?! Kakak mesum!"
"Luna, tunggu! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Luis segera mendorong Bella dan berdiri, wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat panik.
Bella yang kaget langsung berhenti menangis, wajahnya memerah padam karena malu, sementara Luna sudah berbalik lari ke arah ruang tamu sambil berteriak, "IBU! KAK LUIS MEMBAWA PACARNYA KE KAMAR DAN MELAKUKAN HAL ANEH!"
Luis memijat pelipisnya. Hari ini benar-benar kacau.
Suara teriakan Luna membuat suasana rumah yang tadinya tenang berubah menjadi heboh. Pintu depan terbuka lebar, dan Hendri serta LLidya yang tidak jadi pergi masuk dengan wajah panik.
"Ada apa ini? Kenapa Luna teriak-teriak?" tanya Lidya dengan napas terengah-engah.
Luna menunjuk ke arah kamar dengan jari gemetar. "Ibu! Kak Luis tadi di kamar berdua sama perempuan, terus mereka pelukan!"
Bella, yang wajahnya sudah memerah padam seperti kepiting rebus, segera melepaskan pelukannya dan berdiri dengan canggung.
Ia merapikan rambutnya yang berantakan, matanya masih sedikit bengkak karena bekas menangis. Luis, di sisi lain, hanya bisa menghela napas panjang dan memijat dahinya yang pening.
Hendri menatap Luis, lalu beralih ke Bella yang tampak malu luar biasa. "Luis? Benar begitu?"
Luis menatap ayahnya dengan tenang, tanpa ada rasa bersalah karena ia memang tidak melakukan hal yang dituduhkan. "Tadi Bella sedang sedih, dia cerita banyak soal masalah pribadinya. Aku hanya mencoba menenangkannya. Tidak ada hal aneh yang terjadi, Yah."
Lidya melihat sisa air mata di wajah Bella. Insting keibuannya langsung bekerja. Ia mendekat dan mengusap bahu Bella dengan lembut. "Oh, jadi begitu. Maafkan Luna ya, dia memang suka berlebihan. Kalau sedang ada masalah, memang butuh teman untuk berbagi. Jangan malu, Nak Bella."
Mendengar penjelasan itu, ketegangan di ruangan itu menguap seketika. Luna yang tadinya berapi-api pun tampak bingung, merasa sedikit bersalah karena telah membuat keributan besar.
"Ooh... jadi cuma curhat? Kirain mau melakukan yang macam-macam," gumam Luna pelan.
"Luna, minta maaf sama Kakakmu dan Kak Bella," tegur Hendri.
"Iya, maaf ya Kak Luis, maaf juga Kak Bella," ucap Luna sambil cemberut.
Setelah suasana tenang, Bella mulai merasa tidak enak hati karena sudah membuat keributan di rumah Luis. "Tante, Om, sepertinya saya harus pulang sekarang. Hari sudah mulai sore."
Lidya mengangguk. "Iya, Nak Bella. Tapi, Luis, kau harus antar Bella pulang ya. Jangan biarkan dia jalan sendirian saat hari sudah hampir gelap."
"Iya, Bu," jawab Luis singkat
Luis mengambil jaketnya. Ia berjalan keluar rumah diikuti Bella. Udara sore itu cukup sejuk.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memberikan cahaya jingga yang lembut ke jalanan perumahan.
Mereka berdua berjalan berdampingan dalam diam selama beberapa menit. Bella sesekali melirik Luis, terlihat jauh lebih tenang setelah meluapkan beban di pundaknya tadi.
"Terima kasih, Luis," kata Bella memecah keheningan. "Dan maaf soal yang tadi. Aku tidak bermaksud membuat orang tuamu salah paham."
"Sudahlah. Lupakan saja," jawab Luis datar.
Mereka terus berjalan melewati deretan rumah dan pohon-pohon rindang.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, dua orang pria berjalan santai sambil tertawa-tawa. Mereka adalah Dimas dan Rian, teman sekelas Luis yang sangat sering menghabiskan waktu di kantin.
"Woi, lihat deh! Bukannya itu si Luis?" ucap Rian sambil menyipitkan mata.
Dimas menghentikan langkahnya, matanya terbuka lebar saat melihat siapa yang berjalan di samping Luis. "Gila! Itu Bella kan?"
Rian memukul lengan Dimas. "Hah? Gak mungkin! Luis itu kan si kutu buku yang pendiam. Mana mungkin dia bisa jalan bareng cewek secantik Bella? Pasti kita salah lihat."
Mereka berdua berjalan lebih dekat, masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Begitu jarak mereka tinggal beberapa meter, mereka akhirnya sadar bahwa itu memang benar-benar Luis dan Bella.
"LUIS?!" teriak Dimas kaget, hampir menjatuhkan botol minum yang dipegangnya.
Luis berhenti berjalan dan menatap dua temannya dengan wajah bosan. Bella, yang tadi merasa percaya diri, tiba-tiba memegang lengan Luis lebih erat, merasa sedikit risih karena dilihat oleh teman-teman Luis.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Luis santai.
Rian dan Dimas melongo. Mereka bergantian menatap Luis dan Bella seperti melihat keajaiban dunia.
"Gila, Bro! Ini nyata? Kau beneran pacaran sama Bella?" tanya Rian tak percaya. "Aku gak salah lihat kan?"
Dimas menimpali, "Luis, Kau pake pelet apa, hah? Atau kau baru menang lotre? Aku gak nyangka banget!"
Bella merasa tersinggung, namun sebelum dia sempat marah, Luis dengan tenang memotong pembicaraan mereka. "Memangnya kenapa? Tidak boleh aku jalan sama pacarku sendiri? Lagi pula yang ngejar-ngejar bukan aku, tapi gadis ini. kalian lupa atau pikun?"
"Oh, Iya. lupa."