"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Perang Cinta di Sekolah
Pukul 07.30 pagi.
Suasana di depan gerbang Hanlim High School yang biasanya hanya dipenuhi riuh rendah siswa, mendadak berubah menjadi lautan manusia. Sebuah iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di depan lobby utama. Siswa-siswi saling berbisik, menyangka ada kunjungan menteri atau bintang film internasional.
Pintu mobil terbuka. Bukannya pengawal berbadan besar, yang keluar justru adalah Jungkook dan Jimin. Keduanya memakai kacamata hitam, masker, dan jaket bomber yang sangat keren. Mereka berdua berjalan memutar dan membukakan pintu untuk seorang gadis yang duduk di kursi belakang.
Aira keluar dengan ragu. Ia memakai seragam Hanlim yang sudah disetrika sangat rapi oleh Jin, kacamata besarnya sengaja ditinggalkan di rumah (atas perintah Yoongi agar ia tidak pusing lagi), dan rambutnya dihias dengan jepit pita kecil yang manis.
"Kak... malu... semua orang melihat," bisik Aira sambil menarik-narik ujung jaket Jungkook, mencari perlindungan.
"Biarkan saja mereka melihat. Biar mereka tahu siapa yang mereka hadapi kalau berani menyentuhmu lagi," jawab Jungkook tegas, suaranya terdengar sangat protektif.
Jimin kemudian merapikan rambut Aira dan memberikan kecupan di keningnya yang langsung memicu jeritan histeris dari para siswi yang menonton dari jauh. "Belajar yang rajin ya, sayang. Ingat, kalau ada yang nakal, langsung telepon Kakak. Kakak akan ada di sini dalam lima menit pakai motor sport."
Aira hanya bisa menunduk malu, wajahnya memerah sempurna. Ia berjalan masuk ke sekolah sambil membawa tas yang sebenarnya isinya hanya buku catatan, tapi terasa berat karena "beban kasih sayang" dari kedua abangnya yang super populer itu.
Baru saja Aira melangkah masuk ke koridor utama, tiga sosok pangeran Hanlim sudah berdiri berjajar seolah sedang menunggu antrean. Guanlin, Sunoo, dan Heeseung tampak sangat bersinar pagi itu, mengabaikan kerumunan siswa yang memperhatikan mereka.
"Selamat datang kembali, Tuan Putri," sapa Guanlin dengan senyum tipisnya yang mematikan. Tanpa permisi, ia langsung mengambil alih tas punggung Aira dari bahunya. "Tas ini terlalu berat untuk bahumu yang kecil. Biar aku yang bawakan sampai ke kelas."
"Hei, aku yang harusnya membawakannya! Aku kan teman sebangkunya!" seru Sunoo tak mau kalah. Ia mencoba merebut tas itu dari tangan Guanlin. "Aira, aku bawakan cokelat hangat kesukaanmu. Sini, gandeng lenganku saja supaya kau tidak jatuh."
Heeseung yang biasanya kalem, tiba-tiba menyelip di antara mereka. Ia memberikan sebuah earphone nirkabel kepada Aira. "Aira, ini lagu yang aku janjikan semalam. Pakai ini kalau kau merasa bising dengan suara orang-orang di sekitarmu. Dan... biar aku saja yang membawakan buku-bukumu."
Aira berdiri mematung di tengah-tengah mereka. Ia merasa seperti karakter dalam novel Miss KA yang sedang dikelilingi oleh para pelindung. "Eh... Kakak-kakak... aku bisa bawa sendiri kok," rengek Aira manja sambil mengerucutkan bibirnya.
"TIDAK BOLEH!" jawab ketiga pangeran itu serempak, persis seperti reaksi abang-abangnya di rumah.
Aira akhirnya hanya bisa pasrah. Ia berjalan di tengah koridor dengan tas dibawakan Guanlin, tangan kiri digandeng Sunoo, dan telinga kanan memakai earphone dari Heeseung. Seluruh sekolah seakan membeku melihat pemandangan itu. Gadis yang dulunya dianggap "cupu" kini benar-benar menjadi ratu sekolah dalam satu malam.
Jam istirahat tiba, dan Aira berharap bisa makan dengan tenang di pojok kantin. Namun, harapannya pupus saat ia melihat mejanya sudah dipenuhi dengan berbagai macam kotak bekal mewah.
Jin ternyata mengirimkan layanan antar makanan khusus ke sekolah dengan menu fine dining untuk Aira. Tapi masalahnya, para pangeran juga membawa persembahan mereka sendiri.
"Makanlah sushi dariku, Aira. Ikan ini diterbangkan langsung dari Jepang pagi tadi," ucap Guanlin sambil menyodorkan sepotong sashimi.
"Jangan, itu terlalu amis. Makanlah sandwich buatanku sendiri. Aku belajar membuatnya semalaman demi kau," potong Heeseung dengan wajah serius yang sangat tampan.
Aira merasa pusing melihat mereka semua berebut perhatiannya. Mood mood swing-nya tiba-tiba muncul. Matanya mulai berkaca-kaca karena merasa tertekan oleh perhatian yang terlalu berlebihan. "Hiks... Aira cuma mau makan bekal nasi goreng dari Kak Jin... kenapa kalian semua jadi berisik... hiks..."
Seketika, Guanlin, Sunoo, dan Heeseung panik luar biasa.
"Aduh, jangan nangis!" Sunoo langsung menarik tisu dan mengusap air mata Aira. "Oke, oke, kita makan nasi gorengmu saja ya? Sini, aku suapi pelan-pelan."
Aira sesenggukan kecil, ia membuka mulutnya manja saat Sunoo menyuapinya. "Beneran ya? Jangan berantem lagi... Aira kan jadi pusing..."
Di saat itulah, Jungkook tiba-tiba muncul di jendela kantin (yang entah bagaimana dia bisa memanjat ke sana). Ia memakai topi dan masker, memberikan kode jempol pada Aira saat melihat adiknya sedang disuapi. Namun, saat melihat tangan Sunoo yang hampir menyentuh pipi Aira, mata Jungkook langsung melotot tajam.
"EHEM!" Jungkook sengaja berdehem keras dari luar jendela, membuat para pangeran kaget dan menoleh. Aira tertawa geli melihat abangnya yang nekat menyamar jadi ninja sekolah demi memantaunya.
Momen di kantin itu pun berakhir dengan Aira yang bermanja-manja pada ketiga pangeran sekaligus, membuat seisi sekolah tahu bahwa siapapun yang mencoba menyakiti Aira, mereka harus berhadapan dengan tujuh bintang dunia dan tiga pangeran penguasa sekolah.
Setelah kehebohan di kantin, Aira merasa kepalanya sedikit berdenyut. Perhatian dari sepuluh pria tampan (7 abang dan 3 pangeran) benar-benar menguras energinya. Saat bel pelajaran seni musik berbunyi, Aira memutuskan untuk "menghilang" sejenak. Ia menyelinap keluar lewat pintu belakang kelas dan menaiki tangga menuju atap sekolah yang biasanya terkunci.
Namun, kejutan menanti di sana. Pintu atap sudah terbuka, dan aroma parfum maskulin yang segar menyambutnya. Guanlin sedang berdiri di tepi pagar pembatas, menatap pemandangan kota Seoul. Di sampingnya, sebuah meja lipat kecil sudah tertata dengan dua cup kopi latte hangat dan macaron warna-warni.
"Aku tahu kau akan datang ke sini," ucap Guanlin tanpa menoleh. Ia tersenyum tipis saat mendengar suara langkah kaki Aira yang ragu-ragu.
Aira berjalan mendekat, ia langsung menarik ujung seragam Guanlin dengan manja. "Kak Guanlin... kok tahu Aira mau ke sini? Aira kan mau sembunyi dari semua orang."
Guanlin berbalik, ia menarik kursi untuk Aira. "Karena aku tahu kau tidak suka keramaian yang berlebihan, Miss KA. Di sini sepi, tidak ada Jungkook-hyung yang memanjat jendela atau Sunoo yang terus menggodamu."
Aira duduk dan menyesap kopinya, ia merasa sangat tenang. "Makasih ya, Kak. Di sini enak, anginnya sejuk." Aira menyandarkan kepalanya di bahu Guanlin, matanya terpejam menikmati ketenangan itu. "Kak... terkadang Aira pengen jadi Aira yang biasa saja, bukan Miss KA yang dicari semua orang."
Guanlin mengelus puncak kepala Aira dengan sangat lembut. "Bagiku, kau tetap Aira yang cengeng. Mau kau penulis jenius atau bukan, aku akan tetap menyiapkan tempat sembunyi ini untukmu."
Ketenangan di atap sekolah tidak bertahan lama. Pintu atap kembali terbuka dengan kasar, dan Heeseung muncul dengan nafas tersengal sambil membawa gitarnya. Di belakangnya, Sunoo mengekor dengan wajah yang tampak kesal.
"Wah, ternyata kalian di sini! Curang sekali ya, kencan berdua tanpa mengajak kami," protes Sunoo sambil langsung duduk di lantai samping kaki Aira, menaruh kepalanya di pangkuan Aira dengan santai. "Aira, rambutmu berantakan karena angin. Sini, biar aku rapikan."
Heeseung tidak banyak bicara, ia duduk di kursi lain dan mulai memetik gitarnya. Nadanya terdengar sedikit lebih tajam dari biasanya nada cemburu yang sangat kentara. "Aira, kau bilang kau suka lagu yang kubuat semalam. Tapi kenapa kau malah di sini bersama si Sultan Kaku ini?" tanya Heeseung sambil melirik Guanlin.
Aira yang sedang mode manja langsung mengerucutkan bibirnya. "Ih, jangan berantem! Aira kan cuma mau istirahat! Kalau kalian berisik, Aira nangis nih!" (Mode mood swing trauma aktif seketika).
Seketika, Guanlin, Sunoo, dan Heeseung mematung.
"Eh, jangan! Oke, oke, kami diam," ucap Heeseung panik. Ia mulai memainkan melodi yang sangat lembut dan menenangkan. "Maafkan aku, Aira. Aku hanya... aku hanya tidak suka melihatmu terlalu dekat dengan pria lain, meskipun itu temanku sendiri."
Aira akhirnya luluh, ia merentangkan tangannya ke arah Heeseung. "Kak Heeseung... peluk bentar. Aira kangen denger Kakak nyanyi langsung di telinga Aira."
Heeseung terpaku, wajahnya memerah sempurna. Ia meletakkan gitarnya dan menarik Aira ke dalam pelukan hangat yang sangat protektif. Guanlin dan Sunoo hanya bisa mendesah pasrah, merasa kalah telak oleh "serangan manja" Aira pada Heeseung kali ini.
Jam pulang sekolah akhirnya tiba. Aira berjalan keluar gedung sekolah dengan dikawal ketat oleh ketiga pangeran. Namun, pemandangan di parkiran sekolah benar-benar di luar nalar.
Bukan lagi mobil hitam biasa, kali ini Yoongi dan Jin datang dengan mobil van agensi yang sangat besar, lengkap dengan beberapa staf keamanan. Di samping mereka, Jungkook sedang bersandar di motor gede hitamnya, tampak seperti pahlawan film aksi.
"Waktunya pulang, Tuan Putri! Tidak ada lagi kencan di atap!" seru Seokjin sambil melambaikan tangan dengan penuh semangat, mengabaikan tatapan heran ribuan siswa.
Aira ingin berlari menghampiri mereka, tapi tangannya ditahan oleh Sunoo di satu sisi dan Guanlin di sisi lain. "Kami yang akan mengantarnya pulang hari ini, Kak Jin. Kami sudah ada janji untuk riset naskah di kafe," ucap Guanlin tegas.
"Riset atau kencan?!" semprot Yoongi sambil berjalan mendekat. Ia melepaskan tangan para pangeran dari lengan Aira dengan gerakan cepat. "Aira harus pulang. Dia harus minum vitamin dan istirahat. Miss KA tidak boleh telat makan."
Aira yang melihat suasana mulai tegang kembali, langsung menggunakan jurus pamungkasnya. Ia tiba-tiba memeluk pinggang Yoongi dan menyembunyikan wajahnya di dada kakaknya yang paling galak itu. "Kak Yoongi... jangan galak-galak... Aira mau pulang sama Kakak, tapi Kak Guanlin dan yang lain boleh ikut ke rumah kan? Kita mau makan bareng..."
Melihat wajah Aira yang memelas dengan mata kucingnya, Yoongi seketika kehilangan semua wibawa galaknya. "Hah... ya sudah. Tapi mereka harus naik mobil sendiri-sendiri, tidak boleh satu mobil denganmu!"
Malam itu, Mansion Kim kembali ramai. Bukan karena ancaman bahaya, tapi karena sepuluh pria paling tampan di Korea sedang berebut tempat duduk di samping Aira saat makan malam. Aira hanya bisa tersenyum bahagia, menyadari bahwa meskipun hidupnya penuh rahasia dan bahaya, ia memiliki "pasukan pelindung" yang akan selalu membuatnya merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia.
📢 Aduhh! Aira beneran ratu yang diperebutkan ya! 😍 Dari atap sekolah sampai meja makan, suasananya penuh cinta dan cemburu! Tapi kira-kira siapa nih yang bakal dapet kesempatan buat kencan berdua aja sama Aira di bab depan?
👇 VOTE [A] Heeseung si Pangeran Musik | [B] Guanlin si Sultan Dingin | [C] Sunoo si Rubah Manis!
💬 KOMEN : Menurut kalian, reaksi Jungkook bakal gimana kalau tahu Heeseung meluk Aira di atap tadi? 😂
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Bab selanjutnya bakal ada pesta dansa sekolah yang super romantis!
⭐ KASIH RATING 5 STARS biar Aira makin disayang sama semua cowok tampan ini!
BehindTheSpotlight #MangaToonRomance #AiraManja #HeeseungHug #JealousBTS #HanlimRomance