"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Godaan di Perpustakaan Pribadi
Godaan di perpustakaan pribadi bermula saat penyusup bertopeng itu tiba-tiba tersungkur karena sebuah hantaman benda tumpul yang sangat keras tepat di belakang kepalanya. Xavier muncul dari balik bayangan pintu rahasia dengan wajah yang sangat beringas dan napas yang sangat memburu karena amarah yang memuncak. Ia tidak melepaskan tembakan karena tidak ingin suara letusan senjata api akan mengejutkan Gwenola yang sedang bersembunyi di balik pintu baja.
Penyusup itu jatuh tidak sadarkan diri di atas karpet mahal dengan buku matematika yang sudah robek berada di genggaman tangannya yang kotor. Xavier segera memungut buku tersebut dan melihat sebuah kunci kecil berwarna perak yang terjatuh dari balik sampul kulit yang telah disayat tajam. Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, menyadari bahwa benda yang selama ini ia cari ternyata disembunyikan oleh ayah Gwenola di tempat yang sangat tidak terduga.
"Gwenola, keluarlah sekarang juga, keadaan sudah aman di bawah kendaliku!" teriak Xavier dengan suara yang sangat berat dan penuh wibawa.
Pintu baja itu bergeser secara perlahan-lahan dan menampakkan wajah Gwenola yang sangat pucat dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya yang indah. Ia berlari ke arah Xavier namun langkahnya terhenti saat matanya melihat sosok pria yang tergeletak tidak berdaya di lantai kantor yang kini berantakan. Rasa takut yang sangat luar biasa kembali menyergap dadanya saat ia melihat kunci perak yang kini berada di tangan suaminya yang sangat dingin.
"Benda apa itu, Xavier? Kenapa pria itu mengatakan bahwa aku adalah pemilik kunci yang sangat penting itu?" tanya Gwenola dengan suara yang sangat lirih dan bergetar.
Xavier tidak segera menjawab dan justru menarik lengan Gwenola untuk segera meninggalkan kantor pusat menuju kediaman mewah mereka yang memiliki pengamanan jauh lebih ketat. Ia memerintahkan para pengawal untuk membawa penyusup itu ke ruang bawah tanah untuk diinterogasi secara paksa mengenai siapa dalang di balik serangan berani ini. Selama di dalam kendaraan lapis baja, keheningan di antara mereka berdua terasa sangat mencekam dan sangat penuh dengan kecurigaan yang saling beradu.
"Fokuslah pada keselamatanmu sendiri dan jangan pernah menanyakan hal-hal yang tidak seharusnya kau campuri, gadis kecil," ucap Xavier sambil menatap tajam ke arah jendela.
Setibanya di kediaman mewah, Xavier tidak membawa Gwenola kembali ke kamarnya, melainkan membawanya menuju perpustakaan pribadi yang berada di sayap kanan gedung tersebut. Perpustakaan itu dipenuhi oleh ribuan buku tua yang aromanya sangat khas dan memberikan kesan kuno sekaligus sangat megah bagi siapa pun yang masuk. Lampu kristal yang tergantung di langit-langit menyala redup, menciptakan suasana yang sangat intim namun tetap terasa sangat formal dan kaku.
"Duduklah di sana dan jangan berani beranjak sampai aku selesai memeriksa kembali isi buku sekolahmu ini," perintah Xavier sambil menunjuk sebuah kursi kayu jati yang besar.
Gwenola duduk dengan perasaan yang sangat tidak tenang sambil memperhatikan bagaimana Xavier mulai membuka lembar demi lembar buku latihannya dengan sangat teliti dan sangat berhati-hati. Godaan untuk bertanya kembali sangat besar, namun ia tahu bahwa saat ini Xavier sedang berada dalam kondisi mental yang sangat tidak stabil dan sangat berbahaya. Ia memandang sekeliling perpustakaan dan menyadari bahwa setiap sudut ruangan ini seolah sedang mengawasi setiap gerak-gerik rahasianya.
"Tuan, apakah aku akan tetap bisa berangkat ke sekolah besok pagi setelah semua kekacauan yang terjadi hari ini?" tanya Gwenola mencoba memecah kesunyian yang menyiksa.
Xavier mendongak dan menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat dalam, seolah sedang menimbang-nimbang antara keamanan istrinya atau pendidikan yang harus ia jalani. Ia berjalan mendekati Gwenola lalu meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung tubuh gadis itu di antara kedua lengannya yang sangat kokoh dan sangat kuat. Kedekatan ini membuat Gwenola kembali merasakan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang dan sangat tidak beraturan di dalam dadanya yang mungil.
"Kau akan tetap sekolah, namun dengan pengawalan yang akan membuatmu merasa seolah sedang berada di dalam penjara yang bergerak," bisik Xavier tepat di depan telinga Gwenola.
Gwenola memejamkan matanya saat merasakan hembusan napas Xavier yang sangat hangat dan aroma parfum maskulin yang kembali memenuhi seluruh indra penciumannya. Godaan untuk bersandar pada pria yang sangat ia benci ini muncul secara tiba-tiba karena rasa lelah yang sangat mendalam akibat teror yang datang bertubi-tubi. Ia merasa sangat lemah di hadapan kekuatan Xavier yang sangat mutlak, namun di saat yang sama ia merasa sangat terlindungi dari ancaman luar yang jauh lebih mengerikan.
"Kenapa kau tidak pernah membiarkanku hidup secara normal seperti teman-teman sekolahku yang lainnya?" rintih Gwenola sambil menahan tangis yang ingin meledak kembali.
Xavier menyentuh dagu Gwenola dan mengangkatnya secara perlahan-lahan agar mata mereka saling bertemu di tengah keremangan cahaya perpustakaan pribadi yang sangat sunyi itu. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan memberikan sebuah tatapan yang sangat posesif dan sangat penuh dengan rasa kepemilikan yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat. Baginya, Gwenola bukan hanya sekadar istri kontrak, melainkan sebuah kunci hidup yang akan membawanya menuju jawaban atas kematian ibunya sepuluh tahun yang lalu.
"Normalitas adalah kemewahan yang tidak pernah kau miliki sejak saat ayahmu menandatangani kontrak sepuluh miliar itu bersamaku," jawab Xavier dengan nada yang sangat datar dan sangat dingin.
Tiba-tiba, Xavier menarik Gwenola untuk berdiri dan memaksanya untuk mengikuti langkah kakinya menuju sebuah rak buku besar yang terletak di pojok ruangan yang paling gelap. Ia menarik sebuah buku bersampul merah tua yang nampaknya adalah pemicu untuk membuka sebuah lemari besi rahasia yang tertanam di dalam dinding beton. Di dalam lemari besi tersebut, tersimpan sebuah kotak perak yang lubang kuncinya sangat sesuai dengan kunci kecil yang tadi ditemukan di dalam buku matematika Gwenola.
"Bukalah kotak ini dengan tanganmu sendiri, karena hanya kau yang memiliki hak untuk melihat isinya," ucap Xavier sambil menyerahkan kunci perak itu kepada Gwenola.
Tangan Gwenola gemetar hebat saat ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang yang sangat kecil dan memutarnya dengan suara klik yang sangat tajam dan sangat mematikan kesunyian. Penutup kotak itu terbuka secara perlahan-lahan dan memperlihatkan sebuah kalung kuno dengan liontin berbentuk bunga anggrek yang sangat indah namun nampak sangat misterius. Di bawah liontin tersebut, terdapat sebuah surat yang ditulis tangan dengan tinta yang sudah memudar namun masih sangat jelas terbaca oleh mata Gwenola.
"Ini adalah surat dari ibuku untuk ayahmu, rahasia yang selama ini menghancurkan hidup keluarga kita berdua tanpa sisa sedikit pun," jelas Xavier dengan suara yang mendadak menjadi sangat parau.
Gwenola membaca surat itu dengan napas yang tertahan dan rasa tidak percaya yang sangat besar mulai memenuhi seluruh rongga di dalam kepalanya yang terasa sangat berat. Rahasia besar mengenai pengkhianatan masa lalu dan hubungan terlarang antara kedua keluarga mereka kini terpampang nyata di depan matanya sendiri. Ia menyadari bahwa pernikahan rahasia ini bukanlah sebuah hukuman bagi ayahnya, melainkan sebuah cara untuk menebus dosa yang sangat besar di masa lalu.
"Jadi, selama ini aku hanya menjadi alat bagimu untuk membalaskan dendam masa lalumu yang sangat kelam ini?" tanya Gwenola dengan pandangan yang sangat hancur dan penuh amarah.
Xavier tidak menyangkal namun matanya menunjukkan kilatan kesedihan yang sangat dalam yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di dunia ini sebelumnya. Ia melangkah mundur dan membiarkan Gwenola berdiri sendirian di depan rahasia besar yang baru saja terungkap secara paksa dan sangat menyakitkan bagi mereka berdua. Keheningan kembali menguasai perpustakaan pribadi itu, namun kali ini rasa benci Gwenola telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dan sangat sulit untuk dipadamkan.
Tiba-tiba, suara dering alat komunikasi milik Xavier kembali memecah suasana, mengabarkan bahwa teman sekolah Gwenola sedang berdiri di depan gerbang utama dengan wajah yang sangat cemas. Adrian datang dengan membawa sebuah susu kotak yang sama seperti sebelumnya, bersikeras ingin bertemu dengan Gwenola karena merasa ada sesuatu yang tidak beres sejak tadi pagi. Xavier mengepalkan tangannya kembali dan sorot mata iblisnya seketika kembali muncul dengan sangat beringas untuk menghancurkan pengganggu yang tidak tahu diri itu.