NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelah yang tersimpan rapih

Keesokan harinya, Hamka berdiri di depan kafe JINGGA dengan dada yang terasa lebih berat dari biasanya. Nama kafe itu kini tak lagi sekadar papan bertuliskan huruf-huruf oranye, melainkan pintu menuju kemungkinan yang selama ini ia hindari. Dengan langkah lebar dan wajah setenang mungkin, Hamka memasuki kafe tersebut. Suasana pagi masih lengang, aroma kopi baru diseduh memenuhi udara.

Matanya menyapu setiap sudut, mencari satu sosok yang sejak semalam mengusik pikirannya. Setelah memesan minuman seadanya, ia memberanikan diri bertanya dengan nada datar, seolah tak ada beban di baliknya.

“Mas, waiters yang namanya Naura masuk hari ini?”

Seorang karyawan menoleh sebentar ke arah dalam, lalu menggeleng. “Nggak, Mas. Naura libur hari ini.”

Ada rasa kecewa yang singkat namun nyata. Hamka mengangguk kecil, mengucap terima kasih, lalu melangkah keluar kafe. Ia tak punya alasan lagi untuk bertahan.

Namun ia tak pulang dengan tangan kosong. Di genggaman tangannya, ada secarik kertas kecil berisi deretan angka..nomor ponsel Naura. Untuk mendapatkannya, Hamka terpaksa sedikit berbohong. Ia mengaku sering memesan antar makanan dari kafe itu dan biasanya dilayani oleh Naura. Karena kebetulan Naura memang bertugas menangani pesanan antar, salah satu karyawan akhirnya memberikan nomor tersebut, tentu saja dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Hamka berdiri sejenak di trotoar, menatap angka-angka itu. Lima tahun pencarian, dan kini jarak itu terasa menyempit..tinggal satu keberanian yang harus ia kumpulkan.

Semoga saja dia adalah Naura yang sama.

Setibanya di kantor, Hamka langsung masuk ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu, duduk di kursi, lalu merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan secarik kertas yang sejak tadi terasa begitu berarti. Deretan angka di sana kembali ia pandangi lekat-lekat, seolah ingin memastikan semuanya nyata.

Jemarinya bergerak perlahan di atas layar ponsel.

Pagi, Mbak… apa siang ini bisa pesan antar makanan?

Tanpa ragu, pesan itu ia kirim.

Hamka memutar-mutar ponselnya di tangan, berusaha tampak tenang padahal detak jantungnya tak seirama. Matanya beberapa kali melirik layar, menunggu dengan sabar yang dipaksakan.

Tak lama kemudian, notifikasi pesan berbunyi.

Mohon maaf, untuk pesan antar Anda bisa hubungi rekan saya yang lain, karena hari ini saya sedang off.

Hamka membaca balasan itu dengan saksama. Bahasanya rapi, sopan, dan terasa sangat profesional. Sepertinya perempuan itu memang sudah sering menerima pesanan melalui ponselnya..terbiasa, tanpa basa-basi, tanpa kecurigaan.

Sementara di tempat yang berbeda,

Naura sedang duduk di bangku taman kampus, bernaung di bawah pohon ketapang yang daunnya bergerak pelan diterpa angin siang. Di tangannya ada buku catatan, sementara ponselnya tergeletak di samping, bergetar pelan menandakan pesan baru.

Ia melirik layar sekilas..nomor tak dikenal. Tanpa banyak berpikir, Naura membuka pesan itu dan membacanya dengan ekspresi datar. Pesanan antar lagi, batinnya. Hal seperti itu sudah terlalu sering ia terima, terutama dari pelanggan tetap kafe.

Jemarinya bergerak cepat, mengetik balasan dengan bahasa yang sopan dan profesional, nyaris tanpa jeda. Setelah pesan terkirim, Naura meletakkan kembali ponselnya ke samping, kembali menatap catatan kuliahnya.

Namun entah mengapa, beberapa detik kemudian ia meraih ponsel itu lagi. Tatapannya tertahan pada nomor pengirim. Ada rasa asing yang sulit dijelaskan..bukan curiga, bukan pula senang. Hanya perasaan ganjil yang singgah sebentar, lalu ia tepis.

Naura menarik napas kecil, menggeleng pelan, dan kembali fokus pada dunianya di kampus, sama sekali tak menyadari bahwa satu pesan sederhana barusan telah membuka kembali pintu masa lalu yang selama ini ia tutup rapat.

Sore menjelang malam ketika Naura tiba di kosannya. Langkahnya melelah, namun wajahnya tetap tenang seperti biasa. Begitu memasuki halaman kos, pandangannya langsung tertuju pada sosok laki-laki yang duduk santai di kursi panjang depan kamar—punggungnya bersandar, satu kaki dinaikkan, ponsel di tangan.

“Baru pulang?” sapa Titan sambil menoleh, senyumnya ringan.

Naura mengangguk kecil. “Iya. Kamu dari tadi?”

“Lumayan,” jawabnya singkat.

Titan bukan orang asing bagi Naura. Ia adalah anak dari rekan kerja ayahnya dulu. Saat pertama kali Naura menginjakkan kaki di Jogja, ayahnya yang tak sempat menemani menitipkan Naura pada Titan..sekadar untuk mengenalkan kota, membantu jika ada apa-apa. Dari situ, semuanya berjalan alami.

Sifat Naura yang humble dan mudah bergaul membuat pertemanan mereka cepat terjalin. Titan tak pernah memaksa masuk terlalu jauh, selalu tahu batas. Ia ada saat dibutuhkan, dan menghilang saat Naura ingin sendiri.

Sejak ayahnya dipenjara, peran Titan berubah tanpa pernah diucapkan. Ia menjadi orang yang paling sering memastikan Naura baik-baik saja mengantar saat pulang malam, membantu urusan kecil yang tak sempat ia ceritakan pada siapa pun, dan menjadi pendengar setia tanpa banyak tanya.

Titan tiba-tiba menyodorkan sebuah bungkusan kecil ke arah Naura.

“Ini,” katanya singkat. “Oleh-oleh. Kemarin gue kerja ke luar kota.”

Naura menerimanya dengan sedikit terkejut. “Thanks, ya,” ucapnya tulus.

Titan mengangguk sambil tersenyum kecil, senyum yang selalu sama,tenang dan tanpa tuntutan.

“Aku pulang dulu, ya. Kamu pasti capek, mau istirahat.”

Naura mengangguk. Ia melangkah mengekori Titan sampai ke halaman depan kos, tempat sepeda motor Titan terparkir. Udara sore terasa lebih sejuk, lampu-lampu mulai menyala satu per satu.

Titan mengenakan helmnya, lalu menoleh sebentar. “Hati-hati kalau pulang malam.”

“Iya,” jawab Naura singkat.

Mesin motor menyala, Titan melambaikan tangan kecil sebelum akhirnya melaju pergi. Naura berdiri sejenak, menatap punggungnya yang menjauh, sebelum akhirnya kembali ke kamarnya..membawa bungkusan kecil di tangan dan perasaan yang entah menghangat atau justru menambah sepi.

Saat pintu kamar tertutup, Naura menyandarkan punggungnya sesaat. Ada lelah yang ia simpan rapi, ada hidup yang terus ia jalani dengan hati-hati.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!