Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
Setelah menyelesaikan pekerjaan nya, Mawar langsung masuk ke dalam kamar nya. Dia menyiapkan buku - buku pelajaran yang akan di bawa ke sekolah besok sesuai jadwal nya.
Mawar menyempatkan diri untuk membuka buku - buku itu sebentar, Mawar anak yang sangat pintar. Bahkan dia selalu jadi juara di sekolah nya, berbeda dengan Indah. Adik nya itu bahkan pernah tinggal kelas ketika kelas 3 SD.
Mawar terkejut, pak Harto langsung masuk ke dalam kamar nya tanpa mengetuk pintu dulu.
"Ada apa pak? Bapak butuh sesuatu?" Tanya Mawar pada anak nya.
"Ini bapak ada sedikit uang jajan, kamu simpan dengan baik ya. Jangan sampai ibu dan adik mu tahu!" Ujar Pak Harto sambil memberikan uang itu pada putri nya.
"Terima kasih banyak pak!" Jawab Mawar sambil menerima uang itu.
Pak Harto segera keluar dari dalam kamar anak nya, karena jika sampai bu Munah tahu jika pak Harto memberikan uang pada Mawar. Maka bu Munah pasti akan merampas nya, dia tidak suka jika Mawar memiliki uang.
"Terima kasih Ya Allah, telah mengirim kan hamba bapak dan kakak yang sangat baik!" Mawar bersyukur karena dia masih memiliki orang yang sangat menyayangi dan melindungi nya.
Pak Harto duduk di depan rumah nya sambil menghisap sebatang Rokok, Pak Harto memikirkan nasib Mawar ke depan nya. Dia sangat mengkhawatirkan putri nya itu, karena istri nya, bu Munah membedakan antara Mawar dan Indah. Padahal mereka berdua sama - sama anak yang terlahir dari rahim nya.
'Bagai mana dengan Mawar jika aku tiada nanti, siapa yang akan menjaga nya?' Pak Harto begitu risau dengan putri nya itu.
Sementara itu, Farhan setelah makan malam memilih untuk bekerja di sebuah warung yang buka hingga jam 12 malam. Jika siang hari dia bekerja serabutan sepulang sekolah, maka pada malam hari dia kan bekerja sebagai penjaga warung.
Uang yang dia dapat kan akan di berikan pada Mawar untuk membeli semua kebutuhan nya, karena dia tahu Mawar tidak mendapat kan semua itu dari ibu nya.
*******
"Aku cuma punya anak sepasang, yaitu Indah dan Farhan. Aku tidak sudi punya anak lain selain mereka!" Teriak bu Munah pada Mawar.
"Apa salah ku bu?" Tanya Mawar sambil menangis terisak.
"Salah mu adalah terlahir ke dunia ini. Jadi silah kan penuhi semua kebutuhan mu, kau bukan anak ku. Anak ku hanya Indah dan Farhan!" Teriak bu Munah lagi.
"Ibu!!!" Ratap Mawar dengan suara pilu.
"Ibu!!!"Mawar menangis sambil mengerak kan kepala nya ke kanan dan ke kiri.
Mendadak Mawar terbangun dari mimpi nya, mimpi yang terasa nyata. Bahkan dia bangun dalam keadaan menangis, ini bukan kali pertama nya Mawar bermimpi seperti ini. Bahkan bisa 2 atau 3 kali dia bermimpi hak yang sama dan dia akan terbangun dalam keadaan menangis.
"Ya Allah, kenapa aku mimin seperti itu lagi? Siapa sebenarnya aku, kenapa mimpi yang sama itu selalu terjadi!" Mawar menyeka sisa air mata nya dan juga keringat yang membanjiri kening nya.
Mawar tidak tahu ini jam berapa, karena di dalam kamar nya tidak ada jam. Jika teman - teman nya sudah memiliki ponsel, maka tidak dengan Mawar. Dia tidak pernah memimpikan memiliki benda mewah itu. Semua uang yang di berikan oleh Ayah nya dan juga Farhan dia tabung untuk keperluan sekolah nya.
"Aku sholat dulu, tadi aku belum sholat isya!" Mawar beranjak keluar dari dalam kamar nya dan pergi ke kamar mandi yang ada di dapur. Dia segera mengambil wudhu agar bisa sholat isya.
Mawar kembali ke kamar nya dan dia melihat jam yang tergantung di dekat televisi menunjuk kan jam 11:30 malam, Farhan bahkan belum pulang dari bekerja sebagai penjaga warung.
Mawar sholat dan berdoa meminta agar ibu nya di beri hidayah, dia hanya ingin ibu nya menyayangi nya sama seperti dia menyayangi Indah.
Setelah Mawar selesai sholat, dia mendengar pintu depan di ketuk. Dia tahu itu adalah Farhan yang baru pulang dari bekerja. Mawar bergegas membuka pintu depan dan menyambut kepulangan sang kakak.
"Mawar, ini ada roti. Kamu simpan ya, buat makan mu ketika kau lapar!" Ketika pintu terbuka, Farhan memberikan sebuah kresek berisi satu pak biskuit pada Mawar.
"Terima kasih kak!" Mawar menerima kresek itu dari tangan kakak nya.
Farhan tahu, Mawar sering kelaparan. Karena ketika dia terlambat datang ke meja makan, maka dia tidak akan mendapat kan sisa makanan lagi. Semua nya akan di habiskan oleh ibu nya dan juga Indah, itu lah sebab nya sejak dulu Farhan secara diam - diam sering memberikan makanan pada adik nya itu lewat jendela kamar nya.
"Tidur lah, besok kau harus bangun pagi!" Farhan memberikan perintah pada adik nya.
Mawar segera kembali ke kamar nya, dia langsung menyimpan biskuit pemberian sang kakak. Dia sangat gelisah malam ini, dia tidak bisa tidur. Mimpi yang tadi dia alami terasa begitu nyata, Mawar penasaran kenapa ibu nya membedakan antara diri nya dan juga Indah.
******
Suara lantunan ayat suci di masjid membangun kan Mawar, sebuah kebiasaan yang ada di kampung tempat mereka tinggal. Lantunan ayat suci Alquran akan di putar sebelum masuk waktu sholat, semua itu sebagai pertanda bahwa sebentar lagi akan memasuki waktu sholat.
Sebelum ibu nya berteriak, Mawar segera bangun dan bergegas melaksanakan tugas nya seperti biasa. Sebelum semua orang di rumah bangun, dia harus mempersiapkan semua nya. Karena jika tidak, maka dia tidak akan bisa pergi ke sekolah.
Pagi ini setelah Mawar selesai bersiap, dia di kejut kan dengan teriakan dari kamar Indah. Indah menuduh Mawar yang sudah membuang rok seragam sekolah milik nya.
"Bu, kemarin aku letak kan di atas kursi ruang tamu. Pasti Mawar yang sudah membuang nya!" Indah menghasut ibu nya.
"Mawar!!!!!!" Teriak bu Munah dengan suara lantang nya, sehingga suara nya bisa di dengar dengan jelas oleh tetangga kiri - kanan nya.
"Mawar, di mana kau membuang seragam sekolah Indah?" Tanya bu Munah sambil menarik telinga Mawar dengan keras.
"Aduh mu, aku tidak pernah membuang nya!" Mawar berusaha membela diri di hadapan ibu nya.
"Bohong, kemarin aku letak kan di sofa ruang tamu setelah aku pulang sekolah. Kau yang memberes kan rumah, jadi pasti kau yang membuang nya!" Teriak Indah di hadapan Mawar.
"Mawar, kembalikan seragam sekolah Indah, atau akan ku cincang semua pakaian sekolah mu sehingga kau tidak bisa sekolah lagi!" Bu Munah mengancam Mawar.
"Demi Allah bu, aku tidak tahu dan tidak pernah membuang pakaian Indah!" Mawar menunduk kan kepala nya di hadapan sang ibu.
"Baik lah, jika seragam sekolah Indah tidak kau kembalikan, maka kau juga tidak boleh sekolah!" Bu Munah pergi ke dapur, dia mengambil parang yabg biasa di bawa oleh pak Harto ke kebun.
Parang itu sangat tajam dan bu Munah akan menggunakan nya untuk mencincang semua perlengkapan sekolah milik Mawar. Sedang kan saat ini Farhan masih berada di sungai untuk mandi, dia tidak bisa mandi di rumah karena tadi di kamar mandi ada Indah yang sedang mandi.