Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam
Suara alat makan yang beradu mulai memenuhi ruangan saat makanan selesai dihidangkan. Aroma masakan yang begitu lezatnya terasa begitu mengundang.
Hita tersenyum tipis saat menghidangkan masakan spesial yang ia buat hari ini, dibantu langsung oleh Lian yang biasanya sangat malas menginjakkan kaki di dapur.
Sementara Lian mencuci buah-buahan di wastafel dan Nadia bercengkrama bersama orang-orang di ruang makan, Hita kembali ke dapur dengan matanya yak tak bisa berhenti melirik ke arah lantai atas—kamarnya dan Dirga.
Hita ingat betul bahwa suaminya belum makan, begitu malangnya menahan sakit akibat goresan di punggung yang Hita buat.
Ada sedikit rasa bersalah yang pasti Hita rasakan karena ia sama sekali tak mengira bahwa ia bisa menyakiti Dirga sebegitu parahnya hingga tubuh laki-laki itu dipenuhi dengan luka cakaran yang cukup dalam hingga memerah.
"Kakak sedang apa?"
Lian yang sedang sibuk mencuci itu sekilas menoleh ke arah Hita yang mulai mengambil piring dari rak.
"Menyiapkan makan malam untuk kak Dirga," jawabnya, diiringi senyum tipis. "Dia tidak bisa bergabung makan malam di meja makan, manya aku akan membawakan makan malam ke kamar."
"Memangnya kak Dirga kenapa?
"Kak Dirga..." Hita berpikir sejenak. "Dia sedang lelah. Ada banyak pekerjaan hari ini."
Hita bisa mendengar kran yang dimatikan, menandakan Lian selesai mencuci buah-buahan.
"Kakak peduli sekali dengan Kak Dirga, ya?" Tak ada nada menyindir saat Lian bicara, terdengar tulus. "Tapi apakah kak Dirga juga melakukan yang sebaliknya?"
"Apa?"
"Peduli pada kakak."
Lian memutar tubuhnya, menghadap ke arah sang kakak ipar sepenuhnya. Tangan gadis itu memegangi mangkuk kaca besar berisi beberapa jenis buah-buahan yang basah setelah dicuci.
"Aku memang tidak tau banyak tentang pernikahan kakak dan kak Dirga, tapi... aku juga ingin tau apakah kalian baik-baik saja," ujar Lian, menghela napas panjang setelahnya. "Aku cukup tau bagaimana kak Dirga dan... Loria itu, jadi aku hanya..."
"Aku baik-baik saja, Lian." Hita menyahuti dengan lembut, tau bahwa Lian ragu-ragu mengungkapkan kata-katanya karena takut Hita akan sakit hati.
"Pernikahanku dan kak Dirga memang tanpa cinta, dan cinta itu tidak akan pernah ada diantara kami," jelas Hita, senyumnya tak sedikitpun surut. "Aku hanya akan berada di sini sampai kak Loria ditemukan kembali, jadi aku tak menaruh harapan apapun pada kak Dirga soal perasaan."
"Dia sangat setia, aku mengangguminya sekali," ungkap Hita. "Kak Loria sangat beruntung, ya? Aku yakin bahwa dia punya alasan mengapa kabur dari pernikahan. Kabur dari kak Dirga."
Entah mengapa Lian merasa bahwa Hita ini benar-benar tulus mengucapkan kata-katanya. Ada kepolosan yang begitu menarik di dalam diri kakak ipar sementaranya itu. Begitu mencolok, hingga ada rasa ingin melindunginya dari kekotoran dunia.
Dan Lian memiliki keinginan itu.
Menurut Lian, Hita itu seperti kanvas putih yang tak ternodai oleh cat dan goresan abstrak.
"Baguslah kalau begitu." Lian hanya bisa menghela napas. "Setidaknya jika kakak benar-benar tidak memiliki perasaan apapun pada kak Dirga, nanti kakak tidak akan sakit hati jika Loria kembali."
"Tapi kakak benar baik-baik saja, kan?" sekali lagi Lian memastikan. "Soal yang waktu itu bagaimana? Apakah kak Dirga memarahi kakak saat kita pulang tengah malam? Apakah dia tau tentang kita yang menjebak Wisnu di kamar mandi?"
Untuk pertanyaan itu, Hita langsung membeku. Otaknya ikut-ikutan diam. Tak bekerja. seolah-olah mati.
"Itu..." Hita bergumam, mencoba berbohong kali ini. "Kak Dirga tidak marah, hanya... kesal saja."
"Benarkah?" Lian tampak skeptis. "Kesal seperti apa?"
"Hanya bersikap jutek saja," balas Hita lembut, mencoba meyakinkan.
Lian yang malah diberikan jawaban lembut itu bagaimana mungkin tak percaya? Dia yakin benar bahwa Hita tak akan berbohong walaupun kenyataannya Hita memang berbohong. Berbohong besar.
Ada sesuatu yang sangat besar malam itu, malam di mana ia harus menghadapi Dirga yang kerasukan di atasnya.
Pernah dengar? Orang polos lebih dipercayai walaupun mereka berbohong, karena kepolosan itulah yang membuat mereka tak tampak seperti seorang pembohong.
Hita memanfaatkan itu. Untuk kebaikan.
"Baiklah..." Lian menyerah, percaya untuk kali ini. "Tapi jangan ragu-ragu mengatakan apapun padaku jika perlu, aku akan selalu ada untuk kakak," pesan Lian, langsung dijawab anggukan Hita.
Adik iparnya ini memang peduli sekali.
Hita memperhatikan saat Lian melangkah keluar dari dapur dan menuju ke arah meja makan yang ramai, disambut meriah oleh semua yang ada di sana.
Senyum semakin lebar tercetak, membuat Hita berpikir apakah nanti saat ia keluar dari rumah ini ia akan rindu momen ini.
Pasti. Pasti ia akan rindu sekali.
Menepis pikiran itu jauh-jauh, akhirnya Hita keluar dari dapur dengan nampan berisi makanan dan segelas air.
Tujuannya adalah kamar.
...****************...
Tok
Tok
Tok
Pintu diketuk tiga kali sebelum Hita menekan kusen pintu, mendorong kayu itu perlahan hingga menganga.
Senyum di wajah Hita semakin hangat ketika melihat Dirga yang bersandar pada kepala tempat tidur, mata laki-laki itu terpejam dengan leher sedikit teleng ke samping.
Sepertinya suaminya itu kelelahan sekali.
Hita meletakkan nampan dengan sangat hati-hati di atas nakas di samping tempat tidur. Keraguan untuk membangunkan Dirga terasa di dadanya, tak ingin mengganggu waktu istirahat laki-laki itu. Lagipula, Dirga juga sepertinya tak akan suka jika dia mengganggu.
Di saat menatap Dirga yang pulas dengan ekspresi damai ini membuatnya merasa bimbang. Ingin rasanya Hita marah atas insiden malam itu, melanjutkan pemberontakannya pada Dirga, membela diri dari sikap yang tak pantas ia dapatkan.
Tapi kenapa ia harus melakukan itu? Dirga melakukan itu tanpa sadar, dan jika laki-laki itu menyadari apa yang sekiranya dia lakukan pada Hita, pastilah itu adalah hal yang tak akan pernah terjadi. Hal yang tidak akan pernah mungkin.
Karena Dirga tidak akan pernah menyentuhnya dalam keadaan sadar. Tidak saat hati laki-laki itu hanya milik kakak tirinya seorang.
Entah sadar ataupun tidak, tangan Hita terjulur untuk menyingkirkan helaian rambut basah di dahi Dirga. Sentuhan itu begitu lembut, seakan-akan Hita tengah menyentuh sesuatu yang begitu rapuh.
"Kakak istirahat saja," gumamnya. "Nanti jika terbangun aku ambilkan makanan lagi."
Dengan itu Hita mundur, mulai melangkah ke arah lemari dan mengambil sebuah kain untuk alas tidurnya di lantai.
Hita tau persis bahwa perintah Dirga saat itu masih berlaku—jangan menatap matanya dengan lancang dan tidur di lantai.
Hita menurut, karena ia tau bahwa ia hanya numpang hidup sementara saja di sini.
Tek.
Lampu dimatikan hingga ruangan itu gelap, hanya ada sinar rembulan yang menembus tirai jendela kamar yang tipis, membuat penerangan remang-remang.
Hita merebahkan diri di atas kain, tersenyum ke arah Dirga yang tertidur sejenak sebelum memejamkan matanya.
Alam mimpi menyambut, membuat ruangan itu hening, hanya ada suara desiran tirai yang tertiup angin dan sesekali suara kicauan burung hantu di luar rumah.
Satu jam.
Dua jam.
Hingga jam menunjukkan tengah malam, Dirga sedikit bergerak dalam tidurnya. Mata laki-laki itu mengerjap, tangannya bergerak mengelus tengkuk yang terasa kaku karena posisi tidur yang membuat otot-otot tegang.
Semuanya begitu buram saat pertama kali Dirga membuka matanya yang berat, sebelum akhirnya menyadari di mana ia kini.
Pelan-pelan Dirga menoleh ke arah nakas, ke arah makanan dan minuman yang sudah dingin setelah berjam-jam.
Mata laki-laki itu turun ke lantai, tempat di mana sosok mungil dengan gaun tidur tipis itu terkapar.
Hita di sana, dengan tubuhnya yang disinari oleh cahaya rembulan bak Dewi, memunggungi Dirga yang terduduk di tepi tempat tidur.
Gaun tidur tipis berwarna putih memeluk tubuh perempuan itu dengan sempurna, memperjelas lekukan yang tak pernah ingin Dirga pandangi. Sinar rembulan yang menyusup dari jendela memperjelas apa yang berada di balik sana, dalaman lingerie merah yang mencolok.
Dirga menggeleng pelan, menjernihkan pikirannya. Apa pula yang sedang ia pikirkan ini?
Dirga ingat betul kata-kata kasar yang ia lontarkan pada Hita, kata-kata yang awalnya ia anggap pantas untuk istri penggantinya itu. Tapi ketika ia mendengar apa yang Hita katakan hari ini, rasanya ia sedikit goyah.
Apakah ia memang sekejam itu? Turut menjadi sosok brengsek seperti orang-orang yang menyakiti Hita?
Merasakan tak bisa mengontrol pikirannya lagi, Dirga mengusap wajahnya kasar dan meraih kacamata di samping tempat tidur.
Hati-hati Dirga melangkah di lantai agar tak membangunkan istrinya yang tengah terlelap saat menuju pintu.
Entah mengapa gatal sekali tangan Dirga ingin memindahkan tubuh mungil itu ke atas kasur, tapi dia tidak ingin dianggap memberikan perhatian lebih.
Perjalanan ke arah dapur begitu cepat terasa. Dirga menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya dalam satu kali telan.
Matanya mengamati ke sekeliling meja makan, hingga berhenti pada tudung makanan. Diangkatnya perlahan penutup makanan itu hingga menampakkan sisa makanan hari ini.
Dirga ingat bahwa di kamarnya Hita sudah meletakkan makanan, makanan yang pasti dibuat oleh Nadia.
Tapi tentu saja Dirga berada di dapur sekarang dengan tujuan yang jelas—mencoba makanan buatan istrinya yang ia anggap tak enak pagi tadi.
Dirga juga tak mengerti mengapa ia tiba-tiba merasa penasaran. Ia seperti tertarik pada sesuatu yang harus ia dapatkan.
Dirga menarik kursi ke belakang dan mendaratkan diri di sana, mengambil sedikit nasi dan lauk sisa yang jauh berbeda dengan apa yang Hita bawakan ke kamar tadi.
Ayam yang dibaluri bumbu kecap yang terlihat menggoda dan lezat kini berada di atas piring Dirga. Laki-laki itu tanpa ragu-ragu menyuapnya ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan.
Sontak Dirga terdiam, tangannya memegangi garpu dan sendok erat-erat saat matanya terpejam menikmati rasa makanan yang sama sekali tidak waras jika ada yang mengatakannya tidak enak.
Dan ialah orang tidak waras itu tadi pagi.
Dirga menatap piringnya, bertanya-tanya apakah Hita benar-benar membuat makanan seenak ini? Apakah istri penggantinya itu benar-benar membuatnya?
Rasanya memang bukan seperti makanan mewah yang sering ia makan saat makan siang bersama rekan-rekan bisnisnya, ataupun makanan enak Mahargabhi yang bisa berharga jutaan satu piring.
Tapi rasanya benar-benar sederhana, hangat, membawa kesan kerinduan sendiri yang Dirga tak mengerti.
Dan malam itu, sisa-sisa makanan di atas meja dia habiskan sendiri, mengungkapkan kekaguman diam-diam yang tak akan pernah seseorang seperti Dirga akan akui.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga