NovelToon NovelToon
Buried By Love, Reborn As Disaster

Buried By Love, Reborn As Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Budidaya dan Peningkatan / Harem / Balas Dendam
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.

Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.

Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.

Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Api Menyala Lagi

Cahaya malam berpendar hangat di atas lapangan latihan, memantul dari bara api yang menari liar di tangan Yan Mei.

Lin Feiyan berdiri di tengah, napasnya sudah berat sejak awal. Setiap tarikan napas terasa panas di paru-parunya, seolah udara di sekitar dipenuhi gelombang panas yang tak terlihat namun nyata.

Tubuhnya lelah, namun ia tak mampu mundur—sebuah kombinasi antara rasa takut mengecewakan Yan Mei dan dorongan untuk membuktikan diri sendiri yang membara di dalam hatinya.

Yan Mei berdiri tak jauh, senyum menggoda menghiasi wajahnya, mata yang berkilau memantulkan bara api yang ia lepaskan perlahan.

"Kau terlihat terlalu serius, Feiyan," ujarnya sambil menari di sekeliling, bara api mengekor di setiap gerakannya.

"Coba rileks sedikit… tapi jangan berhenti, ya?" Nada suaranya manis, namun ada ketegasan tersembunyi di setiap kata.

Api yang ia lepaskan kali ini berbeda dari sebelumnya. Lebih liar, lebih panas, dan lebih menuntut.

Qi Feiyan langsung bereaksi, tubuhnya gemetar, keringat membasahi dahinya. Jantungnya berdebar kencang, hampir tidak mampu mengikuti irama latihan yang Yan Mei ciptakan.

Sensasi panas itu menjalar ke seluruh tubuhnya, menembus hingga ke emosi, membingungkan antara rasa sakit dan sensasi hangat yang aneh—seolah perhatian Yan Mei adalah bara itu sendiri, menghangatkan sekaligus membakar.

Feiyan menggigit bibirnya, mencoba menahan napas, menahan gemetar yang mulai menyebar ke seluruh anggota tubuhnya.

Setiap gerakan terasa berat, Qi yang biasanya stabil kini kacau, meronta, melawan dirinya sendiri.

Void Crack di dadanya mulai terasa lebih nyata, denyutnya bergelombang, menyesuaikan dengan ketidakstabilan Qi dan intensitas emosi yang melonjak.

Ia merasa dadanya seperti dipenuhi gelombang panas yang aneh—sakit, tapi memikat.

Yan Mei berjalan di sekelilingnya, setiap langkahnya mengirimkan gelombang energi yang membuat Feiyan hampir kehilangan keseimbangan.

“Imut sekali,” kata Yan Mei, menertawakan kekacauan kecil yang ditunjukkan Feiyan saat berusaha menstabilkan Qi-nya.

“Kau bertahan dengan baik… tapi aku rasa kau bisa lebih lama lagi, bukan?” Nada suaranya ringan, tapi ada tekanan tersembunyi yang memaksa Feiyan untuk terus mencoba, terus menahan diri di ambang batasnya.

Rasa sakit itu kini bercampur dengan rasa hangat yang tak jelas, membuat Feiyan bingung.

Ia ingin menyerah, ingin melepaskan diri dari panas yang mencekik, namun ada dorongan aneh yang membuatnya tetap bertahan.

Pujian Yan Mei menembus ketegangan yang ada di dadanya, membentuk ketergantungan yang perlahan ia sadari tapi tak mampu hindari.

Sensasi yang seharusnya hanya menyakitkan kini terasa seperti pengakuan—seperti hadiah bagi ketekunan yang tertekan.

Api perlahan mereda, namun tubuh Feiyan hampir tidak mampu berdiri. Yan Mei bergerak cepat, menahan tubuhnya dengan tangan yang mantap, senyum nakal kembali terlukis di wajahnya.

Feiyan terhuyung, menatap Yan Mei dengan mata setengah terbuka, dadanya masih berdenyut cepat.

Ada rasa aman yang aneh menyelinap ke dalam hatinya, seolah kehadiran Yan Mei mampu menahan panas itu, meski secara fisik ia hampir jatuh.

“Tenang,” bisik Yan Mei, suaranya lembut namun penuh kendali. “Aku di sini. Kau tidak akan jatuh… selama aku ingin kau tetap di sini.”

Kata-kata itu tidak hanya menenangkan, tetapi menanamkan sesuatu yang lebih dalam: keterikatan yang salah arah. Rasa sakit yang tadi hampir membuatnya menyerah kini berasosiasi dengan perlindungan yang diberikan Yan Mei.

Feiyan merasa bingung—kelegaan bercampur rasa bersalah, kelelahan bercampur kehangatan yang memabukkan.

Void Crack di dadanya bereaksi lebih kuat. Denyutnya kini tidak lagi samar; retakan itu terasa meluas, meresapi jiwanya seiring ketegangan yang masih membara di tubuhnya.

Setiap denyut seolah mengingatkan bahwa batas Feiyan bukan lagi miliknya sendiri.

Api, rasa sakit, dan perhatian Yan Mei kini menjadi satu kesatuan yang mempengaruhi emosi dan Qi-nya secara bersamaan.

Ia ingin melawan, ingin mengelak, tapi setiap dorongan itu terasa sia-sia di hadapan aura dominan Yan Mei.

Yan Mei mencondongkan wajahnya mendekat, mata mereka bertemu.

Tatapannya intens, mendalam, seolah membaca setiap ketakutan, setiap keraguan yang mencoba muncul di benak Feiyan.

Suaranya rendah, lembut, namun mengikat: “Api ini hanya untukmu… dan aku yang mengontrolnya.” Kata-kata itu membekas di dada Feiyan lebih dalam daripada panas apa pun yang ia rasakan sebelumnya.

Tidak ada ruang untuk menolak—seluruh dirinya kini berada di bawah pengaruh Yan Mei, secara fisik maupun emosional.

Feiyan bergetar, napasnya tercekat. Tubuhnya lemah, jiwanya terbakar perlahan.

Ia menyadari bahwa ia tidak mampu melepaskan diri dari sensasi ini.

Ketergantungannya tidak hanya terbentuk, tapi melekat dalam setiap denyut jantung, setiap aliran Qi yang kacau.

Sensasi panas, pujian, perhatian, dan dominasi semuanya bersatu menjadi satu, menciptakan ikatan yang sulit untuk diputus.

Yan Mei tersenyum puas, menarik sedikit bara api ke tangannya, membuat cahaya menari kembali di sekeliling mereka.

Api itu indah, liar, dan mematikan, seolah menari sesuai kehendaknya sendiri. Feiyan menatap dengan mata setengah terpejam, tubuhnya terhuyung, namun hatinya merasakan sesuatu yang lebih daripada kelelahan—ada ikatan yang dalam, sebuah ketergantungan yang tak bisa ia sadari sepenuhnya.

Di tengah malam yang sunyi, hanya suara napas Feiyan yang terdengar berat, diselingi gelak lembut Yan Mei.

Api menari di tangan Yan Mei, hangat, sensual, dan mematikan—sama seperti kendali yang baru saja ia tegakkan di hati Feiyan.

Void Crack kini terasa nyata, meluas perlahan, menandai bahwa hubungan mereka telah berubah selamanya.

Feiyan tidak menyadari, tapi api yang menyala itu bukan hanya di sekeliling mereka. Ia juga membakar bagian dari dirinya sendiri yang kini terikat sepenuhnya pada Yan Mei.

Cahaya api yang menari liar di malam itu memantul di mata Yan Mei, membuat senyumnya tampak lebih menggoda daripada sebelumnya.

Lin Feiyan terengah di tengah lapangan latihan, tubuhnya gemetar lelah, namun matanya tetap terpaku pada Yan Mei.

Setiap gerakan, setiap langkah kecil yang ia lakukan kini terasa dipantau, seolah napasnya sendiri bukan lagi miliknya.

Panas dari api yang mengelilinginya tak hanya membakar kulit, tetapi juga mengaduk-aduk Qi yang kacau di dalam dadanya, memunculkan sensasi yang membingungkan antara rasa sakit dan kehangatan yang aneh.

Void Crack yang mulai melebar kini berdenyut lebih nyata, seolah merespons tekanan emosional dan fisik yang bersamaan datang.

Yan Mei mendekat perlahan, langkahnya ringan namun penuh keyakinan.

Tangannya menyapu udara di dekat bahu Feiyan, membiarkan panas api menyentuhnya tanpa benar-benar menolongnya, sambil masih menahan aura dominan yang menekan namun memikat.

“Kau kuat sekali… hampir bisa membuatku lupa untuk menghukummu,” bisiknya dengan nada menggoda. Kata-kata itu bukan sekadar pujian; mereka adalah cambuk halus yang membuat Feiyan tetap bertahan di ambang batasnya sendiri.

Tubuhnya nyaris menyerah, tetapi jantungnya seolah menolak untuk berhenti, setiap denyut mengirimkan dorongan aneh yang membuatnya tetap bertahan.

Api melonjak lebih tinggi, membungkus Feiyan dalam gelombang panas yang membuatnya sulit bernapas.

Qi yang semula teratur kini kacau, memaksa Void Crack bereaksi. Denyutnya menembus dada Feiyan, dingin dan panas silih berganti, menciptakan sensasi hampa yang sekaligus memaksa ketegangan dan ketergantungan yang membingungkan.

Feiyan merasakan dirinya seolah menjadi satu dengan api itu sendiri—terbakar dan dilepaskan, disiksa namun dilindungi, bingung dan tergoda dalam satu waktu.

Yan Mei tersenyum, matanya tetap menatap tajam, penuh kepemilikan. Ia melingkarkan tangannya dekat tubuh Feiyan, tidak menahan, hanya cukup untuk memberi rasa aman yang salah arah.

“Lihat… kau hampir tidak bisa menahan diri, bukan? Tapi aku suka melihatnya. Kau bertahan karena ingin menyenangkan aku,” suaranya rendah, intim, namun membakar.

Kata-kata itu menyentuh sisi terdalam Feiyan yang lelah, menyalakan rasa ketergantungan yang ia bahkan tidak tahu telah tumbuh.

Feiyan menelan ludah, napasnya tercekat, jantungnya berdebar tidak menentu. Sensasi panas dan perhatian yang membingungkan membuatnya gemetar, bukan hanya karena kelelahan, tapi juga karena rasa aman yang aneh.

Ia ingin menyerah, ingin jatuh ke tanah, namun ada dorongan yang lebih kuat: dorongan untuk tetap berada di dekat Yan Mei, untuk tetap menerima pujian, untuk tetap merasakan kehangatan yang salah arah itu.

Setiap gerakan yang tersisa di tubuhnya terasa berat, namun secara aneh terasa penting, seolah ini adalah satu-satunya jalan untuk tetap diakui.

Void Crack berdenyut lebih dalam. Retakan itu kini bukan lagi sekadar sensasi samar—ia terasa nyata, panas dan dingin berselang-seling, menembus hati Feiyan. Setiap denyut mengingatkan bahwa bagian dirinya kini dipengaruhi oleh kehadiran Yan Mei.

Ia ingin melawan, tapi setiap gerakan melawan justru membuat retakan itu terasa lebih intens. Tidak ada ruang untuk menyerah, karena setiap kekalahan diiringi oleh tatapan Yan Mei yang mengikat dan memikat.

Api itu sendiri menjadi perpanjangan dari dominasi Yan Mei—indah, liar, mematikan, dan mengikat.

Yan Mei mencondongkan wajahnya, matanya menatap penuh intensitas, membaca ketakutan dan keraguan yang masih tersisa di dalam diri Feiyan.

“Ingat… aku yang menentukan seberapa jauh kau bisa bertahan. Setiap batasmu, setiap napasmu… semuanya berada di tanganku,” bisiknya, suaranya rendah dan hampir seperti mantra.

Kata-kata itu tidak hanya membimbing, tetapi juga menancapkan benih ketergantungan yang dalam, mengikat Feiyan pada rasa sakit dan perhatian sekaligus.

Feiyan, meski lelah, merasakan ketegangan itu—rasa sakitnya kini bermakna, dan kehangatan yang ia dapatkan terasa seperti balasan yang membuatnya tidak ingin pergi.

Tubuh Feiyan akhirnya terhuyung, lemah, tetapi hatinya tetap bergetar oleh sensasi yang kompleks: ketakutan, ketergantungan, dan sedikit kepuasan. Yan Mei menahan tubuhnya dengan lembut, namun tatapannya tetap dominan, seolah ingin menegaskan bahwa semua ini adalah miliknya.

Api yang menari di sekitar mereka kini seolah menari bersamaan dengan denyut Void Crack Feiyan—kedua elemen itu berpadu, membentuk ikatan yang lebih dari sekadar fisik.

Ketergantungan emosional Feiyan pada Yan Mei telah mencapai titik di mana pelepasan hampir mustahil, dan setiap tarikan napas terasa sebagai pengingat bahwa batasnya kini ditentukan oleh orang lain.

Saat Yan Mei menarik tangan Feiyan untuk menahan agar tidak jatuh sepenuhnya, ia mencondongkan wajahnya lebih dekat. Bibirnya hampir menyentuh telinga Feiyan, dan dengan suara lembut namun menguasai, ia berbisik: “Api ini hanya untukmu… dan aku yang mengontrolnya.” Kata-kata itu menancap dalam hati Feiyan lebih kuat daripada panas apa pun yang baru saja ia rasakan.

Seluruh tubuhnya, seluruh hatinya, kini terikat pada Yan Mei, menyatu dengan api yang mengelilinginya dan ketergantungan yang telah dibentuk.

Feiyan terdiam, napas tersengal, tubuh hampir roboh, namun jiwanya terbakar perlahan.

Ia tidak menyadari bahwa apa yang ia rasakan bukan sekadar rasa sakit atau kelelahan—itu adalah ikatan mendalam yang terbentuk dari pengaruh Yan Mei, api, dan pujian yang terus memacu ketergantungannya.

Dalam cahaya api malam itu, Void Crack melebar dengan jelas, menandai bahwa satu bagian dari dirinya kini milik Yan Mei, sebuah dominasi yang tak bisa ia lepaskan, dan api kecil yang menari di tangan Yan Mei menjadi saksi bisu dari transformasi itu.

1
lix
like dan komen nya jangan kelupaan😁👍
miss_e story
iklan buatmu
mary dice
Jika retak tak akan pernah kembali utuh namun kebangkitan Feiyan akan menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat
Shadow: what ???
total 1 replies
knovitriana
update Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!