Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negeri Asing
Hutan ini memang sangat lebat dan cukup angker. Namun Arjuna tidak takut. Ia hanya sekaki berhenti untuk makan lalu melanjutkan perjalanannya sesuai dengan arah petunjuk yang sudah disampaikan oleh pak Roman.
Akhirnya Arjuna tiba di sungai yang menjadi pembatas kedua negara. Ia memukul kentong yang di gantung di atas sebuah pohon.
Seorang tentara akhirnya muncul dengan seragam coklatnya. Arjuna mengenalnya karena sudah diperlihatkan fotonya oleh pak Roman.
"Ayo ikut aku." tentara itu tak banyak bicara. Ia juga terlihat dingin. Arjuna mengikuti langkahnya. Keduanya berhenti di dekat sebuah kuda.
"Kuda ini akan membawamu ke sebuah desa. Paman ku sudah menunggu di sana. Tak perlu kamu mengendalikan kudanya. Karena ia tahu jalan mana yang harus diikutinya.
Arjuna pun patuh. Ia naik ke atas kuda. Dan ketika tentara itu menepuk lembut kepala kuda itu sebanyak dua kali, kuda itu langsung berlari meninggalkan tempat itu.
Untungnya Arjuna sudah biasa menunggang kuda. Kuda itu terus berlari kencang kurang lebih selama 1 jam, sampai akhirnya Arjuna mulai melihat ada sawah yang terbentang di depannya. Tak lama kemudian ia melihat sebuah gerbang dan ada lelaki yang wajahnya mirip pak Roman berdiri di sana.
Kuda itu berhenti tepat di depan lelaki itu.
"Good boy!" lelaki itu langsung menahan tali sang kuda sementara Arjuna turun.
"Paman Rudi?" tanya Arjuna.
"Ya. Ayo ke rumahku. Aku adalah kepala desa di sini. Di sini hanya ada sekitar 60 kepala keluarga. Desa kami ini sedikit terisolasi karena tak ada sambungan telepon selular. Kami harus berjalan jauh untuk bisa menelpon. Untungnya mulai setahun yang lalu, listrik sudah masuk ke sini. Semoga kamu bisa kerasan di sini."
"Paman tahu siapa aku? Paman tidak takut jika aku di sini?"
Rudi menggeleng. "Penduduk desa ini dikenal sebagai penduduk yang no coment. Tak ada satupun yang terjadi di sini, ceritanya akan bocor di luar. Lagi pula tempat ini jarang dikunjungi oleh orang luar. Bahkan dalam ,5 tahun terakhir, hanya kakakku yang berhasil datang."
Rumah di desa ini semuanya terbuat dari kayu dengan konsep rumah panggung. Bagian kolong rumah biasanya dijadikan tempat untuk menyimpan hasil pertanian mereka. Penduduk di sini menanam padi, jagung, dan juga sayur-sayuran. Tanah di sini sangat subur.
Hanya ada beberapa rumah yang memiliki kendaraan roda dua. Dan hanya pak Rudi yang memiliki mobil pick up. Biasanya mobil itu dipakai untuk menjual hasil tanaman ke pasar. Desa ini sudah bukan bagian dari wilayah kerajaan.
"Aku juga dulu adalah buronan yang melarikan diri. Aku datang ke sini dan justru jatuh cinta pada salah satu gadis yang ayahnya adalah seorang kepala desa. Aku bukan hanya mencintai istriku tapi aku juga mencintai tempat ini."
Arjuna menarik napas panjang. Ia menatap sekeliling desa itu sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.
Sudah disediakan kamar untuknya. Tempat tidurnya tanpa kasur. Persis seperti tempat tidur tradisional orang Jepang.
Setelah meletakan tas yang dibawahnya, Arjuna mengeluarkan foto Fiana. Gambar foto itu agak pudar karena sempat basah saat Arjuna berenang di laut saat melarikan diri. Di usapnya foto itu dengan semua kerinduan yang dimilikinya.
"Sayang, kepergianmu membuat hidupku terasa sangat sepi dan hampa. Mungkin dengan berdiam diri di sini, hatiku akan merasa tenang dan damai. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang aku cintai seumur hidupku." lalu Arjuna mencium foto itu sebelum membaringkan tubuhnya. Ia merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan yang jauh.
Arjuna dibangunkan oleh paman Rudi saat waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Ayo makan dulu, nak." ajak Rudi.
Arjuna diperkenalkan dengan istri Rudi yang bernama Mia. Perempuan berwajah oriental itu nampak masih cantik diusia nya yang sudah 54 tahun.
Rudi memiliki 2 anak. Anaknya yang pertama laki-laki dan sudah menikah. Ia sudah tinggal di rumahnya sendiri. Sedangkan anak keduanya perempuan sementara bersekolah di kota.
"Makanlah, nak. Anggaplah rumah sendiri. Memang sangat sulit untuk beradaptasi di sini karena kamu berasal dari kota yang modern. Namun percayalah, tempat ini memiliki sesuatu yang bisa mencuri hatimu." kata Mia sambil tersenyum penuh kasih. Arjuna jadi ingat dengan mamanya.
Di rumah ini, keluarga pak Rudi hanya memiliki seorang pelayan perempuan. Namun jika malam hari pelayanan itu sudah pulang.
"Masakannya sangat enak. Tapi sedikit pedas." kata Arjuna.
"Penduduk di sini terbiasa dengan makanan yang pedas. Lama-kelamaan kamu akan terbiasa." kata Rudi membuat Arjuna tersenyum.
Selesai makan, Arjuna memilih untuk duduk sebentar di teras rumah. Rumah keluarga pak Rudi letaknya paling tinggi diantara rumah penduduk yang lain.
Desa terlihat tenang dan sepi. Mungkin juga karena malam yang sudah larut. Arjuna kembali mengingat Fiana. Hatinya begitu rindu pada kekasihnya itu.
************
Arjuna bangun saat matahari sudah keluar dari peraduannya. Ia membuka jendela kamarnya dan melihat para perempuan yang sedang berjalan sambil memikul keranjang di punggung mereka.
Ada juga. beberapa lelaki yang berjalan di belakang mereka. Arjuna sebenarnya tak begitu tertarik melihat para gadis. Namun jantungnya berdetak sangat kencang saat melihat seorang gadis yang berlari menyusul para gadis yang lain. Gadis itu berambut pendek. Ia menggunakan kemeja berwarna putih dan rok panjang berwarna biru.
"Hei....tunggu aku.....!" teriak gadis itu.
Arjuna semakin terkejut saat mendengar kalau suara gadis itu hampir sama dengan suara Fiana. Wajah gadis itu tak terlalu terlihat karena ia menggunakan topi dan wajahnya sudah dipakaikan bedak yang tebal seperti juga gadis yang lain.
Gadis itu nampak begitu ceria. Tertawa lepas sambil menggandeng tangan salah satu temannya.
Arjuna langsung keluar dari kamarnya.
"Paman, siapa gadis itu?" tanya Arjuna pada Rudi yang sedang duduk di teras rumahnya.
"Yang mana Arjuna? Semua yang baru lewat itu masih gadis. Mereka akan menuju ke kebun anggur. Hari ini adalah panen besar di kebun anggur. Para gadis sengaja memakaikan bedak yang tebal di wajah mereka supaya wajah mereka tak akan hangus."
"Gadis yang paling terakhir. Yang berambut pendek itu."
"Oh gadis itu? Namanya Diana."
"Diana?" Arjuna terkejut. Hampir sama dengan nama Fiana.
"Ayo ganti pakaian, gunakan sepatu karet dan ikut denganku ke kebun anggur."
Arjuna jadi bersemangat. Ia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu segera mengenakan pakaian yang sudah disiapkan untuknya.
Perjalanan ke kebun anggur hanya memakan waktu 7 menit saja. Para gadis saling berbisik saat melihat ada cowok ganteng yang datang bersama pemilik perkebunan ini.
"Diana, ada cowok ganteng." bisik Viola.
Diana yang sedang mengatur anggur di keranjang hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya. "Aku tidak tertarik."
"Ya ampun Diana, kapan lagi desa kita ini akan kedatangan pria setampan itu?"
Arjuna memperhatikan Diana yang nampak cuek. Ia begitu penasaran dengan wajah gadis itu.
Panen hari ini pun selesai. Arjuna ikut mengangkat keranjang berisi anggur dan membawanya ke tengah-tengah kebun. Para gadis sudah bersiap untuk memeras angur dengan cara menginjaknya.
Para gadis pun sudah membersihkan wajah mereka.
"Tunggu aku....!" Diana yang sudah membersihkan wajahnya berteriak untuk bisa masuk ke dalam tong yang berisi anggur.
Arjuna yang memang sejak tadi mengawasi Diana langsung dibuatnya terpana. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Fiana. Rambutnya boleh pendek, wajahnya boleh polos tanpa make up namun senyumannya membuat Arjuna yakin kalau itu adalah Fiana.
Gadis bernama Diana itu tertawa lepas mengikuti gerakan gadis-gadis yang ada dalam tong. Mereka menginjak buah anggur sambil menari.
Arjuna memang tak pernah melihat Fiana tertawa selepas itu. Tak pernah melihat Fiana bernyanyi. Arjuna bahkan tahu kalau Fiana sangat menyukai rambut panjangnya. Tak mungkin itu Fiana. Apalagi gadis itu sama sekali tak mau melihat ke arah Arjuna. Ia selama tak peduli ketika Arjuna justru menjadi perhatian semua yang ada di sana.
Jantung Arjuna berdetak sangat kencang saat ia menatap Diana. Ya Tuhan, siapa gadis itu? Batin Arjuna.