"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27. Ancaman pak tua
Sejak mendengar penjelasan dari ketiga temannya itu, pikiran Leon tidak pernah tenang. Setiap kali menutup mata, kilasan samar cahaya lampu mobil dan suara teriakan seolah kembali terngiang di telinganya. Ia mulai mengerti mengapa selama ini orang tuanya selalu menghindari pertanyaan soal masa lalunya, mereka takut kebenaran itu akan membangkitkan rasa sakit dan amarah yang bisa merusak proses pemulihannya.
Namun kini, setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi, Leon merasa tidak bisa hanya diam saja. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Lima tahun di mana ia terbaring tak berdaya, sementara orang tuanya harus menahan kesedihan sekaligus berjuang melunasi biaya pengobatan yang menghabiskan seluruh tabungan mereka. Dan yang paling menyakitkan pelakunya masih bebas, seolah tidak pernah melakukan kesalahan apa pun.
Keesokan harinya, saat duduk berdua dengan Pak Indra di ruang tengah, Leon memberanikan diri membuka topik itu. Wajah ayahnya langsung berubah pucat begitu mendengar pertanyaan putranya.
“Jadi kamu sudah tahu, ya?” tanya Pak Indra lirih, lalu menghela napas panjang. “Kami merahasiakannya bukan karena tidak percaya sama kamu, Nak. Kami hanya ingin kamu pulih dengan tenang, tanpa dibebani rasa benci atau dendam. Dendam itu hanya akan memakan diri sendiri, bukan menyelesaikan masalah.”
Leon mengangguk mengerti, tapi suaranya tetap tegas. “leon paham maksud Ayah. Tapi ini bukan soal dendam semata. Ini soal keadilan. Kalau dia dibiarkan begitu saja, besok bisa saja dia mengulangi hal yang sama pada orang lain yang tidak seberuntung leon.”
Setelah mendengar penjelasan Leon, Pak Indra akhirnya menceritakan semuanya secara lengkap. orang yang menabraknya adalah Reza, anak dari pengusaha properti bernama Hartono yang memiliki pengaruh besar di kota itu. Segala upaya yang dilakukan keluarga mereka untuk menuntut pertanggungjawaban selalu menemui jalan buntu. Bukti berubah, saksi menarik keterangan, bahkan pihak kepolisian seolah tidak berdaya menghadapi tekanan dan uang yang disodorkan.
“Mereka sempat menawarkan ganti rugi dalam jumlah besar, dengan syarat kami menandatangani surat pernyataan bahwa kecelakaan itu murni kesalahan lo sendiri,” lanjut Pak Indra dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Ibu dan Ayah menolak. Uang tidak bisa mengembalikan lima tahun hidup kamu yang hilang, dan tidak bisa menghapus rasa sakit yang kami rasakan.”
Mendengar itu, hati Leon terasa semakin panas. Ia berjanji dalam hati akan mencari cara untuk membongkar kebenaran itu, meski tahu jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah.
Beberapa hari kemudian, Dimas, Raka, dan Bimo datang lagi membawa kabar baru. Mereka berhasil melacak beberapa informasi dari kenalan yang bekerja di kantor polisi.
“Kita dapat tahu kalau Reza sudah kembali ke kota sejak tiga bulan lalu,” ujar Dimas dengan nada berbisik seolah takut didengar orang lain. “Dia berjalan bebas seperti tidak ada apa-apa, bahkan baru saja membuka usaha baru dengan modal dari ayahnya.”
“Yang lebih parah lagi,” sambung Raka, “Mereka mulai mendengar kabar kalau lo sudah sadar. Beberapa hari ini ada orang yang mencurigakan sering lewat di depan rumah, mengawasi gerak-gerik kita. Sepertinya mereka khawatir lo akan membuka kembali kasus ini.”
Leon menegakkan punggungnya, matanya memancarkan ketegasan. “Kalau mereka mulai waspada, berarti mereka tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Selama masih ada jejak, pasti ada celah untuk membuktikan kebenaran.”
Mereka sepakat untuk bekerja secara diam-diam. Leon tidak ingin terburu-buru dan memberikan kesempatan pada pihak lawan untuk menghancurkan sisa bukti yang mungkin masih ada. Ia juga mulai menyadari bahwa kemampuan yang ia miliki selama di dunia cerita kemampuan mengingat dengan sangat rinci, menganalisis kejadian, dan menyusun alur ternyata berguna juga di dunia nyata ini.
Suatu malam, saat ia sedang memeriksa kembali catatan yang ditulis temannya soal kejadian itu, tiba-tiba halaman buku catatan cokelatnya memancarkan cahaya samar. Di tengah halaman yang kosong, muncul tulisan yang tidak ia tulis sendiri.
“Kebenaran selalu memiliki jejak, meski tersembunyi di balik kegelapan. Ikuti apa yang hatimu rasakan, dan kekuatan yang kamu bawa dari tempat lain akan menuntunmu menemukan jalan keluar.”
Leon tertegun, lalu tersenyum tipis. Ia tidak sendirian. Dukungan tidak hanya datang dari orang tuanya dan teman-temannya, tapi juga dari ikatan yang terjalin di dunia lain yang membuatnya merasa lebih kuat.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Keesokan paginya, saat Leon berjalan keluar rumah untuk membeli kebutuhan, sebuah mobil hitam mewah tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Jendela kaca turun, dan seorang pria paruh baya dengan wajah dingin menatapnya tajam.
“Kamu Leon, kan?” tanya pria itu dengan nada merendahkan. “Saya Hartono. Sebaiknya kamu dan keluarganya tahu batasnya. Jangan sampai membuka hal yang sudah selesai, kalau tidak ingin menyesal.”
Leon menatap balik tanpa rasa takut. “Hal yang belum selesai tidak akan pernah bisa dianggap selesai, Pak. Dan kebenaran itu tidak bisa dibeli dengan uang apa pun.”
Hartono tersenyum sinis, lalu menyalakan mesin mobilnya lagi. “Kita lihat saja nanti apakah kamu masih sekeras ini setelah merasakan bagaimana rasanya melawan orang yang punya kuasa.”
Mobil itu melaju pergi dengan cepat, meninggalkan Leon yang berdiri tegak di tengah jalan, dengan tekad yang makin membulat. Ia tahu, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁