NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1 Reigan Sang Mafia

Malam hari.

Di sudut pelabuhan kota.

Reigan berdiri di atas balkon besi sebuah gudang penyimpanan yang sudah keropos. Ia tidak mengenakan jas lengkap; hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung kasar hingga siku, memperlihatkan jam tangan yang berkilat setiap kali ia menyesap cerutunya. Di bawah sana, operasi dunia bawahnya sedang berlangsung dengan presisi yang mematikan.

"Target masuk ke zona merah, Bos," suara Marco, tangan kanan setianya, terdengar melalui earpiece.

Reigan mengembuskan asap abu-abu, matanya menyipit dingin saat ia melangkah turun melalui tangga besi yang berderit ritmis. Setiap langkahnya adalah dentuman vonis mati. Begitu kakinya menginjak beton kotor, ia sudah berdiri di depan Boris—mantan manajer logistiknya yang kini bersimbah peluh.

"Reigan... Bos... tolong, ini hanya sekali," rintih pria itu, suaranya pecah oleh isak tangis yang memuakkan. Bukan ampunan yang pria ini berikan. Kakinya justru menendang tubuh pria bertubuh kecil itu dan menekannya kuat diatas tanah.

Duk! "Akhh!! T-tolong Bos ... Ampuni aku." Pria itu memohon ampun. Reigan menyesap cerutu ditangannya.

"Kau tahu ..." Jeda kalimat Reigan membuat atmosfer malam ini makin berat dan dingin. "Aku benci pengkhianatan."

"Ampuni aku bos. Aku tidak ...."

Dor!

"Akhhh!!" lolongan kesakitan terdengar menyesakkan dada. Meskipun begitu, orang-orang di sekitar Reigan tetap berwajah datar. Meskipun ada orang yang merasa ngeri dengan eksekusi Reigan, mungkin itu orang baru yang ikut dalam operasi ini.

Semua orang tahu nama Reigan. Mendengarnya pasti ngeri.

Reigan berdiri sambil menyesap cerutunya. Mobil SUV sudah siap didekatnya untuk membawa dia kembali ke apartemen. Nico, pria kepercayaannya berdiri disampingnya. "Maafkan atas keteledoran saya, Bos." Nico menundukkan kepala mengakui kesalahannya.

Rei mengabaikan permohonan maaf itu. "Cari siapa yang membuatnya mengkhianatiku," ujarnya pelan tapi tetap menguarkan nuansa gelap. Ini lebih menakutkan.

"Baik Bos."

"Ayo pergi," gumam Reigan pada sopirnya.

"Bersihkan," perintahnya pendek tanpa menoleh. Suaranya rendah, nyaris menyatu dengan deru mesin kapal di kejauhan. "Jangan biarkan ada satu sel pun yang tertinggal di dermaga ini."

"Baik Bos!"

Anak buahnya bergerak seperti robot—efisien dan tak bersuara. Reigan melangkah pergi, meninggalkan bau amis laut dan mesiu yang melekat di mantel wol mahalnya. Di dunia bawah Ethendore, ia bukan sekadar pemimpin; ia adalah hukum yang berjalan.

***

Guyuran air shower mulai membasahi tubuh kekar dan berotot milik Reigan. Rasa kaku dan penat mulai jatuh bersama dengan air yang mengalir lewat pembuangan air.

Setelah selesai, ia berdiri di depan jendela besar dengan jubah mandi hitam, menatap lampu-lampu Ethendore yang mulai memudar. Ia menyesap air mineral dari gelas kristal, sementara matanya memeriksa grafik keamanan Valerius melalui tablet. Hidupnya adalah tentang pengawasan tanpa henti.

Namun, ketenangannya pecah saat ponselnya bergetar di atas nakas. Cahaya dari layar menyala. Reigan menggeram, "Siapa yang berani meneleponku dini hari?" Ia ingin tahu siapa orang itu. Tubuhnya bergerak mendekat nakas disamping ranjang.

"Rowand?" Itu orang kepercayaan kakeknya. Tanpa banyak pikir, Reigan meraih ponsel itu dan menempelkannya ditelinga. "Ya. Rowand?"

"Maaf saya mengganggu, Tuan muda. Tuan besar ingin anda datang besok pagi ke paviliun." Suara berat dan bijaksana terdengar diseberang.

"Ada apa?"

"Urusan penting."

Semua urusan kakek pasti penting. Juga selalu ada saja gebrakan menyebalkan dari pria tua itu. "Baiklah." Reigan melempar ponselnya ke atas ranjang.

***

Pagi hari di paviliun keluarga kakeknya.

"Kau datang terlambat, Reigan." Suara kakek terdengar menggema dalam ruang makan keluarga.

"Maaf, Kek." Reigan menundukkan kepala. Sikap yang kontras. Dia terlihat anak penurut di depan pria itu itu. Tangan Reigan menarik kursi dan duduk.  "Kakek sehat?"

"Ya. Tentu saja."

"Ada kepentingan apa kakek memintaku kesini?"

"Sarapan saja dulu sebelum kita bicara," ujar Kakek sambil menunjuk ke arah makanan yang sudah tersedia di atas meja.

Reigan menipiskan bibir. Ini akan lama. Ia mengambil piring dan mengambil makanan sekedarnya saja, terus makan dengan tenang.

"Makan yang banyak. Jangan setengah-setengah, begitu," tuntut kakek yang ternyata memperhatikan apa yang dituangkan kedalam piringnya.

"Baik Kek." Reigan terus patuh. Ia menambahkan lagi.

"Kau terlihat seperti belum tidur semalaman."

Ya. Dia baru tidur jam 3 pagi. Itu tepat saat gawai pipih-nya bergetar. Dimana Rowand menelponnya. Ya. Dia memang menonaktifkan ponselnya saat operasi di pelabuhan.

Makanan di piring Reigan hampir habis setelah beberapa menit. Ia ingin makan pagi ini segera berakhir dan langsung ke topik utama, yaitu tentang perintah kakeknya untuk datang ke paviliun.

"Jadi ada apa, Kakek mengundang ku?" tanya Reigan dengan nada lembut dan hormat.

Kakek Douglas menoleh sedikit dari balik cangkir teh Earl Grey yang dia minum. Mencecap sisa rasa teh sebentar, lalu meletakkan cangkir itu di atas meja.

"Terburu-buru sekali. Padahal kamu tahu, keluarga kakek ini hanya tinggal kamu sendiri."

Reigan menipiskan bibir. Pria tua itu benar. Keluarga Douglas hanya tersisa dirinya dan kakek setelah orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Mulut Reigan bungkam tidak mampu membalas. Dia membiarkan kakek melakukan apa yang beliau inginkan terlebih dahulu daripada memaksanya.

Setelah beberapa menit.

"Berapa usiamu?" Sebuah pertanyaan sederhana tapi aneh

"Tiga puluh."

"Itu usia yang matang." Kepala kakek tampak mengangguk puas.

"Usia matang, untuk apa?" tanya Reigan curiga. Namun intonasinya tetap tenang.

"Menikah," jawab kakek Douglas dengan tenang.

Sebuah jawaban normal, tapi tidak untuk Reigan.

"Menikah? Aku?" tanya Reigan dengan alisnya naik. Menikah? Di tengah kekacauan Valerius? Pria tua ini gila.

"Ya," jawab kakek yakin.

"Kakek sedang bercanda?" Reigan mengeraskan rahangnya.

"Ini bukan candaan." Kakek Douglas tersenyum.

"Lalu kenapa?" Reigan tidak percaya pembahasan ini mengenai sebuah pernikahan. Bukan orang lain, tapi dirinya.

"Karena kamu harus menikah."

Reigan menatap lurus-lurus kakeknya. "Aku belum butuh," tandas Reigan.

"Bukan butuh atau tidak butuh. Kakek memberimu perintah," tekan Douglas berat.

Reigan diam. Mengalah.

"Dia akan datang beberapa menit lagi," ujar Kakek Douglas tidak sabar menunggu.

Mata Reigan membuntang. Bahkan kakek sudah menentukan sendiri orangnya? Ia kembali duduk dengan tegak, menyembunyikan kepalan tangannya di bawah meja. Terus menerus kata-kata kakeknya tidak bisa ia percaya.

Terdengar suara langkah kaki yang ringan dan teratur terdengar mendekat. Rowand muncul di ambang pintu, namun ia tidak sendirian. Di belakangnya, seorang wanita melangkah masuk dengan keanggunan yang tampak sangat kontras dengan aura dominan keluarga Douglas.

"Dia sudah datang," ucap Kakek Douglas dengan nada suara yang tiba-tiba melunak.

Reigan menoleh.

Wanita itu mengenakan blus dan rok plisket di bawah lutut.  Berwarna krem yang sederhana namun memancarkan kelas tersendiri. Rambutnya ikal pendek dengan wajah yang tampak tenang meski berada di bawah tatapan mengintimidasi pria paling berbahaya di Odelgard.

"Reigan, perkenalkan," Kakek Douglas berdiri dengan bantuan tongkatnya, senyum tipis yang jarang terlihat kini muncul di wajah tuanya. "Ini Hana. Cucu dari sahabat lama Kakek."

Ternyata orang dalam? Huh. Memuakkan.

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!