NovelToon NovelToon
Malam Jum'At Keliwon

Malam Jum'At Keliwon

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.

Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: KITAB HIDUP DAN KEBANGKITAN KEKUATAN SEJATI

Pagi berganti malam di dalam Gua Penggung. Suasana hening dan sakral, hanya terdengar suara desiran angin yang masuk lewat celah-celah batu dan bunyi kemenyan yang terbakar perlahan.

Raga duduk bersila di hadapan meja batu besar. Di depannya terbentang Kitab Lontar Eyang Noto yang kini sudah berubah wujud total. Halaman-halamannya yang dulu tertutup kabut hitam kini terbuka lebar, penuh dengan tulisan aksara Jawa kuno yang bersinar samar dan gambar-gambar rumit yang seakan-akan bergerak hidup.

"Lihat baik-baik, Raga..." kata Eyang Sastro pelan namun tegas. Ia berdiri di samping Raga, tangannya menunjuk sebuah gambar di halaman tengah kitab itu.

"Itu bukan sekadar gambar hiasan. Itu adalah Peta Jalur Energi Tubuh dan lambang dari takdirmu."

Raga mengamati gambar itu dengan saksama. Terlihat gambar seorang manusia berdiri di tengah lingkaran delapan penjuru. Di sebelah kanannya ada gambar Naga Putih, di sebelah kirinya ada Naga Hitam. Di atas kepalanya ada matahari, dan di bawah kakinya ada bulan.

"Maksud Eyang?" tanya Raga.

"Dulu, Eyang Noto bukan cuma orang desa biasa. Dia adalah Penjaga Gerbang atau yang disebut Wali Pintu. Tugasnya bukan menaklukkan orang, tapi menjaga keseimbangan antara dunia manusia dan dunia gaib agar tidak saling menyerbu."

Eyang Sastro menarik napas panjang.

"Ikatan pernikahan dengan Nyi Blorong itu sebenarnya hanyalah 'kunci' atau cara diplomatik agar Eyang Noto bisa bernegosiasi dengan para penguasa alam dengan mudah. Tapi tugas utamanya jauh lebih besar: Menjaga agar Gerbang Dunia tetap tertutup rapat dari kekuatan jahat."

Mata Raga membelalak. "Berarti... beban yang aku pikul bukan cuma soal jodoh atau keselamatan diri sendiri?"

"Benar, Nak. Kalau kau gagal, bukan cuma kau yang celaka. Kedua dunia bisa hancur bercampur aduk. Dan sekarang... tugas mulia itu turun ke pundakmu karena darah pejuang mengalir deras di nadimu."

 

Eyang Sastro lalu membalik halaman ke bagian paling belakang. Halaman itu masih tampak gelap, seolah tertutup lapisan tinta hitam pekat yang tidak bisa dibaca.

"Lihat halaman ini?"

"Iya Eyang, masih gelap sekali."

"Itu adalah halaman rahasia terbesar. Isinya tentang Wahyu Ilmu dan Kekuatan Pamungkas yang hanya bisa dibuka oleh pemilik sah kitab ini. Dan caranya... tidak bisa dibaca dengan mata biasa. Kau harus membukanya dengan Darah, Nyawa, dan Keyakinan."

"Bagaimana caranya, Eyang? Ajarkan aku!"

"Mudah saja. Letakkan kedua telapak tanganmu tepat di atas halaman gelap itu. Tutup matamu. Rasakan hubungannya dengan jantungmu. Bayangkan ada cahaya putih yang keluar dari hatimu, mengalir ke tangan, lalu menyinari kertas itu. Ucapkan niatmu yang paling suci."

Raga mengangguk mantap. Ia meletakkan kedua tangannya perlahan di atas permukaan daun lontar yang keras itu.

Saat kulitnya menyentuh kertas itu, ia merasakan getaran aneh. Dingin namun berdenyut, seperti menyentuh permukaan air yang mengalir deras.

"Bismillahirrahmanirrahim..."

Raga memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh pikirannya. Menghilangkan rasa takut, menghilangkan rasa lelah. Hanya ada satu niat: Menjadi penjaga yang benar, menuntut ilmu untuk kebaikan.

"Wahyu Eyang Noto... Turunlah ilmunya... Teranglah hatiku... BUKALAH SEGELNYA!"

Seketika...

TRINGGG!!!

Sebuah suara lonceng halus terdengar jelas di dalam kepala Raga, seakan ada yang menjentikkan jari di dalam alam sadarnya.

Tiba-tiba!

Telapak tangan Raga memancarkan cahaya keemasan yang sangat terang! Cahaya itu meresap masuk ke dalam daun lontar! Perlahan tapi pasti, tulisan-tulisan yang tadinya hilang... mulai muncul satu per satu!

Srett... srett...

Huruf-huruf itu bergerak sendiri menyusun kalimat, gambar-gambar pun menjadi jelas!

Terlihat gambar Raga sendiri yang sedang berdiri di tengah badai, memegang sebuah tongkat cahaya yang bisa membelah awan. Ada tulisan mantra pengendali api, air, tanah, dan angin. Ada juga gambar cara membuat perisai diri yang tidak bisa ditembus senjata maupun mantra.

"Ini... ini luar biasa, Eyang!" Raga takjub matanya berbinar.

"Itu baru sebagian kecil, Nak. Kitab ini adalah Kitab Hidup. Ia akan terus bertambah halamannya sendiri seiring bertambahnya pengalaman dan kedewasaanmu."

 

Belum sempat Raga berbicara lagi, tiba-tiba tubuhnya tersentak hebat!

JEDERRRR!!!

Seperti ada petir yang menyambar di dalam tubuhnya! Energi yang selama ini tersimpan diam, energi yang didapat dari pertarungan, energi dari darah leluhur, dan energi dari benda-benda pusaka... SEMUANYA BERPUTAR KERAS!

"AAAAHHHH!!!" Raga tidak sengaja berteriak saat energi itu meledak keluar!

WUSSSSSSS!!!

Angin di dalam gua berputar kencang! Lilin-lilin menyala sendiri padahal tidak ada yang menyalakan! Rambut Raga berdiri tegak tertiup angin supranatural!

Eyang Sastro dan Mbah Joyo mundur selangkah kaget melihat fenomena itu.

Tubuh Raga kini bersinar terang benderang! Cahayanya putih keemasan menyilaukan mata! Ia seperti dikelilingi oleh bola cahaya raksasa!

"NAK! JANGAN DITAHAN! KELUARKAN SAJA SEMUANYA!" teriak Eyang Sastro.

Raga mengangkat tangannya secara refleks ke atas!

JLEEEBBB!!!

Sinar menyembur keluar dari ujung jarinya menembus atap gua! Rasanya luar biasa kuat! Ia merasa tubuhnya ringan seperti mengambang, tapi kekuatannya terasa tak terbatas! Ia bisa merasakan detak jantung bumi, ia bisa mendengar suara daun bergesekan jarak ribuan meter, ia bahkan bisa "melihat" tanpa membuka mata!

Setelah beberapa menit ledakan energi itu... perlahan cahayanya meredup dan masuk kembali ke dalam tubuh Raga.

Raga membuka mata.

Matanya tadi sempat berubah menjadi warna emas pekat selama beberapa detik, lalu kembali menjadi hitam bening biasa. Namun, ada perubahan besar pada tatapan matanya. Kini matanya terlihat jauh lebih dalam, lebih tenang, dan memancarkan wibawa yang luar biasa.

Ia menghela napas panjang. Udara yang dihembuskannya saja terasa berhembus kencang seperti angin badai.

"Aku... aku merasa berbeda sekali, Eyang..." bisik Raga. "Aku mengerti semua tulisan di kitab itu sekarang. Aku tahu cara mengucapkan mantranya, aku tahu cara kerjanya... semua masuk ke kepala secara otomatis."

"Itu namanya Wahyu Turun, Nak. Ilmu ditransfer langsung dari alam gaib ke otakmu tanpa perlu belajar bertahun-tahun. Kau sekarang resmi jadi penerus Eyang Noto yang sesungguhnya."

Mbah Joyo langsung memeluk Raga sambil menangis bahagia. "Moga-moga jadi orang berguna ya Nak, jadi pelindung orang banyak..."

 

Namun, kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.

Belum sempat mereka duduk tenang, tiba-tiba...

DRRRRRRR!!! DRRRRRRR!!!

Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat! Gua berguncang seperti terjadi gempa bumi besar! Batu-batu kecil berjatuhan dari atap!

"APA INI?!" seru Mbah Joyo panik.

"Bukan gempa biasa!" Eyang Sastro berlari cepat ke mulut gua. "Ada kekuatan gelap besar yang mendekat! Aura mereka bau bangkai dan darah!"

Raga segera berdiri, mencabut Keris Berluk 9 yang ikut bersinar merespons bahaya. Ia berlari menyusul Eyang Sastro ke luar gua.

Saat mereka melihat ke bawah...

Mereka terpaku kaget dan ngeri.

Seluruh lereng bukit di bawah Gua Penggung dipenuhi oleh lautan hitam! Ribuan, bahkan puluhan ribu makhluk menyeramkan sedang berbaris rapi!

Mereka bukan pasukan Kanjeng Raden. Mereka adalah Arwah Penasaran, Zombie Perang, dan Jin Iblis yang matanya semua merah menyala! Mereka dipimpin oleh sosok-sosok berjubah ungu gelap yang sama dengan yang ditemui di puncak gunung kemarin!

Organisasi Hitam Paguyuban Segoro Putih! Mereka benar-benar datang untuk balas dendam dan merebut benda pusaka!

"Eyang... mereka banyak sekali..." Raga menelan ludah. "Kita cuma bertiga... mana bisa lawan sebanyak itu?"

Eyang Sastro menatap Raga dengan wajah sangat serius. Ia menepuk bahu muridnya itu kuat-kuat.

"Raga... dengar aku. Kau bukan lagi bocah penakut. Kau sekarang Penjaga Gerbang. Kau punya kitab, kau punya kekuatan baru, dan kau punya teman di alam sana."

"Tapi mereka jauh..."

"TIDAK JAUH! KAU YANG PANGGIL MEREKA! PAKAI ILMU YANG BARU KAU DAPAT ITU!" Eyang Sastro berteriak memecah ketegangan. "BACA MANTRA PEMANGGIL! PANGGIL KANJENG RADEN! PANGGIL NYI BLORONG! KATAKAN MUSUH SUDAH DI DEPAN PINTU!"

Raga mengangguk cepat. Darahnya mendidih. Adrenalin memuncak.

Ia melangkah maju ke tepi tebing yang curam. Angin malam menderu kencang menerbangkan jubahnya.

Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit yang gelap. Ia memusatkan energinya yang baru saja bangkit itu.

"DEMI KITAB LELUHUR!!!" teriak Raga suaranya kini tidak lagi suara manusia biasa, tapi suara yang bergema dan bergema seperti datang dari segala arah!

"DENGAR AKU SELURUH PENGUASA GUNUNG!!! AKU RAGA!!! SEKARANG MUSUH SUDAH MENGECUP HIDUNG!!! DATANGLAH!!! BANTULAH KAMI!!! MALAM INI... KITA BUKA PERANG BESAR!!!"

BRAAAAAAKKKK!!!

Seketika langit berubah warna menjadi ungu gelap! Guntur menyambar-nyambar tanpa henti!

Dari balik awan hitam, terdengar auman naga yang sangat dahsyat!

"AUUUUUUMMMMMM!!!!!"

Dari dalam tanah, terdengar suara desisan ribuan ular!

"SSSSSSSSSS!!!!!"

Dan dari langit, ribuan bayang-bayang raksasa turun bagai hujan!

Kanjeng Raden Tumenggung muncul dengan tombak raksanya, wajahnya murka luar biasa! Di belakangnya barisan pasukan genderuwo dan raksasa tak terhingga jumlahnya!

Nyi Blorong juga muncul, wujudnya kini cantik namun garang, diapit oleh ribuan siluman ular dan siluman burung!

Mereka semua berbaris rapi di udara dan di atas pohon-pohon besar, siap sedia mendengar perintah!

Kanjeng Raden menatap Raga dengan hormat lalu menunjuk ke arah pasukan musuh di bawah.

**"PERINTAHKAN KAMI, TUAN PENJAGA! APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN?!!" teriak Sang Raja suaranya menggelegar memecah langit.

Raga menarik napas dalam-dalam. Ia memandang musuh yang tak terhitung jumlahnya, lalu memandang sekutunya yang juga tak kalah kuatnya.

Ia mengangkat kerisnya tinggi-tinggi!

"JANGAN BIARKAN SATU PUN MEREKA NAIK KE SINI! HANCURKAN YANG MELAWAN! TANGKAP YANG BISA DITANGKAP! MULAAAAAAI!!!"

TRANGGGGGGG!!!

Perang besar antar alam pun pecah! Malam itu menjadi saksi pertarungan paling dahsyat yang pernah terjadi sepanjang sejarah!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!