NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:553
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tiga hari kemudian, Kara menatap surat keterangan orang tua di tangannya.

Sebenarnya Irwan sudah memberikannya sejak awal, sejak kabar dari bosnya itu muncul. Tapi baru hari ini Kara berniat menyerahkannya ke wali kelas.

Dengan langkah santai, dia menaiki tangga dan menyusuri lorong menuju ruang guru. Konsekuensinya jelas: jam pelajaran ditukar jadi jam istirahat versi pribadi. Alias bolos resmi. Harum bahkan sudah mengangguk setuju, meski tidak diajak.

Tok. Tok. Tok.

Kara membuka pintu tanpa ragu dan masuk. Pandangannya langsung mengarah ke meja Pak Reza, wali kelasnya, yang baru saja menutup kotak bekal.

"Eh, Kara," Pak Reza menunjuk kursi di depannya. "Duduk dulu. Bentar ya."

Kara mengangguk, lalu duduk santai. Dia memperhatikan Pak Reza yang sibuk merapikan kotak bekal dan minumnya.

"Bekal apa hari ini, pak?" tanya Kara, sekadar mengisi udara.

Pak Reza tersenyum lebar. "Ayam balado."

"Hoo... enak ya dibekelin tiap hari."

"Masakan istri saya jauh lebih enak daripada makanan di luar," jawabnya bangga. "Kamu ada apa ke sini?"

Kara langsung meletakkan surat keterangan itu di atas meja.

"Saya mau izin seminggu."

Pak Reza mengambīl surat itu dan membacanya perlahan. Semakin ke bawah, ekspresinya berubah jadi lebih serius. Lalu ia menghela napas panjang.

"Bapak turut berduka ya," ucapnya pelan.

Kara mengernyit.

"Kamu yang sabar," lanjut Pak Reza dengan nada penuh empati. "Hidup dan mati itu sudah ketentuan Tuhan. Jangan terlalu larut dalam kesedihan."

Kara mengangguk pelan, meskipun otaknya mulai berputar.

Berduka?

Siapa yang meninggal?

Dia bahkan belum membaca isi surat itu sendiri.

"Jadi saya diizinkan, pak?" tanyanya hati-hati, tetap menjaga muka datar.

"Seminggu itu cukup lama," kata Pak Reza sambil menatap surat itu lagi. "Tapi karena tempatnya jauh, ya sudah. Setelah kembali, kamu harus kejar materi yang tertinggal."

"Baik, pak."

"Hati-hati di perjalanan, Sampaikan juga ke keluarga."

"Baik, pak. Terima kasih, Saya permisi dulu."

Kara berdiri, lalu keluar dari ruang guru dengan langkah yang sama santainya. Hanya saja kali îni ada satu hal yang menganjal di kepalanya.

"Siapa sih yang mati?"

~

Latihan basket hari itu akhirnya selesai. Kara duduk di pinggir lapangan bersama anggota tim lainnya, beristirahat sambil memperhatikan tim junior yang sedang latihan menembak bola. Anak-anak kelas sepuluh yang nanti akan meneruskan perjuangan mereka setelah lulus.

Salah satu di antara mereka ada Cantika. Tingginya masih standar untuk pemain, tapi soal kemampuan..

"Astaga. Lemparannya masih ngaco banget," Harum yang duduk di sebelah Kara terkekeh.

Kara menoleh. "Ngaco gimana?"

"Ring di mana, dia lempar ke mana.'

"Dia cuma butuh latihan lebih banyak."

"Halah, tinggal bilang gak bakat," Harum mendengus. "Narisa lebih jago lemparnya."

"Kapan lo liat dia main?"

"Yang pas nyabotase lapangan waktu itu. Sempet liat bentar."

Kara memilih diam. Dia juga sempat melihat, tapi Narisa masuk klub basket itu lebih ke kebetulan aneh daripada rencana. Lagipula mereka sudah kelas dua belas. Waktu buat mengasah kemampuan dari nol sudah tidak ada.

Dan Cantika. Bukan dia tidak tahu cewek satu itu bergabung demi dekat dengannya. Jadi.. bakat? Lupakan.

"Btw, kalian jadi lusa berangkat ke Thailand?" tanya Harum.

Kara mengangguk. "Gak ada celah buat batalin. Si Bonar juga santai aja."

"Hati-hati aja lo berdua. Jangan-jangan habis ini si om bos malah minta kalian punya anak."

Kara langsung menoleh tajam. "Kejauhan, njir. Nikah aja gak masuk akal buat gw. Apalagi anak."

"Ya makanya gw bilang hati-hati. Itu om-om gak bisa ditebak."

Kara diam. Untuk pertama kalinya, kemungkinan terasa sangat mengganggu. Menikahkan anak orang saja sudah di luar nalar. Bukan mustahil kalau ada ide yang lebih aneh lagi.

"Amit-amit," gumam Kara sambil mengetuk lantai tiga kali.

Harum langsung tertawa. "Lucu kali ya kalau lo berdua punya anak di umur segini."

"Gak lucu, peak. Ngeri."

"Ya udah sih. Gw cuma kepikiran aja."

"Pikiran lo diservis dulu sana."

Belum sempat lanjut, Cantika datang menghampiri dengan napas tersengal.

"Kak, bagi minum dong," katanya sambil langsung mengambil botol minuman Kara dan meneguknya tanpa izin.

"Wih, ciuman tidak langsung," komentar Harum dengan senyum usil.

Cantika mengusap mulutnya santai.

"Yang langsung juga udah pernah kok," katanya ringan, menatap Kara penuh arti. "Tinggal kak Kara aja nih, lama banget jawabnya."

Kara menghela napas pelan, lalu mengalihkan pandangan. Hidupnya saja sudah cukup ruwet, urusan beginian jelas bukan prioritas.

"Kapan kakak mau jawab?" tanya Cantika lagi sambil duduk di sampingnya.

Kara menoleh, alisnya terangkat sedikit. "Harus?"

"Harus dong. Aku butuh kepastian."

"Hm.."

"Gw cabut deh," kata Harum sambil berdiri. "Ngeri ganggu momen, "

Setelah Harum pergi, Kara akhirnya bicara lebih serius.

"Kamu dulu bilang gak suka cewek. Sekarang kenapa jadi suka?"

Cantika mengangkat bahu santai. "Aku gak suka cewek. Aku sukanya cuma kak Kara. Mau kakak cewek atau cowok, aku tetap suka."

" Sukanya karena?"

"Ya karena itu kak Kara."

Kara terkekeh kecil, lalu mengusap kepala Cantika yang masih sedikit berkeringat.

Untuk sekarang, dia belum bisa memberi jawaban. Ke depannya? Entahlah.

Saat ini saja dia masih berjalan di jalur yang bukan pilihannya sendiri. Tapi nanti, kalau suatu hari dia sudah benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri... Mungkin Cantika bisa jadi salah satu pilihan itu.

Mungkin.

~

Di rumah, Narisa sudah pusing tujuh keliling saat Nuri sibuk memilihkan baju yang akan dibawa lusa.

"Ngapain siap-siap sekarang sih, ma? Besok juga bisa," keluh Narisa sambil cemberut.

"Persiapan mepet itu gak bagus, Risa.. Kamu ngerti kan" Nuri menatap deretan kaos dan rok yang tergantung rapi di lemari, seperti sedang menyusun strategi perang.

"Ma, bawa dikit aja. Bisa belanja di sana."

Nuri langsung menoleh, "Belum tentu Pak Bram ngasih duit. Jangan ngarep ke mama."

Narisa memutar mata. "Dia ngasih voucher 'bulan madu', masa gak sekalian ngasih duit."

"Oh, kalau kamu dikasih, mama minta ya."

"Ya kalau itu juga," balas Narisa cepat.

"Nah itu," Nuri mulai menarik beberapa hanger. "Mending bawa baju lebih, daripada nanti di sana cuma bisa liat-liat."

"Astaga, ribet."

"Ambilin juga aksesoris yang mau kamu bawa. Sekalian sepatu, sandal, dalaman-"

"Ma, aku pengen tidur sore," potong Narisa lemas.

"Gak ada tidur sore. Buruan. Mau liburan gak sih?"

Mendengar kata liburan, ekspresi Narisa langsung berubah. Setidaknya di kepala mamanya kepergian mereka ke Thailand ini bukan sesuatu yang serius.

Dan kesimpulan paling menenangkan tetap satu: liburan.

"Ma, nanti malam masak apa?" tanya Narisa sambil mulai ikut memilah baju.

"Hm... sawi aja. Papa kamu suka."

Narisa mendengus. "Aku telur aja deh, ma."

" Makan sayur."

"Enakan bakso."

" Sayur atau gak makan malam sama sekali."

Narisa langsung duduk di lantai dengan dramatis.

"Ada ya orang tua gak ngasih anaknya makan."

Nuri hanya geleng-geleng.

"Ada ya anak yang lebaynya kayak kamu."

Perdebatan itu berakhir begitu saja tanpa pemenang. Dan memang sejak awal tidak pernah benar-benar penting.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!