Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Operasi yang Hampir Gagal Dan Kencan Pertama Yang Kacau
Dalam situasi darurat, monitor jantung berkedip-kedip dengan nada panik menandakan bahwa pasien mengalami cardiac arrest. Cahaya lampu operasi yang terang membuat bayangan dokter dan perawat terlihat seperti siluet yang bergerak cepat.
Dr. Arkan meminta defibrillator, "200 joule!" sedangkan tangannya masih dalam posisi operasi di dalam rongga dada pasien. Rara dengan cepat menyerahkan alat itu ke tangan Arkan.
"Clear!" teriaknya, kemudian pasien menerima kejutan listrik. Monitor tetap menunjukkan garis datar.
Namun, detak jantung pasien tidak muncul. Dr. Arkan meminta kejutan listrik lagi, "300 joule!" Setelah itu, detak jantung kembali muncul di monitor. Suara bip yang stabil menggantikan alarm panik sebelumnya.
Dr. Arkan menarik napas dalam dan memberi instruksi, "Bagus, lanjutkan transfusi. Kita harus menyelesaikan bypass ini dalam 30 menit."
Rara mengangguk cepat, tetap fokus membantu operasi. Ini adalah operasi jantung terbuka pertama mereka bersama setelah pertemuan emosional di rumah sakit tua seminggu lalu. Dinamika antara mereka telah berubah drastis - tidak ada lagi cibiran atau sikap merendahkan dari Arkan, meskipun dia tetap perfeksionis dalam pekerjaan.
Dalam operasi ini, Rara mulai memahami ritme kerja Arkan. Ia menyerahkan alat "scalpel" tepat sebelum Arkan memintanya, sebuah tindakan yang dulunya sering membuatnya kesal. Namun, sekarang Arkan berterima kasih padanya dengan bisikan lembut, "Terima kasih," tanpa mengangkat pandangan dari operasi.
Namun, keamanan pasien terancam ketika salah satu dokter residen berseru, "Astaga! Aorta robek!" Darah menyembur deras dari pembuluh besar di jantung pasien, dan lapangan operasi segera dipenuhi darah merah segar.
Dalam keadaan darurat, Arkan berteriak, "Clamp! Cepat!" sambil mencoba menutup robekan dengan jarinya. Rara dengan cepat bergerak untuk mengambil alat yang dibutuhkan. Ia tahu persis apa yang dibutuhkan Arkan, sehingga tidak perlu ditanya.
Dengan koordinasi yang sangat baik, Rara mengeluarkan perintah, "Suction!" dan mempersiapkan alat penyedot darah.
Arkan dan Rara bekerja sama seperti mesin yang terlatih sempurna, mengontrol perdarahan dan menyelesaikan operasi dalam beberapa menit kritis.
Setelah operasi selesai dan pasien stabil, seluruh tim operasi menghela napas lega.
Arkan melepas sarung tangan berlumuran darahnya dan tersenyum kecil, sesuatu yang jarang dia lakukan di rumah sakit. "Kerja bagus, semuanya," katanya. "Terutama kamu, Rara." Rara terkejut mendapat pujian langsung dari Arkan di depan tim. "Hanya melakukan pekerjaan saya, Dokter," katanya dengan santai.
Arkan mengangguk dan terus berbicara. "Tapi kamu melakukannya dengan sangat baik. Aku beruntung punya perawat sepertimu." Beberapa anggota tim operasi saling pandang, terkejut mendengar kata-kata itu. Siapa sangka Dr. Arkan, yang dikenal dingin, memuji perawat?
Setelah operasi, Rara menemukan Arkan duduk lelah di bangku di ruang ganti dokter.
"Operasi yang menegangkan," katanya sambil duduk di sebelahnya.
Arkan mengangguk. "Pasien itu bisa saja meninggal kalau kita tidak bekerja sama dengan baik."
Rara tersenyum lebar, "Kita memiliki tim yang sangat baik."
Arkan menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Ya, kita memang sangat baik bersama."
Ada sesuatu dalam nada suara Arkan yang membuat Rara merasa sedikit tidak nyaman, tapi dia mengabaikannya.
"Besok kamu akan menjaga malam?" tanya Arkan tiba-tiba.
Rara mengangguk, "Ya, shift malam sampai jam 6 pagi." Arkan juga menjaga malam, dan jika tidak ada pasien darurat, mereka mungkin bisa makan malam bersama di kantin.
Rara tersenyum lebar ketika Arkan menawarkan makan malam gratis. "Aku tidak menolak tawaranmu," kata Rara dengan senyum.
"Tidak gratis," jawab Arkan sambil berdiri. "Aku traktir kamu karena kamu menyelamatkan hidupku hari ini."
Rara menerima tawaran Arkan dengan bangga. Ketika mereka berjalan keluar ruang ganti bersama, beberapa perawat dan dokter memandang mereka dengan ekspresi penasaran. Rara sadar bahwa perubahan sikap Arkan pasti menjadi bahan omongan di rumah sakit. Namun, dia tidak peduli.
Dia merasa senang melihat Arkan tersenyum lembut dan bersemangat. Arkan bahkan menyerahkan kopi favorit Rara yang dicampur kayu manis, dan memanggil namanya dengan nada lembut. Perubahan Arkan ini membuat Rara merasa bahagia dan tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.
Saat melewati lorong yang ramai, Arkan merasakan sentuhan hangat tangan Rara di tangannya. Sentuhan kecil itu menegaskan kehadirannya tanpa perlu berbicara.
"Makan malam di kantin?" Rara bertanya sambil menyendok nasi goreng dingin di piringnya. Arkan tersenyum.
"Lebih romantis dari yang saya bayangkan." Memang, kantin rumah sakit di tengah malam tidak terlalu romantis.
Lampu neon yang terlalu terang, bau disinfektan yang menusuk hidung, dan suara monitor jantung dari ruang ICU yang terdengar samar-samar tidak membantu suasana.
Rara merasa lebih bahagia saat ini dibandingkan dengan kencan mewah lainnya.
"Jadi," ujarnya sambil menyeruput kopinya, "apa yang sebenarnya tersembunyi di balik dokter bedah sempurna ini?" Arkan mengangkat alisnya dan mengatakan dengan nada yang biasa saja, "Tidak banyak yang menarik tentang saya."
Rara kemudian mengambil inisiatif untuk menilai situasi. "Biarkan aku yang menilai," katanya sambil menghimpit tangan di atas meja.
"Kita akan mulai dari awal.
Pertanyaan pertama, apa makanan favoritmu?" tanyanya.
Arkan menjawab, "Nasi goreng, saya suka makanan sederhana."
Rara melanjutkan, "Film favoritmu apa?"
"The Godfather," jawab Arkan.
"Warna favoritmu?" tanyanya.
"Biru," jawab Arkan.
Rara kemudian bertanya tentang penyakit masa kecil Arkan, yang menjawab "Asma."
Cita-cita Arkan adalah menjadi astronot, tapi dia kemudian menyadari bahwa dia takut ketinggian.
Rara tertawa melihat reaksi Arkan. "Pertanyaan terakhir - apa yang paling kamu sesali dalam hidup?" tanyanya.
Arkan diam sejenak sebelum menjawab. "Saya tidak menghabiskan lebih banyak waktu dengan ayah sebelum dia meninggal. Itu yang paling saya sesali."
"Jadi, kamu ingin menjadi dokter bedah?" tanya Rara, mengingat pertanyaan sebelumnya. "Atau mungkin pemain basket?"
Arkan tertawa. "Kamu masih ingat pilihan saya? Tapi, saya pikir saya tidak cocok menjadi pemain basket karena saya terlalu pendek, meskipun saya tinggi 185 cm."
Rara menatapnya dengan mata yang tajam. "Kamu tidak pendek, Arkan. Kamu hanya memiliki tinggi yang biasa."
Arkan diam sejenak sebelum mengungkapkan perasaannya. "Aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan ayah sebelum dia pergi."
Rara mengangguk setuju. Mereka berdua duduk dalam keheningan yang nyaman sejenak, sebelum Arkan memutuskan untuk mengungkapkan rahasia Rara. "Sekarang giliranku," ujarnya.
Rara bersandar dengan santai. "Mulai saja," katanya.
Arkan mulai bertanya dengan nada lembut. "Umur kamu berapa?"
Rara menjawab dengan cepat, "22 tahun."
"Makanan favorit ?"
"Martabak manis"
"Film favorit kamu apa?"
"Titanic," jawab Rara dengan senyum.
"Warna favorit kamu?"
"pink."
"Penyakit waktu kecil ?"
Rara tersenyum lagi. "Waktu kecil saya sering mengalami mimisan."
"Apa cita-cita kamu saat kecil?"
Rara menatap ke depan. "Saya ingin menjadi penyanyi."
Tapi Rara menghela napas. "Tapi suara saya seperti katak yang tenggorokannya sakit."
"Dan apa yang kamu sesali dalam hidup?"
Rara menatap ke bawah. "Saya membiarkan dendam mengendalikan saya terlalu lama."
Dalam sekejap, mereka berdua saling memandang dengan penuh pengertian, dan kemudian suara pengumuman di rumah sakit memecahkan keheningan.
"Panggilan untuk dr. Arkan Pratama, segera ke ruang gawat darurat," terdengar suara pengumuman itu.
Arkan berdiri dengan cepat, "Aku harus pergi."
Rara juga segera berdiri, "Aku ikut," katanya dengan tegas.
"Kamu tidak perlu," Arkan mencoba membela diri, tapi Rara tidak peduli.
"Aku perawat ruang gawat darurat," katanya sambil tersenyum, "Dan kita memang tim yang bagus, ingat?"
Arkan tersenyum kecil sebelum berbalik dan berlari ke arah lift, Rara mengikuti di belakangnya dengan jantung yang berdebar kencang.
Di ruang gawat darurat, seorang pria muda dengan luka tusuk di dada tergeletak tak berdaya. Dokter jaga telah berusaha menstabilkannya, tetapi kondisinya semakin memburuk dengan cepat.
"Dr. Arkan!" salah satu perawat memanggilnya dengan suara panik. "Kami sudah mencoba segalanya, tetapi tekanan darahnya terus menurun!"
Dengan kemampuan dan pengalamannya, Arkan langsung mengambil alih perawatan pasien.
"Periksa apakah ada tanda-tanda pneumothorax. Rara, siapkan tube dada segera!" Rara segera melaksanakan instruksi tersebut dan dalam beberapa menit, mereka berhasil memasang tube dada dan mengeluarkan udara berlebih dari rongga dada pasien. Monitor mulai menunjukkan tanda-tanda vital yang stabil.
"Bagus, kita maju berhasil," Arkan mengangguk puas. "Lanjutkan transfusi darah dan siapkan pasien untuk operasi."
Setelah pasien dipindahkan ke ruang operasi, Arkan dan Rara memutuskan untuk beristirahat sejenak di koridor.
"Kamu tahu," Rara berkata sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi, "ini mungkin malam yang tidak biasa dalam karir kami, atau bahkan kencan pertama terburuk dalam sejarah."
"Setidaknya kita mendapatkan cerita untuk diceritakan ke cucu-cucu kita nanti," Arkan balas bergurau dengan senyum manis.
Rara menatapnya dengan alis yang berkerut. "Cucu?" tanyanya.
Arkan langsung tersipu. "Maksudku... kalau kita... kamu tahu..."
Rara tersenyum. "Aku tahu," katanya. "Dan aku tidak keberatan dengan ide itu."
Arkan terkejut melihat kejujuran Rara. "Kita lanjutkan kencan ini nanti?" tanyanya ketika mereka berjalan menuju ruang gawat darurat.
Rara tersenyum lagi. "Janji?" tanyanya.
"Janji," jawab Arkan.
Ketika mereka berjalan bersama, Rara menyadari bahwa dia mulai menyukai dokter menyebalkan itu lebih dari yang seharusnya. Setiap kali Arkan melemparkan pandangan khawatir saat menangani pasien sulit, setiap kali tangannya yang hangat menyentuh punggungnya, Rara merasa jatuh ke dalam lubang tanpa dasar.
Dia tidak ingin keluar dari sana. Bahkan saat Arkan mengoreksinya di depan pasien hari ini, Rara merasa berbeda. Marahnya tidak bertahan lama. Karena di balik sikap perfeksionis Arkan, Rara sekarang bisa melihat sesuatu yang lain: kepedulian. Kepedulian yang sama yang membuat ayahnya menjadi dokter hebat dulu.
"Kamu tersenyum lagi," Arkan berbisik saat mereka berhenti di depan pintu lift. "Apa yang kamu pikirkan?"
Rara menatapnya. "Aku berpikir... betapa menyebalkan kamu," jawabnya.
Arkan tertawa. "Kamu juga," katanya sambil menekan tombol lift. "Tapi aku menyukai versimu yang sekarang."
Rara menyimpan rahasia kecil itu di dalam hati: bahwa dia juga menyukai versi Arkan yang sekarang—lebih dari yang seharusnya.