Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Kacau
Matahari mulai muncul, Terlihat Lilith duduk di paviliun miliknya, sambil minum teh yang diseduh oleh pelayan. Sedari pagi, ia terus tersenyum lebar karena Natalia istri pertama suaminya telah pergi dan kini dia berkuasa di kediaman ini.
Tak lama, terlihat Li Anna, Karina dan Lusi datang. Wajah mereka tak kalah cerahnya mengalahkan cerahnya matahari pagi, tentu penyebabnya karena beban berat mereka telah pergi yaitu Natalia.
”Lilith!” panggil Li Anna dengan suara melengking namun penuh kegembiraan. Ia datang bersama Karina dan Lusi, ketiganya tampak berseri-seri seolah baru saja memenangkan lotre setelah Natalia terusir semalam.
Lilith meletakkan cangkir tehnya dan berdiri perlahan. ”Ada apa, Ibu? Kalian terlihat sangat bersemangat pagi ini.”
”Tentu saja!” Li Anna menggenggam tangan Lilith. ”Besok adalah giliran kediaman Li menjadi tuan rumah acara minum teh para istri bangsawan. Kita harus menyiapkannya dengan sangat megah. Ini kesempatan emas untuk memperkenalkanmu secara resmi dan membungkam mulut mereka yang masih membicarakan Natalia.”
Lilith tersenyum tipis mendengar pujian sang mertua, namun keningnya berkerut saat Li Anna melanjutkan. ”Karena itu, Ibu butuh uang.”
”Uang? Untuk apa lagi?” tanya Lilith mulai curiga.
”Kak Lilith, aku tentu butuh hanfu baru dan satu set perhiasan giok agar tidak memalukan di depan teman-temanku,” sahut Karina manja.
”Aku juga,” timpal Lusi tak mau kalah. ”Sebagai kakak ipar, aku harus tampil berwibawa. Ibu juga sudah mengincar kalung mutiara baru.”
Li Anna mengangguk mantap. ”Ibu sudah menghitung semuanya. Berikan Ibu 250 tael emas sekarang.”
Mata Lilith membelalak hampir keluar dari kelopaknya. ”Dua ratus lima puluh tael emas?! Ibu, baru dua hari lalu aku memberikan seratus tael emas. Ke mana perginya uang sebanyak itu?”
Wajah Li Anna langsung berubah masam. ”Tentu saja dipakai untuk keperluan rumah, belum lagi biaya pengobatan Ibu yang mahal! Kenapa kamu malah menginterogasi ibu mertuamu sendiri?”
”Tapi Bu, gaji Andrian hanya 600 tael emas sebulan!” Lilith mulai panik, suaranya naik satu oktav. ”Uang itu baru turun seminggu yang lalu dan sekarang sudah hampir habis. Aku belum membayar gaji tiga ratus prajurit, belum lagi para pelayan di dapur dan kebun. Jika aku memberikan 250 tael lagi, kita tidak akan punya simpanan untuk sisa bulan ini!”
Karina mendengus kasar sambil berkacak pinggang. ”Kenapa kamu pelit sekali, sih? Dulu kalau kami minta pada Natalia, dia langsung memberikannya tanpa banyak tanya bahkan tidak protes.”
”Benar!” seru Lusi memanasi. ”Ternyata kamu sangat boros mengelola uang rumah tangga. Beda sekali dengan Natalia yang selalu bisa mengatur semuanya dengan rapi.”
Darah Lilith mendidih mendengar nama Natalia disebut-sebut. ”Boros?! Aku bahkan belum membeli satu pun tusuk konde baru untuk diriku sendiri sejak semalam! Kalianlah yang menghabiskan uang seperti air!”
”Beraninya kamu membentak kami!” teriak Li Anna.
Tepat saat adu mulut itu mencapai puncaknya, langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan. Andrian, yang sudah rapi dengan seragam resminya untuk menuju istana kekaisaran, langsung masuk ke Paviliun itu menatap keributan tersebut.
”Cukup! Ada apa ini?!” bentak Andrian, suaranya menggelegar di aula. ”Ibu, Karina, Lusi, Lilith ... apa yang kalian lakukan sepagi ini? Suara kalian terdengar sampai ke gerbang depan!”
Lilith menarik napas panjang, lalu menatap Andrian dengan wajah serius. ”Suamiku, kita benar-benar dalam masalah,” ucapnya dengan nada tertekan.
Padahal baru seminggu ia sudah merasa bebannya sangat berat, bagaimana dengan Natalia yang harus menjalani selama lima tahun ini.
Lilith melangkah mendekat, suaranya kini lebih tenang tapi jelas penuh kekhawatiran. ”Dari enam ratus tael emas yang kita terima, seratus sudah aku berikan dua hari lalu. Sisanya terpakai untuk kebutuhan dapur, bahan makanan, obat-obatan Ibu, dan keperluan rumah lainnya.”
Lilith kemudian melanjutkan dengan lebih rinci. ”Sekarang yang tersisa tidak sampai setengahnya. Padahal kita masih harus membayar gaji tiga ratus prajurit, gaji pelayan, perawatan kuda, serta persediaan untuk sebulan penuh.”
Ia menatap Andrian lurus, suaranya sedikit bergetar. ”Jika aku memberikan lagi dua ratus lima puluh tael emas seperti yang Ibu minta, maka dalam beberapa hari ke depan kita tidak akan bisa membayar siapa pun. Kediaman ini bisa kacau, bahkan para prajurit bisa memberontak jika gaji mereka tertunda.”
Penjelasan itu membuat Li Anna, Karina, dan Lusi terdiam. Wajah mereka berubah, tidak lagi secerah sebelumnya. Untuk pertama kalinya, mereka mulai menyadari situasi yang sebenarnya.
Karina menelan ludah pelan. ”Lalu … bagaimana dulu Natalia bisa mengatur semuanya?” tanyanya ragu.
Lusi mengangguk kecil. ”Iya … dulu tidak pernah ada masalah seperti ini.”
Li Anna juga terdiam, meski wajahnya masih menunjukkan ketidaksenangan. Namun kali ini, ia tidak langsung membantah.
Andrian mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Nafasnya berat, pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang tidak ia inginkan.
Kini ia sadar, ketenangan yang ia harapkan setelah mengusir Natalia ernyata hanyalah mimpi belaka.
Lusi lalu berkata dengan nada ragu, ”Jangan-jangan, selama ini Natalia berkata benar? Dia yang selalu menambahkan semuanya?”
Li Anna langsung membantah dengan cepat, wajahnya menegang. ”Tidak mungkin! Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan dia tidak bekerja sama sekali!”
Karina yang sejak tadi berpikir tiba-tiba bersuara, matanya sedikit membesar. ”Ibu, bukankah beberapa waktu lalu Natalia membeli banyak hanfu dan perhiasan?” Ia melirik ke arah yang lain. ”Dan semalam dia pergi tanpa membawa apa pun.”
Sejenak suasana menjadi hening.
Lalu seolah tersadar akan sesuatu, Karina berseru, ”Ayo! Kita ke Paviliun Mawar sekarang!”
Mata mereka langsung berbinar terang, dipenuhi rasa penasaran dan harapan. Tanpa membuang waktu, mereka segera bergegas menuju Paviliun Mawar. Bangunan itu masih dalam proses perbaikan akibat insiden semalam. Beberapa bagian pintu tampak rusak, dan sisa-sisa kayu berserakan di lantai.
Namun itu tidak menghentikan langkah mereka.
Mereka langsung masuk dan mulai memeriksa setiap sudut ruangan. Lemari dibuka satu per satu, laci ditarik dengan kasar, bahkan tirai dan peti-peti kecil pun tak luput dari pencarian.
Tetapi tak ada apa pun. Hanfu milik Natalia tidak ada. Perhiasannya dak ada. Bahkan barang-barang pribadi lainnya pun lenyap tanpa jejak.
Lilith yang ikut masuk langsung mengernyit, wajahnya berubah tegang. ”Kemana semua barang-barang itu?” gumamnya dengan nada tak percaya.
Li Anna menatap sekeliling dengan sorot mata tajam. ”Ini tidak masuk akal, semalam dia pergi tanpa membawa apa pun.”
Karina menelan ludah, suaranya melemah. ”Lalu semua ini hilang begitu saja?”
Lusi perlahan mengangkat kepalanya, menatap satu per satu wajah di ruangan itu. ”Jangan-jangan ada yang mencurinya?”
Ucapan itu seketika membuat suasana berubah dingin.
Mereka saling pandang. Tatapan penuh curiga mulai muncul.
”Jangan menuduh sembarangan!” bentak Li Anna, meski matanya sendiri mulai bergerak gelisah.
”Aku tidak menuduh siapa pun, Bu,” balas Lusi cepat. ”Tapi jelas-jelas barang sebanyak itu tidak mungkin hilang sendiri!”
Karina melipat tangan di dada, menatap tajam ke arah Lilith. ”Atau jangan-jangan seseorang sudah lebih dulu mengambilnya?”
Lilith langsung tersentak. ”Apa maksudmu? Kau mencurigai aku?!”
”Siapa tahu,” sahut Karina dingin. ”Kau yang sekarang memegang kendali kediaman ini.”
”Keterlaluan!” Lilith membalas dengan emosi yang langsung memuncak. ”Aku tidak pernah menyentuh barang-barang itu!”
”Lalu ke mana semuanya pergi?!” seru Lusi.
Andrian yang melihat situasi semakin memanas segera melangkah maju, wajahnya mengeras.
”Sudah! Sudah!” bentaknya tegas, suaranya memotong perdebatan yang semakin tak terkendali. ”Berhenti saling menuduh! Aku akan mencari tahu semua ini.”
Ia menyapu mereka dengan tatapan tajam, membuat Li Anna, Karina, Lusi, dan Lilith terdiam meski napas mereka masih memburu karena emosi.
Belum sempat suasana benar-benar tenang Langkah kaki tergesa terdengar dari luar.
Seorang prajurit penjaga berlari masuk, lalu berlutut dengan satu kaki di depan Andrian. ”Tuan Andrian, laporan!”
Andrian menoleh cepat. ”Apa yang terjadi?”
Prajurit itu menundukkan kepala lebih dalam. ”Ada beberapa prajurit dari istana kekaisaran datang. Mereka mengatakan ingin bertemu dengan Tuan sekarang juga.”
Deg!
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah