NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Bayang-Bayang di Ruang Tunggu

Livia duduk di tepi tempat tidur kamar pengantin yang masih berantakan, selimut sutra kusut di sekitar pinggangnya.

Napasnya masih belum stabil setelah kejadian di balkon tadi. Ponsel di tangannya bergetar pelan—panggilan video dari Vania. Ia menjawab dengan cepat, sebelum pikirannya kembali ke ciuman Rangga yang membuatnya malu sendiri.

"Liv! Akhirnya angkat juga!" suara Vania langsung meledak di layar. Kakak sulungnya itu muncul dengan rambut acak-acakan, backgroundnya adalah klub malam yang masih ramai meski sudah lewat tengah malam. "Gue lagi di rooftop bar sama temen-temen. Lo kenapa mukanya kayak abis ditampar shuttlecock? Cerita dong, honeymoon di Solo gimana?”

“Iyaaa… kan lo berdua pada kabur tuh ke Bali? Mertua lo ama keluarga pada heboh nggak?” timpal Sherly. “Mereka pasti kan hukum lo kaya sinetron murahan itu, kan?”

“Ci, jangan aneh-aneh deh! Gue lagi butu saran nih karir gue udah di ujung tanduk.”

“Ci, jangan aneh-aneh deh!” kata Livia, suaranya pecah. “Gue lagi butuh saran nih. Karier gue udah di ujung tanduk. Paspor dibekukan, sponsor mulai mundur satu per satu, ranking gue anjlok gara-gara gue nggak bisa latihan. Ibu Ratna bilang gue harus pilih: karier atau nama Adiwinata. Dan Rangga... tadi malam dia janji bakal bantu gue lawan semua ini, tapi pagi ini dia malah nyuruh gue nurut. Gue hampir percaya dia, Van. Hampir.”

Vania langsung berhenti tertawa. Matanya menyipit, seperti singa betina yang siap menerkam. “Wait, wait. Dia nyuruh lo nurut? Kayak anjing kecil? Liv, lo ratu lapangan! Lo yang smash 400 km/jam, bukan yang disuruh-suruh sama cowok posesif. Gue bilang dari awal: jangan nikah sama cowok Jawa yang keluarganya punya keraton mini itu. Sekarang lo kena getahnya. Lo harus kabur malam ini juga!”

Sherly menggeleng pelan, jarinya menyentuh kartu The Tower di depannya. “Energi lo lagi chaos banget, Liv. Gue tarik kartu ini tadi sore: runtuhnya struktur lama. Tapi setelah The Tower, ada The Star—harapan baru. Mungkin ini saatnya lo lepas dari rantai keluarga Adiwinata. Gue bisa kirim paket black tourmaline buat proteksi energi negatif dari mertua lo. Itu ampuh blokir manipulasi.”

Livia mengusap wajahnya kasar. “Gue nggak butuh kristal, Sher. Gue butuh raket gue balik. Gue butuh keluar dari sini sebelum gue benar-benar gila. Gue nggak mau pensiun dini gara-gara politik keluarga. Gue udah bertarung seumur hidup untuk ini—latihan pagi buta, cedera yang gue sembunyikan dari Mami, tekanan dari keluarga Liang yang selalu bilang ‘jangan malu-maluin nama’. Sekarang semuanya mau dirampas cuma karena gue menikah sama Rangga.”

Vania menyeringai lebar, seperti sedang merencanakan perang. “Oke, gue punya solusi. Besok pagi gue kirim helikopter pribadi ke Solo. Lo lompat pagar wisma itu, gue jemput di lapangan terdekat. Kita kabur ke Bali, party tiga hari tiga malam. Biar Rangga panik cari lo. Biar dia sadar, istri dia bukan boneka. Gue juga bisa bawa pengacara keluarga Liang. Kita tuntut balik paspor lo dibekukan. Ini Indonesia, bukan kerajaan feodal!”

Sherly mengangguk setuju. “Tapi sebelum kabur, tarik napas dalam dan visualisasikan cahaya putih melindungi aura lo. Gue rasa ada energi gelap di wisma itu. Mungkin dari leluhur mereka yang masih marah karena lo Chindo. Gue bisa lakukan cleansing jarak jauh kalau lo mau.”

Livia hampir tersenyum mendengar kakak-kakaknya yang selalu seperti ini—satu penuh ide gila, satu penuh ramalan absurd tapi sering benar. “Gue pikir-pikir dulu. Gue—”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan keras. Seorang abdi dalem—wanita paruh baya berkebaya hitam—berlari masuk, wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal-sengal.

“Nonya Livia!” serunya, tangannya gemetar. “Tuan Besar... Tuan Besar tadi kolaps di lorong! Tuan Muda Rangga sudah berangkat duluan ke rumah sakit sama supir dan ambulans. Kondisinya kritis! Dokter bilang serangan jantung! Nonya harus segera menyusul!”

Livia langsung berdiri. Ponselnya hampir jatuh dari tangan. Vania dan Sherly di layar langsung panik bersamaan.

“Liv! Lo harus ke sana sekarang!” teriak Vania. “Gue telpon supir gue di Solo, dia jemput lo dalam 10 menit!”

Sherly menambahkan dengan suara tenang tapi tegas, “Ingat, energi lo harus stabil. Tarik napas dalam, visualisasikan pelindung cahaya. Jangan biarkan rasa bersalah menguasai lo. Ini mungkin tes dari alam semesta.”

Livia mematikan panggilan tanpa pamit. Ia buru-buru mengambil jaket hoodie dan tas kecil, berlari keluar kamar. Lorong panjang wisma terasa lebih gelap dari biasanya. Di halaman depan, mobil hitam sudah menunggu. Sopir keluarga membukakan pintu dengan wajah tegang.

“Ke RS Sardjito, Nyonya."

***

Aspal jalanan Solo yang lengang malam itu terasa seperti labirin tanpa ujung. Di bawah temaram lampu jalan yang kekuningan, wajah Livia tampak sepucat pualam. Di dalam mobil yang melaju kencang, pikirannya berkecamuk hebat. Bayangan Papa Rangga yang ambruk di pendopo terus menghantui.

Apakah ini karena perdebatan tadi? Karena Rangga memilih berdiri di depanku dan melawan ayahnya demi membelaku?

Rasa bersalah menghantam dadanya seperti godam berat, namun di sela sesak itu, kemarahan mulai menyulut api. Kenapa takdir seolah sengaja memojokkannya dalam drama yang tak berkesudahan ini?

Setibanya di UGD RS Sardjito, bau antiseptik yang tajam langsung menusuk indra penciuman Livia—sebuah aroma yang selalu identik dengan kesakitan dan kehilangan. Suara detak monitor jantung terdengar seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Di sana, di depan pintu ICU yang tertutup rapat, ia melihat sosok itu.

Rangga.

Punggung pria itu tampak tegang, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Jaket timnas yang dikenakannya sejak pagi kini tampak kusut, seolah mencerminkan kekacauan jiwanya.

"Rangga!" panggil Livia dengan suara parau.

Pria itu berbalik perlahan. Tatapannya kosong, matanya merah padam menahan badai emosi yang siap pecah. "Liv..." suaranya pecah, nyaris tak terdengar. "Papa di dalam. Serangan jantung. Gue... gue nggak pernah mengira semua akan sehancur ini dalam semalam."

Hati Livia mencelos. Ia melangkah maju, tangannya gemetar ingin menyentuh lengan pria itu, ingin menjadi sandaran bagi kerapuhan suaminya. Namun, langkahnya mendadak membeku. Seolah ada dinding es yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Di sana, berdiri dengan wajah yang diselimuti keprihatinan palsu, adalah Nadia.

Wanita itu bergerak sangat cepat. Bak bayangan yang selalu mengintai di celah luka, Nadia sudah ada di sana, menempati posisi yang seharusnya milik Livia.

Kedua pasang mata itu bertemu. Livia bisa melihat kilat kemenangan yang tersembunyi di balik raut wajah sedih Nadia. Namun, Livia yang sekarang bukan lagi wanita lemah yang akan meledak dalam kecemburuan buta. Otaknya bekerja cepat, menyusun bidak catur dalam permainan yang lebih cerdas.

"Rangga..." Livia memanggil dengan nada yang lebih lembut, lebih posesif.

Tanpa keraguan, ia menghambur ke pelukan suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rangga. Ia memeluk pria itu dengan erat, mengklaim wilayahnya di depan mata musuhnya.

Namun, di balik punggung Rangga, wajah Livia berubah drastis. Ia menghujamkan pandangan yang begitu dingin dan mematikan ke arah Nadia. Matanya seolah ingin menembus dan merobek topeng malaikat yang dikenakan wanita itu. Sebuah peringatan bisu namun nyata dikirimkannya lewat tatapan maut itu.

Silakan bermain dengan sandiwara sok baikmu, Nadia. Tapi apa pun rencanamu, aku akan memastikan kamu hanya akan memegang angin. Rangga milikku, dan kau tidak akan pernah bisa merebutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!