NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunci Emas di Tangan Kanan

Satu bulan.

Hanya butuh waktu satu bulan bagi Alina Oktavia untuk mengubah stigma "anak gudang" yang melekat padanya menjadi legenda baru di lantai 30 Abraham Tower.

Desas-desus menyebar cepat di kalangan karyawan. Mereka bilang asisten baru Pak Wisnu bukan manusia, melainkan mesin. Dia datang sebelum matahari terbit, pulang setelah lampu kota padam, dan tidak pernah melakukan satu kesalahan pun. Tidak ada jadwal yang bentrok, tidak ada dokumen yang salah ketik, dan kopi Pak Wisnu selalu tersaji dengan suhu yang sempurna tepat 30 detik setelah pria itu melangkah masuk ruangan.

Pagi ini, ujian terbesar datang.

Wisnu sedang menghadapi negosiasi alot dengan delegasi investor dari Korea Selatan. Suasana di ruang rapat sangat tegang. Penerjemah bahasa yang disewa perusahaan mendadak sakit perut dan izin di tengah rapat, meninggalkan kekosongan komunikasi yang fatal.

Manajer pemasaran berkeringat dingin, gagap mencoba menjelaskan istilah teknis tekstil dalam bahasa Inggris yang pas-pasan. Pihak Korea tampak tidak puas dan mulai berbisik-bisik sambil membereskan berkas, tanda-tanda mereka ingin membatalkan kerja sama.

Wisnu memijat pelipisnya, menahan amarah yang siap meledak. Proyek senilai lima puluh miliar rupiah ini terancam melayang konyol hanya karena kendala bahasa.

Tiba-tiba, Alina yang duduk di pojok sebagai notulen berdiri.

Dengan tenang, ia berjalan mendekati meja delegasi. Ia membungkuk sopan, lalu berbicara. Bukan dalam bahasa Inggris, melainkan dalam bahasa Korea yang fasih dan formal.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan Kim. Jika Anda mengizinkan, saya akan menjelaskan poin mengenai spesifikasi serat poliester dan margin keuntungan yang kami tawarkan."

Ruangan hening. Wisnu menatap asistennya dengan mata membelalak. Ia tahu Alina pintar, tapi ia tidak tahu gadis ini menguasai bahasa asing selain Inggris.

Tuan Kim, ketua delegasi, tersenyum lebar. "Ah, Nona bisa bahasa kami? Bagus sekali. Tolong jelaskan halaman 14."

Selama satu jam ke depan, Alina mengambil alih kendali. Ia menerjemahkan, menjelaskan data, dan menjawab pertanyaan teknis dengan luwes. Ia menyelamatkan negosiasi itu dari bibir jurang kehancuran.

Saat delegasi Korea itu keluar ruangan sambil menyalami Wisnu dengan hangat dan menandatangani Letter of Intent, Wisnu tahu ia telah menemukan berlian.

Sore harinya, di ruangan Wisnu.

"Duduk, Alina," perintah Wisnu. Nadanya tidak lagi memerintah seperti atasan kepada bawahan, melainkan seperti jenderal kepada letnan kepercayaannya.

Alina duduk di kursi di hadapan meja Wisnu. Wajahnya tetap datar, meski kakinya sedikit pegal berdiri berjam-jam tadi.

"Bahasa Korea?" tanya Wisnu, memutar pulpen mahalnya. "Kapan kamu mempelajarinya?"

"Saya belajar otodidak saat kuliah, Pak. Saya suka menonton drama dan membaca berita ekonomi Korea. Saya pikir itu akan berguna suatu hari nanti," jawab Alina jujur.

Wisnu menggeleng pelan, tersenyum kagum. "Kamu baru bekerja di sini seumur jagung, Alina. Tapi kinerjamu... melampaui sekretaris yang sudah bekerja sepuluh tahun."

Wisnu membuka laci mejanya, mengambil sebuah kartu akses berwarna emas dan sebuah kunci mobil. Ia meletakkannya di atas meja, mendorongnya ke arah Alina.

Alina menatap benda-benda itu. "Ini apa, Pak?"

"Kartu akses emas itu memberikanmu otoritas Level A. Kamu bisa mengakses database keuangan, data vendor, data supplier, dan arsip rahasia perusahaan tanpa perlu izin saya lagi. Saya percaya padamu."

Wisnu menunjuk kunci mobil.

"Dan itu kunci mobil operasional khusus untukmu. Honda CR-V terbaru. Berhenti naik taksi online atau angkot. Asisten Wisnu Abraham tidak boleh terlihat menyedihkan di jalanan."

Jantung Alina berdegup kencang. Bukan karena hadiah mobil mewah itu, tapi karena kartu emas itu.

Otoritas Level A. Akses data vendor.

Itu yang ia tunggu-tunggu.

"Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga kepercayaan ini," ucap Alina, berusaha menahan senyum seringai yang ingin keluar.

"Satu lagi," tambah Wisnu. Ia mengambil sebuah berkas tebal berwarna merah. "Ini daftar vendor dan supplier bahan baku pendukung yang kontraknya akan habis bulan depan. Saya ingin kamu mengevaluasinya. Mana yang kinerjanya buruk, putus kontraknya. Mana yang bagus, perpanjang."

Alina menerima berkas itu. "Bapak menyerahkan keputusan pemutusan kontrak pada saya?"

"Sepenuhnya. Tangan saya terlalu penuh untuk mengurusi vendor kecil. Saya serahkan 'sampah-sampah' itu padamu. Bersihkan yang tidak perlu."

Alina membuka lembar pertama berkas itu. Matanya menyapu daftar nama perusahaan.

Dan di sana, di halaman ketiga, jantung Alina seolah berhenti berdetak sejenak sebelum memacu lebih cepat karena euforia.

CV. Maju Karya Sejahtera

Pemilik: Budi Santoso (Ayah Sisca Angela)

Jenis Suplai: Karton Kemasan & Plastik Packing

Status: Kontrak Review

Senyum Alina merekah. Kali ini bukan senyum sopan, melainkan senyum penuh kemenangan yang dingin.

Ternyata, perusahaan kecil milik keluarga Sisca adalah salah satu vendor lama di Abraham Textile. Keluarga Sisca memang kaya, tapi kekayaan mereka bergantung pada kontrak-kontrak dengan perusahaan raksasa seperti milik Wisnu. Jika kontrak ini putus... aliran dana segar untuk gaya hidup mewah Sisca akan tercekik.

Alina menutup berkas itu perlahan.

"Saya akan mengerjakannya dengan sangat teliti, Pak," ucap Alina, menatap Wisnu dengan mata berbinar. "Saya pastikan Bapak tidak akan kecewa dengan keputusan saya."

Wisnu, yang melihat kilatan aneh di mata Alina, seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Ia tidak bertanya. Ia hanya bersandar di kursinya.

"Bagus. Buat saya terkesan, Alina."

Alina berdiri, menggenggam kunci mobil dan berkas merah itu erat-erat di dadanya.

Ia melangkah keluar ruangan Wisnu dengan perasaan melambung. Selangkah demi selangkah. Hari ini ia mendapatkan kepercayaan. Besok, ia akan mulai memotong urat nadi ekonomi keluarga Sisca.

Alina berjalan menuju lift, membayangkan wajah panik Sisca saat kartu kreditnya ditolak atau saat ayahnya marah-marah karena kehilangan kontrak terbesar mereka.

"Permainan dimulai, Sisca," bisik Alina saat pintu lift tertutup, memantulkan bayangan dirinya yang kini terlihat begitu kuat dan tak tersentuh. "Mari kita lihat seberapa lama kalian bisa bertahan tanpa uang."

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!