Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Pembunuhan Pertama Di Konverensi Pemburu Iblis
“Hahaha! Kau memang hebat dan kuat, sangat cocok untuk menjadi tumbal. Aku semakin bersemangat sekarang!” teriak sosok tersebut sambil melesat ke arah Han Chuan dengan kecepatan tinggi, pedangnya berayun menebas udara hingga menimbulkan suara mendesing tajam.
Han Chuan tidak tinggal diam. Ia ikut melesat maju, dan dalam sekejap kedua pedang mereka saling beradu bertubi-tubi. Suara logam beradu bergema keras di udara,setiap tebasan terasa berat dan ganas.
Han Chuan menangkis serangan demi serangan dengan refleks cepat, lalu membalas dengan tebasan balik yang sama brutalnya. Percikan cahaya biru muncul setiap kali pedangnya menghantam pedang lawan.
“Teknik Rahasia, Gerakan Guntur!” seru Han Chuan.
Tubuhnya seketika diselimuti kilatan biru. Dalam sekejap, kecepatannya meningkat pesat. Ia berputar dan menyerang dari berbagai arah, meninggalkan jejak cahaya seperti sambaran petir yang berkelebat di sekeliling lawannya.
Sosok dari sekte iblis langit itu berusaha menangkis, namun gagal mengikuti kecepatan Han Chuan. Tebasan demi tebasan menghantam tubuhnya, menimbulkan luka di bahu dan dada.
Han Chuan berhenti tepat di depan lawannya, pedang di tangannya masih meneteskan darah. Ia menatapnya dengan senyum meremehkan.
“Sepertinya kau yang justru cocok menjadi tumbal,” ucap Han Chuan dingin. “Untuk persembahanmu sendiri.”
Sosok tersebut yang mendengar perkataan Han Chuan semakin marah. “Sialan kau! Aku, Man Ji, tidak akan kalah dari bocah sepertimu! Teknik Iblis, Tebasan Maut Beruntung!” teriaknya dengan mata penuh amarah sambil mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi.
Udara di sekelilingnya bergetar hebat, dan bilah pedang hitam keunguan melesat tajam ke arah Han Chuan. Suara desingan pedang membelah udara terdengar jelas ssshhhkkk! disertai dengan semburan energi iblis yang memutar liar.
Han Chuan segera melompat ke samping, menghindari serangan itu dengan gerakan cepat dan ringan. Matanya fokus, menunggu celah kecil dalam pertahanan Man Ji.
“Teknik Rahasia, Lukisan Dalam Pedang Tebasan Pembelah Langit!” seru Han Chuan lantang.
Bilah pedangnya memancarkan cahaya kuning menyilaukan, diikuti percikan hitam seperti tinta yang berputar di sekelilingnya. Dalam sekejap, tebasan besar meluncur ke depan seperti guratan tinta raksasa yang membelah udara. Suara ledakan keras bergema ,saat energi tebasan itu menghantam pedang Man Ji.
Man Ji mencoba menahan dengan seluruh kekuatannya, tetapi tekanan energi dari tebasan Han Chuan terlalu besar. Tanah di bawah kakinya retak, tubuhnya terdorong mundur, lalu terpental beberapa langkah ke belakang. Darah segar menyembur dari mulutnya.
Ia terengah-engah, menatap ke depan dengan mata melebar. “Kau…” katanya lirih, namun sebelum ia sempat melanjutkan, sosok Han Chuan sudah menghilang dari pandangannya.
“Kau tidak perlu lagi melihat ke depan,” suara Han Chuan terdengar tepat di belakang telinganya.
Man Ji menoleh dengan panik, namun sudah terlambat. Han Chuan mengayunkan pedangnya cepat dan tegas. Swiing! Dalam satu gerakan, kepala Man Ji terpenggal bersih. Darah segar menyembur tinggi, membasahi tanah di sekitar mereka.
Han Chuan berdiri diam beberapa detik, memandangi tubuh tanpa kepala itu jatuh ke tanah BHUUK! perlahan. Ia menarik napas dalam, lalu berjalan mendekat.
“Sudah berakhir,” gumamnya pelan. Ia berjongkok dan mulai menggeledah pakaian Man Ji. “Mari kita lihat apa saja yang kau sembunyikan di kantong ruangmu.”
Tangannya menyibak jubah Man Ji dan menemukan sebuah kantong ruang kecil di balik dada. Ia membukanya dengan tenang, lalu tersenyum tipis. “Lumayan juga… inti iblis yang dikumpulkan, sekitar dua puluh biji.”
Ia menghela napas ringan, lalu menggeleng. “Dan cuma itu? Tidak ada yang lain? Dasar bodoh.”
Han Chuan memasukkan semua inti iblis itu ke kantongnya sendiri. ia berdiri lalu menatap sekilas tubuh Man Ji yang tergeletak. Setelah itu, ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan tempat itu yang kini hanya dipenuhi bau darah dan hawa iblis yang mulai memudar perlahan.
Sementara itu, balok-balok di halaman istana mulai memanjang sedikit demi sedikit sesuai dengan nama yang tertera di atasnya. Setiap balok memancarkan cahaya samar berwarna keemasan, merespons energi dari inti iblis yang di tukarkan dalam arena ujian.
“Lihat! Sudah ada pergerakan dari balok-balok itu!” seru Yan Long dengan nada bersemangat sambil menunjuk ke arah halaman istana.
Para tetua dan murid yang menonton mulai berbisik pelan, memperhatikan perubahan panjang masing-masing balok. Namun di antara semua balok yang bergerak, dan ada beberapa balok lainya tetap diam.
Han Ling yang berdiri di sisi lain halaman menatap balok bertuliskan nama putranya dengan wajah tegang. Balok bertuliskan Han Chuan tidak menunjukkan tanda-tanda bergerak sedikit pun. Ia menggenggam tangannya erat, napasnya bergetar.
“Apa yang terjadi dengan anakku di sana… apakah dia masih hidup?” ucap Han Ling pelan, suaranya mengandung nada khawatir. Tatapannya tak lepas dari balok yang tetap diam, seolah seluruh harapannya tertambat di sana.
Yan Long yang duduk tidak jauh darinya melirik ke arah balok itu dan tersenyum sinis. “Hmph… jadi ini anak jenius dari keluarga Han yang selalu kau banggakan, Han Ming? Terlalu banyak berharap,” batinnya dengan nada meremehkan. Matanya menatap tajam ke arah balok bernama Han Chuan, seolah menikmati pemandangan itu.