NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suara wanita di seberang sana begitu lembut, namun membuat hati Freya terasa tertusuk.

"Halo, ini siapa ya? Kok nggak ada suaranya?"

Freya menguatkan keberaniannya untuk menjawab. "Halo, apa benar ini nomor Pak Suharjo? Saya dari pegadaian, Bu. Ingin menyampaikan jika tagihan Pak Suharjo harus segera dilunasi."

"Bukan, Mbak. Ini nomor suami saya. Nama suami saya bukan Suharjo, tapi Shankara Birawa."

Freya cepat-cepat menyahut lagi. "Oh, maaf, Bu. Berarti saya salah sambung. Maaf sudah mengganggu waktu Ibu. Selamat malam."

Tanpa menunggu tanggapan dari suara di seberang, Freya langsung mematikan panggilan itu.

Ia menjatuhkan ponselnya ke atas kasur, bersamaan dengan jatuhnya air mata. "Kenapa aku menangis?" lirihnya tak mengerti.

"Suami saya ..."

Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.

Lalu perkataan Nova ikut menusuk telinganya. "Kita tidak boleh menelepon Tuan Bira ketika dia sedang berada di ibu kota. Jika kita melakukannya, Tuan Bira akan sangat marah."

"Sekarang aku tahu, kenapa Tuan Bira tak suka ditelepon ketika sedang berada di ibu kota. Ternyata ... dia tak mau diganggu karena sedang bersama istrinya." Freya membenamkan wajahnya di balik bantal, sambil terisak tanpa sebab. Hatinya mendadak terasa berdenyut nyeri. Dadanya sesak.

Lambat laun, kantuk pun menyerang, Freya akhirnya tertidur.

Baru beberapa menit terlelap, Freya terhenyak karena dering ponsel yang menjerit-jerit.

Seketika ia bangun, meraba ponselnya yang tertindih tubuhnya sendiri. Nyawanya masih belum terkumpul semuanya ketika ia membaca nama yang memanggil di layar ponselnya. "T-Tuan Bira?" pekiknya nyaris kehilangan suara.

Freya menelan ludah susah payah. Ia takut untuk mengangkat, tapi jika dibiarkan ... Tuan-nya itu pasti akan marah.

Dengan tangan gemetar, Freya menggeser ikon hijau di layar ponselnya.

"Kau gila, Freya?!" Suara Shankara meledak dari seberang, keras, dingin, dan penuh amarah.

Freya refleks menjauhkan ponsel dari telinganya sesaat, napasnya tercekat. "Maaf, Tuan. A-aku cuma ing-"

"Aku sudah bilang jangan pernah hubungi aku saat aku ada di ibu kota!" Nada suaranya rendah tapi tajam, seperti pisau yang ditahan agar tak langsung menikam.

Freya menggigit bibir. Matanya memanas. "Maaf Tuan. Tadinya aku ingin menyampaikan hal yang sangat penting ..."

"Penting?" Shankara terkekeh sinis. "Apa pun yang kau anggap penting tidak sebanding dengan risiko yang kau buat barusan."

Freya memejamkan mata. Ia bisa membayangkan ekspresi wajah pria itu ... rahang mengeras, alis mengerut, dan sorot mata dingin yang hanya muncul saat ia benar-benar marah. "Istriku nyaris curiga," lanjut Shankara dengan suara ditahan, seolah ia sedang berada di tengah kerumunan. "Satu panggilan darimu saja bisa menghancurkan keluargaku. Kau pikir aku ke ibu kota untuk apa, hah?!"

"Maaf, Tuan. Aku tidak akan mengulanginya lagi ... aku ... menyesal." Suara Freya bergetar. "Aku hanya ingin mengatakan kalau Zainal Buana tadi datang menemuiku dan mengatakan kalau dia ingin meminjam uang seratus miliar."

Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar napas berat yang ditahan. "Kita bicarakan hal itu besok," ucap Shankara akhirnya, lebih pelan namun tetap dingin. "Ingat Freya ... bukan hanya kau yang punya kepentingan, aku pun sama. Aku tidak hanya mengurusi tentang dendammu. Ada banyak hal yang harus kutangani, terutama menghabiskan waktu bersama istri dan putraku." Air mata Freya jatuh tanpa suara. Entah mengapa, perkataan itu begitu merobek hatinya. "Dengarkan aku baik-baik," lanjut Shankara tegas. "Apa pun yang terjadi, jangan hubungi aku lagi sampai aku yang menghubungimu. Jika terjadi keadaan buruk ... kau tahu harus ke siapa."

Sambungan terputus.

Freya menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dadanya sesak, bukan hanya karena dimarahi, tapi karena ia tahu ... larangan itu bukan tanpa alasan.

Shankara tak mau diganggu ketika sedang berada bersama keluarganya.

Ponsel itu masih berada di tangannya ketika tubuh Freya perlahan melorot ke lantai. Punggungnya bersandar pada sisi ranjang, sementara tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Bukan isak keras ... melainkan tangis sunyi yang menyakitkan, seolah seluruh dadanya diremas dari dalam.

Ia menutup mulut dengan telapak tangan, berusaha menahan suara agar tak terdengar keluar kamar. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi punggung tangannya.

Apa yang baru saja diucapkan Shankara bagai cambukan keras untuk dirinya. Bahwa ia bukan siapa-siapa untuk Shankara. Bahwa dia tidak berarti apa-apa untuk lelaki itu. Dia hanyalah budak, hanyalah seonggok tubuh yang akan dirangkul ketika tuan-nya sedang butuh untuk menyalurkan keinginan.

"Cukup Freya ..." bisiknya lirih. "Sudah cukup ..."

Lagi, kata-kata Shankara terus berputar di kepalanya. Nada dingin itu. Jarak yang sengaja ia ciptakan. Larangan yang terasa seperti tembok tinggi tak tertembus. Dan untuk pertama kalinya, Freya benar-benar menyadari satu hal: bahwa perasaan yang mulai tumbuh di hatinya untuk lelaki itu, harus segera ia kubur dalam-dalam.

Ia menoleh ke arah jendela. Di luar, langit malam tampak tenang, seolah tak peduli pada badai yang mengamuk di dadanya.

Dendam ... ya, dendamnya hampir terbalas.

Segala luka yang dulu ia telan, penghinaan yang ia simpan, rasa perih saat tak ada yang mau menolongnya, sebentar lagi akan segera terbayarkan. "Aku harus kuat. Tinggal sedikit lagi." Namun bersamaan dengan itu, hatinya justru terasa kosong.

"Setelah dendamku terbalas, aku tidak ingin terikat lagi dengan Shankara Birawa," gumam Freya pelan. "Aku tidak ingin menjadi budaknya lagi." Tangannya menghapus air mata, lalu ia bangkit berdiri. Tatapannya berubah ... bukan lagi wanita yang menunggu, melainkan seseorang yang bersiap pergi. "Aku akan pergi jauh. Aku akan meninggalkan semua identitasku. Aku akan hidup sebagai orang baru."

Ruangan itu mendadak terasa terlalu luas, terlalu dingin, seolah ikut menertawakan kepedihannya.

Lampu temaram memantulkan bayangan rapuh dirinya di dinding ... seorang perempuan yang lelah, bukan oleh perjalanan, melainkan oleh hidup itu sendiri. "Hidup ini ... kejam sekali," bisiknya lirih. Suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam oleh detak jantungnya sendiri.

Ia menatap kedua tangannya yang bergetar, lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Aku capek ..." ucapnya parau. "Ternyata balas dendam itu sangat melelahkan ..." Air mata kembali jatuh, satu per satu, membasahi pipinya tanpa bisa dicegah. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, memaksanya mengingat hal-hal yang selama ini ia kubur rapat. "Ibu ... Bapak ..." Suaranya pecah. Ia mengangkat wajahnya ke langit-langit, seolah berharap kedua orang tuanya bisa mendengarnya dari alam sana. "Aku rindu ... aku benar-benar rindu kalian ..."

Napasnya tersengal saat satu nama lagi keluar dari bibirnya, nama yang selalu ia simpan paling dalam. "Galih ..." Air matanya jatuh lebih deras. Kenangan tentang senyum hangat, suara yang dulu menenangkannya, dan pelukan yang tak pernah ia dapatkan kembali, berputar tanpa ampun di kepalanya.

"Kenapa kalian semua meninggalkanku?" tanyanya lirih, nyaris seperti anak kecil yang tersesat. "Aku ingin sekali berkumpul bersama kalian ..."

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!