NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Action / Romantis / Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Zarco.

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 27

Di bawah pohon besar yang menjulang, Kenzie duduk bersila. Punggungnya tegak, napasnya teratur, dan pedangnya tergeletak di sisi kanan—cukup dekat untuk diraih, saat ini Ia sedang memulai berkultivasi.

Ki mengalir perlahan di dalam tubuhnya, mengikuti pola yang telah terukir oleh latihan bertahun-tahun. Setiap tarikan napas menyatukan tubuh dan pikiran, setiap hembusan mengosongkan keraguan. Akar pohon di bawahnya terasa seperti perpanjangan dari tanah itu sendiri—kokoh, tua, dan diam.

Di atas pohon yang sama, tersembunyi di antara dedaunan, Wulan Tsuyoki duduk bersila di cabang pohon yang tebal. Matanya terpejam, namun kesadarannya terbuka lebar. Ia tidak hanya berkultivasi—ia mengamati.

Aliran Ki-nya tipis namun stabil, menyebar seperti benang-benang halus ke sekeliling perkemahan. Setiap perubahan kecil pada udara, setiap pergeseran aura, tidak luput dari perhatiannya.

"Malam ini… terlalu tenang." katanya dalam pikiran.

 

Di sisi lain perkemahan. Rava dan Liera berjalan menyusuri perimeter dengan langkah terukur. Mereka bergerak tanpa banyak bicara, mata dan telinga bekerja lebih aktif daripada mulut.

Rava menggenggam tombaknya dengan erat. Setiap langkahnya mantap, bahunya tegang dalam kesiapan penuh. Liera berjalan sedikit di belakang, pedang ringannya berada dalam genggaman, tidak terhunus, namun siap ditarik dalam sekejap.

“Ada yang terasa aneh?” bisik Liera bertanya.

Rava menggeleng pelan. “Tidak. Tapi jangan lengah.”

Langkah mereka berhenti sejenak saat terdengar suara gesekan dari balik semak-semak. Daun-daun semak itu terlihat bergoyang.

Rava langsung memasang postur posisi siap, tombaknya diarahkan ke depan. Liera yang berada dibelakang melangkah setengah kaki ke samping, pedangnya kini setengah terhunus, posturnya rapi dan mantap, siap untuk melakukan gerakan.

“Apa itu?.,” bisik Rava bertanya.

Detik berikutnya, seekor tupai kecil melompat keluar dari semak, matanya membulat, ekornya mengibas cepat sebelum ia berhenti sejenak, menatap mereka… lalu melesat pergi.

Keheningan menyelimuti mereka kembali.

Rava dan Liera saling pandang.

“…Hanya tupai,” ucap Liera, napasnya sedikit mengendur.

Rava menghela napas pelan. “Syukurlah.”

Namun kelegaan itu hanya berlangsung sesaat.

...----------------...

Di perkemahan utama, Ryujin tertidur pulas di dekat api unggun yang hampir padam. Mulutnya sedikit terbuka, dadanya naik turun dengan ritme tidak beraturan.

Dari tenggorokannya terdengar suara nafas yang berat, ~secara medis dikenal sebagai snoring akibat vibrasi jaringan lunak orofaring, bunyi khas yang muncul ketika aliran udara terhambat saat tidur nyenyak~ dengkuran ryujin begitu keras dan tidurnya sangat pulas.

Ia sama sekali tidak menyadari apa pun di sekelilingnya.

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, Ryujin benar-benar diam.

...----------------...

Langit di atas perkemahan membentang luas, dipenuhi bintang-bintang yang berkilau redup, seolah ikut mengawasi rombongan kecil yang beristirahat di jalur utara itu. Api unggun hanya menyisakan bara merah, cukup memberi kehangatan tanpa menarik perhatian berlebihan.

Di tempat yang cukup jauh dari rombongan utama, di bawah naungan pohon lain, Reinzie dan Chelsea tetap mengenakan jubah hitam dan penutup wajah mereka, bahkan saat beristirahat sekalipun, mereka berdua tidak melepaskannya.

Reinzie dan Chelsea duduk berdekatan, cukup dekat untuk berbicara pelan tanpa terdengar siapa pun.

“Sepertinya… aman untuk sekarang,” bisik Chelsea.

Reinzie mengangguk, lalu melirik ke arah perkemahan Kenzie, walau dari sudut ini, ia hanya bisa melihat siluet samar.

“Kita akan tetap terjaga,” jawabnya. “Kalau Kak Kenzie tiba-tiba datang dan melihat kita tidur mengenakan pakaian tebal, mungkin situasinya akan menjadi sedikit rumit…”

Chelsea tersenyum di balik masker. “Aku tahu. Sebaiknya kita tidak usah tidur”

Keheningan terjadi untuk sementara waktu dan ketika itu, di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat.

Chelsea menyenggol bahu Reinzie pelan. “Kau terlihat tegang sejak tadi.”

“Aku hampir ketahuan,” gumam Reinzie. “Suaranya… cara bicaranya… rasanya seperti melihat Kakak di masa lalu.”

Chelsea mencondongkan tubuhnya sedikit. “Dan kau masih bisa menahan diri untuk tidak bereaksi. Itu cukup hebat.”

Reinzie mendengus kecil. “Kau juga. Padahal aku tahu, kau ingin langsung menegur kak Kenzie tadi.”

Chelsea tertawa pelan—tertahan, hampir tak bersuara. “Jangan mengada ngada, tidak mungkin aku membocorkan penyamaran kita pada kak Kenzie.”

Reinzie tersenyum kecil sambil menatap wajah cantik chelsea yang ditutupi oleh kain penutup itu, "mungkin saja kau tidak akan sabar untuk memanggil kak Kenzie dengan sebutan ~kaka ipar" ucap reinzie.

Mendengar perkataan reinzie wajah kecil chelsea berubah menjadi merah padam dan rasa malunya membuat dirinya terasa lebih panas, dengan satu tepukan, ia menepuk dada reinzie dengan malu.

Melihat reaksi chelsea yang tersipu, reinzie pun menarik tubuh mungilnya dan memasukannya kedalam pelukan untuk memberikan chelsea kehangatan, "Kita hanya bisa sabar, untuk menunggu waktu yang tepat untuk bertemu kak Kenzie dengan cara yang lebih pas, agar momen itu terasa lebih indah" ucap reinzie pada chelsea

"hmm.." dengan suara lembut chelsea mengangguk setuju.

Mereka saling menggoda dengan suara rendah, berpelukan dan bersentuhan, kehangatan kecil di tengah kewaspadaan yang tak pernah benar-benar padam terjadi secara singkat.

 

Di sisi lain, di waktu yang sama. Tiba-tiba, Wulan membuka matanya.

"Ada sesuatu yang salah, semua ketenangan ini seperti ilusi." ucapnya dengan gelisah.

Tiada aura yang muncul. Tidak ada pula niat membunuh. Bahkan suara dan pergerakan hewan kecil pun tidak ada, ini Jelas bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ketiadaan semuanya, membawa kegelisahan di hati. Keheningan malam ini… terlalu bersih. Terlalu rapi.

Pada saat yang sama, tupai yang tadi melintas melompat menjauh, meninggalkan area hutan. Pada saat yang sama burung-burung yang bertengger di pepohonan tiba-tiba beterbangan, kepakan sayap mereka memecah keheningan dengan suara gelisah.

Wulan berdiri di cabang pohon dalam satu gerakan halus.

“Semuanya waspada, ada sesuatu yang tidak beres di hutan ini” ucapnya dengan nada tegas.

 

Kenzie membuka mata. Ia menghentikan kultivasinya seketika, karena mendengar perkataan wulan yang waspada.

Dalam satu tarikan napas, ia berdiri, meraih pedangnya, dan mengamati sekeliling. Wajahnya tetap tenang, namun auranya berubah menjadi tajam, mengambil tindakan siap, dan fokus untuk mengambil alih situasi.

“Ada pergerakan, sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi” katanya singkat dan Ia segera melangkah ke tengah perkemahan.

“Bangun,” perintahnya tegas. “Semua siaga.”

Rava dan Liera langsung bergerak mendekati Kenzie. Sementara Ryujin terbangun dengan terkejut, dengkurannya terputus oleh helaan napas panik. “Hah—ada apa?!...”

“Cepat bangun,” bentak Rava. “Jangan mengigo lagi....”

Kenzie menoleh ke arah rombongan pedagang. “Tuan Halbrecht,” panggilnya lantang namun terkontrol. “Segera kumpulkan orang-orangmu.”

Halbrecht, yang sudah bangun setengah sejak suara burung tadi, segera menghampiri. “Ada apa, Tuan Kenzie?”

“Lingkungan di hutan ini tidak normal,” jawab Kenzie cepat. “Aku tidak tahu apa yang datang nantinya, tapi lebih baik kita waspada, segera mengamankan diri, aku tidak bisa jamin jika kita mengambil resiko dan mengabaikan situasi yang tidak normal ini.”

"baik... Aku paham tuan Kenzie!.." dengan cepat ia menggukan kepada dan segera berkata.

Kenzie mengangkat suara sedikit, cukup untuk didengar semua orang. “Semua pedagang, masuk ke dalam kereta. Amankan barang bawaan. Jangan keluar tanpa perintah. Pengawal tetap di posisi!”

Halbrecht menelan ludah, lalu mengangguk tegas. “Kalian dengar itu! Cepat lakukan, sesuai perkataan tuan kenzie!”

Keributan kecil mulai terdengar—bukan panik, tapi gerakan tergesa yang tertatih-tatih.

Di bawah cahaya bintang, perkemahan yang tadi tenang kini berubah menjadi benteng siaga.

Kenzie berdiri di garis depan, pedang di tangan, matanya menatap kegelapan hutan.

"Sesuatu sedang datang." katanya pelan dengan singkat.

Dan kali ini… instingnya mengatakan bahwa malam ini tidak akan berakhir dengan damai.

Wulan yang sedari tadi berdiri dengan tegap sambil mengamati ke arah kedalaman hutan. Kini ia turun dan berdiri di dekat Kenzie, lalu berkata "bersiaplah untuk bertarung" katanya singkat, "aku akan mengamati kalian dari atas pohon, anggap saja pertarungan kalian ini sebagai latihan duel!.." katanya lalu pergi kembali keatas pohon.

1
أسوين سي
💪💪
أسوين سي
💪
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
{LanLan}.CNL
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!