NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusasaan Serigala

​Gema dari kalimat Lin Tian masih menggantung di udara, diiringi suara desis darah yang menguap di atas tanah berbatu yang hangus terbakar.

​Dua kapten tingkat enam yang tersisa saling berpandangan. Kaki mereka bergetar hebat hingga lutut mereka saling berbenturan. Loyalitas dan keserakahan yang awalnya membutakan mata mereka kini hancur lebur tanpa sisa, digantikan oleh teror primitif terhadap predator puncak.

​Klang!

​Salah satu kapten menjatuhkan pedang besarnya ke tanah. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menembus hutan, mencoba menjauh sejauh mungkin dari monster berjubah abu-abu itu.

​Tindakan itu seperti menarik pelatuk bendungan. Kepanikan menular dengan kecepatan kilat. Sisa enam puluh tentara bayaran elit Kelompok Taring Darah membuang senjata mereka, berteriak histeris, dan berpencar melarikan diri ke segala penjuru Hutan Darah Besi layaknya tikus yang melihat rumah mereka terbakar.

​"KEMBALI! KEMBALI KALIAN SEMUA, PENGECUT BASTARD!" raung Serigala Mata Satu. Suaranya serak dan pecah. Ia bahkan melemparkan sebilah pisau terbang yang menancap di punggung salah satu anak buahnya yang melarikan diri, namun itu tidak cukup untuk menghentikan gelombang kepanikan.

​Dalam hitungan detik, kamp yang awalnya dikepung oleh ratusan orang itu kini hanya menyisakan dua sosok yang berdiri berhadapan di tengah lautan abu.

​Serigala Mata Satu terengah-engah. Matanya yang tersisa satu dipenuhi urat merah, menatap Lin Tian dengan campuran antara kebencian yang mendalam dan keputusasaan absolut. Kekuatan kelompoknya, fondasi kerajaannya yang dibangun selama belasan tahun, lenyap hanya karena satu pukulan dari seorang bocah berusia belasan tahun.

​"Kau... kau menghancurkan segalanya!" desis Serigala Mata Satu, mencengkeram tombak perak bergeriginya hingga buku jarinya memutih.

​"Kau yang menghalangi jalanku. Aku hanya membersihkan sampah," jawab Lin Tian datar. Ia menurunkan lengannya, membiarkan energi sisa dari Tinju Runtuh mereda.

​Menyadari bahwa melarikan diri tidak akan menyelamatkannya dari kecepatan Lin Tian yang tak masuk akal, Serigala Mata Satu mengambil keputusan terakhir. Ia menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan seteguk darah esensinya ke bilah tombaknya.

​Teknik Terlarang: Pengorbanan Darah Serigala!

​Fluktuasi Qi biru pekat yang awalnya berada di tingkat tujuh puncak mendadak meledak. Auranya meroket, menembus batas pseudo-tingkat delapan. Otot-otot pria besar itu mengembang hingga merobek kulitnya sendiri, membuat darah merembes dari seluruh pori-porinya. Matanya benar-benar kehilangan kewarasan manusia, murni menyisakan insting binatang buas yang terluka parah dan berniat membawa musuhnya mati bersama.

​"MATI BERSAMAKU, IBLIS!"

​Serigala Mata Satu melesat maju. Tanah di bawah kakinya meledak meninggalkan kawah. Tombaknya berputar dengan kecepatan gila, menciptakan pusaran angin pengebor yang mampu menembus pelat baja setebal sepuluh inci. Sasarannya adalah jantung Lin Tian.

​Menghadapi serangan bunuh diri berkekuatan pseudo-tingkat delapan, mata Lin Tian tidak memancarkan kepanikan, melainkan antisipasi yang dingin. Ia tidak menggunakan Tinju Runtuh. Ia ingin menguji secara langsung seberapa mengerikan batas pertahanan yang diberikan oleh Beruang Punggung Besi dan Teratai Api Berdarah.

​Lin Tian mengambil kuda-kuda kokoh. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, membiarkan pendaran Qi ungu keemasan bercampur merah api melapisi kulitnya yang kini berwarna tembaga.

​TRANGGGGG!

​Suara benturan logam yang luar biasa memekakkan telinga meledak di tengah hutan. Gelombang angin menyapu debu dan abu di sekitar mereka membentuk lingkaran kosong.

​Tombak perak itu menghantam titik tengah lengan Lin Tian yang bersilang.

​Wajah Serigala Mata Satu yang awalnya dipenuhi kegilaan mendadak membeku. Ujung tombaknya yang berputar ganas hanya mampu merobek jubah lengan Lin Tian, namun saat berbenturan dengan kulit pemuda itu, tombak tersebut terhenti total!

​Bunga api memercik dengan liar. Kulit Lin Tian hanya sedikit melekuk ke dalam, dan sebuah luka gores tipis—tidak lebih dalam dari goresan duri—muncul, mengalirkan setetes darah. Namun dalam sekejap mata, luka gores itu mendesis dan menutup kembali berkat energi regenerasi sisa dari Teratai Api Berdarah.

​"T-Tingkat delapan... seranganku setara tingkat delapan... bagaimana mungkin..." Serigala Mata Satu bergumam dengan bibir gemetar. Pikirannya benar-benar hancur. Bahkan seorang kultivator ranah Mortal tingkat sembilan tidak akan berani menangkis tombak ini dengan lengan telanjang!

​Tepat saat tombak itu kehabisan momentum putarannya, terdengar suara KRAK yang nyaring. Ujung tombak perak bergerigi kebanggaan Serigala Mata Satu retak, lalu patah menjadi dua.

​Lin Tian menurunkan lengannya perlahan. Menatap sisa goresan di kulitnya, ia mengangguk pelan. "Pertahanan yang memuaskan."

​Tanpa memberi waktu bagi Serigala Mata Satu untuk mundur, tangan kanan Lin Tian melesat ke depan layaknya taring naga yang menyambar mangsanya. Ia mencengkeram wajah pria raksasa itu dengan telapak tangannya.

​"Berakhir sudah," ucap Lin Tian sedingin es.

​Energi Qi ungu keemasan meledak dari telapak tangannya, menembus tengkorak Serigala Mata Satu dan secara langsung menghancurkan otaknya sebelum pria itu sempat menjerit.

​Tubuh raksasa pemimpin Kelompok Taring Darah itu kejang sesaat, lalu kehilangan seluruh tenaganya. Lin Tian melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat itu jatuh terjerembap ke tanah dengan bunyi berdebum pelan.

​Tiran Hutan Darah Besi telah tumbang.

​Lin Tian menghembuskan napas pelan. Ia membersihkan sisa darah dari tangannya. Tatapannya kemudian beralih pada jari manis di tangan kiri Serigala Mata Satu. Di sana melingkar sebuah cincin berwarna perak kusam.

​"Cincin Spasial," gumam Lin Tian, matanya sedikit berbinar. Cincin spasial memiliki ruang penyimpanan sepuluh kali lipat lebih besar dan jauh lebih berharga daripada kantong spasial yang ia dapatkan dari Zhao Kuang.

​Lin Tian mencabut cincin itu dan dengan mudah menghapus segel mental Serigala Mata Satu yang sudah mati. Saat ia memindai isinya, senyum tipis mengembang di bibirnya.

​Di dalam cincin itu, tidak hanya terdapat ratusan Batu Roh tingkat rendah dan puluhan Batu Roh tingkat menengah, tetapi juga terdapat tumpukan kulit binatang, senjata sitaan, herbal, dan inti binatang buas tingkat rendah-menengah. Ini adalah seluruh kekayaan Kelompok Taring Darah yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

​Selain kekayaan tersebut, ada sebuah plakat perunggu berbentuk tengkorak yang memancarkan aura Qi gelap. Plakat ini jelas bukan barang yang bisa dibuat oleh tentara bayaran biasa.

​"Aliran hitam," batin Lin Tian, menyipitkan mata saat mengidentifikasi aura tersebut. "Sepertinya Kelompok Taring Darah diam-diam berafiliasi dengan sekte aliran hitam di wilayah luar. Ini bisa menjadi masalah di masa depan, tapi setidaknya bukan sekarang."

​Ia melemparkan plakat perunggu itu kembali ke dalam Cincin Spasial, lalu memindahkan semua isi kantong spasial lamanya ke dalam cincin barunya. Ia menyelipkan cincin itu di jarinya, menyembunyikannya dengan teknik manipulasi cahaya Qi yang sederhana agar tidak menarik perhatian.

​Misi awalnya dari sekte—mengumpulkan 10 Inti Beruang Punggung Besi—telah selesai jauh melampaui target. Ia telah memperoleh kekuatan tingkat lima, pertahanan absolut, dan kekayaan yang cukup untuk membekali fondasinya selama beberapa bulan ke depan.

​Lin Tian menoleh ke arah selatan. Angin hutan meniup sisa-sisa jubah abu-abunya yang compang-camping. Hatinya telah jauh lebih tenang, namun insting bertarungnya menjadi jauh lebih tajam.

​"Satu bulan akan segera berakhir. Ujian Promosi Sekte Dalam akan segera dimulai," gumam Lin Tian, membayangkan wajah adiknya, Lin Chen, dan para murid luar faksi Zhao yang mungkin sedang menunggunya kembali dengan senyum sinis.

​"Sekte Pedang Langit... bersiaplah. Naga ini akan pulang."

​Dengan satu hentakan kaki yang membelah tanah, bayangan Lin Tian melesat ke angkasa, bergegas menembus Hutan Darah Besi.

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!