Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Malam sudah larut ketika Haikal akhirnya memarkir mobilnya di halaman rumah. Lampu teras menyala redup, menandakan rumah itu tidak sepenuhnya tertidur, namun juga tidak menunggu. Ia melangkah masuk dengan langkah pelan, melepas sepatu, dan menggantung jasnya seperti biasa.
“Laura?” panggilnya lirih, lebih karena kebiasaan daripada kebutuhan.
Tak ada jawaban.
Mungkin sudah tidur, pikirnya. Ia tidak ingin mengganggu. Malam-malam belakangan terasa panjang bagi semua orang, dan ia sendiri terlalu lelah untuk percakapan apa pun.
Haikal menuju dapur untuk mengambil air minum. Lampu dapur menyala otomatis, memantulkan bayangannya di kaca jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Ia menuang air ke dalam gelas—lalu berhenti.
Di luar sana, di bangku kayu dekat kolam kecil, ada seorang gadis duduk sendirian.
Laura.
Ia mengenakan pakaian rumah yang sederhana dan ringan, cukup tipis untuk menandakan malam yang hangat.Lekuk tubuhnya terlihat jelas. Rambutnya tergerai, bahunya sedikit membungkuk, dan di tangannya ada cangkir kopi yang masih mengepul. Laura menyesapnya perlahan, menatap kosong ke arah pepohonan, seolah sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Haikal terdiam.
Bukan karena pemandangan itu mengejutkan, melainkan karena ia tidak siap dengan perasaan yang tiba-tiba muncul. Ada sesuatu pada cara Laura duduk yang tampak tenang, sendirian, tanpa sadar sedang diperhatikan yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Bukan hasrat yang kasar, melainkan ketertarikan yang sunyi dan membingungkan.
Ia menelan ludah, menyadari betapa lamanya ia berdiri di sana.
"Ini salah," batinnya cepat.
Terlalu jauh.
Namun tubuhnya tak segera bergerak. Lidahnya terasa kaku, seolah menolak memberi perintah pada kaki untuk menjauh. Ia hanya berdiri, memandang, dan menyadari bahwa tatapan itu yang ia kira sekadar refleks telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih sulit diartikan.
Tanpa sepengetahuan Haikal, di balik bayangan lorong, ada sepasang mata lain yang menyaksikan.
Gita.
Ia baru turun untuk mengambil air, sama seperti Haikal. Langkahnya terhenti ketika melihat suaminya berdiri mematung di dapur, gelas di tangan, menatap ke luar jendela dengan cara yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan tatapan kosong.
Bukan tatapan lelah.
Melainkan tatapan yang diam-diam menyimpan perhatian.
Gita mengikuti arah pandangan itu—dan melihat Laura di taman.
Dadanya mengencang.
Ia tidak melihat sentuhan. Tidak ada kata-kata. Tidak ada adegan yang bisa dituduh. Namun justru di situlah letak ancamannya. Gita mengenal suaminya cukup lama untuk tahu, tatapan itu bukan kebetulan.
"Sejak kapan?" pikirnya.
"Sejauh apa kedekatan mereka. Tak biasanya mas Haikal memandang seseorang seperti itu." Lanjutnya.
"Ekheem" dehem Gita berusaha tenang dan seolah tak melihat apa-apa.
Haikal akhirnya bergerak, mengalihkan pandangan, seolah baru tersadar bahwa ia tidak sendirian. Saat ia menoleh, mata mereka bertemu, mata Haikal dan Gita dan untuk sepersekian detik, dunia terasa berhenti.
Gita tersenyum tipis. Senyum yang rapi, terlatih, dan menyembunyikan banyak hal.
“Kamu baru pulang,” katanya ringan.
“Iya,” jawab Haikal cepat, terlalu cepat. “Lembur.”
Gita mengangguk, lalu melirik ke taman. “Laura belum tidur rupanya.”
“Sepertinya,” jawab Haikal, berusaha terdengar netral.
Ada jeda. Pendek, tapi cukup lama untuk menumbuhkan kecurigaan.
“Kalau begitu aku naik dulu,” kata Gita. “Selamat malam.”
“Selamat malam,” balas Haikal.
Gita melangkah pergi, namun langkahnya tidak lagi ringan. Di setiap anak tangga, pikirannya berputar. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasakan sesuatu yang asing dan mengusik: rasa terancam yang nyata.
Bukan oleh perempuan lain semata, melainkan oleh kenyataan bahwa Haikal sudah mulai berubah.
Di taman, Laura akhirnya berdiri, menyadari kehadiran Haikal di balik kaca. Tatapan mereka bertemu singkat. Laura tersenyum genit, melambaikan tangan sembari mengedipkan sebelah mata nya dan itu berhasil membuat jiwa laki-laki seorang Haikal bangkit. Laura terus menatap Haikal dengan tatapan menggoda lalu masuk ke rumah dari pintu samping, meninggalkan kopi yang sudah dingin.
Haikal berdiri sendiri di dapur, jantungnya berdegup tidak karuan. Ia tahu, mulai malam itu, tidak ada lagi yang benar-benar tersembunyi.
"Sial!! Di perlakukan begitu saja aku sudah On." Gumamnya dan berniat akan melampiaskan nya ke Gita.
Dan di kamar atas, Gita berbaring menatap langit-langit, menyadari satu hal yang membuatnya sulit memejamkan mata,
Ia mungkin telah kehilangan sesuatu dan kali ini, ia tahu persis kepada siapa.
Ceklek...
"Mas!, kenapa wajah mas memerah, apakah mas kepanasan?." Ujar Gita.
haikal yang tadinya dalam keadaan On, tiba-tiba saja jojo nya melemas, letih, lesu dan lunglai.
"Omaygat!! Ada apa dengan ku. Kenapa na fsuku tiba-tiba lenyap begitu saja." Batinya frustasi kemudian berjalan cepat ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Agar bayangan laura yang hinggap di pikirannya lenyap.
Setelah mandi cukup lama, Haikal pun keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk saja.Gita meneguk ludah kasar ketika melihat pemandangan di hadapannya, karena walau bagaimanapun Haikal memiliki tubuh yang kekar dan atletis, hanya saja Haikal tidak sesuai ekspektasi Gita saat di ranjang.
Gita yang tadinya tengah memainkan ponselnya, memberanikan diri untuk berbicara dengan haikal terkait dengan apa yang tadi dilihatnya.
"Mas boleh aku bicara sebentar?"ucap Gita yang membuat langkah haikal terhenti.
"Mau bicara soal apa?"tanya Haikal yang seolah malas berbicara dengan Sagita,apalagi ketika Haikal mengingat apa yang sudah dilakukan oleh Sagita di belakangnya.
"Ini soal pembantu baru mas."
"Ada apa memangnya dengan Laura?"
"Entah kenapa aku mulai risih dengan keberadaan Laura di rumah ini. Apalagi sepertinya dia tidak ada hormat nya sedikit pun sama aku sebagai nyonya di rumah ini."
"Apa maksud kamu?,bicara yang jelas dan jangan berbelit-belit."tekan Haikal.
"Kamu lihat saja cara berpakaian nya, apakah pantas seorang pembantu berpakaian tipis seperti itu apalagi ketika melayani majikan nya saat menyiapkan sarapan."
"Aku rasa pakaian Laura wajar-wajar saja,bukankah sekarang lagi musim panas ya, jadi wajar kalau dia memakai pakaian agak tipis agar tidak berkeringat."ucap Haikal seolah-olah membela Laura.
"Kok kamu malah belain dia sih mas?"
"Di sini aku nggak belain siapa-siapa."
"Bukti nya tadi kamu beliin dia?"
"Sagita, sepertinya kamu sudah lupa dengan kesepakatan awal kita,bukankah sedari awal kamu yang tidak mau melayani aku dan meminta aku untuk mencari pembantu, karena kamu berfikir jika aku tidak akan pernah tergoda dengan pembantu baru walaupun pembantu tersebut memiliki tubuh yang seksi,karena bagi kamu aku hanyalah laki-laki impoten yang tidak akan pernah memuaskan kamu di ranjang." tegas Haikal membuat Gita gugup.
"Ya.. tetap aja mas, walaupun kamu tidak normal,tapi tetap saja aku tidak suka dengan keberadaan Laura di rumah ini."
"Egois sekali kamu."
"Loh kok aku yang egois?"
"Terus kamu di harus dibilang apa?"
"Maksud kamu apa sih mas, kok kamu jadi berubah kayak gini?"
"Sedari kita menikah kamu sama sekali tidak pernah mengurusi aku ataupun mengurusi semua kebutuhan aku,terus ketika ada orang yang bisa mengurus aku kenapa justru kamu merasa risih?"
"Pokoknya aku nggak suka aja sama dia."
"Stop berdebat Sagita, yang menggaji Laura adalah aku bukan kamu. Sebaiknya kamu jangan ikut campur."ucap Haikal pergi meninggalkan Sagita dan menuju ruang kerjanya. Karena jika semakin lama Haikal meladeni Sagita maka emosinya pun akan mencapai puncaknya dan ia pun akan kelepasan membahas perselingkuhan Sagita. Biarlah kali ini dia menghindar karena ia ingin menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.