Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Dunia Gelap Lorenzo Moretti
Bab 18 — Dunia Gelap Lorenzo Moretti
Pagi di desa kecil itu terasa begitu damai.
Suara ayam berkokok terdengar dari kejauhan. Aroma tanah basah setelah hujan malam memenuhi udara. Cahaya matahari perlahan masuk melalui celah-celah jendela rumah kayu milik Nenek Hana.
Namun kedamaian itu terasa asing bagi Lorenzo Moretti.
Pria itu sudah bangun sejak subuh. Ia duduk sendirian di kursi depan rumah sambil meminum kopi hitam buatan Nenek Hana.
Tatapannya mengarah jauh ke jalan desa yang masih sepi.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…
Lorenzo merasa tenang.
Tidak ada suara tembakan.
Tidak ada laporan kematian.
Tidak ada pengkhianatan.
Hanya suara angin pagi dan kehidupan sederhana yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Marco keluar sambil meregangkan tubuhnya.
“Aku masih tidak percaya kita benar-benar tidur di rumah desa.”
Lorenzo tetap diam.
Marco duduk di sebelahnya lalu melirik pelan.
“Kau terlihat berbeda sejak bertemu Amelia.”
Tatapan Lorenzo langsung dingin.
“Kau terlalu banyak bicara.”
Marco justru tertawa kecil.
“Kalau anak buah lain melihatmu sekarang, mereka pasti tidak percaya bos besar Moretti bisa duduk santai seperti ini.”
Lorenzo meminum kopinya perlahan.
“Aku hanya memastikan Amelia aman.”
“Tentu saja.”
Nada suara Marco penuh godaan.
Namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah serius.
“Bos… Romano mulai bergerak lagi.”
Suasana pagi langsung berubah dingin.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Mereka mencari informasi tentang Amelia.”
Tatapan Lorenzo perlahan berubah gelap.
Sangat gelap.
Marco langsung tahu itu pertanda buruk.
“Kita harus kembali ke Palermo secepatnya,” lanjut Marco. “Tempat ini mulai tidak aman.”
Lorenzo tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru mengarah pada pintu rumah saat Amelia keluar sambil membawa keranjang cucian.
Gadis itu mengenakan pakaian sederhana berwarna putih dengan rambut panjang yang diikat asal.
Namun entah kenapa…
di mata Lorenzo, Amelia terlihat jauh lebih indah dibanding wanita-wanita glamor yang biasa mengelilinginya.
“Pagi…” ucap Amelia pelan saat melihat mereka.
Marco tersenyum kecil.
“Pagi, gadis desa.”
Amelia tersipu sedikit lalu mulai menggantung pakaian di halaman.
Lorenzo diam-diam memperhatikannya.
Gerakan Amelia sederhana.
Namun terasa hangat.
Dan semakin lama…
perasaan asing dalam dirinya semakin sulit diabaikan.
“Aku tidak suka wajahmu sekarang,” gumam Marco pelan.
Lorenzo melirik tajam.
“Apa maksudmu?”
“Kau terlihat seperti pria yang sedang jatuh cinta.”
Tatapan Lorenzo langsung berubah sangat dingin.
“Aku akan menembakmu kalau kau terus bicara.”
Marco tertawa kecil.
Namun jauh di dalam hati…
ia tahu dirinya benar.
Amelia telah menjadi sesuatu yang berbahaya bagi Lorenzo Moretti.
Karena untuk pertama kalinya…
bosnya memiliki seseorang yang sangat ingin dilindungi.
Beberapa jam kemudian, Amelia membantu Nenek Hana memasak di dapur.
Suasana hangat itu membuat Amelia sedikit melupakan dunia gelap Palermo.
Ia bahkan mulai berpikir…
bagaimana kalau dirinya tetap tinggal di desa saja?
Namun pikiran itu segera menghilang saat melihat Lorenzo berdiri di depan rumah sambil berbicara serius melalui telepon.
Wajah pria itu kembali dingin.
Aura mengerikannya muncul lagi.
Dan Amelia sadar…
dunia Lorenzo tidak akan pernah benar-benar jauh darinya.
Tak lama kemudian Lorenzo masuk ke rumah.
“Kita harus kembali hari ini.”
Amelia langsung terdiam.
“Cepat sekali?”
“Situasi tidak aman.”
Nenek Hana langsung terlihat khawatir.
“Apakah Amelia dalam bahaya?”
Tatapan Lorenzo sedikit melembut saat melihat wanita tua itu.
“Selama dia bersamaku, tidak akan ada yang menyentuhnya.”
Kalimat itu terdengar seperti janji.
Namun juga ancaman.
Amelia perlahan menunduk.
Entah kenapa dadanya terasa berat saat harus meninggalkan rumah lagi.
Raka datang tak lama setelah itu.
Wajah pria itu langsung berubah muram saat tahu Amelia akan kembali ke Palermo bersama Lorenzo.
“Kau harus ikut dia lagi?”
Amelia mengangguk pelan.
“Aku tidak punya pilihan.”
Raka melirik Lorenzo tajam.
“Dia selalu punya pilihan.”
Namun Lorenzo sama sekali tidak menanggapi ucapan itu.
“Aku akan menjaga Amelia,” ucapnya datar.
Raka mengepalkan tangan pelan.
“Aku tidak percaya pada orang seperti Anda.”
Suasana kembali menegang.
Amelia langsung berdiri di tengah mereka.
“Sudah…”
Ia benar-benar lelah melihat keduanya terus bersitegang.
Namun sebelum situasi makin buruk, suara mobil tiba-tiba terdengar dari arah jalan depan desa.
Marco langsung waspada.
Tatapannya berubah tajam.
“Itu bukan orang kita.”
Lorenzo berdiri perlahan.
Aura dingin langsung memenuhi rumah kecil tersebut.
Beberapa mobil hitam berhenti di depan rumah.
Puluhan pria turun dengan senjata di tangan.
Wajah Amelia langsung pucat.
“Siapa mereka…?”
Marco mengumpat pelan.
“Orang Romano.”
Nenek Hana langsung ketakutan.
Sementara Raka membeku melihat situasi itu.
Ia baru sadar…
dunia Lorenzo benar-benar berbahaya.
Lorenzo menarik pistol dari balik jasnya dengan tenang.
Gerakan yang sangat biasa baginya.
Namun membuat Amelia langsung gemetar.
“Masuk ke dalam,” perintah Lorenzo.
“Apa?”
“Sekarang.”
Suara pria itu begitu dingin hingga Amelia refleks menurut.
Namun sebelum mereka sempat bergerak—
Dor!
Tembakan pertama terdengar.
Kaca jendela rumah langsung pecah.
Nenek Hana menjerit kecil.
Marco segera membalas tembakan sambil berlindung di balik dinding.
“Bos! Mereka terlalu banyak!”
Lorenzo tetap tenang.
Tatapannya sangat gelap saat melihat rumah Amelia menjadi sasaran tembakan.
Dan itu membuat kemarahannya naik.
“Marco, bawa Amelia dan neneknya pergi lewat belakang.”
“Apa kau gila?!”
“Aku akan menahan mereka.”
Amelia langsung panik.
“Tidak! Mereka akan membunuhmu!”
Tatapan Lorenzo beralih padanya.
Dan anehnya…
di tengah situasi mengerikan itu, pria tersebut masih terlihat begitu tenang.
“Aku tidak akan mati semudah itu.”
Dor!
Lorenzo menembak satu pria tepat di kepala tanpa mengalihkan pandangan dari Amelia.
Tubuh pria itu langsung roboh.
Amelia langsung menutup mulut menahan takut.
Pemandangan itu terasa begitu nyata sekarang.
Dunia Lorenzo.
Dunia penuh darah.
Dan kematian.
“Ayo!” Marco menarik Amelia.
Namun Amelia justru menatap Lorenzo dengan mata gemetar.
Pria itu berdiri di depan rumah sambil menembaki musuh-musuhnya tanpa rasa takut sedikit pun.
Seperti monster yang lahir dari kegelapan.
Dan untuk pertama kalinya…
Amelia benar-benar menyadari siapa Lorenzo Moretti sebenarnya.
Bukan hanya pria dingin.
Bukan hanya mafia.
Tetapi seseorang yang hidup dalam dunia di mana membunuh adalah hal biasa.
Dor! Dor!
Tembakan terus terdengar.
Raka membantu membawa Nenek Hana ke belakang rumah.
Sementara Marco terus melindungi Amelia.
“Kita harus pergi!”
“Tapi Lorenzo—”
“Bos bisa menjaga dirinya sendiri!”
Ledakan kecil terdengar dari depan rumah.
Asap mulai memenuhi udara.
Amelia menoleh panik dan melihat beberapa bagian pagar kayu rumahnya mulai terbakar.
Air matanya langsung jatuh.
Rumah itu…
rumah yang sangat ia cintai…
hancur karena perang dunia Lorenzo.
Dan hal itu membuat dadanya terasa sesak.
Sementara di depan rumah…
Lorenzo berdiri dengan wajah penuh darah musuh.
Tatapannya sangat mengerikan.
Pria-pria Romano mulai mundur ketakutan.
Karena rumor tentang Lorenzo Moretti ternyata benar.
Ia benar-benar monster.
Lorenzo berjalan perlahan menuju salah satu pria Romano yang terluka.
“Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu gemetar.
“R-Romano…”
Dor!
Lorenzo menembaknya tanpa ragu.
Marco yang melihat itu langsung menghela napas.
Bosnya benar-benar murka sekarang.
Namun saat Lorenzo kembali menoleh ke arah belakang rumah—
Ia melihat Amelia berdiri diam sambil menangis.
Tatapan gadis itu penuh ketakutan.
Dan untuk pertama kalinya…
Lorenzo merasakan sesuatu yang aneh.
Perasaan tidak nyaman.
Karena Amelia melihat sisi tergelap dirinya.
Sisi monster yang selama ini selalu ia sembunyikan dari gadis itu.
Amelia perlahan mundur selangkah.
Jantungnya berdegup kacau.
Ia takut.
Sangat takut.
Namun di saat bersamaan…
hatinya juga sakit melihat Lorenzo berdiri sendirian di tengah kekacauan seperti itu.
Pria itu begitu gelap.
Begitu dingin.
Dan tiba-tiba Amelia sadar…
semakin dekat dirinya dengan Lorenzo Moretti, semakin dalam ia terseret ke dunia yang tidak seharusnya menjadi miliknya.