Di wilayah Provinsi Langit Hijau, Klan Long adalah salah satu kekuatan terbesar yang menjunjung tinggi bakat di atas segalanya. Long Yue, pemuda berusia lima belas tahun dari keluarga cabang, dianggap tidak memiliki bakat sama sekali dalam tiga jalur kekuatan utama klan—kultivasi, alkimia, maupun pembentukan formasi. Ia hidup dalam keterasingan, penghinaan, dan diasingkan oleh seluruh anggota klan bahkan keluarganya sendiri karena dianggap beban yang tidak berguna. Saat kepala klan mengusulkannya untuk dibuang di pertemuan tahunan, Long Yue dengan berani mengumumkan kepergiannya secara sukarela dan bersumpah akan kembali sebagai sosok terhebat yang pernah ada.
apa yang akan terjadi selanjutnya.?
dan akankah Long Yue berhasil membuktikan kepada klan nya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pergi ke Kota Jing dan Bertemu dengan Jing Xu
Setelah meninggalkan Lembah Asap Ungu dan memiliki kekuatan Pembentukan Energi Tingkat 6 serta Api Ungu Surgawi Tingkat 1, langkah Long Yue semakin cepat dan ringan saat berjalan menembus bagian luar Hutan Kabut Hitam. Kabut tebal yang dulu sulit ditembus dan membuatnya tersesat, kini seolah tidak ada penghalang sama sekali. Indranya yang tajam mampu mendeteksi setiap perubahan energi di sekitar, membedakan arah mata angin, dan mengetahui keberadaan makhluk hidup dari jarak jauh. Binatang buas yang ia temui di jalan—baik Tingkat Dua, Tiga, maupun Empat—tidak lagi menjadi ancaman. Bahkan, banyak dari mereka yang justru merasa takut dan menjauh begitu merasakan hawa kekuatan serta panas samar yang memancar dari tubuh Long Yue.
Dalam waktu dua hari saja, ia berhasil menempuh perjalanan yang biasanya memakan waktu lima hingga tujuh hari bagi pengelana biasa. Di ujung jalan setapak yang mulai melebar dan berubah menjadi jalan tanah yang padat, akhirnya tampaklah di hadapannya sebuah kota besar yang dikelilingi tembok batu tinggi setinggi dua puluh meter. Gerbang kota yang lebar dan kokoh selalu terbuka, dengan lalu lintas orang yang keluar masuk silih berganti: pedagang, pengelana, ahli kultivasi, hingga penduduk biasa. Di atas gerbang utama itu, tertulis dua kata besar berwarna emas: KOTA JING.
Kota ini adalah pusat perdagangan dan kekuatan terbesar di wilayah selatan Provinsi Langit Hijau, dan merupakan wilayah kekuasaan mutlak Klan Jing. Klan Jing adalah salah satu dari tiga klan besar yang setara dengan Klan Long, terkenal karena kekuatan militer mereka yang tangguh dan banyak melahirkan petarung-petarung hebat. Berbeda dengan Klan Long yang mengutamakan keseimbangan antara kultivasi, alkemi, dan penempaan, Klan Jing lebih fokus pada jalur kekuatan murni dan teknik bertarung.
Long Yue berdiri sejenak di pinggir jalan, memandangi kota besar itu dengan pandangan tajam dan penuh rasa ingin tahu. Ini adalah kota besar pertama yang ia masuki sejak meninggalkan Klan Long. Bagi pemuda yang dulu hanya mengenal kehidupan sederhana dan penghinaan di desa klan, suasana ramai, megah, dan penuh semangat pertarungan di sini terasa sangat baru dan menantang.
"Di sini pasti ada banyak hal yang bisa aku pelajari, banyak bahan yang bisa aku cari, dan banyak orang kuat yang bisa aku temui," gumam Long Yue pelan sambil merapikan pakaiannya yang agak lusuh namun kini bersih dan terawat berkat tenaga dalamnya. Ia menyembunyikan hawa kekuatannya, menekan energinya agar hanya terlihat setara dengan Pembentukan Energi Tingkat 3 atau 4, cukup untuk tidak dianggap lemah, tapi tidak terlalu mencolok dan menarik masalah yang tidak perlu.
Setelah membayar biaya masuk yang sangat murah, Long Yue melangkah masuk ke dalam Kota Jing. Suasana di dalam kota jauh lebih ramai dan hidup dibandingkan dugaan awalnya. Jalan-jalan lebar dipenuhi orang, di sisi kiri dan kanan berderet toko-toko besar yang menjual segala macam barang: dari bahan ramuan, senjata, baju zirah, buku teknik, hingga benda-benda ajaib yang asal-usulnya tidak diketahui. Di udara, samar-samar tercium aroma obat-obatan, bumbu masakan, dan juga aroma energi yang khas dari tempat berkumpulnya banyak ahli kultivasi.
Namun, kebahagiaan dan kemeriahan itu tidak merata. Di salah satu sudut kota, dekat dengan pasar besar, terdengar suara keributan dan teriakan yang menarik perhatian Long Yue. Karena penasaran, ia berjalan mendekati kerumunan orang yang mulai berkumpul.
Di tengah lingkaran orang itu, terlihat sekelompok pemuda berpakaian seragam berwarna biru muda dengan lencana gambar pedang bersilang di dada—tanda pengikut cabang samping Klan Jing. Mereka berjumlah lima orang, dan kekuatan mereka rata-rata berada di Pembentukan Energi Tingkat 3 hingga 4. Di hadapan mereka, berdiri seorang pemuda lain yang sedikit lebih muda, berwajah tampan namun memiliki rahang yang tegas dan tatapan mata yang tajam serta berapi-api. Pakaiannya terbuat dari bahan yang jauh lebih halus dan berkualitas, berwarna merah hati dengan sulaman benang emas halus, namun agak kotor dan sobek di beberapa bagian. Di dadanya, terpasang lencana yang berbeda: lencana perak berukir gambar lonceng besar, lambang inti keluarga utama Klan Jing.
Pemuda itu berambut hitam legam, berpostur tegap, dan meski saat ini napasnya agak memburu serta ada sedikit goresan darah di pipinya, ia tetap berdiri tegak tanpa sedikit pun menunduk atau mundur. Hawa kekuatan yang memancar dari tubuhnya stabil dan padat, jelas-jelas berada di tingkat Pembentukan Energi Tingkat 4.
"Jing Xu, kamu ini benar-benar tidak tahu diri ya!" bentak salah satu pemuda dari kelompok itu, yang terlihat sebagai pemimpinnya. Ia lebih tinggi dan kekuatannya berada di puncak Tingkat 4. "Kamu hanya anak bungsu yang tidak pernah dihitung oleh tetua klan. Sudah seharusnya kamu menyerahkan peta lokasi tanaman ajaib itu kepada kami. Barang berharga harus jatuh ke tangan orang yang lebih pantas, bukan anak manja sepertimu!"
Pemuda bernama Jing Xu itu tertawa dingin, matanya menatap tajam lawan-lawannya satu per satu dengan pandangan yang meremehkan. "Liu Hao, jangan bermimpi. Peta ini aku dapatkan dengan usahaku sendiri, dan aku berhak menggunakannya. Kalian ini hanya antek-antek kakakku yang tidak punya malu. Kalau ingin, lawan aku satu lawan satu, jangan mengeroyok seperti pengecut!"
"Kau!!" Liu Hao marah besar. "Anak muda yang kurang ajar! Karena kau anak keluarga utama, kami sudah berhati-hati. Tapi kalau kau terus saja bersikap sombong, jangan salahkan kami kalau harus memberimu pelajaran yang keras di sini. Lagipula, dalam pertarungan, cedera kecil itu hal biasa, bukan? Nanti kalau kau pulang terluka, kami hanya akan bilang kau diserang pencuri di jalanan."
Orang-orang di sekitar hanya menonton dari jauh, tidak ada yang berani ikut campur. Semua orang tahu siapa Jing Xu. Ia adalah anak bungsu dari kepala Klan Jing, pemuda yang sangat berbakat dan berani, namun sayang posisinya sangat sulit. Ibunya sudah meninggal sejak kecil, dan ia tidak memiliki dukungan yang kuat di dalam klan, berbeda dengan kakak-kakaknya yang memiliki kekuasaan besar. Banyak orang yang iri pada bakatnya dan ingin menjatuhkannya sebelum ia tumbuh menjadi ancaman. Liu Hao dan kawan-kawannya hanyalah salah satu kelompok yang sering mengganggunya atas perintah kakak-kakaknya.
Liu Hao memberi isyarat dengan tangan. Kelima pemuda itu segera melangkah maju mengurung Jing Xu, mengeluarkan senjata masing-masing. Jing Xu mengertakkan gigi, mengeluarkan sebilah pedang pendek dari pinggangnya, dan bersiap bertarung meski ia tahu peluangnya kecil. Melawan lima orang yang setara atau sedikit lebih kuat darinya sekaligus sangat sulit, apalagi ia sudah sedikit kelelahan sebelumnya.
"Dasar sampah klan," geram Jing Xu dalam hati. "Suatu hari nanti aku akan menjadi lebih kuat dari kalian semua!"
Saat Liu Hao hendak memberi perintah untuk menyerang, tiba-tiba sebuah sosok melangkah masuk ke tengah lingkaran itu dengan tenang, berdiri tepat di samping Jing Xu. Gerakannya begitu halus dan cepat sehingga tidak ada yang menyadari kapan ia datang.
"Maaf, tapi rasanya tidak adil kalau lima orang dewasa mengeroyok satu orang pemuda sendirian," ucap Long Yue dengan suara tenang namun terdengar jelas ke telinga semua orang. Ia berdiri tegak, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun matanya menatap tajam ke arah Liu Hao dan kawan-kawannya