NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 2: JALAN BERLUBANG DI BELAKANG HUTAN BAB 6 – Ikatan yang Menempel

Pemuda itu tidak menjawab. Matanya yang sayu bergerak‑gerak gelisah, menatap Arga seolah tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya, sementara tubuhnya terus bergetar hebat. Di tangan kanannya, piringan batu berukir itu tergenggam begitu erat hingga buku‑buku jarinya memutih, seolah benda itu sendiri yang memaksa dirinya untuk tidak melepaskannya. Jejak keunguan di lehernya perlahan bergerak naik, menyusuri rahang dan mendekati sisi kanan wajah, berubah menjadi pola yang persis seperti akar tanaman merambat.

Arga tidak berani melangkah terlalu cepat atau bergerak tiba‑tiba. Ia tahu, dalam kondisi terikat seperti ini, rasa takut atau gerakan mengancam bisa memicu reaksi yang tidak terduga—baik dari pemuda itu maupun dari kekuatan yang menyertainya.

“Tenang… aku tidak akan menyakitimu,” ucap Arga pelan, nada suaranya rendah dan datar, berusaha menembus kabut kesadaran yang menyelimuti orang itu. “Benda yang kau pegang… itu bukan milikmu. Dan tempat asalnya tidak mengizinkannya dibawa pergi.”

Pemuda itu tersentak, kepalanya terangkat sedikit lebih tegak. Mulutnya terbuka, namun suara yang keluar bukanlah kata‑kata yang bisa dimengerti—hanya desahan kasar bercampur bunyi berderit, seolah ada sesuatu yang berbicara lewat tenggorokannya. Bau tanah basah bercampur bau kapur kembali menguat, menyebar dari arah tubuh pemuda itu, bukan dari hutan di belakangnya.

“…Milik… aku…” kata itu terdengar terputus‑putus, berat dan asing.

Angin di sekitar mereka berputar lebih kencang, mengangkat daun‑daun kering dan debu jalanan. Arga menyadari ada perubahan lain: di belakang pemuda itu, bayangannya di tanah tidak bergerak sama persis dengan tubuhnya. Bayangan itu tampak lebih panjang, lebih gelap, dan bentuk pinggirannya tidak rata—seolah memiliki ujung‑ujung tambahan yang melayang di udara.

“Benda itu mengambil bagian dari dirimu, sama seperti kau mengambil bagian dari sana,” Arga melanjutkan, perlahan mengeluarkan sisa garam kasar yang masih tersisa di saku, membiarkannya terlihat namun tidak langsung dilemparkan. “Semakin lama kau membawanya, semakin sulit untuk melepaskannya. Dan mereka… tidak akan berhenti mengejar sampai semuanya kembali ke tempat asalnya.”

Seketika pemuda itu berteriak—suara panjang yang melengking, bukan lagi suara manusia biasa. Tubuhnya menegang kaku, kepalanya terlempar ke belakang, dan dari celah‑celah akar keunguan di kulitnya, keluar asap tipis berwarna abu‑abu. Di atas tanah di belakangnya, retakan‑retakan kecil mulai terbentuk, menjalar perlahan mendekati kaki Arga.

Arga segera melangkah mundur selangkah, menjaga jarak aman. Ia tidak bisa melawan sepenuhnya karena nyawa manusia ada di sana. Jika ia menggunakan kekuatan yang terlalu keras, pemuda itu bisa ikut hancur bersama ikatan yang mengikatnya.

“Arga… kembalikan… kembalikan…” bisikan itu kini terdengar dari segala arah, bukan hanya dari pemuda itu.

Arga teringat pesan Kakek Wito: “Bukan hanya kekuatan yang harus dilawan, tapi juga hak yang diambil. Cara memutusnya bukan dengan memaksa, tapi dengan memulihkan apa yang hilang.”

Ia tidak bisa membiarkan pemuda itu tetap di sini. Semakin lama di dekat batas hutan, semakin kuat tarikan yang dirasakan makhluk di sana. Arga segera berani melangkah mendekat, meski retakan di tanah makin banyak muncul. Ia mengangkat tangan kirinya, di mana ia masih memegang seikat daun sirih yang sedikit layu namun masih wangi.

“Aku tidak melawanmu,” ucapnya tegas, mengarahkan pandangan tepat ke mata pemuda itu. “Aku hanya ingin membebaskanmu dari beban yang bukan hakmu.”

Sebelum makhluk yang menguasai tubuh itu bisa bereaksi, Arga dengan cepat namun lembut menyentuhkan ujung daun sirih itu tepat di atas telapak tangan pemuda yang menggenggam batu. Seketika terdengar suara mendesis, sama seperti saat ia berhadapan dengan tangan‑tangan tanah kemarin. Pemuda itu menjerit lagi, namun kali ini genggamannya sedikit melonggar.

Peluang itu tidak boleh disia‑siakan. Arga segera memegang pergelangan tangan itu, lalu dengan gerakan mantap namun tidak kasar, memaksanya terbuka. Piringan batu itu jatuh ke tanah, berdentang pelan saat menyentuh permukaan keras.

Begitu batu itu terlepas, perubahan drastis terjadi. Pemuda itu langsung ambruk ke tanah, napasnya tersengal‑seng hebat, seolah baru saja terlepas dari tenggelam. Akar‑akar keunguan di lehernya perlahan memudar, bayangan di belakangnya kembali menjadi wajar, dan retakan di tanah berhenti menjalar. Namun benda itu sendiri tidak diam saja. Begitu terpisah dari pemiliknya, piringan batu itu mulai bergetar hebat, berusaha berguling kembali ke arah hutan, seolah memiliki nyawa sendiri.

Arga tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ia segera menginjak ringan di samping batu itu, lalu menaburkan sisa garam yang ia miliki di sekelilingnya, membentuk lingkaran kecil. Gerakan itu seketika membuat batu itu berhenti bergetar, tertahan di tempatnya seolah tersangkut oleh tembok tak terlihat.

“Kau aman sekarang,” kata Arga sambil berjongkok di samping pemuda yang kini terbaring lemah.

Pemuda itu membuka matanya perlahan. Tatapannya sudah lebih jernih, meski masih terlihat bingung dan ketakutan. Ia memandang tangan kosongnya, lalu ke arah batu yang tertahan di lingkaran garam, lalu kembali menatap Arga.

“Siapa… kau?” suaranya parau namun jelas.

“Orang yang datang terlambat sedikit,” jawab Arga singkat. “Namun cukup cepat untuk mencegah hal yang lebih buruk terjadi. Siapa namamu?”

“Dimas… Namaku Dimas,” jawabnya pelan. Ia mencoba duduk, namun tubuhnya terasa berat. “Apa yang terjadi padaku? Aku… aku hanya ingin mencari tanaman langka. Katanya akar itu mahal harganya. Aku masuk ke sana… melihat batu itu tergeletak… terlihat indah… aku pikir… benda mati saja…”

Arga mengangguk paham. “Di tempat itu, tidak ada yang benar‑benar mati. Semuanya masih terikat janji. Kau mengambil salah satu penjaga mereka, dan mereka mengira kau ingin memulai perang baru.”

Dimas menelan ludah, wajahnya pucat kembali menyadari bahaya yang baru saja ia lewati. “Aku… aku merasa seperti ada yang tidak melepaskanku sejak keluar dari sana. Semakin jauh aku berjalan, semakin berat tubuhku. Sesekali aku melihat hal‑hal… yang tidak seharusnya ada.”

“Kau tidak akan melihatnya lagi, asalkan benda ini kembali ke tempat asalnya,” Arga menunjuk ke arah piringan batu itu. “Dan tidak ada lagi yang berani melangkah masuk ke sana untuk mengambil apa pun.”

Arga mengangkat batu itu dengan hati‑hati, memegangnya hanya di bagian pinggir yang sudah tertutup garam. Meski tertahan, benda itu masih terasa dingin luar biasa, seolah baru saja diambil dari dasar sumur yang dalam.

“Kita harus segera kembali. Benda ini tidak bisa dibawa jauh dari batasnya tanpa menimbulkan gangguan baru,” ucap Arga sambil membantu Dimas berdiri.

Keduanya berjalan perlahan meninggalkan pinggir hutan. Di belakang mereka, angin kembali tenang, kabut tidak lagi turun, namun jejak peristiwa ini masih terasa nyata. Arga sadar, pekerjaannya belum selesai. Ia hanya mengembalikan satu bagian kecil, namun dua batu penjaga lainnya masih perlu diperiksa. Dan Dimas… ia adalah bukti bahwa meski pintu sudah dikunci, selalu ada saja yang berusaha mencari celah untuk membukanya lagi.

Sesampainya di rumah Kakek Wito, mata lelaki tua itu langsung tertuju pada piringan batu yang dipegang Arga. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk berat.

“Jadi ini dia… yang mengganggu keseimbangan itu,” gumamnya. Ia menoleh ke arah Dimas yang masih gemetar. “Kau beruntung, Nak. Biasanya yang mengambil benda dari sana tidak kembali dengan kesadaran utuh.”

Arga meletakkan batu itu di atas meja kayu, di bawah cahaya lampu yang terang. Ukiran di atasnya terlihat sangat jelas sekarang—sama persis dengan pola di batu pusat, namun ada satu tanda tambah kecil yang tidak dimiliki batu di tengah.

“Kek, ini bukan batu biasa,” kata Arga perlahan. “Lihat tanda ini. Ini pasti salah satu dari dua batu penjaga sisi yang Kakek sebutkan kemarin.”

Kakek Wito mendekat, mengamati dengan saksama. “Benar. Batu ini adalah penjaga sisi timur. Kalau yang ini sudah terganggu, berarti yang di sisi barat mungkin juga tidak dalam kondisi baik. Segitiga pelindung itu retak di dua titik sekaligus.”

Suasana di ruangan itu menjadi hening seketika. Ancaman belum benar‑benar berlalu. Masih ada celah yang terbuka, dan makhluk yang menguasai tempat itu belum sepenuhnya tenang.

“Besok pagi‑pagi sekali,” kata Kakek Wito dengan suara tegas, “kita harus kembali ke sana. Kali ini bukan hanya memperkuat, tapi juga menyusun kembali apa yang telah tercabut. Dan kita harus bergerak sebelum matahari terbit terlalu tinggi.”

Arga menatap keluar jendela, ke arah kegelapan di balik hutan yang perlahan menyelimuti langit sore. Ia tahu, perjalanan kedua ke tempat terlarang ini akan jauh lebih berat dari yang pertama. Kali ini ia tidak hanya berhadapan dengan kekuatan yang terluka, tapi juga dengan jejak keserakahan manusia yang membuka jalan bagi malapetaka.

Dan di sudut ruangan, Dimas menatap piringan batu itu dengan tatapan campuran rasa bersalah dan ketakutan. Ia sadar, kesalahannya bukan hanya pada benda yang diambilnya, tapi pada ketidaktahuannya akan dunia yang jauh lebih tua dan lebih berkuasa daripada dirinya.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!