Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN BALIK GENG POPULER
Rasa frustrasi yang menumpuk selama berhari-hari akhirnya membuat pertahanan mental Sherly runtuh. Di dunia remaja Harapan Elite International School, kehilangan pengaruh sosial sama saja dengan eksekusi mati tanpa peradilan. Reputasinya sebagai salah satu siswi paling berpengaruh kini terkikis habis oleh rumor pembohong yang terus bergulir di grup obrolan angkatan.
Setiap kali Sherly berjalan melewati koridor, dia tidak lagi mendengarkan sapaan manis yang memuja, melainkan bisikan-bisikan sinis yang menertawakan kejatuhannya. Dan semua penderitaan itu bersumber dari satu orang: Rina Azalea.
"Kita nggak bisa diemin ini terus-terusan, Sher!" ketus Clarissa sambil menggebrak meja marmer wastafel toilet perempuan di lantai dua. Wajahnya yang dilapisi riasan tebal tampak berkerut penuh amarah. "Si kuper itu makin ngelunjak sejak ditunjuk jadi Ketua Proyek Festival. Anak-anak kelas bawah sekarang mulai berani ngelawan kita gara-gara belain dia!"
Keysha yang sedang mengoleskan lipstik merah muda mengangguk cepat. "Iya, Sher. Kemarin waktu gue suruh anak beasiswa buat beliin jus di kantin, dia berani nolak dan bilang kalau Rina ngelarang ada senioritas di kelas. Kalau dibiarin, kita bakal kehilangan posisi kita secara total!"
Sherly menatap refleksinya sendiri di cermin wastafel. Sepasang matanya yang dilapisi lensa kontak berwarna abu-abu memancarkan kebencian yang begitu pekat. Tangannya mencengkeram erat pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya memutih. Taktik manipulasi psikologis dan rumor siber telah gagal total menghadapi Rina yang baru. Maka dari itu, tidak ada pilihan lain selain menggunakan cara lama yang paling primitif: intimidasi fisik.
"Keysha, kunci semua pintu toilet luar setelah bel pulang sekolah berbunyi," perintah Sherly, suaranya terdengar sangat rendah, serak oleh amarah yang tertahan. "Clarissa, ambil ember besar dari gudang kebersihan beserta air bekas pel dari lantai satu. Aku mau bikin wajah cantiknya yang baru itu berlumuran bau busuk."
Clarissa menyeringai puas. "Siap, Sher. Gue pastiin si kuper itu bakal nangis-nangis minta ampun di kaki kita hari ini."
Teng... Teng... Teng...
Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar bergema ke seluruh penjuru sekolah. Para siswa berhamburan keluar kelas, tidak sabar untuk segera pulang atau berkumpul di kafe-kafe mewah sekitar Jakarta Selatan.
Rina sengaja menunda kepulangannya selama beberapa menit untuk merapikan berkas survei digital yang baru saja diserahkan oleh Andi. Sistem data yang mereka bangun berjalan sangat lancar; lebih dari delapan puluh persen siswa telah mengisi preferensi menu untuk stan Pop-Up Retro Cafe kelas 11-A.
Saat Rina melangkah keluar kelas menuju halte bus, dia merasa tenggorokannya agak kering. Dia memutuskan untuk mampir ke toilet perempuan di lantai dua yang biasanya sudah sepi pada jam-jam seperti ini.
Rina melangkah masuk ke dalam toilet, mencuci tangannya di wastafel yang bersih, lalu masuk ke dalam salah satu bilik toilet nomor tiga untuk membetulkan tali rok seragamnya yang sedikit melar. Namun, baru saja dia menutup pintu bilik, telinga dewasanya menangkap suara langkah kaki yang terburu-buru masuk ke dalam toilet, diikuti oleh bunyi klik tajam dari pintu utama toilet yang dikunci dari dalam.
Klik.
Suasana di dalam toilet mendadak diselimuti oleh keheningan yang janggal. Rina menghentikan aktivitasnya. Di balik pintu bilik kayu yang kokoh, dia bisa mendengar bisikan-bisikan halus dan suara geseran benda berat di atas lantai keramik—suara sebuah ember plastik besar yang penuh berisi air.
"Rina! Aku tahu kamu ada di dalam bilik nomor tiga!" suara Sherly tiba-tiba menggelegar di dalam ruangan yang bergema itu. Nada suaranya tidak lagi menyembunyikan kebencian, melainkan sarat akan kegilaan yang meluap-luap. "Keluar kamu sekarang juga, bajingan kecil!"
Rina tetap berdiri tenang di dalam bilik. Sepasang matanya yang hitam pekat menyipit. Alih-alih panik, menjerit, atau menangis ketakutan seperti yang diprediksi oleh Sherly, otak dewasa Rina langsung memproses situasi ini sebagai sebuah simulasi taktis.
Dia melirik ke arah atas pembatas bilik toilet yang memiliki celah sekitar tiga puluh sentimeter sebelum menyentuh langit-langit. Di luar, dia bisa mendengar suara Clarissa yang sedang mengangkat ember dengan napas yang terengah-engah, bersiap untuk menyiramkan air kotor bekas pel itu melewati celah atas bilik agar membasahi seluruh tubuh Rina.
“Mau main fisik, rupanya?” batin Rina dengan seulas senyuman dingin yang sangat mengerikan terukir di bibirnya.
Menggunakan pengetahuan hukum pidana dan sains yang dia kuasai dari kehidupan dewasanya, Rina tahu persis bagaimana cara membalikkan keadaan tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Dia merogoh ponsel lipat Samsung miliknya dari saku seragam, mengaktifkan fitur perekaman suara sekali lagi untuk mencatat bukti perundungan fisik, lalu meletakkannya kembali dengan aman.
"Rina! Dalam hitungan ketiga kalau kamu nggak keluar, aku pastikan baju maharmu itu bakal berbau kotoran!" bentak Clarissa dari luar, posisinya sudah berdiri di atas kloset bilik sebelah, mengangkat ember plastik merah besar yang penuh berisi air hitam berbusa sisa pel koridor lantai satu yang sangat bau.
"Satu..." Sherly mulai menghitung dengan tawa sinis yang puas.
"Dua..."
Tepat sebelum hitungan ketiga selesai, Rina bergerak dengan kecepatan dan presisi yang luar biasa. Dia tidak bersembunyi di sudut bilik. Sebaliknya, dia melangkah maju mendekati pintu, menumpu seluruh kekuatan berat badannya pada kaki kanan, lalu melepaskan sebuah tendangan telak menggunakan tumit sepatu pantofelnya tepat ke arah kunci selot pintu kayu bilik ke arah luar.
Brakkk!
Pintu bilik toilet itu terlempar terbuka ke luar dengan kekuatan impak yang sangat besar akibat momentum tendangan Rina. Pintu kayu yang tebal itu menghantam tubuh Clarissa yang sedang berdiri tidak seimbang di atas kloset bilik sebelah sambil memegang ember besar.
"Aaaaakh!" jerit Clarissa histeris saat keseimbangannya runtuh total.
Hantaman pintu membuat ember plastik merah besar di tangan Clarissa terlepas dari genggamannya sebelum dia sempat menyiramkannya ke dalam bilik Rina. Sesuai dengan hukum fisika Newton ketiga tentang aksi dan reaksi, seluruh volume air hitam yang berbau busuk dan penuh busa detergen itu berbalik arah sepenuhnya, menyiram habis tubuh Clarissa dan Sherly yang sedang berdiri tepat di depan pintu bilik.
Byuuurrr!
"Aaaarrghhh! Bauuu! Mata gueee!" jerit Sherly histeris saat air kotor bekas pel itu mengguyur kepalanya secara mutlak. Rambut panjangnya yang bergelombang indah langsung lepek seketika, menempel di wajahnya bersama sisa-sisa debu koridor dan busa kimia. Riasan wajah mahalnya luntur total dalam hitungan detik, menciptakan tampilan yang sangat menyeramkan seperti hantu air.
Clarissa sendiri terjatuh dari atas kloset, mendarat di atas lantai keramik toilet yang basah dengan posisi terduduk yang sangat menyakitkan, seragamnya basah kuyup dari pundak hingga ujung rok oleh air kotor ciptaannya sendiri.
Keysha yang berjaga di dekat pintu utama langsung melongo dengan wajah horor, tangannya gemetar melihat dua pemimpin gengnya mendadak berubah menjadi tumpukan sampah yang berbau busuk.
Rina melangkah keluar dari dalam bilik toilet dengan sangat anggun. Tidak ada satu tetes pun air kotor yang mengenai permukaan seragam kotak-kotak birunya yang bersih. Dia berdiri di depan Sherly dan Clarissa yang sedang terengah-engah menahan mual karena bau air pel yang sangat menyengat memenuhi ruangan toilet.
Rina menatap mereka dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sepenuhnya kosong dari emosi manusia—sebuah tatapan meremehkan yang jauh lebih menyakitkan daripada makian kasar sekalipun.
"Hukum Newton ketiga, Sherly, Clarissa," ucap Rina, suaranya terdengar sangat jernih, dingin, dan beresonansi kuat di antara dinding keramik toilet. "Setiap aksi selalu memicu reaksi yang sama besar namun berlawanan arah. Ketika kalian berniat menyiramkan kotoran kepada orang lain, pastikan kalian sudah siap untuk tenggelam di dalam kotoran itu sendiri."
Rina melangkah mendekati Sherly yang sedang berlutut di lantai sambil berusaha membersihkan matanya dari perihnya air sabun. Rina menjambak sedikit ujung rambut lepek Sherly secara halus namun dengan tekanan yang mengunci, memaksa gadis populer itu mendongak menatap wajah cantiknya yang tak tersentuh.
"Dengar baik-baik, Sherly," bisik Rina tepat di depan wajah Sherly yang gemetar karena kombinasi rasa dingin, bau, dan ketakutan yang luar biasa. "Hari ini aku masih berbaik hati menggunakan hukum fisika untuk membalas kalian. Jika besok aku melihat kalian atau kaki tangan kalian mencoba melakukan hal sekecil apa pun yang mengganggu timku... aku tidak akan ragu untuk menggunakan pasal tiga ratus lima puluh satu KUHP tentang penganiayaan ringan dan perundungan berencana untuk menjebloskan kalian ke dalam sel tahanan anak selama dua tahun penuh. Orang tua kalian yang kaya tidak akan bisa menyuap hukum jika aku yang memegang buktinya."
Rina melepaskan cengkeramannya, membuat kepala Sherly terkulai lemas. Rina mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, mengusap telapak tangannya yang bersih, lalu melempar kain sapu tangan itu tepat ke atas wajah Sherly yang berlumuran air kotor.
"Bersihkan diri kalian. Bau kalian benar-benar merusak selera makanku," ucap Rina santai.
Dia berjalan menuju pintu utama toilet, menatap Keysha yang sudah ketakutan setengah mati hingga menempel pada dinding. "Buka pintunya, Keysha. Atau kamu mau merasakan hukum Newton juga?" tanya Rina dengan seulas senyuman manis yang sangat dingin.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Keysha langsung memutar kunci selot pintu utama dan membukanya lebar-lebar untuk Rina. Rina melangkah keluar dari toilet perempuan lantai dua dengan langkah kaki yang tegap, menyandang tas ranselnya di bahu kiri dengan keanggunan mutlak seorang pemenang. Di belakangnya, suara tangisan histeris Sherly dan Clarissa yang merutuki kesialan mereka terdengar menggema memecah keheningan koridor sore yang sepi. Tahap perlawanan fisik telah selesai dijatuhkan, dan Rina telah membuktikan sekali lagi bahwa di kehidupan ini, dia adalah predator tertinggi di Harapan Elite.