NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 – Kembali ke Dunia Asal

Saat Elara perlahan membuka matanya, rasa pusing dan ringan di kepalanya perlahan menghilang, digantikan oleh kesadaran yang perlahan kembali. Ia mendapati dirinya terbaring di atas hamparan rumput basah yang lembap, tepat di bawah jembatan tua yang lengkungannya sudah ia kenal sangat baik. Bau tanah yang baru saja terkena hujan bercampur dengan asap kendaraan dan aroma aspal panas langsung tercium oleh hidungnya—bau yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya, namun terasa begitu asing setelah sekian lama ia menghirup udara segar beraroma bunga dan hutan di Kerajaan Aetheris.

Suasana di sekelilingnya pun berubah total. Di kejauhan terdengar deru mesin kendaraan yang berlalu-lalang, suara klakson sesekali berbunyi, dan riuh rendah percakapan orang-orang yang berjalan tergesa-gesa menyelesaikan urusan masing-masing. Cahaya matahari siang menyinari wajahnya dengan terang, namun terasa lebih tajam dan panas dibandingkan sinar matahari lembut yang bersinar di atas istana megah tempat ia tinggal selama ini.

Elara duduk perlahan, lalu berdiri dengan kaki yang masih terasa sedikit lemas. Ia memandangi tangannya, lalu menyentuh pakaian yang dikenakannya—kain sederhana yang biasa ia pakai di rumah, bukan lagi jubah halus yang terbuat dari bahan mewah yang sering ia kenakan bersama Valerius. Semua itu menjadi bukti nyata bahwa ia telah kembali ke dunianya sendiri, ke tempat di mana ia dilahirkan dan menghabiskan sebagian besar hidupnya. Namun meski berada di lingkungan yang sangat dikenalnya, perasaannya terasa bercampur aduk antara rasa rindu yang mendalam dan rasa hampa yang tak terjelaskan.

Orang-orang yang lewat di pinggir jalan sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan penasaran, mengira ia hanyalah orang yang baru saja terjatuh atau sedang kebingungan. Tak ada yang tahu bahwa gadis yang berdiri di sana baru saja melintasi batas dua dunia, membawa serta kisah cinta dan pengalaman yang tak akan dipercaya oleh siapa pun di tempat ini.

Dengan langkah yang mulai mantap namun terasa berat, Elara berjalan meninggalkan jembatan tua itu menuju perumahan tempat tinggalnya. Semakin ia melangkah, semakin jelas pemandangan-pemandangan yang dulu terasa biasa saja kini muncul kembali di hadapannya: toko kelontong di ujung jalan, pohon mangga besar yang menjadi tempat bermainnya saat masih kecil, hingga gang sempit yang menuju ke rumahnya. Setiap sudut tempat itu membangkitkan kenangan lama, namun seolah ada jarak yang memisahkannya dari masa lalunya sendiri. Detak jantungnya berpacu semakin cepat, dipenuhi rasa takut sekaligus harapan—bagaimana reaksi keluarganya? Apakah mereka masih mengingatnya setelah sekian lama ia hilang tanpa kabar?

Sesampainya di depan rumahnya yang sederhana namun terasa hangat, Elara berhenti sejenak untuk menenangkan napasnya. Dinding rumah yang dicat warna krem mulai memudar, halaman kecil yang ditumbuhi rumput dan beberapa tanaman bunga yang terawat rapi—semua persis seperti yang ia bayangkan. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa haru, ia mengangkat kepalan tangannya dan mengetuk pintu kayu itu dengan pelan namun jelas.

Beberapa detik terasa seperti berjam-jam dalam keheningan. Akhirnya, pintu itu terbuka perlahan. Di baliknya berdiri sosok wanita paruh baya yang wajahnya terlihat lebih lelah, kantung matanya lebih terlihat, dan rambut hitamnya mulai diselimuti uban lebih banyak dari yang diingat Elara. Itu adalah ibunya.

Saat pandangan mereka bertemu, waktu seolah berhenti berjalan. Ibu Elara tertegun kaku, matanya terbelalak lebar dan mulutnya terbuka sedikit seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menggosok matanya sendiri, berpikir apakah ini hanya khayalan atau bayangan rindu yang muncul di hadapannya. Namun ketika Elara melangkah maju sedikit dan memanggilnya dengan suara yang sudah sangat dikenalnya, air mata pun langsung membanjiri wajah wanita itu.

“Elara… benarkah itu kamu? Anakku…” suaranya parau dan bergetar hebat.

“Ibu, ini saya. Saya sudah pulang,” jawab Elara, dan ia pun tak sanggup lagi menahan tangisnya.

“Ibu, ini saya. Saya sudah pulang,” jawab Elara, dan ia pun tak sanggup lagi menahan tangisnya.

Dalam sekejap, keduanya berpelukan erat seolah takut satu sama lain akan lenyap kembali begitu saja. Tangisan haru memenuhi udara di depan rumah itu. Mendengar keributan dan suara yang dikenalnya, ayah serta adik laki-laki Elara segera keluar dari dalam rumah. Saat melihat sosok yang berdiri di pelukan ibu mereka, keduanya tertegun sejenak sebelum akhirnya berlari mendekat dan ikut memeluk Elara dengan rasa syukur yang meluap-luap.

“Selama ini kamu ke mana saja, Nak? Kami sangat cemas dan sedih. Kami sudah melaporkan ke pihak berwenang, mencarimu ke mana-mana, dan setiap hari selalu berdoa agar kamu selamat,” kata ayahnya sambil memegang bahu Elara, menatapnya dari atas ke bawah untuk memastikan putrinya benar-benar dalam keadaan sehat.

Elara hanya bisa menjawab dengan senyum yang terasa pahit namun tulus. Ia tahu betapa sulitnya menceritakan kebenaran—tentang terlempar ke dunia lain, bertemu dengan Raja, menjalin kasih, dan kembali melalui gerbang bintang. Cerita itu akan terdengar seperti dongeng belaka, mustahil diterima akal sehat siapa pun. Maka ia memilih untuk menceritakan versi yang sederhana, mengatakan bahwa ia tersesat saat berjalan-jalan ke daerah terpencil, terjebak di tempat yang sulit dijangkau, dan baru saja menemukan jalan keluarnya kembali. Meskipun jawabannya tidak menjawab semua rasa ingin tahu mereka, keluarganya cukup puas mengetahui ia kembali dengan selamat dan sehat, sehingga tidak memaksanya bercerita lebih jauh.

Selama dua hari berikutnya, Elara mencoba menyesuaikan diri kembali dengan kehidupannya yang lama. Ia menikmati masakan kesukaan ibunya, mendengarkan cerita-cerita tentang apa saja yang terjadi selama ia pergi, berjalan menyusuri jalanan kampung, dan bertemu dengan teman-teman lama yang menyambutnya dengan sukacita. Namun semakin lama ia tinggal di tempat itu, semakin ia menyadari perasaan aneh yang tumbuh di hatinya.

Di siang hari, ia bisa tertawa dan berbagi cerita seolah tak ada yang berubah. Namun saat malam tiba dan ia terbaring sendirian di tempat tidurnya, pikirannya selalu melayang jauh melintasi ruang dan waktu, kembali ke Kerajaan Aetheris. Ia membayangkan wajah Valerius yang menunggunya di lembah tersembunyi, matanya yang menatap penuh harap, serta janji yang telah mereka ucapkan satu sama lain. Ia teringat akan kehangatan taman istana, aroma bunga-bunga langka, suara angin yang berhembus lembut, dan perasaan dicintai sepenuh hati yang ia rasakan di sana.

Di dunianya sendiri, segala hal terasa akrab namun tak lagi terasa lengkap. Ia merasa seperti orang asing yang kembali mengunjungi tempat yang pernah menjadi rumahnya, namun jiwanya sudah berpindah ke tempat lain. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh kehadiran keluarga, teman, atau apa pun yang ada di sekelilingnya. Hanya satu hal yang bisa mengisinya: kembali ke sisi orang yang ia cintai.

Ia juga teringat dengan jelas pesan yang disampaikan Valerius—gerbang antar-dunia itu hanya terbuka selama tiga hari tiga malam saja. Jika ia melewatkan waktu itu, pintu akan tertutup rapat dan tidak bisa dibuka kembali sampai seratus tahun kemudian. Waktunya semakin sedikit, dan keputusan harus segera diambil.

Di malam kedua, saat langit mulai gelap dan bintang-bintang mulai terlihat bersinar, Elara duduk sendirian di teras rumah, menatap ke arah cakrawala dengan pandangan yang jauh. Ibunya yang merasakan kegelisahan itu pun mendekat dan duduk di sampingnya, lalu menepuk punggungnya dengan lembut.

“Elara, meskipun kamu sudah kembali, matamu terlihat sedang merindukan sesuatu yang jauh, bukan?” tanya ibunya dengan suara lembut yang penuh pengertian. “Kamu bahagia bersama kami, tapi hatimu terasa belum sepenuhnya ada di sini.”

Elara menoleh, lalu menundukkan wajahnya dengan air mata yang kembali mengalir. “Ibu, saya sangat mencintai kalian dan bersyukur bisa bertemu lagi. Namun selama saya pergi, saya menemukan tempat lain di mana hati saya merasa paling tenang dan dihargai. Saya bertemu seseorang yang mengajari saya makna cinta dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Jika saya tetap tinggal di sini, rasanya saya harus meninggalkan separuh jiwa saya yang lain di tempat itu.”

Ibunya terdiam sejenak, lalu mengangkat dagu putrinya agar saling bertatapan. Senyum lembut terukir di bibirnya. “Nak, kebahagiaanmu adalah hal yang paling kami harapkan. Jika tempat itu adalah rumah baru bagi hatimu, dan orang itu membuatmu hidup dengan lebih berarti, maka pergilah kembali. Kami tak akan melarangmu. Kami hanya ingin kamu melangkah dengan hati yang tenang dan yakin. Ingatlah, di mana pun kamu berada, doa kami akan selalu menyertaimu.”

Kata-kata itu menjadi penentu bagi Elara. Beban keraguan yang selama ini membebani hatinya akhirnya terangkat sepenuhnya. Ia tidak harus memilih antara satu dunia saja—ia akan membawa semua kasih sayang dan kenangan indah dari dunianya ini, lalu kembali ke tempat di mana cintanya tumbuh dan menanti.

Keesokan harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan waktu yang tersisa semakin sedikit, Elara berpamitan dengan keluarganya. Ia memeluk mereka erat-erat, menanamkan rasa rindu dan terima kasih yang tak terucapkan. Ia berjanji akan selalu mengingat mereka, dan jika takdir mengizinkan, suatu hari nanti ia akan kembali lagi untuk bercerita tentang perjalanannya.

Dengan langkah yang mantap dan hati yang penuh keyakinan, Elara berjalan kembali menuju jembatan tua itu. Saat ia tiba di tempat itu, cahaya keemasan yang berputar perlahan mulai muncul kembali di udara, menandakan bahwa gerbang itu masih terbuka dan menantinya. Tanpa ragu sedikit pun, Elara melangkah masuk ke dalam cahaya itu, siap kembali ke tempat yang kini ia anggap sebagai rumah sejatinya—bersama Valerius, di Kerajaan Aetheris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!