NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Penarikan Diri sang Elang

Hujan lokal yang mengguyur ibu kota siang itu seolah mewakili atmosfer dingin yang mencekam di lobi utama gedung Rani Group. Riko melangkah lebar keluar dari lift eksekutif, mengabaikan tatapan berbisik dari ratusan karyawan dan kilatan kamera beberapa jurnalis yang nekat menyusup ke area lobi. Jaket kulit hitamnya terkancing rapat, membungkus tubuh tegapnya yang memancarkan aura predator yang sedang terluka.

Kata-kata Rani di ruang kerja tadi masih terngiang jelas di telinganya, seperti belati yang mengiris sisa harga dirinya sebagai seorang pria.

“Jangan bertingkah seolah-olah kamu adalah korban suci di sini!”

Riko mencengkeram kemudi mobil taktisnya yang terparkir di basement. Rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Monolog batinnya bergemuruh hebat di tengah deru mesin mobil yang menyala. 'Aku memang bangkrut, Rani. Tapi aku tidak pernah menjual jiwaku untuk menjadi boneka tontonan mantan kekasihmu. Jika kamu berpikir aku bertahan di sampingmu hanya demi sisa uang kontrak itu, maka kamu salah besar. Aku akan membuktikannya padamu, pada ayahmu, dan pada bajingan bernama Aris itu, bahwa elang ini bisa merebut kembali langitnya tanpa sepeser pun bantuanmu.'

Dengan satu sentakan kasar pada tuas transmisi, Riko memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta, memutus seluruh akses komunikasi emosionalnya dengan Rani. Dia kembali ke habitat aslinya: bergerak di bawah tanah, dingin, dan tanpa ampun.

Sementara itu, di lantai teratas gedung korporasi, ruang kerja Rani terasa begitu luas dan hampa setelah kepergian Riko. Sisa aroma maskulin pria itu masih tertinggal di udara, namun kini digantikan oleh hawa pekat dari kehadiran Aris yang masih berdiri di sana dengan senyuman kemenangan yang memuakkan.

"Keputusan yang sangat bijaksana, Rani," ujar Aris santai sembari merapikan lipatan jasnya yang sempat kusut akibat cengkeraman Riko. "Pria kasar seperti dia memang tidak pantas berada di lingkungan kita. Dia hanya akan menyeret namamu ke dalam lumpur kebangkrutannya."

Rani berbalik perlahan. Ego Alpha Woman-nya yang sempat goyah kini dia tarik kembali ke permukaan dengan paksa. Tatapan matanya menghujam Aris dengan kebencian yang murni dan dingin. "Keluar dari ruanganku, Aris."

Aris menaikkan satu alisnya, tidak merasa terintimidasi sedikit pun. "Aku akan keluar, tentu saja. Tapi ingat, RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) bentukan Dewan Komisaris dari holding ayahmu akan digelar besok pagi pukul sembilan. Jika kamu tidak membawa dokumen pembatalan pernikahan kontrak itu dan menandatangani kerja sama investasi denganku, kursi CEO yang kamu bangun dari nol ini akan diserahkan kepadaku oleh dewan komisaris. Pikirkan baik-baik, Rani. Gengsimu atau takhtamu?"

Setelah Aris melangkah keluar bersama para komisaris tua, tubuh Rani mendadak lemas. Dia merosot di kursi kebesarannya, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Kamar tidur safe house malam lalu, di mana dia merasa begitu rapuh namun aman di dalam dekapan Riko, kini terasa seperti fatamorgana.

Rani melirik ponselnya yang tergeletak di meja. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari Riko. Jari lentiknya gemetar, ingin sekali menekan tombol panggil, namun gengsinya yang setinggi langit menahannya. 'Kenapa kamu egois sekali, Riko? Aku berteriak menahan mu tadi karena aku tidak ingin kamu terjerat kasus hukum pidana jika menghajar Aris! Kenapa kamu justru berpikir aku membelanya? Kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku?!' Rasa rindu yang aneh mendadak menyusup di antara amarah dan harga dirinya yang terluka.

Malam harinya, di sebuah ruko terbengkalai di kawasan industri Jakarta Utara yang dijadikan markas sementara tim taktis Pratama Corp.

Suasana di dalam ruangan itu sangat kontras dengan kemewahan kantor Rani. Hanya ada beberapa meja panjang yang dipenuhi monitor komputer berkecepatan tinggi, kabel-kabel yang menjuntai, dan pendaran lampu neon putih yang dingin. Tiga orang pemuda genius bidang IT yang dulu setia mendampingi Riko sebelum bangkrut, kini sedang mengetik dengan kecepatan penuh di bawah pengawasan langsung dari Riko.

Riko berdiri di belakang mereka, melipat tangannya di dada. Kaos hitam taktisnya memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Matanya tidak berkedip menatap layar utama yang menampilkan pelacakan koordinat satelit.

"Kami berhasil menembus enkripsi rekening luar negeri milik Paman Broto sebelum dibekukan polisi, Tuan Riko," ujar salah satu ahli IT dengan bersemangat. "Ada transaksi mencurigakan senilai lima puluh miliar yang dialirkan ke sebuah akun penampung di Batam dua jam lalu. Transaksi itu menggunakan protokol sandi yang hanya diketahui oleh Haris!"

Mata elang Riko menyipit tajam. Singa lapar di dalam dirinya akhirnya mencium bau mangsa. "Haris mencoba mencairkan sisa aset jarahannya untuk melarikan diri lewat jalur laut ke Singapura. Bajingan itu tahu tanah Jakarta sudah terlalu panas untuknya."

Riko berjalan mendekati meja taktis, mengambil sebuah senapan kejut (stun gun) berdaya tinggi dan beberapa peralatan pelacakan mekanis. Otak bisnisnya yang encer langsung merangkai rencana penyergapan malam ini juga. Dia tidak akan membiarkan Haris lolos. Dokumen otentik yang dibawa Haris adalah satu-satunya kunci untuk membuktikan bahwa kebangkrutannya tiga tahun lalu adalah sabotase ilegal, yang otomatis akan mengembalikan seluruh legalitas aset Pratama Corp secara instan.

"Siapkan kendaraan. Kita berangkat ke pelabuhan tikus di Batam lewat jalur penerbangan kargo pribadi sekarang juga," perintah Riko tegas, suaranya baritonnya beresonansi dengan otoritas mutlak seorang Alpha Male.

"Tuan Riko..." salah satu anak buahnya ragu-ragu sejenak. "Bagaimana dengan Ibu Rani? Media massa malam ini semakin liar menggoreng berita tentang pernikahan kontrak Anda. Saham Rani Group dikabarkan akan kolaps besok pagi saat RUPSLB."

Langkah Riko sempat terhenti sejenak di ambang pintu ruko. Bayangan wajah Rani yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca di kantor tadi sempat melintas, memicu debaran aneh di dadanya. Ada rasa cemas dan cemburu yang membakar saat membayangkan Aris akan mengambil alih posisi di samping Rani besok pagi. Namun, Riko mengeraskan hatinya kembali. Gengsi seorang pria yang diinjak-injak membuatnya menolak untuk kembali sebelum dia setara.

"Dia adalah Alpha Woman. Dia memiliki Baskoro Holding di belakangnya," ujar Riko dingin, meskipun ada nada berat yang tertahan di tenggorokannya. "Dia bisa menyelesaikan masalah korporatnya sendiri. Fokus kita adalah merebut kembali kerajaan kita."

Di kediaman utama keluarga Baskoro, malam itu berubah menjadi sidang keluarga yang paling dingin. Ayah Rani duduk di kursi rodanya dengan wajah yang teramat kecewa, sementara dokumen kontrak pernikahan palsu itu tergeletak di atas meja kaca di hadapan mereka. Ibu Rani terus menangis di sudut ruangan, menyesali bagaimana dokumen itu bisa bocor dari sisa kaki tangan Paman Broto.

"Papa tidak pernah mengajarimu untuk berbohong pada publik demi sebuah gengsi bisnis, Rani," suara Ayah Rani terdengar berat, sarat akan luka seorang ayah yang merasa dibohongi oleh putri tunggalnya sendiri.

Rani berdiri di tengah ruangan, punggungnya tetap tegak, menolak untuk meneteskan air mata di depan orang tuanya. "Aku melakukannya karena aku tidak punya pilihan, Pa! Ibu terus menekan ku untuk menikah dengan Hendra yang ternyata seorang psikopat! Riko datang di saat yang tepat, dan pernikahan kontrak ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa fokus membesarkan perusahaan yang aku rintis dari nol tanpa gangguan perjodohan!"

"Lalu di mana pria itu sekarang?!" tanya Ayah Rani tegas. "Di saat perusahannmu diambang kehancuran karena skandal ini, di mana suami kontrak yang kamu banggakan itu? Apakah dia melarikan diri karena takut terseret?!"

"Dia tidak melarikan diri!" jawab Rani spontan dengan nada tinggi, secara refleks membela Riko sebelum ego dan gengsinya sempat mengerem bibirnya. Rani tertegun dengan reaksinya sendiri. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu Riko bukan pengecut. Pria itu pergi karena harga dirinya terluka, dan sekarang... Rani merasa sangat kesepian tanpa kehadiran benteng kokoh di sampingnya.

Rani menarik napas panjang, menatap ayahnya dengan mata yang mengeras. "Besok pagi di RUPSLB, aku akan menghadapinya sendiri, Pa. Dengan atau tanpa Riko di sampingku."

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!