NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Untuk Pertama Kalinya

Pagi itu hujan turun sejak subuh.

Rintik-rintik air membasahi jendela besar kamar Rubi, menciptakan suasana tenang yang membuat siapa pun ingin kembali tidur.

Namun berbeda dengan biasanya, Rubi sudah bangun sejak satu jam yang lalu.

Bukan karena tidak mengantuk.

Melainkan karena bayi dalam kandungannya sedang sangat aktif.

"Ya ampun, Nak."

Rubi tertawa pelan sambil mengusap perutnya.

"Kamu tidak tidur?"

Sebagai jawaban, perutnya kembali bergerak.

Membuatnya menggeleng geli.

Sejak memasuki bulan ketujuh kehamilan, gerakan bayinya memang semakin kuat. Kadang sampai membuatnya kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan pintu terdengar.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan dan seorang pelayan masuk membawa sarapan.

"Nyonya muda, Tuan Muda meminta Anda sarapan di kamar hari ini."

Rubi mengernyit.

"Kenapa?"

Pelayan itu tersenyum sopan.

"Tuan Muda sedang menerima laporan penting di ruang kerja."

Rubi mengangguk pelan.

Namun dalam hati ia merasa sedikit kecewa.

Akhir-akhir ini ia terbiasa sarapan bersama Alexander.

Meskipun terkadang mereka hanya berbicara beberapa kalimat, keberadaan pria itu sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.

Dan tanpa sadar, ia merindukannya ketika tidak ada.

---

Di ruang kerja.

Alexander berdiri di depan meja besar dengan wajah dingin.

Beberapa orang kepercayaannya berdiri di hadapannya.

Suasana ruangan sangat tegang.

"Kami kehilangan jejak mereka tadi malam."

lapor salah satu pria.

Tatapan Alexander langsung berubah tajam.

"Kehilangan?"

suaranya rendah.

Namun justru itu yang membuat semua orang semakin gugup.

"Kami sudah mencari ke seluruh area yang dicurigai, Tuan."

Alexander mengepalkan tangan.

Sudah beberapa minggu terakhir pergerakan Viktor Romanov semakin aktif.

Namun pria itu tetap sulit ditemukan.

Seolah sengaja bermain-main.

Dan itu membuat Alexander semakin tidak tenang.

Karena biasanya sebelum menyerang, Viktor memang suka membuat lawannya lengah terlebih dahulu.

"Tingkatkan pengamanan mansion."

ucap Alexander.

"Jangan ada satu orang asing pun yang mendekat."

"Baik, Tuan."

Setelah semua bawahannya pergi, Alexander mengusap wajahnya pelan.

Rasa lelah mulai terasa.

Namun yang paling mengganggunya bukan pekerjaan.

Melainkan kekhawatiran terhadap Rubi.

Semakin dekat hari kelahiran anak mereka, semakin besar rasa takut yang muncul dalam dirinya.

Takut sesuatu terjadi.

Takut tidak bisa melindungi mereka.

Takut kehilangan.

Dan Alexander membenci perasaan itu.

Karena selama hidupnya ia tidak pernah takut pada apa pun.

Sampai Rubi datang.

---

Siang harinya.

Hujan mulai reda.

Rubi memutuskan berjalan-jalan di taman dalam mansion.

Dokter menyarankan agar ia tetap aktif bergerak selama tidak berlebihan.

Karena itu ia sering berjalan santai di area yang sudah dijaga ketat oleh pengawal.

Saat sedang menikmati udara segar, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Rubi menoleh.

Dan langsung tersenyum.

Alexander.

Pria itu masih mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung sampai siku.

Penampilannya jauh lebih santai dibanding biasanya.

"Kau sudah selesai bekerja?"

tanya Rubi.

"Untuk sementara."

jawab Alexander.

Lalu tanpa diminta, ia berjalan di samping Rubi.

Mereka berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di taman.

Suasana terasa nyaman.

Tidak ada percakapan penting.

Hanya kebersamaan sederhana yang mulai mereka nikmati.

"Aku bosan."

kata Rubi tiba-tiba.

Alexander menoleh.

"Bosan?"

"Iya."

Rubi mengangguk.

"Sejak hamil aku lebih sering di mansion."

"Itu demi keselamatanmu."

"Aku tahu."

jawab Rubi.

"Tapi tetap membosankan."

Alexander terdiam beberapa saat.

Kemudian berkata,

"Kalau cuaca membaik, aku akan mengajakmu keluar."

Mata Rubi langsung membesar.

"Sungguh?"

Alexander mengangguk.

Melihat ekspresi bahagia wanita itu, entah kenapa suasana hatinya ikut membaik.

---

Menjelang sore.

Mereka duduk bersama di gazebo taman.

Rubi sedang menikmati teh hangat.

Sedangkan Alexander membaca laporan dari ponselnya.

Sesekali Rubi mencuri pandang.

Dan semakin lama, semakin sulit baginya menyangkal perasaannya sendiri.

Pria ini memang tidak romantis.

Tidak pandai mengucapkan kata-kata manis.

Namun semua tindakannya selalu menunjukkan perhatian.

Dan justru hal itu yang membuat hati Rubi perlahan jatuh semakin dalam.

"Apa?"

Suara Alexander membuat Rubi tersentak.

"Hah?"

"Kau menatapku sejak tadi."

ucap pria itu datar.

Wajah Rubi langsung memerah.

"Aku tidak menatapmu."

"Bohong."

Rubi langsung memalingkan wajah.

Membuat Alexander hampir tertawa.

Akhir-akhir ini menggodanya ternyata cukup menyenangkan.

---

Saat itu juga bayi dalam kandungan Rubi bergerak cukup kuat.

Rubi refleks memegang perutnya.

Alexander langsung memperhatikan.

"Sakit?"

"Tidak."

jawab Rubi.

"Hanya kaget."

Alexander menggeser kursinya lebih dekat.

Kemudian meletakkan telapak tangannya di atas perut Rubi.

Seperti yang selalu ia lakukan.

Dan beberapa detik kemudian...

Tap.

Gerakan kecil itu terasa.

Alexander langsung terdiam.

Sementara bayi itu kembali bergerak.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Membuat pria itu menatap perut Rubi cukup lama.

Ekspresinya berubah menjadi sangat lembut.

Pemandangan itu membuat hati Rubi terasa hangat.

Karena pria yang ditakuti seluruh Eropa itu terlihat begitu tidak berdaya di depan anak mereka.

---

Malam harinya.

Setelah makan malam selesai, mereka kembali duduk di ruang keluarga.

Api dari perapian menyala hangat.

Menciptakan suasana nyaman di tengah cuaca dingin.

Rubi sedang membaca buku.

Namun sebenarnya ia tidak fokus.

Pikirannya terus mengingat momen-momen kecil yang terjadi sepanjang hari.

Sementara Alexander terlihat sibuk dengan laptopnya.

Sampai tiba-tiba listrik padam sesaat karena cuaca buruk.

Ruangan langsung gelap.

"Astaga."

Rubi terkejut.

Meskipun lampu darurat segera menyala beberapa detik kemudian.

Namun jantungnya sudah terlanjur berdegup kencang.

Alexander langsung berdiri.

"Kau baik-baik saja?"

"Iya."

jawab Rubi.

Namun saat hendak bangun, kakinya sedikit kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya oleng ke depan.

"Rubi!"

Alexander bergerak cepat.

Tangannya langsung meraih tubuh Rubi.

Menahannya sebelum terjatuh.

Jarak mereka menjadi sangat dekat.

Terlalu dekat.

Rubi bisa merasakan napas pria itu.

Bisa melihat jelas sorot mata kelam yang selama ini selalu terlihat dingin bagi orang lain.

Namun tidak untuk dirinya.

Karena saat ini mata itu dipenuhi kekhawatiran.

"Kau membuatku takut."

ucap Alexander pelan.

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa dipikirkan.

Tanpa disaring.

Dan keduanya langsung terdiam.

Karena itu adalah pertama kalinya Alexander mengaku takut.

Takut karena dirinya.

Takut kehilangannya.

Jantung Rubi berdetak sangat keras.

Sedangkan Alexander menatapnya tanpa mengalihkan pandangan.

Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti.

Tidak ada suara.

Tidak ada gangguan.

Hanya mereka berdua.

Dan untuk pertama kalinya, Rubi merasa bahwa pria ini mungkin memiliki perasaan yang sama dengannya.

Perasaan yang selama ini berusaha mereka sembunyikan.

Namun belum sempat salah satu dari mereka mengatakan apa pun, suara ponsel Alexander tiba-tiba berdering keras.

Menghancurkan momen tersebut.

Alexander mengerutkan dahi lalu menjawab panggilan itu.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah dingin.

Sangat dingin.

"Ada apa?"

tanya Rubi pelan.

Alexander menatapnya.

Lalu berkata dengan suara rendah,

"Viktor ditemukan."

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, badai yang sebenarnya akhirnya mulai mendekat ke kehidupan mereka.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!