NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:196.3k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. LATIHAN

Hari-hari berikutnya di Akademi Sihir Oberyn berubah menjadi rutinitas yang sangat berbeda bagi Elara Ravens.

Jika sebelumnya hidupnya di akademi lebih banyak diisi latihan pedang dan duel, kini setiap harinya ia harus menghadapi sesuatu yang jauh lebih melelahkan, yaitu latihan sihir penuh.

Dan orang yang bertanggung jawab atas semua itu adalah satu orang.

Lunaris Avard.

Siang itu matahari yang telah naik di atas menara akademi ketika Elara sudah berdiri di tengah lapangan latihan milik Divisi Arcanum.

Di hadapannya berdiri Lunaris dengan buku catatan tebal di tangan.

Sementara di sisi lapangan, Leonhart menyandarkan pedangnya di bahu sambil menonton dengan ekspresi santai.

Aaron juga berada di sana, berdiri tenang dengan tangan terlipat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Elara.

Lunaris menutup bukunya.

"Baik. Kita mulai lagi latihannya seperti tadi," kata Luna.

Elara menghela napas panjang. "Senior, kita sudah mulai sejak pagi."

Lunaris menjawab datar. "Dan?"

Elara menjawab, "Biarkan aku istirahat sebentar, rasanya latihan sihir lebih melelahkan dibandingkan duel dengan Senior Leonhart."

Leonhart langsung tersenyum lebar. "Oh?Kalau begitu ayo kita duel sekarang."

Elara langsung menggeleng keras. "Tidak! Maksudku bukan begitu!"

Aaron menahan tawa kecil.

Lunaris mengangkat tangannya. Lingkaran sihir kecil muncul di udara.

"Elara. Kali ini fokus pada telapak tanganmu. Jangan biarkan sihirmu mengalir ke pedang. Ini akan jadi sesi terakhir hari ini," kata Luna.

Elara mengangguk. Ia berdiri tegak dan menutup mata untuk berkonsentrasi. Lalu mengangkat kedua tangannya.

Energi sihir di dalam tubuh Elara mulai bergerak.

Hangat.

Kuat.

Namun ...

ZING!

Sihir itu justru mengalir ke pedang di pinggangnya, lagi.

Pedang Elara bergetar pelan. Cahaya tipis muncul di sepanjang bilahnya.

Lunaris menghela napas. "Lagi."

Elara mengerang pelan. "Agh ..."

Gadis itu mencoba lagi. Kali ini lebih fokus. Sihir bergerak ke tangannya.

Namun detik berikutnya kembali mengalir ke pedangnya.

Leonhart tertawa kecil.

"Elara. Mungkin pedangmu terlalu posesif," ejek Leonhart puas.

Elara langsung menoleh tajam. "Diam!"

Aaron hanya tersenyum kecil. Ia sudah menduga hal ini. Elara memang selalu kesulitan dalam mengeluarkan sihirnya.

Lunaris menutup buku catatannya. "Kita lanjut ke latihan berikutnya."

Elara menatapnya putus asa. "Masih ada lagi? Katanya tadi terakhir, Senior!"

Leonhart menjawab ceria, "Tentu saja. Sekarang duel."

Elara hampir pingsan dengan latihan gila ini.

Satu jam kemudian.

Lapangan latihan berubah seperti medan perang kecil.

Debu beterbangan.

Pedang beradu.

CLANG!

Leonhart menyerang tanpa ampun seperti bisa ia berduel.

Elara menahan serangan itu dengan pedangnya.

"Senior! Ini latihan ingat!" protes Elara.

Leonhart tertawa. "Memang!"

 Pria itu menyerang lagi.

CLANG!

Elara melompat mundur. Keringat mengalir di pelipisnya dengan konsentrasi yang masih terjaga baik.

Di kejauhan, Lunaris mencatat sesuatu di bukunya.

Sementara Aaron berdiri dengan tatapan waspada. Ia bukan hanya mengawasi duel itu. Ia juga mengawasi energi sihir Elara.

Jika energi itu tiba-tiba tidak stabil, Aaron harus segera turun tangan.

Leonhart kembali menyerang.

Elara mencoba mengeluarkan sihir dari tangannya.

Namun sihir itu lagi-lagi mengalir ke pedangnya.

Pedangnya bersinar terang.

Leonhart menyeringai. "Lihat? Pedangmu benar-benar mencintaimu."

Elara menggertakkan gigi. "Aku tahu!"

Pertarungan berlangsung hampir setengah jam.

Sampai akhirnya Elara benar-benar kehabisan tenaga. Ia menjatuhkan diri di tengah lapangan dengan napas tersengal.

"Aku ... tidak bisa ... bergerak," ujar Elara menyerah.

Gadis itu terbaring di tanah. Langit biru terlihat berputar di matanya.

Leonhart menyarungkan pedangnya. "Lumayan. Kau bertahan cukup lama kali ini."

Elara menggerutu dari tanah. "Senior, kau kejam."

Leonhart menyeringai dan berkata, "Latihan menjadi kesatria memang selalu keras, ingat?"

Elara hanya mendengus sebal.

Beberapa menit kemudian mereka semua berkumpul di sisi lapangan.

Lunaris berbicara dengan Aaron dan Leonhart. "Elara berkembang cukup cepat. Tapi masih ada sesuatu yang aneh."

Aaron menatap Elara yang masih terbaring di tanah. "Aneh bagaimana?"

Lunaris membuka buku catatannya. "Sihirnya seperti tertahan. Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang menahan aliran energi itu."

Leonhart mengangkat alis. "Itu buruk?"

Lunaris menggeleng. "Justru sebaliknya.Jika tidak ada yang menahan energi sebesar itu maka tubuhnya mungkin sudah hancur sejak lama."

Aaron terdiam. Ia juga memikirkan hal yang sama. Energi di dalam Elara terlalu besar. Jika benar ada sesuatu yang menahannya, mungkin itulah yang membuat Elara masih hidup sampai sekarang.

Saat mereka berbicara ....

Seseorang datang dari arah lapangan.

Seorang gadis berambut cokelat panjang.

Di tangannya ada beberapa botol minuman.

"Senior!"

Itu Evangeline. Ia tersenyum lembut seperti biasa bak bunga daisy.

"Aku membawa minuman," kata Evangeline seraya memberikan minuman kepada para Senior lalu berjalan menuju ke arah Elara.

Evangeline adalah murid Divisi Arcanum, sama seperti Lunaris dan Aaron, meskipun ia masih junior namun Evangeline berada di bawah pelatihan Lunaris juga secara tidak langsung.

Sejak kejadian Elara berubah menjadi bocah beberapa waktu lalu, Evangeline menjadi cukup dekat dengan para senior ini.

Evangeline berjalan ke arah Elara yang masih duduk di tanah.

"Minumlah." Evangeline menyodorkan minuman.

Elara menerima botol itu. "Terima kasih, kau benar-benar penyelamat."

Gadis itu meneguk air dengan lahap.

Beberapa detik kemudian ia menatap Evangeline.

"Eva?" panggil Elara.

Evangeline tersenyum. "Ada apa?"

Elara bertanya serius, "Bagaimana caramu mengeluarkan sihir?"

Evangeline terlihat sedikit bingung. "Seperti biasa saja," jawabnya.

Evangeline mengangkat tangan. Api kecil muncul di telapak tangannya dalam sekejap.

Kemudian Api itu berubah menjadi air.

Lalu menjadi es.

Semua terjadi dengan sangat mudah.

Elara langsung mengeluh keras.

"AGH! Kenapa hanya aku yang kesulitan?!" keluh Elara. Ia menjambak rambutnya. "Sihirku selalu tidak sinkron dengan pikiranku!"

Lunaris dan Aaron yang mendengar itu langsung menoleh.

Lunaris bertanya, "Tidak sinkron?"

Elara mengangguk kesal. "Aku ingin membuat api, yang keluar justru cahaya. Aku ingin membuat es, yang keluar malah air. Aku ingin memakai sihir tanah, yang keluar justru angin. Ini menyebalkan!"

Semua orang saling pandang.

Evangeline berkata pelan, "Itu aneh. Seolah saat kau memikirkan satu elemen. Yang keluar justru dasarnya."

Lunaris langsung menoleh tajam. "Dasarnya?"

Evangeline mengangguk."Api itu cahaya. Es berasal dari air. Tanah ..." Ia berpikir sejenak. "Hmm ... aku tidak terlalu yakin kenapa tanah jadi angin."

Lunaris terdiam lama. Mata Luna bersinar penuh rasa ingin tahu. "Menarik."

Ia menoleh pada Elara. "Coba sesuatu. Jika kau ingin membuat es jangan pikirkan es pikirkan air."

Elara mengangguk. "Baik."

Elara mengangkat tangannya untuk mencoba.

Fokus.

Energi sihir mulai berkumpul.

Elara memikirkan air.

Beberapa detik berlalu.

Sebuah bola air muncul di telapak tangannya. Elara menatap bola air itu.

"Tetap air," ujar Elara.

Lunaris menghela napas. "Bukan teori itu ternyata."

Aaron akhirnya berbicara. "Mungkin. Mungkin partikel elemen yang Elara tangkap berbeda dengan kita. Mungkin karena energinya adalah energi kuno. Kita semua belajar sihir modern sejak kecil. Tapi Elara ... tubuhnya mungkin menggunakan metode yang berbeda."

Lunaris berpikir keras. "Itu masuk akal." Namun ia segera menggeleng. "Tapi kalau begitu, bagaimana menjelaskan sihir penyembuhan?"

Semua terdiam.

Memang benar. Berkat latihan bersama Lunaris, Elara sudah mulai bisa menggunakan sihir penyembuhan. Walaupun belum sempurna.

Leonhart tiba-tiba berkata, "Apa mungkin karena energinya adalah Aether yaitu sihir cahaya jadi sihir penyembuhan cocok dengannya?"

PLAK!

Lunaris langsung memukul lengan Leonhart dan berkata, "Jangan asal berteori, Dasar Otak Otot! Jangan tidur saat kelas teori!"

Leonhart mengusap lengannya. "Maaf, bisa saja kemungkinannya begitu, 'kan?"

Lunaris mendesah. "Sihir penyembuhan adalah sihir kehidupan. Itu gabungan banyak elemen. Cahaya hanya manifestasi seperti halnya pada rune dan juga rapalan mantra lainnya."

Leonhart mengangguk. "Oh."

Lunaris memijat pelipisnya. "Aku harus mempelajari konsep Aether lagi untuk mencari tahu kendala Elara."

Namun saat itu Elara tiba-tiba meremas dadanya.

DEG!

Jantungnya berdetak sangat keras.

Sakit.

DEG!

Sangat sakit.

Seolah ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuh Elara.

"Ugh!" ringis Elara.

Evangeline langsung menyadari perubahan wajah temannya itu.

"Elara?"

Elara terengah. Tangannya mencengkeram dada. Napasnya berat.

"Senior!" Evangeline berteriak panik.

Aaron langsung berlari mendengar teriakan Evangeline. Ia berlutut di depan Elara.

"Lala!" Aaron panik ketika melihat Elara tiba-tiba pucat.

Leonhart juga mendekat. "Ada apa?"

Aaron merasakan energi di tubuh Elara dan langsung bertambah panik.

"Energinya tidak stabil!" ujar Aaron.

Detik berikutnya Elara tiba-tiba memuntahkan darah.

"UGH!" ringis Elara.

Aaron membelalakkan mata. "Lala!"

Wajah gadis itu memucat. Tubuhnya gemetar. Jantungnya terasa seperti akan pecah.

Tanpa ragu Aaron langsung mengangkat tangannya. Lingkaran sihir penyembuhan muncul di double dengan sihir penstabil.

Cahaya hangat menyelimuti tubuh Elara.

Aaron menggertakkan gigi. Ia menuangkan energi sihirnya ke dalam mantra itu.

Beberapa detik terasa seperti selamanya.

Elara terus batuk darah.

Aaron mulai panik dan hilang konsentrasi melihat keadaan Elara.

"Bertahanlah, Lala. Sedikit lagi."

Akhirnya cahaya sihir itu stabil.

Napas Elara perlahan kembali normal. Namun tubuhnya kehilangan tenaga. Matanya menutup.

Elara pingsan.

"Lala?!" Aaron menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh ke tanah.

Luna panik luar biasa melihat keadaan Elara.

Aaron langsung berdiri. "Aku membawanya ke ruang kesehatan!"

Tanpa menunggu jawaban Aaron mengaktifkan sihir teleportasinya. Lingkaran sihir besar muncul di bawah kakinya.

Cahaya menyala.

Dan dalam sekejap ...

Aaron dan Elara menghilang dari lapangan latihan. Meninggalkan tiga orang yang panik dan langsung berlari menuju ke ruang kesehatan.

1
Miss Typo
Elara kah yg bisa mengalahkan Astrelia nantinya????
Miss Typo
akhirnya ayang Edgar muncul juga 😍

dah selesaikah makan seblaknya dgn othor???😁
Vina Fy
👍👍
Husna
huufffttt ikut ngos-ngosan

dan akhirnyaaaa....

astrelia muncul deh jeng jeng jeng
Raisha: capek ya kak😪 tp ternyata lom selesai, ratu kegelapan malah muncul😲😪
total 2 replies
Vina Fy
tuh kannn... edgar pasti dimunculin pas mau kalah🤭
Archiemorarty: Ohoho...benar sekali 🤭
total 1 replies
Eli Rahma
gak sabar nunggu up selanjutnya
Eli Rahma
kemana saja kau Edgar..dari kemarin aku nyariin loh..
Archiemorarty: Noh dah muncul kan dia 🤭
total 1 replies
Mulyani Asti
kan...kan ... kebiasaan kan selalu di gantung² gini perasaan aku😱😱
Archiemorarty: Muahahaha
total 1 replies
Miss Typo
thor Kael siapa thor? bolak balik tak baca bingung, bukannya Aaron 🤔
Miss Typo: Iya thor baru ngeh, pikiran ku Aaron mulu 🙈
total 2 replies
Raisha
Luar biasa memacu adrenalin, ikut deg²an ketika adegan perang,meski penuh darah,airmata,tipu muslihat & intrik tetap ada cinta & kasih sayang di dalamnya,rasa persaudaraan,persahabatan & saling memiliki yg begitu kuat di antara mereka😍😍... terimakasih untuk cerita yg luar biasa ini kak author,lophe² seangkasa dg seluruh kekuatan ilmu sihir & pedang yg aku miliki🙏😍🫂😂😂....serasa punya kekuatan aku tuch🤭😂🤣🤣
Raisha: sama² Thor...semangat nulis cerita yg bagus ya Thor 💪😍😂
total 2 replies
Pawon Ana
ini Elara sama Leon lebih cocok jadi duo balita kembar...Aron jadi pengasuh...🤭✌️
Archiemorarty: Hahaha...bener banget 🤣
evan yg kembaran Elara aja kalah kelakuannya
total 1 replies
j4v4n3s w0m3n
aduh kaka itu.si trolllnya mau ngeluarin apa pinisirin kak 😂🤭
mimief
hissss...othor nanggung bet yaaa🥹🥹🥹
jadi yg mati bakalan siapa ini 🫣
Archiemorarty: Ehhh...jan gitu ya...mau berakhir angst Tah 😎
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
Edgar, duchess Liora sama duchess daria belum gabung ya thor🤭
Archiemorarty: Edgar bakal muncul di update hari ini.

kalau liora sama Daria nanti bakal ada jeng jeng munculnya 🤣
total 1 replies
nana nokus
leona ...mana....kak...
Husna
oh my... aku deg-degan
Ita Xiaomi
Bocil berdebat, baby sitter auto darting🤣
Raisha: 🤣🤣🤣🤣bener banget Thor
total 5 replies
Eli Rahma
aku masih mencari Edgar..kemana yah thor
Archiemorarty: Muncul kok dia di update hari ini 🤭
total 1 replies
Made Putu Sridana
aku tungguu akak... semangat💪, makin sukeeee😍
Qiqi Maryam
eh eh ko gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!