Kaelen Voss, pemuda yang dianggap sampah karena tak memiliki kekuatan apa pun seketika mendapatkan kekuatan legendaris Sistem Penguasaan Elemen. Dia mampu mengendalikan segala elemen, dari dasar hingga yang terkuat. Melalui perjalanan dan pertempuran, dia bangkit dari keterpurukan, mengungkap rahasia masa lalu, dan akhirnya mengalahkan penguasa kegelapan untuk menjadi sosok terhebat yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teruslah Kau Mengawasiku, Valerius!
Namun sekeras apa pun elemen itu melawan. Dia tetaplah energi alam. Dan Kaelen adalah wadah mutlak yang diciptakan untuk menampung segalanya.
Perlahan namun pasti, keganasan itu mereda. Asap hitam yang tadinya liar itu kini berubah menjadi aliran energi yang halus dan terkendali, berputar rapi di dalam dada Kaelen, di antara inti-inti elemen lainnya. Rasa sakit itu berubah menjadi rasa dingin yang unik. Rasa kekuatan baru yang membuatnya merasa seolah bisa menyatu dengan bayangan apa pun di dunia ini.
[PENYERAPAN SELESAI. JUMLAH: KECIL (SESUAI PERINTAH).]
[ELEMEN GELAP: TINGKAT DASAR 10%]
[PENGUASAAN: AWAL. PEMAHAMAN DASAR TERSIMPAN. PENGETAHUAN TAMBAHAN DIPEROLEH.]
Kaelen menghela napas panjang, lalu membuka matanya kembali. Di manik matanya yang hitam. Sesaat terlihat kilatan bayangan gelap yang berkedip lalu menghilang. Tubuhnya terasa berbeda, lebih lengkap, lebih dalam.
Kaelen menatap sisa-sisa asap yang masih ada di wadah kaca itu. Dia sengaja hanya menyerap sebagian kecil saja. Cukup untuk memahami konsep dasarnya. Cukup untuk membuka jalan agar nanti dia bisa mencari sumber elemen ini di luar sana dalam jumlah yang lebih besar. Jika dia menyerap semuanya sekarang. Tubuhnya yang masih dalam pemulihan pasti akan hancur lebur.
"Jadi masih ada elemen seperti ini," gumam Kaelen sambil berjalan mengelilingi ruangan itu. Matanya kini jatuh pada tumpukan buku tua yang berserakan di sudut ruangan.
Kaelen mengambil salah satu buku itu. Menyeka debu tebal di sampulnya. Judulnya hampir tidak terbaca, namun isinya sangat berharga. Di sana tertulis klasifikasi lengkap elemen-elemen yang ada di alam semesta, klasifikasi yang sengaja dihapus dari buku pelajaran akademi.
Kaelen membacanya dengan cepat. Matanya bergerak lincah mengikuti barisan tulisan kuno itu. Dan semakin dia membaca, semakin lebar matanya terbelalak kaget sekaligus gembira.
Ternyata elemen dasar seperti Api, Air, Tanah, Angin, dan Petir hanyalah elemen tingkat rendah yang paling mudah ditemukan. Di atasnya, ada elemen tingkat menengah seperti Es, Logam, dan Alam. Lalu ada elemen tingkat tinggi seperti Cahaya, Gelap, dan Ruang. Dan di puncak segalanya, ada elemen-elemen mitos yang hampir tidak pernah ada pemiliknya, seperti Waktu, Kehidupan, dan Kematian.
Para pendiri akademi, keturunan pengkhianat itu sengaja menyembunyikan keberadaan elemen tingkat tinggi dan mitos ini agar tidak ada siswa yang berkembang terlalu jauh dan mengancam kekuasaan mereka. Mereka mengajarkan bahwa hanya ada lima elemen utama, dan itulah batas kekuatan manusia.
"Penipuan besar," bisik Kaelen dengan nada dingin. "Mereka membatasi pengetahuan semua orang agar mereka tetap menjadi penguasa mutlak yang satu-satunya mengetahui kebenaran. Mereka menganggap elemen ini berbahaya. Padahal mereka hanya takut jika ada orang yang menguasainya dan menjadi sekuat Elzar Voss kembali."
Kaelen menutup buku itu perlahan. Hatinya kini dipenuhi tekad yang semakin kuat. Penemuan ini di ruang terlarang ini adalah terobosan terbesar baginya sejauh ini. Dia sadar sekarang, perjalanannya masih sangat panjang. Dia belum apa-apa. Dia baru menyentuh permukaan kekuatan sejati.
Ada elemen Gelap yang baru saja dia mulai pelajari. Ada elemen Cahaya yang belum dia temukan. Ada elemen Ruang yang konon bisa melintasi jarak tak terukur. Belum lagi elemen-elemen mitos seperti Waktu dan Kehidupan yang keberadaannya nyaris menjadi legenda belaka. Semua itu kini menjadi tujuan baru yang jelas di hadapan matanya.
Kaelen menyimpan kembali buku tua itu ke tempat asalnya dengan hati-hati. Dia tidak mengambil atau merusak apa pun, karena dia tahu jika ada pihak yang mengetahui rahasia ruangan ini telah terbuka, dia akan mendapatkan masalah besar. Segel sihir yang telah dia buka tadi pun dia perbaiki kembali menggunakan elemen Tanah dan sedikit sisa energi Gelap yang baru dia miliki untuk menyatukan kembali retakan-retakan itu hingga tampak sama persis seperti sedia kala, seolah tidak pernah tersentuh siapa pun selama ratusan tahun.
Saat Kaelen berbalik meninggalkan ruangan terlarang itu, sistem di dalam benaknya kembali bergema, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius dan penuh makna.
[INFORMASI DIPERBARUI: KLASIFIKASI ELEMEN LENGKAP TERSIMPAN.]
[TUJUAN UTAMA DIPERJELAS: MENJADI PENGUASA MUTLAK BERARTI MENGUASAI SEGALA JENIS ELEMEN, BAIK YANG DIKETAHUI MAUPUN YANG TERSEMBUNYI.]
[PERINGATAN BARU: DETEKSI JEJAK ENERGI GELAP YANG LEBIH KUAT DAN TUA DI LUAR AKADEMI. SUMBERNYA BELUM DIKETAHUI. WASPADALAH, KARENA MEREKA JUGA AKAN MERASAKAN KEHADIRANMU SEKARANG.]
Kaelen berhenti melangkah sejenak. Dia mengerutkan kening mendengar peringatan itu. Jadi, dia bukan satu-satunya yang memiliki kekuatan semacam ini? Ada kekuatan lain yang menggunakan elemen Gelap di luar sana? Pikiran itu membuatnya sadar bahwa dunia ini jauh lebih luas. Lebih berbahaya, dan lebih kompleks dari pada yang dia bayangkan. Para musuh keluarganya bukan hanya bangsawan sombong atau guru akademi yang menutupi kebenaran. Di balik layar, mungkin ada kekuatan-kekuatan kuno yang masih bertahan. Menunggu kesempatan, atau merencanakan sesuatu yang mengerikan.
Kaelen melanjutkan langkahnya keluar dari perpustakaan. Kembali ke lorong-lorong yang terang dan ramai. Udara segar yang dia hirup terasa berbeda sekarang. Setiap partikel kecil di udara kini terlihat lebih jelas. Lebih berwarna, dan lebih bermakna di matanya. Kehadiran elemen Gelap yang ada di dalam dirinya, meski sedikit telah membuka "mata batin"-nya ke tingkat yang baru. Dia bisa merasakan keberadaan orang lain di balik dinding. Bisa merasakan niat jahat atau baik dari jarak yang cukup jauh, dan bisa melihat aliran energi yang tersembunyi dari siapa pun yang lewat di dekatnya.
Saat Kaelen melangkah keluar dari pintu utama perpustakaan. Matahari pagi yang cerah menyinari wajahnya. Biasanya, cahaya terang seperti itu akan membuat energi bayangan di dalam dirinya sedikit tertekan, namun kini Kaelen justru merasakan keseimbangan yang indah. Panasnya sinar matahari diserap oleh elemen Api dan Petirnya.
Sementara sisa bayangan di sudut-sudut bangunan disambut oleh elemen Gelap barunya. Kaelen adalah jembatan yang menghubungkan segala pertentangan alam.
"Kaelen!"
Suara akrab memecah lamunannya. Dari kejauhan, Lira dan Dimas berlari kecil menghampirinya. Wajah Lira tampak lega bercampur cemas.
Sementara Dimas menghela napas panjang seolah baru saja kehilangan jejak temannya.
"Kau ke mana saja? Dokter bilang kau masih butuh istirahat, tapi saat kami datang ke kamar, kau sudah hilang," kata Lira sambil memeriksa tubuh Kaelen dari atas ke bawah, memastikan tidak ada luka baru. "Kau belum pulih sepenuhnya, tahu? Setelah apa yang kau lakukan pada Baron."
Kaelen tersenyum hangat menenangkan kedua temannya. "Aku baik-baik saja. Tubuhku pulih lebih cepat dari yang kau duga. Aku hanya ingin mencari beberapa buku lama di perpustakaan. Ada banyak hal yang perlu aku pelajari. Hal-hal yang tidak diajarkan di kelas."
Dimas menatap tajam ke mata Kaelen, seolah mencoba menembus pikiran temannya. Ada sesuatu yang berbeda. Aura Kaelen yang tadinya hanya kuat dan kokoh. Kini terasa lebih dalam. Lebih misterius, dan lebih sulit dipahami. Seolah ada samudra luas yang tersembunyi di balik sosok pemuda itu.
"Kau berubah lagi," ucap Dimas pelan. "Setiap kali kau menghilang sebentar, kau kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Kadang aku bertanya-tanya, Kaelen. Apa sebenarnya batas kemampuanmu? Apakah kau benar-benar manusia biasa seperti kami?"
Pertanyaan itu jujur dan penuh rasa ingin tahu tanpa ada niat buruk. Kaelen menatap kedua sahabatnya ini. Orang-orang yang tulus mendukungnya meski tidak tahu asal-usulnya yang sebenarnya. Dia tidak bisa menceritakan segalanya, belum saatnya. Tapi dia bisa memberi mereka janji.
"Aku manusia biasa, Dimas," jawab Kaelen lembut namun tegas. "Aku hanya anak yang dulunya dianggap sampah. Satu-satunya perbedaan adalah aku tidak pernah berhenti belajar. Tidak pernah berhenti mencari, dan tidak akan membiarkan siapa pun membatasi apa yang bisa aku capai. Dan kalian berdua adalah bagian dari perjalanan itu. Jangan pernah ragu akan hal itu."
Lira tersenyum lebar. Matanya berbinar cerah. "Sudah, sudah. Yang penting kau sehat dan aman. Ngomong-ngomong, ada kabar baru. Sejak kekalahan memalukan Baron. Kelompok Mahkota Emas jadi sangat diam. Tidak ada yang berani mengganggu siapa pun lagi. Bahkan Pangeran Reynald terlihat sering pergi ke gedung administrasi dan ruang rapat para guru. Sepertinya ada sesuatu yang sedang mereka persiapkan."
Wajah Kaelen kembali serius. Dia tahu, kekalahan Baron hanyalah pukulan bagi kebanggaan mereka, tapi belum menghancurkan kekuatan mereka sepenuhnya. Reynald masih ada, dan di belakang Reynald masih ada keluarga kerajaan, para bangsawan tua, dan kekuatan politik yang besar. Kaelen juga ingat peringatan sistem tentang jejak energi Gelap lain di luar sana. Permainan ini semakin rumit.
"Biarkan mereka bersiap," jawab Kaelen dingin. "Semakin besar rencana mereka. Semakin besar pula kejatuhan mereka nanti. Kami baru saja mulai, dan mereka belum melihat apa-apa."
Kaelen menatap lurus ke arah menara tertinggi akademi yang menjulang di tengah kompleks bangunan itu, tempat di mana para Guru Besar dan Dewan Akademi berkumpul. Di sana, dia merasakan getaran energi yang sangat tua dan kuat. Energi yang mengawasi setiap gerak-geriknya sejak dia masuk ke tempat ini.
"Valerius," batin Kaelen. "Kau pasti sudah tahu aku ada di perpustakaan tadi. Kau pasti sudah curiga sejak lama. Kau diam saja karena kau menunggu sesuatu, atau karena kau takut. Tapi tidak masalah. Biarkan kau mengawasi. Karena saat aku menguasai elemen-elemen lain. Saat aku menemukan Cahaya, Ruang, dan yang lainnya, kau akan menjadi orang pertama yang menyadari bahwa ketakutan terbesarmu telah menjadi kenyataan."
Kaelen menarik pandangannya, lalu berjalan beriringan dengan Lira dan Dimas kembali ke asrama. Di dalam saku jubahnya, tersimpan selembar kertas kecil yang dia ambil diam-diam dari buku di ruang terlarang itu. Berisi peta samar dan petunjuk arah ke lokasi yang disebutkan sebagai Sumber Cahaya Purba.
Perjalanan untuk menguasai Elemen Mutlak semakin dekat. Babak baru telah dimulai, dan kali ini, Kaelen tidak lagi hanya berjalan di jalur yang dikenal orang banyak. Dia kini berjalan di jalur terlarang. Jalur rahasia yang membawanya menembus batas pemahaman manusia, menuju takdir besar yang telah menunggunya selama ribuan tahun.
seperti biasa kakak selalu putus tengah jalan😩...suasananya seru+ kepo tau..../Scream/