Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Keesokan paginya, matahari pagi mulai bersinar masuk melalui celah gorden, membawa kehangatan di dalam kamar pengantin. Daniel perlahan terbangun dari tidurnya. Namun, begitu kesadarannya terkumpul, ia menyadari bahwa kejadian kemarin pagi kembali terulang.
Ia masih tidur dalam posisi memeluk erat tubuh Shanum. Bahkan, kali ini wanita itu tampak begitu nyaman menyandarkan kepalanya tepat di atas dada bidangnya. Sebuah senyuman manis dan tulus yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya, kini terukir di wajah tampan sang dokter. Daniel menatap lekat setiap guratan indah dan polos pada wajah Shanum yang masih terlelap.
'Num, kenapa tidur di dekatmu bisa senyaman ini? Berbeda sekali dengan apa yang aku rasakan dulu saat bersama Klara. Dan... akh, kenapa semalam aku bisa memelukmu seerat ini? Tapi yang lebih membuatku bingung, kenapa kau juga tidak menolak ku?' ucap Daniel dalam hati, masih tidak percaya dengan peristiwa manis yang menyapa paginya.
Tanpa sadar, didorong oleh rasa hangat yang membuncah di dadanya, Daniel menundukkan kepalanya sedikit lalu mengecup lembut pucuk kepala Shanum.
Sentuhan itu rupanya membuat Shanum menggeliat kecil. Wanita itu perlahan membuka kelopak matanya yang masih sayup. Begitu kesadarannya pulih dan menyadari posisinya, sikap Shanum tidak seheboh kemarin pagi. Tidak ada teriakan panik. Hanya saja, rona merah pekat langsung menjalar di kedua pipinya, yang berusaha keras ia sembunyikan dengan menundukkan kepala di depan suaminya.
Anehnya, Daniel seolah tidak ingin melepaskan pelukan itu. Ia justru tetap melingkarkan lengannya, menatap lekat wajah Shanum yang tertunduk malu.
"Terima kasih... Shanum," bisik Daniel lembut.
Mendengar bisikan itu, Shanum memberanikan diri mendongak. Ia menatap langsung wajah sang dokter dari jarak sedekat ini, tanpa halangan kacamata yang biasanya menghiasi kedua mata elangnya yang tajam.
"Pak Dokter... sudah mendingan?" tanya Shanum dengan suara cicitan, sambil reflex meletakkan punggung tangannya di atas kening Daniel untuk mengecek suhu tubuh suaminya.
Daniel terkekeh pelan. "Sepertinya sudah. Obat penurun panasnya bereaksi sangat cepat... dan mungkin, karena semalam dipeluk sama kamu."
Deg!
Jantung Shanum serasa melompat. Untuk pertama kalinya, ia mendengar gombalan receh namun mematikan meluncur dari bibir suaminya yang terkenal dingin itu. Shanum seketika menjadi gugup dan kaku saat Daniel terus memandanginya dengan tatapan mata yang sarat akan binar penuh arti. Shanum pun hanya bisa membalas pandangan pria di hadapannya, yang tangannya masih nyaman melingkar di pinggang rampingnya.
Suasana pagi yang tenang itu mendadak berubah menjadi sangat intens. Dua insan yang sebenarnya sudah mulai ditumbuhi benih-benih perasaan ini mulai menunjukkannya lewat tindakan. Perlahan, tangan Daniel bergerak naik, meraih dagu Shanum dengan lembut lalu mendongakan nya, memaksa wanita itu menatap matanya.
Daniel semakin mendekatkan wajahnya. Shanum sendiri seolah tersihir oleh pesona pria di hadapannya yang selalu berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Ia tidak menolak, bahkan perlahan memejamkan matanya.
Dalam hitungan detik, sebuah ciuman lembut, hangat, dan penuh perasaan mendarat sempurna di bibir Shanum.
Awalnya hanya tempelan lembut, namun perlahan berubah menjadi pagut4n yang dalam. Keduanya saling memagut, menyalurkan rasa yang selama ini mereka sangkal di dalam hati, seolah enggan untuk saling melepaskan.
Namun, di tengah ciuman yang memabukkan itu, sekelebat bayangan tiba-tiba melintas di benaknya Shanum. Surat kontrak pernikahan mereka! Potongan kalimat perjanjian hitam di atas kertas itu mendadak menampar kesadarannya. Shanum tersentak. Ia sadar ia tidak boleh bertindak sejauh ini, dan ia tidak boleh sampai jatuh hati pada pria di hadapannya jika tidak ingin terluka pada akhirnya.
Dengan sisa kesadarannya, Shanum mendadak menghentikan pagut4n mereka. Ia mendorong pelan dada Daniel, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dengan napas memburu dan wajah merah padam, Shanum langsung beranjak dari atas tempat tidur dan berlari kencang menuju kamar mandi.
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup rapat, meninggalkan Daniel yang kini termenung seorang diri di atas tempat tidur. Bukannya marah atau kecewa karena ditinggal mendadak, Daniel justru menyentuh bibirnya sendiri. Sebuah senyuman puas terukir di wajahnya sembari mengusap sisa saliva mereka. Perasaan Daniel benar-benar sedang berbunga-bunga pagi ini. Merasa suasana hatinya sudah membaik, Daniel pun beranjak bangkit dan kembali ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap dengan hati yang riang.
Namun, kondisi sebaliknya justru dialami oleh Shanum di dalam kamar mandi. Ia berdiri menyandarkan punggungnya di balik pintu, merutuki dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Ia tidak habis pikir kenapa dirinya bisa begitu mudah terbawa suasana dan terbuai oleh pesona Daniel.
Shanum menyentuh bibirnya yang masih terasa basah dan hangat bekas ciuman manis barusan.
"Shanum bodoh! Kenapa kau diam saja dan membiarkan Pak Dokter menciummu tadi?" bisiknya frustrasi sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Namun, di balik rasa sesalnya, sebuah pertanyaan lain muncul di kepalanya.
'Tapi... kenapa Pak Dokter menciumku? Apa hanya sekadar melampiaskan hasrat, atau ada arti lain? Kenapa setelah sembuh dari sakit dia malah menjadi seaneh ini?' tanyanya dalam hati, kebingungan setengah mati menebak isi hati sang dokter es yang mendadak mencair di pagi hari.
*
*
Setelah kejadian mendebarkan di kamar pengantin pagi itu, Daniel memutuskan untuk mengambil cuti dan tidak masuk bekerja di rumah sakit sampai besok. Langkah ini ia ambil selain untuk memulihkan sisa energinya setelah demam semalam, juga untuk mempersiapkan mental menghadapi sidang perebutan hak asuh Ziva besok. Daniel memilih untuk beristirahat total di rumah, tempat di mana kini ada Shanum dan Baby Ziva yang tanpa sadar telah menjadi poros ketenangannya.
Sementara itu, setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian yang rapi, Shanum bergegas menuju kamar Baby Ziva. Rasa canggung yang teramat sangat membuatnya ingin bersembunyi lebih lama di sana. Dengan penuh kasih sayang, Shanum mengangkat tubuh mungil Ziva ke dalam dekapannya, menimangnya dengan lembut sembari berjalan pelan mengitari kamar.
Saking bingungnya memikirkan perubahan sikap Daniel, Shanum akhirnya meluapkan isi hatinya dengan mengajak bayi mungil itu mengobrol, meskipun ia tahu Ziva belum mengerti apa yang ia ucapkan.
"Ziva... ada apa ya dengan Papahmu? Kenapa pagi ini dia berubah menjadi sangat berbeda sekali?" tanya Shanum lirih, menatap lekat sepasang mata bulat Ziva yang jernih.
Seolah merespons kebingungan ibu sambungnya, Baby Ziva mulai mengoceh riang dengan bahasa bayinya yang menggemaskan. "Agu... Buu.. da.. da.. aaa!" ucap Ziva dengan air liur yang sedikit menetes di sudut bibirnya, lalu bayi itu tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit.
Melihat respons spontan itu, Shanum tidak bisa menahan senyumnya. Rasa cemas di dadanya mendadak menguap, digantikan oleh rasa gemas yang luar biasa. "Ih, kau ini... ditanya serius malah terlihat sangat bahagia sekali!" ucap Shanum lagi sambil mencubit pelan pipi gembil Ziva.
Tak berselang lama, pintu kamar diketuk pelan. Bik Sumi muncul di ambang pintu dengan senyum ramah. "Non Shanum, dipanggil ke bawah untuk segera sarapan pagi. Tuan Daniel, Nyonya Tania, dan Tuan Lee sudah menunggu di meja makan."
Jantung Shanum seketika mencelos. Dengan perasaan yang campur aduk antara malu dan gugup, ia mengangguk patuh. Sembari menggendong Baby Ziva yang sudah kenyang lebih dulu setelah meminum ASI, Shanum melangkah turun menuju ruang makan.
Setibanya di ruang makan, atmosfer mendadak terasa sarat akan ketegangan yang menggelitik. Begitu mendengar langkah kaki Shanum mendekat, Daniel seketika kehilangan keberaniannya untuk menatap sang istri. Pria itu buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk memotong dan menyantap roti bakar di piringnya dengan gerakan kaku.
Nyonya Tania yang duduk di seberang meja, memperhatikan gelagat tidak biasa dari putra sulungnya itu. Ia menyembunyikan senyum gelinya di balik cangkir teh.
'Daniel... Daniel... wajahmu yang kaku itu tidak bisa membohongi Mamah. Kau persis seperti anak remaja yang sedang kasmaran dan jatuh cinta!' batin Nyonya Tania bersorak senang.
Shanum kemudian mengambil posisi duduk di kursi tepat di samping Daniel setelah menyerahkan Ziva sebentar kepada Bik Sumi. Begitu tubuh mereka berdekatan, Shanum bisa merasakan debaran jantungnya berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Namun, ia berusaha sekuat tenaga mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat gugup di depan mertuanya.
Saat melirik sekilas ke arah suaminya, Shanum menyadari ada yang berbeda dari penampilan Daniel pagi ini. Pria itu tidak mengenakan kemeja formal maupun jas dokternya, melainkan hanya memakai kaos polo santai berwarna abu-abu yang mempertegap bahunya, dipadukan dengan celana rumahan yang kasual.
"Mas Daniel... hari ini libur?" tanya Shanum memberanikan diri membuka suara, mencoba memecah keheningan.
Daniel sedikit tersentak, lalu berdehem pelan untuk menetralkan suaranya yang mendadak gugup. "I...iya... hari ini sampai besok aku tidak pergi ke rumah sakit. Mau istirahat di rumah saja."
Mendengar jawaban itu, Shanum langsung terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya. Di dalam hati, ia menjerit panik. Mengetahui fakta bahwa suaminya akan berada di rumah selama dua hari penuh secara sukarela, itu berarti ia harus siap mental menghadapi kecanggungan yang luar biasa selama 48 jam ke depan.
Selesai menghabiskan sarapan paginya yang terasa lambat, Shanum segera berpamitan untuk memandikan Baby Ziva. Setelah tubuh bayi itu bersih dan wangi, Shanum membawanya ke halaman belakang rumah yang asri untuk dijemur di bawah sinar matahari pagi yang sehat.
Di sudut taman belakang, terdapat sebuah tangkringan besar tempat Leo, burung kakaktua peliharaan keluarga Lee, bertengger. Shanum mendudukkan diri di bangku taman sambil memangku Ziva, lalu mulai menjahili burung pintar tersebut.
Di saat yang bersamaan, setelah tadi sempat mengobrol singkat dengan ibunya di balkon samping lantai dua, Daniel memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman belakang. Ia berniat menghirup udara segar pagi hari untuk menjernihkan pikirannya yang carut-marut oleh bayangan ciuman tadi.
Namun, langkah kaki Daniel mendadak terhenti di dekat pilar pembatas selasar. Pandangannya langsung terkunci pada pemandangan indah beberapa meter di depannya.
Di bawah siraman cahaya matahari pagi yang keemasan, Shanum dan Baby Ziva terlihat sedang tertawa terbahak-bahak bersama. Suara tawa renyah Shanum bersahutan dengan pekikan riang Ziva, yang dipicu oleh ocehan Leo si burung kakaktua yang menirukan suara Nyonya Tania memanggil nama Daniel dengan nada melengking. hijab panjang Shanum yang tertiup angin sejuk di pagi hari tampak berkilau, membingkai senyum lepasnya yang begitu cantik alami tanpa riasan apa pun.
Daniel terpaku di posisinya. Ia memandangi Shanum dan putrinya dari jarak yang cukup jauh dalam keheningan. Perlahan, Daniel mengangkat tangan kanannya, memegangi dada kirinya yang kini kembali berdetak dengan sangat kencang, bertalu-talu menimbulkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Kali ini, Daniel tidak ingin menyangkalnya lagi. Pertahanan egonya sebagai pria dingin runtuh sepenuhnya melihat senyuman wanita yang berstatus istri kontraknya itu.
'Apakah aku benar-benar menyukainya? Bukan... ini bukan sekadar suka,'batin Daniel dengan tatapan mata elangnya yang kini melunak, dipenuhi binar pemujaan yang teramat dalam.
'Aku... sepertinya sudah jatuh cinta padamu, Shanum. Aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa memungkiri lagi perasaan indah ini kepadamu,' akunya dalam hati penuh kesadaran.
Daniel bertekad di dalam lubuk hatinya untuk mengubah status pernikahan di atas kertas mereka menjadi sebuah pernikahan yang sesungguhnya.
Bersambung...
shanum menahan perasaannya jangan sampai baper lagi seperti kemarin yah takutnya dokter Daniel mengatakan seperti itu hanya untuk meyakinkan hakim dan memenangkan persidangan d hak asuk ziva yah num
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali