NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:478
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Lantai koridor SMA Nusa Bangsa terasa lebih dingin dari biasanya di bawah pijakan sepatu kets Arga. Sinar matahari pagi yang menembus ventilasi jendela seolah enggan menyentuh kulitnya, membiarkan pemuda itu tenggelam dalam bayang-bayang yang ia ciptakan sendiri sejak malam festival berakhir. Arga berjalan dengan bahu sedikit merosot, membawa tas punggung yang terasa berlipat-lipat lebih berat daripada beban buku cetak di dalamnya.

Suara tawa dan bisik-bisik di sepanjang koridor tidak biasanya terdengar begitu tajam di telinganya. Arga adalah seorang pengamat, namun pagi ini, ia merasa menjadi sasaran dari sebuah simfoni rahasia yang tidak ingin ia dengar. Di dekat mading, sekelompok siswi kelas sepuluh berkumpul sambil memegang ponsel, sesekali melirik ke arah lapangan basket dengan ekspresi antusias.

"Benar, kan? Mereka sudah resmi semalam di festival," bisik salah satu dari mereka yang suaranya tertangkap oleh indra pendengaran Arga yang terlalu sensitif.

Arga mempercepat langkahnya. Ia tidak butuh konfirmasi. Ia tidak butuh mendengar nama Nala dan Satria disandingkan dalam satu kalimat yang sama. Namun, sekolah adalah tempat di mana berita menyebar lebih cepat daripada cahaya matahari yang menyapu embun. Setiap sudut bangunan itu seolah telah terinfeksi oleh satu topik yang sama.

Di depan pintu kelas, Dimas sudah bersandar di tembok sambil melipat tangan. Wajah sahabatnya itu tidak menunjukkan cengiran jenaka seperti biasanya. Ada garis keprihatinan yang berusaha ia sembunyikan di balik tatapan matanya yang datar.

"Arga, kau sudah dengar?" tanya Dimas dengan nada suara yang sengaja direndahkan.

Arga tidak berhenti. Ia terus berjalan masuk ke dalam kelas dan menuju bangku pojoknya yang setia. "Tentang apa?" sahutnya singkat, sebuah kebohongan kecil untuk melindungi sisa-sisa harga dirinya yang masih tercecer.

Dimas menghela napas panjang dan mengikuti Arga, lalu duduk di kursi depan meja pemuda itu. "Jangan pura-pura tuli. Seluruh sekolah sedang membicarakan Satria dan Nala. Katanya mereka resmi berpacaran setelah acara Lentera Cakrawala semalam. Bahkan ada foto mereka yang tersebar di grup angkatan."

Arga meletakkan tasnya di atas meja dengan dentuman pelan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai tidak beraturan. "Itu urusan mereka, Dim. Bukan urusanku."

"Kau tahu itu bohong, Arga," ujar Dimas dengan nada yang lebih lembut namun menghunjam. "Kau sudah menjaga perasaan ini selama delapan tahun. Melihat Nala dengan orang lain itu seperti melihat rumahmu terbakar habis, sementara kau hanya berdiri di seberang jalan tanpa membawa air."

Arga terdiam. Analogi Dimas terlalu tepat untuk ia bantah. Ia menoleh ke arah jendela, memandang dahan-dahan pohon yang bergoyang pelan tertiup angin. Di kepalanya, bayangan Satria yang menyampirkan jaket ke bahu Nala semalam kembali terputar seperti film rusak yang enggan berhenti.

Pintu kelas kembali terbuka, dan suasana mendadak senyap selama beberapa detik sebelum kemudian meledak dalam keriuhan kecil. Nala masuk ke dalam kelas. Ia tampak segar dengan rambut yang diikat ekor kuda dan senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Namun, yang membuat napas Arga tertahan adalah kehadiran Satria yang berdiri tepat di ambang pintu, mengantar Nala sampai ke depan kelas.

Satria menepuk bahu Nala dengan akrab, sebuah gestur yang memancarkan kepemilikan tanpa perlu banyak kata. Nala tertawa kecil, lalu melambaikan tangan sebelum Satria berbalik menuju kelasnya sendiri di ujung koridor.

"Cie, yang sudah tidak rahasia lagi," seru salah satu teman sekelas mereka dengan nada menggoda.

Nala hanya menggelengkan kepala. Pipinya sedikit bersemu merah, namun ia tidak membantah. Ia berjalan menuju mejanya, melewati Arga yang masih terpaku menatap keluar jendela. Nala sempat melirik ke arah Arga, namun pemuda itu tidak sedikit pun memutar kepalanya. Ada dinding kaca yang tebal dan tak terlihat yang kini memisahkan mereka.

Rara Kinanti yang sudah duduk di bangkunya segera menarik tangan Nala begitu gadis itu duduk. Rara memberikan tatapan menyelidik, seolah sedang membaca setiap ekspresi di wajah sahabatnya itu. Sebagai orang yang tahu tentang perasaan terpendam Arga, Rara merasa seperti berdiri di tengah-tengah dua kereta yang akan bertabrakan.

"Jadi benar?" tanya Rara dengan suara berbisik yang hanya bisa didengar oleh Nala.

Nala terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Kami sepakat untuk mencoba, Ra. Satria orang yang baik, dan kurasa aku tidak punya alasan untuk terus menolak."

Rara mengembuskan napas. Tatapannya beralih ke punggung Arga yang tampak kaku di pojok kelas. "Kau ingat janji masa kecil itu, La? Tentang seseorang yang akan menjagamu?"

Nala mengerutkan kening, tampak berusaha menggali memori yang sudah tertutup debu waktu. "Janji yang mana? Kita masih anak-anak saat itu, Ra. Hidup tidak berjalan seperti dongeng. Kita harus realistis."

Di baris depan, Tania Larasati juga menyaksikan interaksi itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Arga hancur, meskipun pemuda itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tania ingin berbalik, ingin menanyakan keadaan Arga, namun ia tahu posisinya. Ia adalah orang yang cintanya ditolak oleh Arga, sementara Arga adalah orang yang cintanya diabaikan oleh semesta.

Arga meraih buku sketsanya dari dalam tas. Ia mulai menggoreskan pensil di atas kertas putih dengan gerakan yang cepat dan tidak beraturan. Ia tidak sedang menggambar sesuatu yang indah. Ia sedang membuang rasa sesak yang menyumbat dadanya.

"Kau mau bolos saja?" bisik Dimas, menyadari kegelisahan sahabatnya.

Arga menggeleng tanpa menghentikan goresan pensilnya. "Tidak perlu. Melarikan diri tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku sudah kalah sejak awal."

"Kau tidak kalah, Arga. Kau hanya tidak pernah memulai pertandingan," koreksi Dimas dengan nada getir.

Arga berhenti menggores. Ujung pensilnya patah di atas kertas, meninggalkan jejak hitam yang dalam. Ia melihat ke arah Nala yang kini sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain. Nala terlihat sangat bahagia, sebuah kebahagiaan yang tidak pernah bisa Arga berikan selama delapan tahun ia terjebak dalam diam.

Suara bel masuk berbunyi, menandakan dimulainya jam pelajaran pertama. Namun bagi Arga, bel itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan-harapan kecil yang selama ini ia pelihara secara sembunyi-sembunyi. Ia menutup buku sketsanya dengan perlahan, menyembunyikan patahan ujung pensil di dalamnya, sebagaimana ia menyembunyikan luka yang kini menganga lebar di dalam hatinya.

Selama pelajaran berlangsung, Arga tidak bisa fokus pada papan tulis. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah Nala. Ia menyadari ada sesuatu yang berbeda. Nala tidak lagi mengenakan jam tangan plastik murah yang dulu mereka beli bersama di pasar malam saat masih sekolah dasar. Di pergelangan tangannya, kini melingkar sebuah gelang perak elegan, yang Arga yakini adalah pemberian dari Satria.

Dunia terus berputar di sekitar Arga, penuh dengan hiruk-pikuk remaja yang sedang jatuh cinta dan gosip-gosip hangat yang memenuhi udara. Namun di pojok kelas itu, Arga Baskara merasa seolah ia sedang berada di dalam sebuah ruang hampa udara, di mana suaranya tidak akan pernah terdengar dan keberadaannya hanyalah sisa-sisa dari masa lalu yang telah dilupakan.

Ia menyentuh saku celananya, merasakan bentuk gantungan kunci robot tua yang masih ia simpan. Benda itu terasa dingin, sedingin kenyataan bahwa bagi Nala, masa lalu adalah sebuah bab yang sudah selesai dibaca dan ditutup rapat-rapat. Sementara bagi Arga, masa lalu adalah seluruh isi bukunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!