NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Sring.

Layar hijau sistem muncul menerangi kegelapan.

"Memasuki Area Tambang Warisan Keluarga Lin - Lapisan Pertama."

"Peringatan: Area tambang dipenuhi oleh energi tanah liar. Terdapat berbagai macam mineral berharga, namun juga mengundang makhluk mutasi tingkat rendah yang tertarik pada mineral tersebut. Harap selalu waspada."

"Status Misi Penjelajah Kedalaman Bumi: Berjalan."

Lin Ye menggenggam erat gagang cangkul hitamnya. Dia berjalan perlahan menyusuri terowongan. Suasana di dalam sangat sunyi, hanya terdengar suara langkah sepatu botnya yang menginjak kerikil dan sisa kayu lapuk.

Setelah berjalan sekitar lima puluh meter, lorong itu sedikit melebar membentuk sebuah ruangan bundar. Di tengah ruangan tersebut, terdapat beberapa gundukan batu berwarna abu-abu gelap yang ukurannya sebesar perut sapi.

"Ini pasti batu tambangnya," kata Lin Ye.

Dia mendekati salah satu gundukan batu tersebut. Permukaan batu itu terlihat sangat keras dan solid.

Lin Ye mengangkat Cangkul Kayu Besi Hitamnya tinggi-tinggi. Meskipun alat ini berbentuk cangkul, sistem menyebutnya sebagai alat serbaguna. Dia mengayunkan mata cangkul besi itu dengan tenaga penuh ke arah batu.

Trak.

Percikan api kecil muncul saat besi hitam itu beradu dengan permukaan batu keras. Namun, mata cangkul itu tidak penyok sama sekali. Sebaliknya, batu besar itu retak memanjang. Lin Ye mengayunkan cangkulnya untuk kedua kalinya.

Brak.

Batu abu-abu itu hancur berkeping-keping. Dari sisa-sisa pecahan batu tersebut, tidak ada apa-apa selain debu dan kerikil biasa.

"Hanya batu kosong," batin Lin Ye sedikit kecewa.

Dia beralih ke batu kedua.

Trak. Brak.

Batu kedua hancur. Kali ini, di antara pecahan batu, terdapat sebuah bongkahan kecil seukuran kelereng yang berwarna kuning tembaga.

Lin Ye memungutnya. Layar sistem langsung merespons.

"Item: Bijih Tembaga Kualitas Rendah."

"Dapat dijual ke Toko Sistem seharga 2 Koin Alam, atau disimpan sebagai bahan dasar pembuatan alat perunggu."

"Dua koin alam? Lumayan untuk permulaan," kata Lin Ye sambil memasukkan bijih tembaga itu ke dalam tas kecil di pinggangnya.

Lin Ye terus bekerja, menghancurkan lima batu berturut-turut. Dia mendapatkan tiga bijih tembaga lagi dan satu batu mineral biasa yang tidak bernilai. Pekerjaan menambang ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada mencangkul tanah, meskipun cangkulnya memberikan efek pengurangan kelelahan. Napas Lin Ye mulai memburu, dan keringat membasahi dahinya.

"Aku butuh Bijih Besi Hitam untuk menyelesaikan misi. Kenapa susah sekali mencarinya?" keluh Lin Ye.

Dia melihat sebuah batu yang ukurannya sedikit lebih besar dari yang lain, terletak di sudut ruangan yang agak gelap. Batu itu memiliki guratan-guratan berwarna hitam pekat di permukaannya.

"Itu dia. Itu pasti besi hitam," seru Lin Ye bersemangat.

Dia berjalan mendekati batu itu dan bersiap mengayunkan cangkulnya.

Cit. Cit. Krrrr.

Tiba-tiba, suara decitan tajam yang sangat memekakkan telinga bergema dari langit-langit gua yang gelap.

Lin Ye langsung mengarahkan cahaya senter kepalanya ke atas. Di sana, menggantung terbalik dengan cakar panjang yang menancap kuat pada batu, adalah seekor makhluk mengerikan.

Bentuknya mirip seperti kelelawar, namun ukurannya sebesar anjing dewasa. Sayapnya tidak terbuat dari selaput kulit, melainkan lapisan keras yang terlihat seperti serpihan batu. Mata makhluk itu menyala merah menatap lurus ke arah Lin Ye. Mulutnya dipenuhi deretan gigi tajam yang meneteskan air liur berbau belerang.

"Peringatan: Kelelawar Batu Mutasi terdeteksi. Makhluk penjaga mineral level 1. Sangat agresif jika wilayahnya dimasuki." Layar hijau sistem memberikan peringatan darurat.

Wushhh.

Makhluk itu melepaskan cengkeramannya dari langit-langit dan menukik tajam lurus ke arah wajah Lin Ye dengan kecepatan tinggi.

Lin Ye yang sudah siaga langsung bereaksi. Dia tidak berlari mundur, melainkan menggunakan momentum tubuhnya untuk memutar Cangkul Kayu Besi Hitamnya seperti tongkat pemukul bisbol.

Bugh.

Suara hantaman keras terdengar saat gagang kayu cangkul itu membentur sisi tubuh Kelelawar Batu dengan telak. Meskipun gagang itu terbuat dari kayu, kepadatannya melebihi besi biasa.

Kelelawar raksasa itu terpental ke samping dan menabrak dinding gua dengan suara debuman keras. Makhluk itu menjerit marah, mencoba bangkit berdiri menggunakan cakar sayapnya.

"Jangan beri dia kesempatan terbang lagi," batin Lin Ye. Otak analitisnya bekerja cepat merespons ancaman fisik ini.

Lin Ye melompat ke depan, mengangkat cangkulnya, dan memukulkan mata cangkul besi hitam itu langsung ke arah kepala makhluk yang sedang berusaha bangkit tersebut.

Crak.

Kelelawar Batu itu seketika berhenti bergerak. Tubuhnya berkedut beberapa kali sebelum akhirnya lemas tak bernyawa, hancur menjadi serpihan debu batu dan menghilang, hanya menyisakan sebuah kristal kecil berwarna merah seukuran kuku jari.

Lin Ye terengah-engah, jantungnya berdebar sangat kencang memompa adrenalin. Ini adalah pertarungan pertamanya melawan makhluk buatan sistem, dan untungnya dia bisa mengatasinya dengan insting dan alat yang tepat.

Dia memungut kristal merah tersebut.

"Item: Kristal Darah Monster Level 1."

"Dapat dijual seharga 10 Koin Alam."

"Lumayan. Ada hadiah tambahan karena hampir mati," canda Lin Ye dengan suara bergetar untuk menenangkan sarafnya. Dia memasukkan kristal itu ke dalam sakunya.

Setelah situasi aman, Lin Ye kembali fokus pada batu bergurat hitam yang menjadi tujuan utamanya. Dia mengayunkan cangkulnya dua kali ke arah batu tersebut.

Brak.

Batu itu pecah terbelah. Di bagian tengahnya, tergeletak sebuah bongkahan logam padat berwarna hitam legam yang tidak memantulkan cahaya sama sekali. Bongkahan itu berukuran sekepalan tangan dan terasa sangat berat saat Lin Ye memungutnya.

Ting.

Rentetan notifikasi kemenangan langsung memenuhi pandangannya.

"Misi Utama Selesai: Penjelajah Kedalaman Bumi."

"Kondisi: Berhasil menemukan dan menambang satu buah Bijih Besi Hitam."

"Menyerahkan Hadiah Penyelesaian Misi: 50 Koin Alam, Cetak Biru Modifikasi Cangkul Level 2."

"Status Tambahan: Cetak Biru telah dimasukkan ke dalam Menu Modifikasi Sistem."

Lin Ye tersenyum lebar. Rasa lelah dan ketegangan akibat pertarungan tadi langsung terbayar lunas. Dia telah berhasil membuka lapisan pertama tambang, mendapatkan bijih yang berharga, dan yang paling penting, mendapatkan cetak biru untuk meningkatkan kekuatan alat bertaninya.

"Sistem, bagaimana cara keluar dari sini? Pintunya tertutup rapat dari luar," tanya Lin Ye.

"Cukup letakkan tangan Pengguna pada sisi dalam pintu batu, dan pintu akan mendeteksi garis keturunan untuk membuka jalan keluar."

Lin Ye berjalan kembali ke arah pintu masuk, menyentuh lempengan batu tersebut, dan benar saja, pintu batu itu kembali bergeser terbuka. Lin Ye melangkah keluar menuju tonjolan batu di dasar sumur. Pintu kembali menutup di belakangnya.

Dia memegang tali tambang, memanjat naik dengan sisa-sisa tenaganya, dan akhirnya tiba di permukaan sumur.

Angin malam yang segar menyapu wajahnya, membawa kelegaan yang luar biasa. Dia menatap langit yang dipenuhi bintang, lalu melihat ke arah layar sistemnya yang menampilkan saldo Koin Alam miliknya yang kembali bertambah menjadi 83 Koin.

"Langkah selanjutnya adalah mencari sisa bahan untuk memodifikasi cangkul ini. Dengan alat level 2, baik bertani maupun menambang akan menjadi jauh lebih mudah," ucap Lin Ye sambil melangkah masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Petualangan bawah tanahnya malam ini berakhir dengan sukses besar.

1
Heri Susanto8246
😄😄 jadi ingat novel nelayan yang tidak pernah mendapatkan ikan saat memancing.
Gege
bukannya ada ruang penyimpanan sistem ya tor.. simpan saja sampe menggunung didalamnya...
Junior Ian
Bgus
Manusia Biasa
keren thor mekanik Sistem nya🤣 benar benar kaya game rpg
Manusia Biasa
jir kirain dapat ikan grade s atau gede🗿
Yui: harus out of the box kak/Smile/
total 1 replies
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
next
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Manusia Biasa
jir ada fitu memancing juga asik🤣
Manusia Biasa
wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!