NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Kuno

Tiga puluh hari berlalu tanpa siang dan malam yang jelas di atas Lautan Kabut Kematian. Kapal Tulang Hitam terus melaju membelah cairan hitam pekat, membawa tiga penumpang yang masing-masing menyimpan rahasia dan tujuannya sendiri.

Pada hari ketiga puluh satu, udara yang mencekik dan berbau belerang perlahan menghilang. Kabut tebal di depan mereka tersibak, digantikan oleh pendaran cahaya spiritual yang begitu terang hingga menyilaukan mata.

Meng Fan, yang sedang berdiri di geladak haluan, menjatuhkan labu araknya. Mulutnya terbuka lebar, matanya menatap pemandangan di cakrawala dengan ketidakpercayaan mutlak.

"Dewa Agung..." gumam Meng Fan dengan suara bergetar.

Di depan mereka, bukan sekadar pelabuhan atau kota biasa yang menyambut. Terhampar sebuah kota yang dibangun di dalam dan di sekitar kawah raksasa akibat jatuhnya sebuah bintang di masa purba. Kota Kuno Bintang Jatuh.

Ukurannya ratusan kali lipat lebih besar dari Kota Kekaisaran di Benua Biru Langit. Tembok kotanya terbuat dari batu bintang jatuh yang memancarkan cahaya perak. Di dalam kota, ribuan pulau batu kecil melayang di udara, dihubungkan oleh jembatan-jembatan cahaya. Aliran Qi Langit dan Bumi di tempat ini begitu padat hingga membentuk awan-awan putih yang melayang di jalanan kota, mengubah setiap tarikan napas menjadi proses kultivasi.

Dan tepat di tengah-tengah kota raksasa tersebut, menjulang sebuah pilar cahaya biru yang menembus langit—Gerbang Pemindah Dimensi Raksasa.

Chu Chen melangkah keluar dari ruang kapten. Ia mengenakan jubah hitam sederhana, tudungnya menutupi separuh wajahnya. Matanya yang gelap memindai kemegahan di depannya tanpa riak kekaguman, melainkan dengan ketajaman seorang pemangsa yang baru saja menemukan ladang perburuan baru.

"Kita sudah tiba," ucap Bai yang menyusul di belakang Chu Chen. Ia telah mengenakan kerudung baru untuk menyembunyikan wajahnya. "Ingat, Chu Chen. Ini bukan lagi Benua Biru Langit. Kekuatan yang kau banggakan di sana mungkin hanya cukup untuk membuatmu bertahan hidup di sini."

Kapal Tulang Hitam perlahan merapat ke salah satu dermaga udara di pinggiran kota.

Begitu mereka melangkah turun ke pelataran dermaga yang terbuat dari batu giok putih, Meng Fan kembali menelan ludah dengan susah payah. Ia melihat para pekerja kasar yang sedang memanggul peti-peti barang seberat jutaan kati dari kapal dagang lain.

"C-Chu Chen... pekerja angkut itu..." Meng Fan menunjuk dengan jari gemetar. "Mereka semua memancarkan aura Alam Inti Emas! Ahli Inti Emas menjadi pekerja angkut?!"

"Selamat datang di Wilayah Suci Primordial," bisik Bai dingin. "Di sini, Inti Emas hanyalah batas awal manusia. Jika kau tidak memiliki klan atau sekte yang menaungimu, Inti Emas hanyalah tenaga kerja murah."

Mereka bertiga berjalan menuju gerbang pemeriksaan kota. Antrean panjang para pengembara dan pedagang mengular. Di pos penjagaan, belasan pria berzirah emas berdiri dengan wajah angkuh. Di dada zirah mereka terukir lambang pedang bersilang—tanda Klan Shen, salah satu dari tiga kekuatan penguasa Kota Bintang Jatuh.

Penjaga biasa di tempat ini berada di Alam Inti Emas Puncak. Dan Komandan Penjaga yang duduk bermalas-malasan di kursi giok, memancarkan aura Alam Istana Jiwa Tahap Awal.

Ketika giliran Chu Chen tiba, Komandan Penjaga itu, seorang pria muda berwajah tajam bernama Shen Tu, melirik Kapal Tulang Hitam yang bersandar di dermaga, lalu menatap kelompok Chu Chen dengan senyum merendahkan.

"Kapal bajak laut berlumuran darah, aura Qi yang kotor dan tidak stabil," Shen Tu mendengus jijik, menyandarkan dagunya di tangannya. "Kalian adalah Pengungsi Lumpur dari benua bawah yang berhasil menyeberang. Benar-benar hama yang tidak pernah habis."

Meng Fan menundukkan kepalanya dalam-dalam, takut memicu masalah.

"Biaya masuk. Seratus Batu Roh Tingkat Atas per kepala," ucap Shen Tu santai.

"Seratus Batu Roh Tingkat Atas?!" Meng Fan berseru tertahan, melupakan ketakutannya sejenak. "Di aturan gerbang tertulis biayanya hanya sepuluh Batu Roh Tingkat Menengah!"

Satu Batu Roh Tingkat Atas setara dengan seratus Tingkat Menengah. Ini bukan lagi pemerasan, ini adalah perampokan mutlak!

Shen Tu tertawa pelan, tawanya diikuti oleh para penjaga di sekitarnya. "Aturan itu untuk manusia. Untuk sampah dari benua bawah seperti kalian, biayanya adalah nyawa kalian. Tapi aku sedang berbaik hati. Serahkan Kapal Tulang Hitam itu sebagai biaya masuk kalian, lalu wanita berkerudung itu harus ikut denganku ke pos penjagaan utama untuk pemeriksaan tubuh lebih lanjut."

Bai mengepalkan tangannya di balik jubahnya. Jika ia berada di masa jayanya, penjaga rendahan ini sudah ia bekukan menjadi patung es. Namun sekarang, ia bahkan lebih lemah dari Meng Fan.

"Dan jika kami menolak?"

Suara itu datar, tenang, dan memecah tawa para penjaga.

Shen Tu menoleh, menatap pemuda berjubah hitam yang sedari tadi diam. Ia memindai Chu Chen dan hanya menemukan gejolak Inti Emas Tahap Menengah. Senyum Shen Tu berubah menjadi seringai buas.

"Menolak? Di Kota Bintang Jatuh?" Shen Tu bangkit berdiri. Aura Alam Istana Jiwa Tahap Awalnya meledak, menekan udara di sekitar gerbang hingga membuat para pengantre lain mundur ketakutan. "Maka aku akan mematahkan keempat anggota tubuhmu dan membuangmu ke saluran pembuangan kotoran kota, Pengungsi Lumpur!"

Shen Tu melangkah maju, tangan kanannya terulur untuk mencengkeram leher Chu Chen. Ia berniat memberikan pelajaran mematikan di depan umum.

Namun, di mata Chu Chen, gerakan ahli Istana Jiwa fana ini tak lebih dari gerakan lambat seekor siput.

Bukannya menghindar atau mundur, Chu Chen mengambil setengah langkah ke depan. Tangan kirinya melesat membelah udara, melewati pertahanan Qi Shen Tu, dan langsung mencengkeram pergelangan tangan sang Komandan dengan cengkeraman baja.

Tep.

Gerakan Shen Tu terhenti mutlak di udara. Aura Istana Jiwa-nya yang menekan seketika membentur dinding tak kasat mata dari Zirah Tulang Naga Hitam milik Chu Chen, lalu hancur tanpa sisa.

"Apa...?" Shen Tu terbelalak. Ia mencoba menarik tangannya, namun tangan pemuda itu terasa seperti gunung besi abadi.

Chu Chen mencondongkan wajahnya sedikit, menatap tepat ke mata Shen Tu. Pupil hitamnya menyempit, memancarkan kilatan perak dari Niat Pedang Purba yang sangat tajam dan tak terlihat oleh orang lain.

Tanpa gerakan tambahan, Chu Chen mengalirkan seutas Niat Pedang itu melalui cengkeramannya, masuk ke dalam meridian Shen Tu.

SRAAT!

Tidak ada ledakan. Tidak ada suara keras. Hanya ada suara robekan sangat halus di dalam tubuh Shen Tu. Niat Pedang itu melesat seperti jarum tak kasat mata, memotong habis fondasi Istana Jiwa di dalam Dantian sang Komandan secara abadi.

"Ugh—!"

Shen Tu memuntahkan seteguk darah hitam kental. Matanya melotot dipenuhi kengerian mutlak. Ia bisa merasakan seluruh kultivasinya menguap dalam sepersekian tarikan napas! Ia telah menjadi manusia fana yang cacat!

"Komandan!" Para penjaga Klan Shen panik melihat atasan mereka tiba-tiba muntah darah hanya karena dipegang pergelangan tangannya. Mereka segera menghunus senjata.

Namun Chu Chen melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Shen Tu jatuh berlutut di tanah sambil memegangi perutnya dengan gemetar hebat.

Chu Chen dengan santai merogoh jubahnya, mengeluarkan tiga puluh Batu Roh Tingkat Menengah—biaya resmi yang seharusnya—lalu menjatuhkannya ke lantai tepat di depan wajah Shen Tu yang sedang muntah darah.

"Penyakit bawaanmu tampaknya kambuh, Komandan. Sebaiknya kau banyak istirahat," ucap Chu Chen dengan nada simpatik yang membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

Chu Chen melangkah melewati Shen Tu yang sedang sekarat dalam keputusasaan kultivasinya yang hancur. Ia berjalan santai memasuki gerbang Kota Kuno Bintang Jatuh, diikuti oleh Bai dan Meng Fan yang masih terpaku.

Para penjaga Klan Shen tidak berani menghalangi. Mereka menatap pemuda berjubah hitam itu dengan kaki gemetar. Tanpa menggunakan satu sihir pun, tanpa ledakan Qi, Komandan Istana Jiwa mereka hancur hanya dengan satu sentuhan. Mereka sadar, pemuda ini bukanlah 'Pengungsi Lumpur', melainkan makhluk buas yang menyamar.

Begitu mereka berada di dalam kota yang bising dan dipenuhi cahaya spiritual, Bai berjalan mendekati Chu Chen dan berbisik dengan nada penuh peringatan.

"Kau baru saja menghancurkan Dantian Komandan Klan Shen di depan gerbang mereka sendiri. Mereka adalah salah satu dari tiga penguasa kota ini. Kau memancing badai di hari pertama kita."

"Badai?" Chu Chen berhenti melangkah dan menatap ke arah pilar cahaya biru raksasa di pusat kota—Gerbang Pemindah Dimensi. Sebuah senyuman pemangsa perlahan terukir di wajahnya.

"Kedudukan dewa di benua ini telah membuat mereka terlalu nyaman, Bai. Aku tidak datang kemari untuk bersembunyi dari badai mereka. Aku datang... untuk menjadi kiamat bagi peradaban mereka."

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!