Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Lonceng di atas pintu jati butik A.R Design tidak berhenti berdenting sejak matahari menyentuh ufuk timur. Di dalam ruko baru yang elegan itu, udara tidak lagi hanya berbau cat segar, melainkan aroma mewah dari uap setrika uap industri dan harum melati dari diffuser yang diletakkan di sudut ruangan.
Arumi berdiri di tengah aula produksi di lantai dua. Di hadapannya, berjajar tujuh meja potong besar yang kini tidak lagi ia operasikan sendirian.
"Ingat, presisi adalah harga diri kita," suara Arumi terdengar tegas namun menenangkan. "Di tempat lain, satu milimeter mungkin tidak berarti. Di A.R Design, satu milimeter adalah perbedaan antara gaun yang indah dan gaun yang sempurna."
Di depannya, berdiri enam wanita yang memiliki gurat wajah serupa dengan Arumi beberapa bulan lalu, gurat kelelahan, sisa-sisa kesedihan, namun kini ada binar harapan yang mulai menyala.
Mereka adalah para janda dari lingkungan sekitar ruko lamanya dan beberapa rekomendasi dari Ibu Ratna. Ada Mbak Lastri yang suaminya meninggal karena kecelakaan pabrik, dan Shinta, janda muda yang diusir mertuanya.
Arumi tidak sekadar merekrut penjahit, ia sedang membangun sebuah 'Pasukan Jarum'.
"Ibu Arumi," Shinta mengangkat tangannya dengan ragu. "Benang sutra ini sangat halus, saya takut merusaknya. Harganya mungkin lebih mahal dari jatah makan saya sebulan."
Arumi berjalan mendekat, menyentuh pundak Shinta dengan lembut. "Shinta, lihat saya. Dulu, saya menjahit di bawah lampu minyak dengan kain perca sisa pasar. Saya juga takut. Tapi kain ini tidak akan menggigitmu. Jika kamu salah potong, kita perbaiki bersama. Di sini, kita tidak bekerja untuk rasa takut. Kita bekerja untuk membuktikan bahwa tangan-tangan yang pernah dibuang ini bisa menciptakan kemewahan yang dicari dunia."
Kalimat itu menyengat sanubari para wanita di sana. Mereka merasa dimanusiakan. Bagi mereka, Arumi bukan sekadar bos, dia adalah bukti hidup bahwa status mereka bukan akhir dari segalanya.
"Kita akan mengerjakan pesanan dari The Royal Grand Hotel untuk seragam manajer mereka," lanjut Arumi sambil membentangkan desain di meja utama. "Ini adalah kontrak besar pertama tim kita. Jika kita berhasil, nama kalian akan tercatat sebagai bagian dari sejarah A.R Design."
Bisnis Arumi benar-benar meledak setelah postingan tangannya yang viral di media sosial. Strategi 'By Appointment Only' miliknya menciptakan rasa penasaran yang luar biasa di kalangan sosialita.
Orang-orang mulai membicarakan tentang 'Desainer Misterius dari Utara' yang hanya mau menerima pelanggan yang memiliki visi seni yang sama dengannya.
Siang itu, pintu bawah terbuka. Seorang asisten butik naik ke lantai dua dengan wajah pucat.
"Ibu Arumi... ada tamu di bawah. Beliau tidak punya janji, tapi beliau bersikeras. Katanya, dia teman lama Nyonya Dinda," bisik si asisten.
Arumi merapikan kemeja kerjanya yang berwarna abu-abu arang. Ia menoleh ke arah Pasukan Jarumnya. "Tetap fokus pada jahitan kalian. Jangan menoleh sebelum instruksi saya."
Arumi turun ke lantai bawah. Di sana stands seorang wanita paruh baya dengan tas bermerek internasional yang mentereng, Nyonya Rossa, salah satu pimpinan geng sosialita Dinda.
"Jadi ini tempatnya?" Rossa menatap sekeliling dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidung. "Kecil, tapi seleranya lumayan. Saya ingin pesan gaun untuk pesta ulang tahun pernikahan saya minggu depan. Dinda bilang desainer di sini punya 'tangan ajaib'."
Arumi tersenyum, senyuman profesional yang menyimpan rahasia. "Selamat datang di A.R Design, Nyonya Rossa. Namun, seperti yang tertulis di depan, kami hanya menerima pelanggan dengan janji temu. Jadwal kami sudah penuh hingga tiga bulan ke depan."
Rossa terperangah. "Kamu menolak saya? Kamu tahu siapa saya? Saya bisa membayar lima kali lipat!"
"Ini bukan soal uang, Nyonya," Arumi melangkah mendekati sebuah manekin yang mengenakan gaun hitam dengan detail bordir tangan yang rumit. "Ini soal kualitas. Jika saya menerima Anda sekarang tanpa persiapan, saya akan mengkhianati kualitas jahitan saya. Dan A.R Design tidak menjual diri untuk kecepatan. Kami menjual keabadian."
Ketegasan Arumi justru membuat Rossa bertekuk lutut. Alih-alih marah, ia justru merasa tertantang. "Baiklah! Atur jadwal untuk saya. Kapan pun itu. Saya akan tunggu."
~~
Sore harinya, saat para penjahit sedang bersiap untuk pulang, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan butik. Ternyata itu adalah kiriman bunga dan hadiah dari para pesaing bisnis yang mulai merasa terancam, namun di sela-sela itu, ada sebuah amplop tanpa nama.
Mbak Lastri, yang sedang menyapu teras, menemukan amplop itu dan memberikannya pada Arumi.
Isinya hanya selembar kertas dengan tulisan tangan kasar. "Jangan sombong dengan ruko baru. Sampah tetaplah sampah."
Arumi merasakan dingin menjalar di punggungnya. Ini pasti perbuatan Sakti atau mungkin suruhan Mas Danu yang masih dendam. Namun, sebelum Arumi sempat bereaksi lebih jauh, ia melihat pemandangan yang luar biasa.
Para penjahitnya, Mbak Lastri, Shinta, dan yang lainnya ternyata tidak langsung pulang. Mereka berdiri berkelompok di depan pintu butik, seolah sedang berjaga.
"Ibu Arumi," ucap Mbak Lastri dengan suara berat. "Kami tadi lihat ada orang mencurigakan yang menaruh surat itu. Ibu jangan takut. Kami ini sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. Jika ada yang mencoba mengganggu ruko ini atau mengganggu Kirana, mereka harus berhadapan dengan kami dulu."
Lastri mengangkat gunting kain besarnya dengan tatapan tajam. "Kami bukan cuma penjahit di sini. Kami adalah keluarga. Ibu sudah memberi kami kehidupan, sekarang giliran kami menjaga rumah ini."
Arumi tertegun. Ia menyadari bahwa dengan memberdayakan para janda ini, ia tidak hanya mendapatkan tenaga kerja, tapi ia telah membangun perisai manusia yang tak tergoyahkan. Loyalitas yang lahir dari perut yang lapar dan hati yang terluka jauh lebih kuat daripada keamanan profesional mana pun.
Malam itu, di ruang kerjanya yang sunyi, Arumi menatap layar komputernya. Sebuah surel masuk dari alamat resmi 'Reza Textile Group'.
"Kami telah memantau perkembangan A.R Design yang sangat pesat. Direktur Utama kami, Bapak Reza, berminat untuk melakukan kunjungan pribadi ke butik Anda untuk membicarakan akuisisi merek atau kerjasama produksi jangka panjang. Mohon tentukan waktu yang tepat."
Arumi menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia mengelus permukaan meja kayu jati yang mahal itu. Ia bisa membayangkan wajah Reza yang angkuh saat menulis atau mendiktekan surel itu, pria itu selalu berpikir segala sesuatu bisa dibeli.
Ia menoleh ke arah foto Kirana yang sedang tertidur pulas di lantai atas. Lalu ia menoleh ke arah foto dirinya sendiri yang dulu kusam dan hancur.
"Kamu ingin berkunjung, Reza?" gumam Arumi. "Silakan datang. Datanglah ke sarang laba-laba yang sudah kusiapkan dengan benang-benang paling kuat ini."
Arumi mengetik balasan dengan jemari yang stabil.
"Kami menerima kunjungan Anda pada hari Jumat pukul sepuluh pagi. Namun, mohon dipastikan bahwa Bapak Reza hadir tanpa pengawalan berlebihan, karena butik kami mengutamakan ketenangan bagi para pengrajin kami. -Salam, Manajemen A.R Design."
Arumi mematikan lampu ruangannya. Di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela besar, ruko itu tampak seperti benteng pertahanan yang megah.
Bisnisnya bukan lagi sekadar cara untuk bertahan hidup, itu adalah senjata pemusnah massal yang siap diledakkan tepat di depan wajah pria yang pernah membuangnya.
Arumi berdiri tegak di balkon lantai dua, menatap ke arah pusat kota di mana gedung kantor Reza berdiri tegak. Perang dingin telah usai. Kini, saatnya perang terbuka dimulai.
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi