Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Raien
Raien baru mengetahui dirinya seorang pangeran ketika berusia sepuluh tahun.
Di usia tujuh, ia pertama kali bertemu—menolong—Caelian, yang sedang menyamar dan hampir dipukuli karena menabrak tuan muda di desa lembah terpencil itu, Lugduf. Ren, adalah nama yang ia miliki ketika itu, menghajar mereka tanpa banyak pikir, lalu kabur sambil menyeret Caelian pergi.
Mereka menjadi akrab dengan mudah. Terlalu mudah—seolah telah saling mengenal jauh sebelum hari itu.
Ren tidak pernah mempertanyakan identitas teman misteriusnya. Entah dari keluarga mana, di mana ia tinggal, apa yang ia lakukan di desa kecil mereka. Ia hanya berasumsi Caelian adalah anak bangsawan di sisi lain gunung yang sedang bosan dan sering kabur dari rumah.
Kunjungan Caelian tidak pernah menentu, namun tiap kalinya anak itu selalu datang membawa makanan lezat yang belum pernah ia lihat.
Caelian mengajarinya membaca dan menulis. Dan dia, sebagai gantinya, mengajari menangkap serangga, membaca jejak di tanah, berburu di hutan.
Ketika usianya sepuluh tahun, Caelian datang bersama seorang lain. Seorang pria dengan pakaian mewah dan bros aquamarine tersemat di kerah baju.
Ren mengira itu ayah Caelian.
Pria itu berlutut di depannya, dengan tangan gemetar menangkup wajahnya, menyentuh samar kalung batu garnet dengan ukiran bunga iris yang tergantung di lehernya. Seolah memastikan sesuatu yang selama ini hilang.
Lalu, untuk pertama kalinya ia mendengar,
“Pangeran Raien… anda—masih hidup…”
Raien,
mereka memanggilnya.
Bukan Ren.
Ren tinggal di gubuk tua dengan seseorang yang selama itu ia kira adalah kakeknya. Pria tua kurus dan sakit-sakitan yang kehilangan satu tangan—terlihat seakan bisa roboh kapan saja. Namun pria itulah yang mengajarinya bertarung.
Kakek itu bersimpuh dan menangis ketika Ren membawa Caelian dan pria asing tadi ke kediaman mereka; ia meratap, memohon ampun pada Dewa dan Kaisar, dengan suara yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya, Ren menyadari—ia tidak pernah benar-benar tahu siapa dirinya.
Ren, bukanlah namanya.
Pria yang datang bersama Caelian hari itu bukan ayahnya. Ia adalah Royal Tutor.
Dan Caelian, yang menjadi temannya dalam tiga tahun itu, adalah Putra Mahkota Kaelros.
Caelian Dravaryn. Saudaranya.
...*...
...*...
...*...
Ada terlalu banyak hal yang dijelaskan setelah itu. Terlalu banyak nama. Terlalu banyak peristiwa. Namun hanya sedikit yang benar-benar berarti baginya.
Kakeknya—sekalipun sudah tahu mereka tak memiliki hubungan darah, dia tetap menganggap pria itu kakeknya—akhirnya menyampaikan kisah.
Tentang kelahiran Raien yang hanya berjarak tiga puluh hari dari sang putra mahkota. Tentu ibunya yang kehilangan nyawa sesaat setelah ia dilahirkan. Tentang perintah untuk membunuhnya. Tentang keputusan nekat pria itu untuk menyembunyikannya, atas dasar kesetiaan. Tentang klan Amatsurugi yang tidak pernah mengetahui keberadaannya.
Istana Astryion. Ibu kota Valtheris. Tahta. Darah bangsawan.
Semua itu terasa terlalu jauh dari kehidupan yang selama ini ia kenal.
Segala kisah beserta identitas yang disodorkan padanya tidak berarti apa-apa. Ren pikir, ia tidak menginginkan apa-apa dari itu semua.
Dia sudah dianggap mati.
Biarkan saja begitu, pikirnya.
Tapi, ternyata Caelian berpikiran lain. Rupanya, sejak awal saudaranya itu telah berkeinginan lain.
Usianya dua belas ketika ia dijemput ke istana.
"Raien."
Nama itu masih terdengar asing, namun Caelian bersikukuh itu adalah namanya sejak lahir.
“Aku membutuhkanmu.”
Kala itu Caelian berkata. Lugas, tanpa sedikitpun keraguan.
“Aku akan membantumu menemukan kebenaran tentang kematian ibumu. Dan membalasnya.”
Jeda yang tercipta memberi Raien waktu untuk berpikir.
“Sebagai gantinya,” Caelian melanjutkan, nadanya ringan. “Kau milikku.”
Anak itu tersenyum—seperti ketika pertama kali ia berhasil menangkap burung Enaga.
“Kau harus selalu berada di pihakku.”
...*...
...*...
...*...
Bergabung dengan militer adalah keputusan paling mudah yang dibuat Raien. Tidak butuh waktu lama sejak ia menginjakkan kaki di istana untuk mengetahui betapa keberadaannya di sana tidak diinginkan. Tempat indah di dalam benteng itu seperti dipenuhi predator yang bersembunyi dalam kegelapan. Ia membutuhkan kekuatan. Untuk bertahan. Untuk bisa tetap berada di samping Caelian.
Keluarga Amatsurugi menawarkan perlindungan begitu mereka mengetahui dan mengakui kehadirannya. Pilihan paling aman untuknya—Tuan Melvaris, Royal Tutor yang sempat ia kira ayah Caelian, memberitahu.
Pilihan yang tidak Raien ambil.
Ia tidak terbiasa dengan keberadaan sebuah keluarga, yang lebih besar dari dua orang. Ia menerima dukungan dan bantuan mereka, berkunjung sesekali untuk mengunjungi makam ibunya, namun memutuskan untuk membangun jalannya sendiri.
Bukan jalan yang mudah. Pun bukan sesuatu yang bisa ia kenang dengan sukacita.
Namun, tak sekalipun Raien menyesali keputusannya.
...*...
...*...
...*...
Anjing pesuruh Putra Mahkota.
Olok-olok itu mencapai telinganya.
Ejekan yang tidak ia gubris.
Biarkan saja mereka berpikir demikian.
Lebih mudah untuknya.
Namun, bahkan dengan julukan itu, mereka tetap mencurigainya. Tetap meyakini bahwa dia berambisi merebut tahta.
Sungguh tolol.
Raien tahu alasan mereka mengirimnya ke Varkath.
Untuk menjegalnya. Untuk menyingkirkannya.
Untuk menjadikannya bidak demi memperkokoh posisi Caelian sebagai pewaris tahta.
Orang-orang dungu itu tidak pernah mempercayai loyalitasnya.
Sejak awal, hanya ada satu hal yang dia inginkan. Untuk Caelian berada di puncak Kaelros. Tidak tergoyahkan.
Dan untuk mewujudkan itu, Raien bersedia melakukan apapun.
Apapun.