NovelToon NovelToon
Takluk Pada Sekretaris Alana

Takluk Pada Sekretaris Alana

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKAR YANG SEMAKIN KUAT

Waktu bergulir satu bulan pasca pengangkatan Alana. Awalnya keraguan masih sempat menyelinap di sudut mata sebagian orang, namun kini, semua itu perlahan terkikis habis, berganti dengan rasa hormat yang tulus. Alana membuktikan, ia bukan sekadar penghias takhta atau istri yang dimanja kekayaan. Ia bekerja keras, teliti, dan memiliki naluri bisnis yang tajam, yang sering kali melengkapi kekurangan Devan yang cenderung berani dan tegas.

Pagi itu, di ruang rapat khusus direksi, suasana berjalan lancar dan kondusif. Alana memimpin jalannya diskusi mengenai proyek pembangunan pabrik baru di luar kota. Ia memaparkan data, risiko, hingga keuntungan dengan bahasa yang lugas namun sopan, membuat semua kepala divisi mengangguk takjub.

Devan duduk di ujung meja, diam mengamati. Matanya tak lepas dari sosok istrinya. Ia bangga, sangat bangga. Wanita yang dulu ia suruh ambilkan kopi, atur jadwal, dan siapkan berkas, kini berdiri tegak memimpin orang-orang hebat ini, dengan wibawa yang sama besarnya dengannya. Rasanya hati Devan penuh meluap, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Alana adalah kemenangan baginya juga.

Rapat selesai, para staf keluar satu per satu dengan wajah puas. Saat tinggal berdua, Devan langsung berjalan mendekat, menarik kursi Alana agar berhadapan dengannya.

"Kau hebat sekali, Nyonya Arkananta," bisik Devan, tangannya mengusap lembut pipi Alana. "Aku sampai terpesona lho. Ternyata di balik wajah lembutmu, ada ketajaman yang bisa menaklukkan ruangan penuh orang berpengalaman."

Alana tersenyum malu, menangkup tangan Devan di pipinya. "Itu karena Bapak ada di sana. Rasanya tenang dan berani, selama saya tahu Bapak ada di belakang saya."

"Kau tidak butuh aku di belakangmu, Alana. Kau sudah kuat berdiri sendiri. Tapi aku bersyukur, kau memilih tetap berjalan bersamaku." Devan mencium keningnya lama. "Karena bersamamu, akar perusahaan ini makin kuat. Aku dulu membangunnya dengan ambisi dan dendam. Sekarang, kita membangunnya dengan hati dan kasih sayang. Bedanya jauh sekali."

Siang harinya, mereka berdua turun ke lantai produksi, sesuatu yang hampir tak pernah dilakukan Devan dulu. Ia terlalu tinggi, terlalu jauh dari akar rumput. Namun kini, ia sadar, kekuatan Arkananta bukan di ruang kaca lantai atas, melainkan di tangan para pekerja yang bekerja keras setiap hari.

Melihat kedatangan mereka, para pekerja berhenti sejenak, menunduk hormat. Tapi Alana tersenyum ramah, melangkah mendekat, menyapa satu per satu, menanyakan kesejahteraan, kesulitan, hingga kondisi peralatan yang mereka gunakan. Ia mendengarkan dengan seksama, wajahnya penuh perhatian. Devan hanya diam di sampingnya, mengamati betapa istrinya begitu alami dalam menebar kebaikan.

Seorang pekerja tua, Pak Surya, memberanikan diri bicara.

"Bu Alana... kami semua berterima kasih. Sejak Ibu dan Bapak memimpin, gaji kami naik, asuransi ditambah, jam kerja jadi manusiawi. Dulu kami merasa cuma alat. Sekarang kami merasa dianggap manusia. Terima kasih, Bu, Pak."

Mendengar itu, hati Alana terasa hangat dan terharu. Ia menatap Devan, dan melihat sorot mata suaminya yang sama terenyuhnya. Devan yang dulu dikenal kejam soal biaya, kini mengerti, berbagi rezeki adalah cara terbaik melipatgandakannya.

Devan menepuk bahu Pak Surya.

"Terima kasih kembali, Pak. Tanpa kalian, gedung tinggi di atas sana cuma beton kosong. Mulai sekarang, ingat satu hal: Di Arkananta Group, manusia adalah yang utama. Dan istri saya... dialah yang mengajarkan aku hal paling dasar ini."

Sepanjang jalan pulang, suasana di dalam mobil terasa hening namun hangat. Alana bersandar di bahu Devan, menatap pemandangan kota yang berlalu.

"Devan... ternyata membahagiakan orang lain rasanya jauh lebih nikmat daripada punya harta melimpah, ya?"

"Iya, Sayang. Dan semua itu karena kau. Kau mengubahku total. Kau mengubah duniaku. Dulu aku pikir bahagia itu saat aku bisa menundukkan musuh dan menguasai segalanya. Ternyata bahagia itu sederhana: melihatmu tersenyum, melihat orang di sekitar kita aman, dan tahu kita punya satu sama lain." Devan mengecup puncak kepalanya.

Namun, di tengah kebahagiaan yang tampak sempurna itu, bayang masa lalu sesekali masih menyelinap. Sore itu, saat sedang berjalan-jalan santai di taman kompleks rumah mereka, ponsel Devan berdering. Itu telepon dari pengacara yang menangani kasus Nyonya Rina dan Dion.

Wajah Devan sedikit menegang saat mendengar penjelasan di seberang sana. Alana yang peka langsung menyadari perubahan itu, menatapnya cemas setelah telepon ditutup.

"Ada apa, Devan? Ada yang salah?"

Devan menghela napas panjang, menarik tangan Alana duduk di bangku taman.

"Belum ada yang salah, Sayang. Tapi kabar dari pengacara... Nyonya Rina dan Dion mulai berusaha saling tuduh demi meringankan hukuman masing-masing. Mereka mencoba membongkar kotor satu sama lain. Artinya, masih banyak fakta masa lalu yang mungkin bakal terungkap ke publik. Dan ada risiko, nama kita pun bakal terseret lagi ke berita."

Alana terdiam sejenak, namun tak ada lagi ketakutan di matanya. Ia mengangguk mantap, lalu menggenggam tangan Devan erat.

"Biarkan saja, Devan. Biarkan semua kotor itu terungkap sampai habis. Semakin banyak kejahatan mereka terbongkar, semakin bersih nama kita. Kita sudah tak punya apa pun yang perlu ditutupi. Kita sudah jujur, kita sudah benar. Biarkan dunia melihat siapa yang sebenarnya bermuka dua dan siapa yang tetap teguh. Kita sudah kuat, kan? Badai kecil macam ini takkan sanggup merobohkan pohon yang akarnya sudah sekuat sekarang."

Devan menatap istrinya takjub. Wanita ini makin hari makin dewasa, makin kuat, makin bijak. Ia bukan lagi Alana yang gemetar saat ditatap tajam. Ia kini adalah pendamping yang setara, yang bisa menenangkan badai di dalam diri Devan sendiri.

"Kau benar. Kau selalu benar. Aku lupa, aku bukan lagi sendirian. Kalau badai datang, kita payunginya sama-sama. Kalau tanah bergoyang, kita menguatkan satu sama lain." Devan tersenyum lega, beban di pundaknya perlahan hilang.

Malam itu, di rumah yang hangat, mereka duduk di teras belakang, menikmati angin malam dan aroma bunga yang harum. Devan memeluk Alana, membiarkan tubuh kecil itu bersandar penuh padanya.

"Dulu aku pikir, kekuasaan itu berarti berdiri paling tinggi sendirian, tak tergoyahkan siapa pun. Ternyata salah. Kekuasaan yang sesungguhnya adalah saat aku bisa melindungimu, bisa membahagiakanmu, dan bisa memastikan masa depanmu aman selamanya. Dan untuk itu, aku rela menyerahkan segalaku, menyerahkan egoku, menyerahkan hatiku. Karena aku sadar, tanpa kamu, akarku akan mati kering."

Alana mendongak, mencium bibir Devan dengan lembut namun penuh rasa syukur.

"Dan aku... aku yang dulunya cuma orang asing, kini punya dunia utuh. Segala yang Bapak punya, segala yang Bapak bisa, semuanya cukup bagi saya. Karena yang paling mahal, yaitu hati Bapak, sudah jadi milik saya selamanya."

Di bawah langit malam yang bertabur bintang, mereka berdua diam dalam keheningan yang penuh makna. Pohon kehidupan mereka sudah tertanam kuat, akarnya menyusup dalam-dalam, takkan mudah dicabut oleh angin apa pun. Kisah mereka bukan lagi sekadar tentang cinta, tapi tentang penyatuan dua jiwa yang saling menggenapi, saling menguatkan, dan saling menaklukkan satu sama lain dengan cara yang paling indah.

1
Hikayah Rahman
mampir thor
Anonim
Sejauh ini bagus sekali, semangat update yaa 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!