Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nafas di Ujung Jarum
Palawan adalah surga yang menyimpan neraka di baliknya. Dari ketinggian helikopter sewaan yang terbang rendah untuk menghindari radar militer, gugusan pulau itu tampak seperti zamrud yang dijatuhkan ke atas hamparan sutra biru. Namun, di salah satu pulau tak berpenghuni yang dikenal sebagai Isla de los Muertos—Pulau Orang Mati—berdiri sebuah fasilitas yang keberadaannya dihapus dari semua peta publik: The Sterile Zone.
Ini adalah benteng pribadi Caleb. Sebuah laboratorium genetika yang merangkap sebagai tempat penyimpanan data biologis paling rahasia di dunia.
Alea duduk di lantai helikopter, bahunya masih terasa kaku dan perih, terbungkus perban medis profesional yang dipasang Mateo sebelum mereka kabur dari Manila. Ia mengenakan setelan taktis abu-abu gelap yang pas di tubuh, lengkap dengan rompi anti-tusuk. Di pangkuannya terdapat sebuah tablet yang menampilkan skema ventilasi gedung tersebut.
"Caleb bukan seperti Helena yang pamer kekayaan, atau Surya yang pamer pangkat," suara Arka memecah deru mesin helikopter. Ia sedang mengoleskan gel kamuflase hitam di pipinya. "Caleb terobsesi dengan kemurnian. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data genetik yang bisa diperbaiki atau... dihapus."
Alea mendongak. "Dan dia memegang data kesehatan enam anggota Obsidian Circle lainnya. Artinya, dia tahu siapa yang punya penyakit jantung, siapa yang ketergantungan obat, bahkan siapa yang punya kelemahan genetik tertentu."
"Tepat," Arka mengangguk. "Jika kita mendapatkan data itu, kita tidak perlu menyerang mereka dengan pasukan. Kita bisa melumpuhkan mereka lewat titik nadi yang paling dalam. Tapi masalahnya satu: laboratorium itu kedap udara. Jika sistem mendeteksi penyusup, Caleb bisa melepaskan gas saraf dalam hitungan detik."
Mereka terjun menggunakan parasut di sisi tebing pulau yang paling curam, menghindari pantai yang dijaga oleh sensor termal. Pendaratan itu kasar. Alea mendesis saat bahunya menghantam pasir keras, namun ia segera bangkit. Rio sudah berada di sana, menyembunyikan parasut mereka di balik semak-semak.
"Waktu kita empat puluh menit sebelum patroli laut lewat," Rio memberi isyarat ke arah lubang pembuangan limbah cair di kaki bukit.
Mereka merangkak masuk ke dalam pipa pembuangan. Bau bahan kimia dan klorin menyengat hidung. Alea harus menahan mual saat air setinggi mata kaki yang terasa licin membasahi sepatunya.
Setelah merangkak selama sepuluh menit, mereka sampai di sebuah gerbang jeruji besi. Arka mengeluarkan alat pemotong laser kecil dan mulai bekerja tanpa suara. Begitu jeruji terbuka, mereka memanjat naik ke area servis lantai dasar.
Suasana di dalam The Sterile Zone sangat kontras dengan hutan tropis di luar. Dindingnya berwarna putih pucat, lampunya sangat terang hingga menyakitkan mata, dan suaranya hanya berupa dengungan mesin pendingin yang konstan.
"Rio, kau jaga jalur keluar. Alea, tetap di belakangku," bisik Arka.
Mereka bergerak seperti bayangan di koridor kaca. Di balik dinding transparan itu, Alea melihat deretan tabung inkubasi berisi cairan berwarna hijau. Di dalamnya, janin-janin atau organ manusia yang sedang dikembangkan tampak mengambang—pemandangan yang membuat bulu kuduk Alea berdiri.
"Ini gila... dia sedang bermain menjadi Tuhan," bisik Alea ngeri.
"Bagi Obsidian Circle, Tuhan adalah konsep yang terlalu lambat. Mereka ingin hasil sekarang juga," balas Arka dingin.
Mereka sampai di depan ruang arsip pusat. Pintunya tidak menggunakan kunci fisik, melainkan pemindaian retina dan pola pembuluh darah tangan.
"Alea, alat itu," Arka memberi isyarat.
Alea mengeluarkan sebuah alat kecil hasil modifikasi Elias Vance: sebuah pemindai frekuensi optik. Alat ini akan memproyeksikan pola pembuluh darah Caleb yang sempat terekam oleh kamera pengawas di klinik Manila kemarin.
Bip. Access Granted.
Pintu bergeser terbuka dengan desisan udara yang halus. Di tengah ruangan, terdapat sebuah menara server berbentuk silinder yang memancarkan cahaya biru neon. Inilah "Otak" dari The Sterile Zone.
Alea segera memasukkan micro-SD asli miliknya ke konsol utama. "Aku sedang mencoba menyalin data biometrik mereka. Arka, ini luar biasa... ada nama-nama presiden, jenderal asing, dan... ini dia. Tujuh kursi Obsidian Circle."
"Cepat, Alea. Aku punya firasat buruk," Arka berdiri di pintu, senapan serbunya terangkat ke arah koridor yang sunyi.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari sistem pengeras suara ruangan.
"Sangat impresif. Aku tidak menyangka kau akan datang ke tempat suciku secepat ini, Arkaen." Suara Caleb terdengar begitu jernih, seolah ia berada tepat di samping mereka.
Layar-layar besar di sekeliling ruangan menyala, menampilkan wajah Caleb yang kini sudah bersih dari luka, meski matanya masih terlihat sedikit merah akibat siraman alkohol Alea.
"Kau menyukai laboratoriumku? Ini adalah masa depan. Tempat di mana kelemahan manusia dihilangkan," Caleb tersenyum di layar. "Termasuk kelemahanmu terhadap jurnalis kecil itu."
"Hentikan omong kosongmu, Caleb. Kami sudah mendapatkan datamu," gertak Arka.
"Kau mendapatkan apa yang ingin kuberikan padamu," jawab Caleb tenang. "Lihat progres unggahanmu, Alea."
Alea menatap layar. Progresnya berhenti di angka 99% dan berubah warna menjadi merah. System Locked.
"Saat kau memasukkan kartu memori itu, kau baru saja memberikan 'kunci' terakhir yang kubutuhkan untuk mengakses enkripsi tingkat tinggi milik Don Malik yang kau simpan di sana," Caleb tertawa kecil. "Terima kasih, Alea. Kau baru saja melengkapi koleksiku."
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berubah menjadi merah terang. Suara sirene meraung memekakkan telinga.
"Peringatan: Protokol Dekontaminasi Aktif. Pelepasan gas Sarincin dalam 60 detik," suara komputer datar bergema.
"Sial! Arka, kita terjebak!" Alea mencoba mencabut kartunya, namun kartu itu terkunci di dalam slot mesin.
"Alea, tinggalkan! Kita harus keluar sekarang!" Arka menyambar lengan Alea.
Mereka berlari keluar ruangan, namun pintu baja berat sudah tertutup otomatis. Arka mencoba menembak kaca jendela, namun kaca itu adalah polikarbonat antipeluru setebal sepuluh sentimeter.
"30 detik..."
Asap berwarna kuning mulai keluar dari lubang ventilasi di langit-langit. Alea mulai terbatuk. Pandangannya mulai kabur.
"Arka... pintunya... tidak bisa terbuka..." Alea merosot ke lantai, tangannya memegangi lehernya yang terasa tercekik.
Arka melihat sekeliling dengan panik. Matanya tertuju pada sebuah tabung oksigen darurat di pojok ruangan yang digunakan untuk pembersihan laboratorium. Ia menembak katup tabung itu hingga meledak, menciptakan tekanan udara yang sangat besar.
BOOM!
Tekanan ledakan itu tidak menghancurkan pintu, tapi merusak sistem sensor tekanan udara di langit-langit. Arka menyeret Alea ke arah lubang ventilasi yang sedikit terbuka akibat ledakan.
"Alea, dengar aku! Tarik napas dari tabung ini!" Arka menempelkan masker oksigen darurat ke wajah Alea.
Di tengah kabut kuning yang mematikan, Arka menggunakan sisa tenaganya untuk menghantam panel kontrol manual di samping pintu dengan popor senjatanya berkali-kali. Tangannya mulai gemetar, paru-parunya terasa terbakar karena ia tidak memakai masker.
KRETEK!
Panel itu hancur, memicu arus pendek yang membuka pintu beberapa inci. Cukup untuk satu orang lewat.
"Lari... Alea... lari..." Arka mendorong Alea keluar melewati celah sempit itu.
Alea, yang baru saja mendapatkan pasokan oksigen, menarik napas dalam dan menarik tangan Arka. "Tidak tanpa kau!"
Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Alea menahan pintu itu dengan pundaknya, mengabaikan rasa sakit di bahunya yang terluka, sementara Arka merangkak keluar tepat sebelum pintu itu tertutup kembali sepenuhnya.
Mereka berdua terjatuh di koridor luar, terengah-engah, menghirup udara bersih yang dipompa dari zona aman.
"Kita... kita gagal mendapatkan datanya," bisik Alea dengan penuh penyesalan.
Arka batuk hebat, mengeluarkan sedikit darah, namun ia tersenyum tipis. Ia membuka telapak tangannya. Di sana ada sebuah chip kecil yang sempat ia cabut dari panel kontrol manual saat ia menghancurkannya tadi.
"Aku tidak butuh seluruh servernya," bisik Arka parau. "Panel kontrol manual itu menyimpan log aktivitas harian. Di dalamnya ada jadwal pertemuan fisik tujuh anggota Obsidian Circle minggu depan di Manila. Mereka akan berkumpul untuk merayakan jatuhnya kita."
Alea menatap Arka dengan takjub. Di tengah maut, pria ini masih sempat berpikir secara taktis.
"Mereka pikir kita sudah mati di sini," Alea berdiri, membantu Arka bangkit. "Mari kita biarkan mereka merayakannya. Sampai kita muncul di pesta itu dan mengubah perayaan mereka menjadi pemakaman."
Di layar monitor di dalam ruangan yang kini dipenuhi gas beracun, Caleb menatap kursi kosong tempat Arka dan Alea tadi berada. Senyumnya menghilang. Ia menyadari bahwa mangsanya bukan hanya memiliki nyawa yang banyak, tapi juga memiliki sesuatu yang tidak ada dalam datanya: sebuah tekad yang melampaui logika genetika.