Indira termangu mendengar permintaan nyonya Hamidah,mengenai permintaan putra dari majikannya tersebut.
"Indira,,mungkin kekurangan mu ini bisa menjadi suatu manfaat bagi putraku,, mulai sekarang kamu harus menyerahkan asimu buat diminum putraku,kami tahu sendiri kan? putraku punya kelainan penyakit ." ujar nyonya Hamidah panjang lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dihukum
Indira terisak, membenamkan wajahnya di bantal yang mulai basah oleh air mata. Tubuhnya bergetar bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa takut yang mulai merayap hingga ke tulang.
Ia merasa seperti domba yang terpojok di kandang serigala, di mana setiap napasnya sudah dihitung dan setiap langkahnya sudah dipetakan.
"Tuhan, aku harus bagaimana?" bisiknya parau.
Indira mulai menyesali kebaikan ibunya terhadap putra dari majikannya tersebut.
"tahu begini lebih baik aku donorkan saja asiku pada yayasan,,tidak ada syarat,tidak ada larangan apapun,," isaknya.
Indira merindukan kehidupannya dulu,di mana dia bebas mau kemana,mau kerja kelompok dengan siapa dan mau nonton bioskop pun dia bebas.
Sekarang? sebelum bel berbunyi mobil jemputan sudah berada di depan sekolah,,terkadang Toni menunggunya disana sampai selesai sekolah.
Hidupnya benar benar terkekang.
Sebelum tidur Indira membuka bra nya,lalu mencampakkan nya asal asalan.
lalu mengenakan piyama longgar yang ber kancing.
kalau tuannya datang tinggal membukakan kancing nya saja,atau kalau tidak tinggal menyingkap keatas,beres.
Indira mencepol rambutnya keatas,agar rambut panjangnya tidak berantakan,nanti tuannya yang tidak memiliki stok kesabaran itu mengamuk karena rambut tersebut.
***
Baru juga Indira terlelap,, ranjang nya bergoyang,seperti ada orang yang naik.
Bukannya aku sudah bilang padamu untuk tidak tidur dulu hmm?"
Suara bariton Arjuna membuat Indira membuka matanya,hanya sedetik.
setelahnya matanya kembali terpejam.
"Sini berbaring tuan,,aku akan menyusui tuan,," ucapnya dengan mata tertutup.
Belum juga Arjuna bergerak berbaring,,Indira menyingkap piyama nya,menampilkan kedua bobanya yang menantang,membuat liur Arjuna hampir menetes.
hap..!.
tanpa ba bi bu Arjuna melahap rakus benda kenyal itu.
Sangat nikmat.
Bukan hanya itu,Arjuna juga menggerayangi tubuh mulus Indira.
memainkan pucuk dada Indira menggunakan lidahnya.
Sesekali dia menyesap kulit wadah nya itu hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Tidak hanya satu,namun ada beberapa tanda ditinggalkan disana.
Indira tidak menyadari perbuatan tuannya,hanya sesekali mengerang kecil saat Arjuna menyesap dadanya telalu kuat.
***
Keesokan Paginya: Brighton International School
Indira turun dari mobil Bentley hitam Arjuna dengan perasaan hancur. Seragam barunya yang berbahan wol halus terasa seperti kain kasar yang membakar kulitnya. Toni, dengan setelan jas hitam yang rapi, berdiri di samping pintu mobil, menatap sekeliling dengan waspada.
"pagi pagi tadi Indira sudah memompa asinya,lalu disimpan dalam lemari pendingin.
Arjuna lah nanti yang mengambilnya dan membawanya ke kantor.
"Aku akan menjemput mu tepat pukul tiga, Indira. Jangan mencoba menggunakan pintu belakang sekolah," ujar Toni datar, seolah bisa membaca pikiran Indira.
Indira tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke lobi sekolah yang lebih mirip hotel bintang lima tersebut. Namun, baru saja ia melewati gerbang sensor siswa, sesosok pria yang sangat ia kenal sedang berdiri di dekat mading, tampak sedang mencari-cari sesuatu.
"Ra? Indira?"
Indira mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak. "Kak Bima? Kenapa... kenapa Kakak ada di sini?"
Bima menoleh, wajahnya yang tampan terlihat lega namun juga bingung. "Ayahku dipindahkan secara mendadak semalam sebagai kepala keamanan di yayasan ini. Dan anehnya, sekolah ini juga memberikan beasiswa penuh untukku agar ikut pindah ke sini. Aku tidak menyangka akan melihatmu mengenakan seragam yang sama denganku."
Indira melirik ke arah pintu masuk, di mana Toni masih berdiri memperhatikannya. Ia teringat ancaman Arjuna semalam: 'Jika aku mendengar ada satu pria pun yang mendekatimu...'
"Baguslah kalau kita satu sekolah lagi kak,,," ucap Indira tersenyum manis.
"Kamu sendiri? kok bisa ada disini?" giliran Bima yang bertanya bingung.
"A-aku dipindahkan oleh majikan ibuku,karena majikan ibuku adalah pemilik yayasan ini,,aku diberi kesempatan bersekolah disini." ucap Indira.
"Kalau majikan mu yang merekomendasikan mu pindah bersekolah kesini,kenapa tidak dari kelas satu Ra? kenapa setelah kelas dua? itupun sebentar lagi sudah kelulusan mau kelas tiga," Bima terlihat bingung.
"Soal itu aku tidak tahu kak,,yang penting aku dipindah kan kemari ya alhamdulillah.."
"Nanti siang kita makan bareng dikantin ya?" ajak Bima.
Indira mengangguk menanggapi.
***
Setelah kepulangannya yang penuh tekanan dari sekolah, Indira masuk ke kamarnya dengan langkah gontai,dan wajah yang sangat lelah.
Indira langsung menghenyakkan pantatnya disofa tunggal yang ada di kamar nya.
perlahan membaringkan tubuhnya tanpa membuka seragamnya dulu.
Indira merasa lelah sekali karena pelajaran yang begitu memenuhi pikirannya.
Indira melirik pintu penghubung antara kamarnya dengan kamar sang tuan terbuka lebar.
artinya tuannya ada didalam.
"Indira,,"
baru juga menduga pemilik kamar itu ada didalam,tiba tiba namanya diteriaki.
Indira tidak langsung menyahut.
dia masih merasa lelah.
"Indira..!" kedua kalinya tuannya memanggil namanya.
Indira langsung bangkit,jangan sampai tuannya meneriaki nya untuk ketiga kalinya.
"Ya tuan,," Indira datang.
Di sana, Arjuna sedang duduk di kursi kebesarannya, menyesap cairan putih dari gelas kristal—asi yang dipompa Indira tadi pagi.
"Kemari," panggil Arjuna tanpa menoleh.
Indira melangkah dengan ragu. " ya Tuan," Indira berhenti saat sudah berdiri didepan pria itu.
Ia meraih dagu Indira, memaksanya menatap mata elang itu.
"Toni melapor bahwa kau bicara dengan si Bima itu lagi di sekolah. Padahal sudah kuperingatkan," suara Arjuna sangat rendah, penuh intimidasi.
"Dia hanya bertanya kenapa aku ada di sana, Tuan! Itu wajar!" bela Indira.
"Tidak ada yang wajar jika itu menyangkut milikku, Indira. Karena kau melanggar perintah, maka hukumanmu dimulai malam ini. Kau tidak akan keluar dari area dua kamar ini sampai aku merasa kau sudah cukup patuh."
Arjuna menarik Indira ke arah ranjangnya yang luas. "Dan soal permintaanku semalam... lepaskan pakaian atasmu. Aku ingin meminumnya langsung dari sumbernya. Aku sedang tidak ingin menggunakan botol atau kantong plastik.
Indira menggigit bibir bawahnya,takut."Tolong Tuan, jangan begini... aku manusia, bukan ternak."
Arjuna mengabaikan protes itu. Ia memojokkan Indira ke pilar tempat tidur, tangannya mulai bekerja membuka kancing seragam Indira satu per satu dengan kecepatan yang menakutkan.
"Kau adalah obatku, Indira. Dan seorang pasien berhak menentukan bagaimana cara ia meminum obatnya."
Saat kancing terakhir terbuka, ponsel Arjuna di atas nakas kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari Clarissa: 'Sayang, aku di depan rumahmu sekarang. Surprise! Aku mau kita makan malam bareng.'
Arjuna menggeram. Ia menatap Indira yang setengah polos dan gemetar, lalu melirik ke arah pintu kamarnya yang bisa diketuk Clarissa kapan saja.
"Sial! disaat seperti ini selalu saja ada pengganggu!" gumamnya dengan wajah tidak suka.
Bersambung...