Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Pacar 1 Minggu
"Lo kenapa bisa suka sama gue?"
Luna mengernyitkan alisnya merasa bingung, "Kenapa Kakak masih terus mengulang pertanyaan yang sama? Aku suka sama Kakak, ya karena emang suka aja."
"Lo yakin gak ada alasan lain?" tanya Rendra yang masih tidak percaya dengan jawaban Luna.
Luna menggelengkan kepala, "Gak ada alasan lain. Aku emang suka sama Kakak."
Rendra dibuat tersenyum mendengar jawaban Luna yang terkesan sangat polos. "Lo konyol, Cil. Bisa suka sama orang, yang dulu pernah paksa lo buat jual rumah."
"Kakak tampan, dan juga baik hati. Senyum Kakak manis, bikin aku makin suka sama Kakak," ucap Luna dengan tulus.
Membuat Rendra menatap ke arahnya, dan memasang raut wajah bingung. "Lo lagi gombal Cil?" tanyanya sedikit tersenyum geli.
"Gak kok. Aku cuma bilang apa adanya. Ni buktinya, hidung aku gak tiba-tiba panjang kan? Jadi aku gak boong lah," ujar Luna tersenyum manis membuat Rendra merasa gemas.
"Dasar Bocil!" Rendra mengacak-acak rambut Luna.
"Kak Rendra! Ih jadi berantakan ni rambut aku," kesal Luna membuat wajah cemberut.
"Awas aja nanti, aku aduin ke Kak David!" ancamnya menatap tajam ke arah Rendra.
Dan bukannya merasa takut, Rendra malah semakin gemas menggodanya."Ya udah sana aduin ke dia. Mana berani dia ngelawan aku," balasnya menyombongkan diri.
Luna meniup kesal rambutnya, "Ck! Udahlah Om Landak emang ngeselin."
"Om Landak lagi?" Rendra menghela napas kasar, saat mendengar panggilan keramat itu lagi.
Luna menggerutu kesal, "Biarin! Aku mau panggil Om Landak aja. Gak mau panggil 'Kak' lagi."
Rendra hanya menggelengkan kepala pelan, dan memilih menatap ke arah ombak pantai. "Sejujurnya gue udah gak percaya apa itu cinta," ucapnya secara tiba-tiba membuat Luna, yang awalnya kesal menjadi bingung.
"5 tahun yang lalu, gue pernah jatuh cinta sama seseorang. Dan itu cinta pertama gue. Tapi sayangnya dia mengkhianati perasaan gue secara terang-terangan,"
"Dan sejak saat itu gue jadi membenci yang namanya ikatan cinta. Gue juga gak mau mengulang kesalahan yang sama. Menjadi orang tolol karena cinta."
"Jadi Kak Rendra menolak ku?" tanya Luna membuat Rendra menatap ke arahnya.
"Ternyata lo cukup cerdas untuk mengerti perkataan gue tadi," Rendra tersenyum memuji Luna.
"Tapi, gue mau coba sesuatu dulu."
"Hah? Maksudnya?"
"Selama 1 minggu, gue mau lo pura-pura jadi pacar gue."
Mendengar itu sontak saja membuat Luna terkejut. "Pura-pura jadi pacar Om Landak?"
"Hmm, iya. Kalau selama lebih 1 minggu ternyata gue beneran suka sama lo, bulan depan kita langsung nikah," Rendra memberi sebuah penawaran.
"Tapi kalau sebaliknya, gue minta lo jauhin hidup gue selamanya. Gimana?"
Luna terdiam membisu mendengar penawaran Rendra. Sejujurnya ia merasa senang, meski belum sepenuhnya perasaanya diterima oleh Rendra. Namun melihat Rendra yang seakan memberinya sebuah harapan, membuat Luna merasa tertantang untuk mencairkan es batu, yang telah membuat hati Rendra membeku terlalu lama.
"Tapi tentang pernikahan Kakak dengan-"
"Udah gue batalin," Rendra menyela perkataan Luna.
"Gue gak mau nikah sama orang, yang dulu pernah bikin gue sakit hati, dan trauma."
"Jadi Kak Selvi itu mantan Kakak 5 tahun yang lalu?" Luna terkejut menutup mulut merasa tidak percaya. Itu berarti ia sedang bersaing dengan ...
Mantan dari cinta pertama Rendra?
Ah, mana mungkin dia bisa menang. Yang namanya mantan pasti memiliki tempat khusus di hati, meskipun orang itu pernah membuat sakit hati.
Rendra melambaikan tangannya di depan wajah Luna, yang terlihat sedang melamun. "Cil!" panggilnya membuat Luna sedikit tersentak kaget.
"Eh, iya!"
"Lo kenapa ngelamun? Ngerasa gak percaya diri karena udah tau siapa Selvi? Lagi kok lo tau gue udah tunangan sama dia?" tanya Rendra yang merasa aneh. Bisa-bisanya ni Bocil tau, kalau ia sudah bertunangan.
"Aku denger dari Kak David, waktu cari rumah baru kemarin," balas Luna.
"Huff! Pantes," Rendra sama sekali tidak terkejut, dan harusnya sih, ia sudah bisa menebaknya dari awal. Kalau David lah yang memberi informasi itu kepada Luna.
"Tapi kok lo tetep nekat bilang suka sama gue? Padahal lo sendiri tau, gue udah tunangan sama orang lain?"
"Ya karena aku tau, kalau Kak Rendra sama sekali gak bahagia sama pertunangan itu," balas Luna.
Rendra tersenyum meledek, "Hmm! Sok tau lo, Cil!"
"Ya terus kalau gitu, kenapa kemarin-kemarin itu Kak Rendra ngamuk sendirian sambil mukulin pohon? Mana pake teriak segala lagi," tanya Luna merasa aneh.
"Terlebih kalau misal Kak Rendra bahagia sama pertunangan Kakak. Harusnya yang duduk di depan Kakak ini Kak Selvi, bukan aku. Yang harusnya Kakak ajak liburan tunangan Kakak, bukan sekretaris pribadi Kakak."
Damn it
Sial! batin Rendra merasa terpojok mendengar semua perkataan Luna, yang memang benar apa adanya.
Sejujurnya ia sendiri juga merasa bingung, kenapa ia mengiyakan rencana David yang mengajak Luna untuk ikut liburan bersama. Bisa saja Rendra menolak mentah-mentah rencana tersebut. Tapi, seperti ada keinginan lain yang menginginkan, ia bisa menghabiskan waktu sebentar saja dengan Luna.
Dan soal tantangan pura-pura menjadi pacar selama 1 minggu, sebenarnya ia tidak terlalu serius. Baik nanti Rendra akan benar-benar jatuh hati sama Luna, atau tidak. Ia hanya ingin bersama dengan bocil, yang berada di hadapannya sekarang ini.Luna, si bocil childish yang entah dari kapan, mulai membuat semakin tertarik dengannya. Meski sekarang ini Rendra masih bingung dengan perasaanya sendiri.
"Kak Rendra!" panggil Luna membuat Rendra sedikit terkejut.
"Ya, malah ngelamun. Pasti bener kan kata-kata aku tadi? Hayo ngaku gak?" Luna menggoda Rendra karena berpikir, Rendra tidak bisa mencari alasan lain, selain membenarkan perkataanya tadi.
Namun Rendra tetap bersikeras mengelak. "Gak! Lo salah, Cil!"
"Ish, gak mau ngalah gitu sama aku? Katanya kita udah pacaran," Luna sedikit berpikir keras. "Iya sih meski masih pura-pura, tapi kan yang namanya suka berawal dari pura-pura dulu."
"Konsep dari mana, Bocil?"
"Konsep dari aku lah. Dulu aja aku gak suka sayur, tapi aku paksa dengan terus berpura-pura makan sayur. Eh, endingnya jadi suka dong," balas Luna tersenyum manis.
Rendra menghela napas kasar, "Terserah lo, Cil. Migrain gue lama-lama ngomong sama lo."
"Est, migrennya di pending dulu, Kak. Atau kita beli stok obat sakit kepala, karena kita masih ada tantangan pura-pura pacaran selama 1 minggu. Jadi lumayan kan buat jaga-jaga," cerocos Luna tanpa henti, membuat Rendra semakin tertekan.
"Tapi Kak, soal pura-pura pacaran. Gimana nanti kalau Kak David-"
Chup
Rendra membungkam bibir Luna agar berhenti berceloteh. Sementara Luna dibuat melotot, melihat Rendra yang tiba-tiba saja menciumnya.
"Akhirnya diem juga lo, Cil!" Rendra merasa lega, dan kembali melihat ke arah ombak pantai, seolah tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan Luna yang masih terkejut, diam mematung. Sebelum akhirnya ...
Plak
"Aww, sakit Cil! Lo apa-apaan sih!" Rendra merasa kesal karena Luna main memukul bahunya.
"Dasar Om Landak mesum!!!" Luna semakin kesal, dan terus memukuli bahu Rendra.
Rendra yang masih bingung tidak mengerti apa kesalahannya, berusaha menghindari pukulan Luna, "Emang apa salahnya gue cium lo? Kayak baru pertama kali aja ngerasain ciuman."
"Ish! Itu tadi ciuman pertama aku Om Landak!"
"Hah?!" Rendra dibuat terkejut mendengar pengakuan itu.