Lusy peri muda yang tidak memiliki sihir seperti peri lainnya. Dia berkeinginan menjadi ratu peri yang melampaui ratu peri generasi sebelumnya.
Lusy di remehkan oleh kaumnya sendiri. Namun, suatu ketika dia menemukan sebuah teknik terlarang dan sebuah pedang leluhur peri yang membuatnya bisa membangkitkan kekuatan sejatinya.
Lusy bangkit menjadi peri terkuat tanpa sihir, tapi banyak orang yang masih tidak menerima sebuah kenyataan kalau Lusy adalah peri terkuat di alam Peri.
Akankah Lusy berhasil menjadi Ratu Peri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Papendang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akademi Kekaisaran 2
Mereka berdua kemudian langsung menuju Akademi kekaisaran.
Akademi yang menampung anak-anak peri yang berbakat untuk di jadikan generasi penerus Kekaisaran peri.
Lusy menatap bangunan besar di depannya ketika dia dan Fire sampai depan gerbang Akademi Kekaisaran.
Para siswa Akademi sihir berlalu lalang dari segala arah, banyak dari mereka juga yang datang dengan cara terbang.
"Minggir!" seorang siswa arogan mau mendorong Lusy, tapi Lusy dengan sigap langsung membantingnya ke tanah.
Duak....
Arghh....
Siswa tersebut terkapar di tanah sambil merintih kesakitan, temannya yang melihat itu tidak terima.
"Bedebah! Berani sekali kamu menghajar bawahanku!" geramnya kesal.
Semua siswa yang kebetulan lewat menonton kejadian tersebut, mereka semua berbisik-bisik membicarakan Lusy.
"Hei, apakah dia anak baru?"
"Sepertinya begitu, aku saja tidak pernah melihatnya."
"Kasihan sekali dia, di hari pertamanya harus meladeni Moris!"
Mereka semua menatap iba Lusy, karena mereka pikir kalau Lusy tidak akan bisa menghadapi keluarga Moris, yang notabenenya bangsawan kelas satu di kekaisaran.
Lusy menyipitkan matanya "dia sendiri yang tiba-tiba menyerangku!" ucap Lusy dingin.
Moris menggertakkan giginya "Bedebah! Mati kau!"
Moris mengangkat pedangnya, karena dia ahli pedang dalam Akademi sihir, kemampuan pedangnya setara dengan Kesatria kekaisara, yang seharusnya peri seusianya belum bisa melakukan hal tersebut.
Trang....
Pedang Moris di tahan pedang seseorang yang memakai jubah pengajar layaknya fire, hanya saja ada simbol pedang di jubah milik orang tersebut.
Lusy tidak mengeluarkan Gear ataupun pedangnya, karena dia tahu ada seseorang yang sedang mengawasinya.
"Moris, bukankah aku mengajarimu berpedang bukan untuk membunuh seseorang?" ucap orang yang menahan pedang Moris.
"Guru Frei!" Moris langsung menarik pedangnya dan membungkuk hormat, dia tahu kalau ilmu pedangnya belum seberapa.
Frei juga memasukkan pedang ke dalam sarungnya, dia kemudian membalik badannya menghadap Lusy dan mengabaikan Moris.
"Maaf, atas ketidak sopan muridku Tuan Lusy." Frei membungkuk hormat di hadapan Lusy.
Sontak saja semua siswa terkejut melihat hal tersebut, begitu juga Moris yang tidak tahu siapa Lusy.
Lusy mengabaikan Frei, dia meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam Akademi ke kaisaran.
Fire yang dari tadi diam, mengekori Lusy dari belakang.
Frei menghela napas tidak berdaya, ternyata pahlawan yang dia dengar tidak sesuai harapannya, padahal dia berharap Lusy ramah seperti dirinya.
"Guru Frei, siapa dia?" tanya Moris penasaran.
"Kamu juga nanti tahu! Baik semuanya bubar! Sebentar lagi kelas akan di mulai!" Frei tidak memberitahu siapa Lusy pada Moris, sehingga Moris semakin marah pada lusy.
Frei juga pergi meninggalkan tempat itu, para siswa yang tadinya berkerumun juga meninggalkan tempat tersebut.
"Bos, apa yang harus kita lakukan? Dia telah mempermalukan anda di depan banyak Siswa di sini!"
Bawahan Moris yang tadi di banting Lusy sengaja memanasi suasana, karena dia juga tidak terima di perlakukan seperti itu.
"Kita lihat saja nanti! Aku pasti akan memberikannya pelajaran yang setimpal!" ucap Moris sambil mengepalkan tangannya.
Saat sampai di lorong Akademi, Lusy dan fire berpisah, mereka berdua memang di tempatkan di kelas yang berbeda.
Fire akan mengajar di bangunan Akademi Awal penyihir, yang di huni anak-anak yang baru belajar sihir.
Sementara Lusy di tempatkan di gedung akhir Akademi, di sana semua siswa sudah mencapai tahap Akhir pembelajaran dan biasanya akan mendapatkan misi-misi penting sesuai dengan kemampuan mereka.
Lusy mencari ruangan belajarnya, saat dia sampai di sana, Guru pengajar Lusy ternyata Frei yang tadi menahan serangan Moris.
Di sana juga ada Creid anak kedua Kaisar peri dan Moris juga, tapi Lusy tidak peduli dengan mereka berdua.
Dia tertegun saat melihat wanita yang sangat di kenalnya.
"Resa." gumam Lusy lirih sambil tertegun di depan Pintu.