Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Alexander mulai aneh
Pak Arga menatap istrinya lama. Tatapan itu bukan lagi penuh amarah, melainkan kekecewaan yang sudah terlalu lama dipendam.
"Sudahlah, Sandra. Jangan lagi kau tutupi kesalahan Sabrina."
Ibu Sandra langsung berdiri dari sofa. Wajahnya terlihat tidak senang. "Mas selalu menyalahkan Sabrina."
"Karena memang dia yang salah."
"Rumah tangga itu tidak pernah salah satu pihak saja!" bantah Ibu Sandra.
Pak Arga menghela napas panjang. "Sampai sekarang pun kamu masih membelanya?"
"Karena aku tahu Sabrina sebenarnya anak baik."
Pak Arga tertawa hambar. "Anak baik yang mengkhianati suaminya?"
"Mas!" Suara Sandra meninggi.
Ruangan langsung sunyi.
Namun Pak Arga tidak mundur sedikit pun. "Alexander itu anak kita, Sandra."
"Aku tahu."
"Tapi yang kau lindungi justru Sabrina," lanjut Pak Arga.
Kalimat itu membuat Sandra membeku.
Pak Arga melanjutkan dengan nada yang lebih pelan. "Sejak masalah ini muncul, apa kau pernah bertanya bagaimana perasaan Alex?"
Sandra tidak menjawab.
"Anak kita dihancurkan oleh istrinya sendiri."
"Mas..."
"Tapi yang kau pikirkan justru bagaimana mempertahankan citra Sabrina."
Deg.
Wajah Sandra langsung berubah.
Pak Arga menggeleng pelan. "Kau terlalu buta karena popularitasnya."
Sandra mengepalkan tangannya. "Sudah cukup."
"Tidak."
"Mas."
"Tidak cukup, Sandra." Pak Arga berdiri. "Tahukah kau apa yang paling membuatku kecewa?"
Sandra menatap suaminya.
"Kau melihat semua bukti itu." Tatapannya mengarah ke dokumen yang masih tersembunyi di bawah taplak meja. "Kau tahu apa yang dilakukan Sabrina."
Sandra menggigit bibirnya.
"Tapi kau tetap mencari alasan untuk membelanya."
Keheningan memenuhi ruangan. Kali ini Sandra tidak memiliki jawaban. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu suaminya benar. Namun menerima kenyataan itu jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
"Aku tidak ingin berdebat lagi." Sandra mengambil tas tangannya. "Aku lelah." Lalu tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan menuju tangga.
"Sandra..."
Namun wanita itu sudah pergi. Tak lama kemudian suara pintu kamar utama tertutup terdengar dari lantai atas. Pak Arga menghela napas panjang.
Ruang keluarga kembali sunyi.
Pria itu kemudian duduk perlahan di sofa dan memijat pelipisnya. "Astaga, Sandra..."
Tatapannya jatuh pada foto keluarga yang masih terpajang di atas meja. Foto lama saat Alexander dan Sabrina baru menikah. Dulu semuanya terlihat sempurna, namun sekarang semuanya sudah berbeda.
"Kau terlalu buta karena popularitas Sabrina." Pak Arga menggeleng pelan. "Sampai-sampai kau tidak lagi memperdulikan perasaan anakmu sendiri."
Suara itu menghilang bersama keheningan malam.
Sementara di lantai atas, Sandra bersandar di balik pintu kamarnya dengan napas tidak teratur. Sejak ia menerima dokumen-dokumen itu, pikirannya mulai dipenuhi keraguan.
Benarkah selama ini ia terlalu membela Sabrina? Ia bahkan mengabaikan luka putranya sendiri. Namun setiap kali mengingat wajah Sabrina yang selalu memanggilnya Mommy dengan manja, hatinya kembali goyah.
Sandra menutup mata, besok Alexander akan pulang dari Surabaya. Dan besok juga Sabrina akan datang ke rumah. Entah kenapa, kini Sandra merasa pertemuan itu tidak akan berjalan seperti yang ia harapkan. Karena kali ini, Alexander sepertinya benar-benar tidak berniat mundur lagi.
***
Keesokan harinya...
Sejak pagi suasana hotel sudah jauh lebih ramai dibanding biasanya. Para staf PT Dirgantara Group mulai turun satu per satu menuju lobby hotel sambil membawa koper masing-masing. Beberapa orang masih terlihat mengantuk, sementara yang lain sudah sibuk mengobrol mengenai perjalanan mereka selama di Surabaya.
"Aku nggak mau pulang."
"Sama."
"Pantainya bagus banget kemarin."
Tawa kecil terdengar di berbagai sudut lobby.
Rina dan Dara berdiri tidak jauh dari meja resepsionis sambil memeriksa beberapa berkas proyek yang harus dibawa kembali ke Jakarta.
"Untuk kontrak yang bagian ini nanti langsung dikirim ke legal ya," kata Rina.
Dara mengangguk.
"Terus yang revisi dari Naga Buana..."
Belum sempat Rina menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara terdengar dari samping mereka.
"Dara."
Keduanya menoleh.
Aldi berjalan mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. "Pagi."
"Pagi, Aldi," jawab Dara sopan.
Aldi tersenyum lalu berkata santai. "Nanti di pesawat duduk dekat aku ya?"
Deg.
Dara langsung berkedip. "Hah?"
Aldi mengangkat bahu santai. "Biar ada teman ngobrol."
Rina yang berdiri di samping Dara langsung menyeringai lebar. "Cieee..."
"Rina!" Dara langsung memprotes.
Rina malah menyenggol bahunya pelan. "Udah Dara, mau aja."
"Jangan ikut-ikutan."
Aldi tertawa melihat wajah Dara yang mulai salah tingkah. Namun tepat saat Dara hendak menjawab, sebuah suara tenang terdengar dari belakang mereka.
"Dara nanti duduk dengan saya."
Suasana langsung hening, Rina refleks menoleh, Aldi juga menoleh perlahan. Alexander berdiri beberapa langkah di belakang mereka dengan setelan jas hitam yang rapi seperti biasa, ekspresinya tenang.
Dara bahkan langsung menegakkan punggungnya. "T-Tuan."
Alexander mengangguk singkat. "Kita masih harus membahas beberapa kontrak kerja."
Aldi langsung mendengus pelan. "Kan bisa dibahas di perusahaan, Bos."
"Tidak ada waktu." Jawaban Alexander datang tanpa jeda.
Rina langsung menunduk menahan tawa. Sedangkan Dara mulai merasa suasana semakin aneh. Aldi menatap Alexander beberapa detik. Alexander membalas tatapan itu tanpa ekspresi. Lalu dengan santai pria itu mengambil koper miliknya.
"Kita berangkat lima belas menit lagi."
Setelah mengatakan itu, Alexander berjalan begitu saja menuju pintu lobby. Seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Aldi hanya bisa melongo beberapa saat. Lalu setelah Alexander benar-benar pergi. "Astaga."
Rina langsung tertawa. "Hahaha!"
Aldi mengusap wajahnya kasar. "Sebenarnya Alex itu kenapa sih?"
Rina pura-pura tidak tahu. "Kenapa memang, Pak?"
"Dia pagi ini nyebelin banget."
Dara langsung menahan senyum.
Aldi menunjuk ke arah pintu lobby tempat Alexander menghilang. "Setiap kali gue ngajak Dara ngobrol..." Ia menirukan suara datar Alexander. "Dara ikut saya."
Rina tertawa semakin keras. "Hahaha!"
Sedangkan Aldi mulai mengepalkan tangannya pelan. Dalam hati ia benar-benar kesal. Sebenarnya Alex itu maunya apa? Kalau memang suka, kenapa tidak bilang terus terang? Kalau tidak suka, kenapa setiap kali ada pria lain yang mendekati Dara reaksinya seperti itu?
Aldi menghela napas panjang. "Sumpah."
"Kenapa?" tanya Rina.
"Bos kalian itu bikin emosi."
Rina kembali tertawa. Sementara Dara hanya terdiam sambil menggenggam map di tangannya. Karena berbeda dengan Aldi dan Rina. Ia tahu persis alasan Alexander melakukan semua itu.
Dan justru itulah yang membuat jantungnya kembali berdebar sejak pagi tadi. Malam sebelumnya, pria itu sudah memberikan jawaban yang sangat jelas.
"Setelah urusan perceraian saya selesai... saya pastikan kita akan segera menikah."
Mengingat kalimat itu, wajah Dara langsung memanas. Dan tanpa sadar, tatapannya beralih ke arah pintu lobby. Ke arah tempat Alexander tadi pergi.
Sementara di kejauhan, seorang pria yang baru saja keluar dari lift memperhatikan semuanya dengan tatapan tajam.
Pak Ganjar, pria tua itu menghela napas panjang. "Astaga..." Ia memijat pelipisnya pelan.
Sepertinya setelah kembali ke Jakarta nanti, bukan hanya masalah perceraian Alexander yang akan meledak. Tetapi juga perasaannya yang selama ini berusaha ia sembunyikan.